"Ah, enaknya!" seru Annora, sambil mengusap perutnya, kekenyangan karena kebanyakan makan buah semangka. "Nenek, aku pergi dulu, ya. Terima kasih buat hari ini." "Iya, hati-hati di jalan dan lain kali datang lagi, biar kita bisa buat kue bareng. Darka, sering-sering ajak Annora main ke rumah kalau perlu bawa Fariz juga." Barusan nenek nyebut namaku dan tanpa sepengetahuan beliau, aku memilih memutar mata lalu pura-pura enggak dengar dan sibuk menyiapkan sepeda. Padahal sepedanya sudah siap dari tadi. Seriusan, deh ogah banget kalau harus meng-iya-kan kemauan nenek untuk sering-sering ngajak Annora ke rumah. Masalahnya kalau Annora keseringan ke rumah, nanti bukan hanya kamarku yang berantakan, tapi seluruh rumah dan dia bakal menebar debu di mana-mana. Kalau dihitung-hitung mending seri

