POV Irfan
Aku hanya bisa menghela napas, ketika papaku sendiri telah membekukan keuangan perusahaan untuk anaknya. Akhirnya aku terpaksa menghubungi Mama Gita untuk meminta bantuannya.
“Halo, Mah.” Aku memulai buka pembicaraan.
“Ya, Irfan kamu di mana, kok bising gitu suaranya?” tanyanya balik.
“Aku di RS Citra Kencana, Mah. Karin hampir keguguran,” celetukku pada mama melalui sambungan telepon.
“Loh kok bisa?” tanyanya balik.
“Ceritanya panjang. Mama bisa ke sini, nggak? Aku butuh bantuan Mama.”
“Iya, Mama segera ke situ, di ruang VVIP, kan?”
“Rencana kelas 3, Mah. Keuangan kantor dibekukan Papa. Aku minta tolong rayu Papa bisa nggak?” tanyaku lagi.
“Susah, Fan, kalau menyangkut perusahaan papamu sulit diganggu gugat. Sudahlah bilang Karin di kamar kelas 3 pun tidak mengapa,” jawab mama. Ya, akhirnya kuputuskan untuk tetap pakai asuransi perusahaan, meskipun hanya kelas 3 jatahnya.
“Ya, sudah, Mama ke sini, ya. Karin nggak ada keluarga dekat di sini. Ia harus bed rest,” pesanku.
“Ya sudah. Mama berangkat sekarang. Kemudian telepon pun terputus.
Setelah menutup telepon, aku pun segera mengurus administrasi untuk rawat inap Karin. Ia harus bed rest total agar bayi yang dikandungnya sehat. Ya, aku juga menginginkan suara celotehan anak kecil terdengar di telingaku.
Kemudian, setelah mengurus ke bagian administrasi, akhirnya Karin dipindahkan dari UGD ke ruang rawat inap. Aku sangat berharap bayinya baik-baik saja hingga melahirkan nanti.
“Fan, bagaimana keadaan anak yang dikandung Karin?” tanya mama ketika baru saja tiba. Aku pun mengecup punggung tangannya dan Karin pun melakukan itu.
“Bed rest dulu, Mah. Aku bingung siapa yang menemani Karin di sini, Mah,” lirihku.
Kami pun bergeming. Namun, tiba-tiba papaku dan Anggi datang. Astaga, ini pasti Anggi yang mengadu pada papa.
Aku coba tenang tapi sulit menunjukkan wajah untuk tetap tenang. Kini, aku pun hanya mampu diam. Namun, papa bersikeras untuk membicarakan ini di luar.
Aku tidak akan mengaku bahwa ada hubungan gelap dengan Karin. Bisa-bisa papa marah besar padaku. Namun, aku sangat terkejut ketika papa berani menampar mama demi Anggi. Padahal ia hanya mengumpat dengan sebutan wanita udik.
Di saat aku dibuatnya terkejut dengan tamparan keras yang papa layangkan ke pipi mama. Justru Anggi hendak memberikan bukti yang akan menyudutkan aku dengan Karin. Bukti apa yang ia pegang di ponselnya? Jantungku pun berdegup kencang ketika ia mulai mengusap layar ponselnya.
“Baiklah, kalau gitu, aku akan tunjukkan bukti bahwa kamu memang sudah menduakan aku dengan Karin, sekretarismu,” cetusnya. Kemudian, ia mencari sesuatu di dalam ponselnya.
Kami pun menjadi serius melihat Anggi, terutama aku yang sudah bercucuran keringat.
“Bukti apa sih?” tanya mama.
“Ini Pah. Rekaman suara ketika ia bicara melalui sambungan telepon dengan Karin,” ucap Anggi sambil menyodorkan ponselnya.
Kemudian, papa mendengarkan rekaman suara itu. Ya, ternyata Anggi pintar, ia sudah mencium gelagatku hingga merekam percakapan kami. Astaga, aku ceroboh sekali. Haruskah mengakui ini sekarang? Rasanya aku belum siap kehilangan fasilitas yang papaku berikan.
“Pah, maafkan aku. Ini hanya iseng saja hubunganku dengan Karin hanya iseng-iseng, please percaya padaku, Pah,” rayuku dengan amat terpaksa di hadapan Anggi.
“Kamu yakin hanya hubungan sementara? Hanya iseng-iseng saja? Lalu bayi yang dikandung Karin, apa itu hasil iseng-iseng?” sindir Anggi. Aku menelan saliva sejenak untuk melunturkan rasa tegang.
“Sayang, aku sangat mencintaimu. Serius ini hanya iseng-iseng saja. Aku takkan menduakan kamu,” ucapku pada Anggi.
“Kamu yakin tidak menduakan aku? Kamu yakin aku istri satu-satunya?” cecar Anggi lagi. Ia pasti hanya tahu aku selingkuh, tidak mengetahui pernikahan siriku dengan Karin. Ya, Anggi dan papa tidak boleh tahu itu.
“Iya, kamu adalah satu-satunya istriku, Sayang,” ucapku sambil menggenggam tangannya seraya memohon.
Mama Gita tidak rela melihatku memohon pada Anggi seperti b***k. Ia menyeretku untuk tetap seperti lelaki sejati.
“Irfan, apa-apaan ini kamu memohon seperti itu? Kurang kerjaan tahu!” ucap Mama Gita kesal. “Pah, kamu juga, orang tua macam apa kamu lebih membela dan menyudutkan anak sendiri ketimbang menantu, Anggi itu hanya menantu, ia orang lain!” tekan Mama Gita marah.
Apa yang dikatakan mama ada benarnya juga, semua orang tua pasti membela anaknya meskipun itu salah. Tidak dengan papaku, ia lebih menyayangi menantunya. Apa jangan-jangan papaku menaruh hati terhadap Anggi?
“Oh, aku paham, Mah. Jangan-jangan Papa itu naksir Anggi, Mah,” tukasku sambil mengangkat kedua alis.
Mata papa membulat ketika tuduhan yang aku lontarkan. Terang saja aku berpikiran seperti itu, sikapnya terlalu berlebih-lebihan pada Anggi.
Kulihat mata mama menyipit seraya percaya dengan tuduhan yang aku lontarkan.
“Apa jangan-jangan seperti itu, Pah?” cecar mama dengan nada sinis.
“Sudahlah jangan malah mengalihkan pembicaraan,” celetuk papa. “Kamu benar tidak menikahi Karin, Irfan? Tanya papa lagi. Aku hanya ingin tahu kenapa papa begitu membela Anggi. Kenapa ia tidak mau mengakui juga bahwa ada perasaan yang berbeda pada Anggi? Perlakuan papa padanya memang seharusnya dicurigai, tapi lagi-lagi aku tak bisa menyecarnya karena posisiku saat ini juga terhimpit oleh tuduhan yang Anggi dan papa lontarkan.
“Nggak, Pah,” sahutku tetap tidak mengakui di hadapan papa.
Kemudian, Anggi menyodorkan ponselnya lagi. Kali ini ia membuka galeri ponselnya.
“Lihat ini, ada video yang dapat membuktikan bahwa kalian telah menikah diam-diam,” susul Anggi membuat mataku tertuju pada ponselnya. Video apa yang ia ingin tunjukkan? Video pernikahan siriku kah? Kalau iya, siapa yang berani merekam dalam bentuk video? Sungguh aku benar-benar kecolongan.
Bersambung