Herannya dengan Mas Irfan, sudah kepergok masih saja berkelit. Apalagi Mama Gita, ia justru mengumpat aku dengan sebutan wanita udik dan sebagainya. Sakit, itu sudah pasti, tapi aku berusaha menahan emosi. Sebab papa mertuaku sungguh amat membelaku.
Mas Irfan cemburu dengan perlakuan papanya padaku. Ia menuduh papanya sendiri memiliki rasa yang lebih terhadapku. Padahal, aku tahu ia seperti itu karena dititipkan oleh kedua orang tuaku.
Aku pun sudah memberikan bukti padanya, tapi apa yang kudapatkan? Ya, ia mengaku bahwa ada hubungan spesial dengan Karin. Namun, tidak mengakui telah menikah dan akan memiliki anak darinya.
Akhirnya aku tunjukkan bukti akurat yang Desi kirim ketika aku dalam perjalanan ke rumah sakit.
“Lihat ini, ada video yang dapat membuktikan bahwa kalian telah menikah diam-diam,” ucapku pada Mas Irfan. Kemudian, kuputar video pernikahan siri yang singkat itu. Ya, aku sengaja memberikan video ini setelah ia berkelit. Papa mertuaku juga baru keberitahu, karena tidak mungkin aku mengadu domba antara anak dan ayahnya. Jadi nunggu kondisi yang tepat memperlihatkan buktinya, dan saat inilah yang tepat.
Papa menggelengkan kepalanya seraya tak percaya bahwa di video tersebut ada sosok mama yang mendampinginya. Kemudian, papa terlihat mengurutkan dadanya, mungkin agar ia dapat sabar dan tenang dalam menyikapi ini.
“Pah, ini salah paham, aku bisa jelaskan,” rayu Mas Irfan. Salah paham dia bilang? Apa Mas Irfan ingin mengelak bahwa ia dijebak oleh Karin? Rasanya tidak mungkin ia dijebak kalau perlakuannya melebihi orang yang sedang dimabuk kasmaran.
“Bicarakan ini di rumah, ayo kita pulang dulu! Video itu sudah jelas kalian tak dapat mengelak,” cetus papa. “Anggi, kamu ikut Papa! Dan kamu Gita, ikut Irfan, kalian harus disidang di rumah,” seru papa mertuaku sambil menunjuk ke arahnya.
“Tuh kan, kamu sih, Nggi, cari perhatian ya?” sindir mama mertuaku. Aku hanya menghela napas berat. Selepas mengatakan itu padaku, mereka berdua menuju mobilnya.
Kemudian, papa pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Rendi. Setelah itu kami berangkat menuju rumahnya.
Di sela perjalanan, aku hanya terdiam. Sementara papa mertuaku sedikit-sedikit tatapannya tertuju padaku.
“Nggi, apa keputusanmu setelah ini akan minta cerai Irfan?” Pertanyaannya membuatku menoleh secepat kilat. Lalu aku menggelengkan kepala di hadapannya. “Kamu pasti sakit hati, kan?” tanya papa mertuaku.
“Sakit hati pasti, rasanya aku ingin pulang ke kampung dan tinggal bersama ayah dan ibu lagi, Pah. Hidup di kota bergelimang harta tapi kecewa yang kurasakan,” lirihku padanya.
Ia pun mendesah kesal ketika aku bicara seperti itu.
“Argh, mau Gita dan Irfan itu apa sih? Aku tak pernah menyelingkuhi Gita, tapi kenapa ia tega melakukan ini padamu, Anggi. Padahal, seharusnya perasaan wanita lebih peka pada wanita lain,” imbuh Papa Angga kesal. Jarinya kini berada di kening seraya pusing memikirkan ini semua.
“Maaf, ya, Pah. Seharusnya ini jadi masalah aku dengan Mas Irfan dan Karin, Papa tak perlu turut memikirkannya, tapi aku malah merepotkan Papa untuk ikut memarahi Mas Irfan. Maafkan aku yang belum dewasa menyelesaikan masalah keluarga,” tuturku padanya. Ya, seharusnya ini menjadi rahasia antara aku, Mas Irfan, dan Karin. Namun, ini semua sudah terlanjur, jadi aku hanya bisa berserah diri.
Ketika kami sedang bicara serius, tiba-tiba saja di jalan ada yang memberhentikan mobil.
Tok ... tok ... tok ....
Mobil Rendi diketuk kacanya oleh seseorang berkendara sepeda motor. Kemudian, ia pun menepi sejenak sambil membuka kacanya sedikit.
“Pak, ban belakang kempes,” ucap salah seorang pengendara sepeda motor.
“Oh gitu ya, terima kasih, Pak,” jawab Rendi. Kemudian ia melepaskan sabuk pengaman, lalu turun dan melihat kondisi ban mobil.
Aku jadi curiga, sebab tempat yang kami lewati kebetulan sepi, dan tiba-tiba ada pengendara motor memberhentikan.
“Aw!” teriak seseorang setelah beberapa detik Rendi keluar dari mobil. Ya, itu suara Rendi kesakitan.
“Pah, itu suara Rendi. Ada apa dengan Rendi?” Aku dan papa mertua segera keluar untuk melihat keadaannya. Benar saja, Rendi tersungkur pingsan di jalan, dan di hadapanku sudah ada tiga orang laki-laki bertubuh kekar seperti preman.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya papa dengan mata membulat. Kemudian, aku coba lihat keadaan Rendi yang pingsan.
“Rendi, bangun!” ucapku sambil menepuk pipinya. Mungkin ia dipukul dengan sangat keras, hingga tak sadarkan diri seperti ini.
Kemudian, aku kembali bangkit dan berada di samping mertuaku.
“Saya hanya menginginkan wanita ini,” sebut preman tersebut.
Aku? Mereka mengincar aku? Rasanya aneh, aku wanita yang disebut orang kampung diincar oleh preman.
“Untuk apa?” tanyaku seraya menantang.
“Ayo, ikut kami!” serunya sambil menyeret lenganku.
“Lepaskan!” tekanku sambil berusaha melepaskan tangan ini. Sulit berontak dari tenaga sebesar itu, lengannya besar-besar, dan aku tak kuasa melepaskannya. Namun, papa mertua menarik kerah baju salah satunya dan akhirnya aku pun terlepas.
“Kamu pergi dari sini, Anggi! Lari!” suruhnya. Aku hanya tertegun, tak tega meninggalkan ia sendirian di sini.
Kemudian, tiba-tiba saja tangan papa diputar ke belakang oleh preman itu, tapi papa mertuaku berusaha melepaskan dan akhirnya mereka semua terjatuh dan papa berhasil melepaskan sekapan preman itu.
Buk!
Pukulan demi pukulan papa layangkan ke tubuh preman-preman. Ia pandai ilmu bela diri, hingga para preman itu jatuh. Namun, salah satu preman masih dapat bangkit, lalu ia mengeluarkan pisau dari pinggangnya.
“Pah awas!” teriakku sambil berusaha menghalangi tubuh papa dengan tubuhku. Akhirnya aku pun tertusuk pisau tepat di pinggang ini. “Aw!” Rintihan kesakitan pun terlontar dari mulut ini. Ya Tuhan, darah segar mengalir di pinggangku.
“Anggi!” teriak papa terdengar tepat di telingaku. Astaga, sakit sekali tusukan pisau itu, tapi lebih sakit lagi ketika mendengar suamiku telah berkhianat.
Bayangan-bayangan mereka pun tiba-tiba hadir di mataku sambil meneteskan air mata seraya menahan perih tusukan pisau itu.
Preman itu pun berhamburan kabur melarikan diri. Aku masih sadar dan mampu menatap wajah mertuaku yang kini bercucuran air mata. Ia begitu sedih melihat darah segar mengalir di pinggang menantunya.
“Pah,” lirihku masih bisa bicara sepatah kata padanya.
“Anggi, kamu bertahan ya, kalau terjadi sesuatu, aku takkan pernah bisa memaafkan diri sendiri,” ucap papa terakhir kalinya kudengar.
Flashback ketika Desi mengirimkan video pernikahan siri.
Aku terkejut mendapat pesan yang berisikan video pernikahan siri suamiku.
[Bu Anggi, sejujurnya saya sudah tahu ini lama, video ini saya rekam secara diam-diam ketika menghadiri pernikahan siri mereka. Ya, saya adalah sahabat Karin, tapi tidak tega dengan Bu Anggi yang terlalu baik.]
Video itu disertakan dengan catatan seperti itu oleh Desi. Aku yang menerima itu ketika berada di samping Papa Mertuaku pun mengurungkan niat untuk memberikan video ini di mobil. Ya, nanti ketika Mas Irfan berkelit, barulah aku berikan ini padanya.
Bersambung