“Halo ambu, jadi ya hari ini aku bawa Rosi ke kampung. Nanti aku kesana di antar sama Mita. Gak apa-apa kan ambu?”
“Kamu serius nak? Rosi sudah tahu belum bakal tinggal disini sama ambu?”
“Belum ambu, nanti aja dikasih tahunya kalau sudah disana. Rosi pasti senang kok tinggal disana bareng ambu. Apalagi banyak teman sepantarannya disana.”
“Yasudah kalau begitu. Ambu tunggu ya nak. Ambu mau masak dulu biar nanti kalian datang makanan sudah siap”
“Iya ambu, nanti aku kabari kalau sudah dekat ya. Daahh ambu”
Key mengakhiri pembicaraannya melalui panggilan telepon dengan sang ibu. Pada akhirnya Key memutuskan mengirim Rosi untuk tinggal bersama dengan ibunya di kampung.
Dia sudah tidak tega harus terus meninggalkan Rosi sendirian pada malam hari. Jadi Key berpikir sebaiknya Rosi tinggal di kampung saja. Neneknya, ibu dari Key, bisa menjaga Rosi dengan lebih baik. Dan juga Rosi tidak akan pernah merasa sendirian lagi jika malam tiba. Neneknya akan selalu berada di sisi Rosi hingga pagi menjelang.
***
Suasana di kampung yang aku rindukan. Udaranya yang sejuk, jalannya yang lengang, juga pemandangannya yang didominasi oleh sawah. Kami sudah tiba di Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Aku terlebih dahulu turun dari mobil untuk menikmati udara yang sejuk ini. Udara yang sudah sangat lama tidak pernah aku hirup. Sedangkan Mita, dia sedang berusaha memarkirkan mobilnya di halaman samping rumah ibuku. Tanahnya cukup licin dan membuat Mita sedikit kesulitan untuk memarkirkan mobilnya.
“Key.. ini jalan licin banget sih! emang ujan ya tadi?” tanya Mita kesal karena ban mobilnya selalu tergelincir oleh tanah yang basah di halaman tersebut.
“Ya tadi kan emang sempet ujan Mit sebentaran. Tadi pas mau masuk daerah Wanaraja kan kita juga sempet kena ujan” jawab Key.
“Diem Key jangan berisik, lagi fokus nih!” Mita malah memarahi Key padahal tadi dia yang terlebih dahulu bertanya pada Key. “Naahh akhirnya bisa jug ague parkir disini Key” tambah Mita.
Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, Mita menyusul Key dan Rosi menuju ke tempat tinggal ibunya Key. Mita juga sudah lama tidak datang ke tempat ini.
“Assalamualaikum ambuu. Ini Keysha, Rosi dan Mita datang ambu” Key mengucapkan salam dengan suara yang sedikit kencang. Karena sepertinya ibunya masih berada di dapur. Tidak terlihat sosoknya sama sekali saat Key dan yang lainnya sudah berdiri di depan pintu.
“Waalaikumsalam, alhamdulillah sudah pada sampai. Hayuk masuk atuh. Ambu lagi masak sayur asem sama ikan asin. Lalapan juga udah disiapin” seorang wanita paruh baya berjalan keluar dari dapur untuk menyambut kedatangan mereka. Wanita tersebut adalah ibunya Key. Melihat sang anak sudah berdiri tegak di depan pintu, tentu saja sang ibu langsung memeluk Key dengan erat. Kerinduan dalam diri sang ibu akhirnya bisa terobati.
Kemudian sang ibu melihat ke arah cucunya yang sedikit bersembunyi di balik tubuh mamanya.
“Sini atuh neng, peluk nini (nenek dalam bahasa Sunda) dulu” kedua tangannya sudah terbuka lebar menunggu Rosi untuk datang ke dalam pelukannya. Rosi mengangkat wajahnya menatap Key, lalu Key menganggukkan kepalanya memberi kode agar Rosi megikuti perintah sang nenek.
Rosi melangkahkan kakinya menerima pelukan sang nenek. Senyum di wajah wanita paruh baya tersebut sungguh terlihat bahagia. Matanya berbinar, dan senyumnya tercetak lebar. Key dan Mita dipersilahkan masuk dan segera diarahkan ke kamar untuk menaruh semua barang-barang bawaan mereka.
Setelah menaruh barang-barang di dalam kamar, tanpa menunggu lama mereka langsung menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh bu Mirah, ibu dari Key dan nenek dari Rosi. Key memanggil sang ibu dengan panggilan Ambu.
“Neng Rosi makannya lahap banget, nini jadi senang ngelihatnya. Mana makin cantik gini cucu nini” dibelainya penuh kerinduan rambut Rosi yang duduk di sebelahnya. Sudah lama sekali bu Mirah tidak bertemu dengan cucunya. Biasanya Key dan Rosi akan pulang kampung setiap setahun sekali. Itu pun hanya seminggu atau paling lama 2 minggu saja.
“Nini, aku mau main di balong belakang rumah nini boleh gak? Ikannya masih banyak kan ya ni?” tanya Rosi sambil mengunyah makanan. Rosi memang sangat suka dengan ikan peliharaan. Dan juga dia memang selalu bermain dib along belakang rumah saat sedang berkunjung.
“Balongnya masih banyak ikan ya ambu? Mita mau lihat juga ahh. Boleh ya ambu?” lanjut Mita menanyakan. Mita juga sudah memanggil bu Mirah dengan panggilan ambu. Bu Mirah sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri.
“Boleh atuh neng, masa cucu nini mau main di balong gak dibolehin. Asal hati-hati aja ya karena agak licin jalannya. Mita juga nanti temenin neng Rosi ya. Takut nanti kepeleset disana”
Setelah selesai makan, Mita langsung menemani Rosi untuk pergi ke balong di belakang rumah. Rosi sangat antusias ingin melihat ikan yang ada di dalam balong tersebut. Memang bukan ikan hias, namun untuk anak seumuran Rosi itu akan menjadi sebuah hal yang menyenangkan. Dia bisa melempar pakan ikan ke dalam balong dan melihat ikan-ikan yang berada di dalamnya naik ke permukaan untuk menyantap pakan yang mengambang.
Kini tinggal Key dan sang ibu duduk berhadapan. Mereka ingin membicarakan rencana selanjutnya untuk Rosi tinggal di kampung.
“Gimana jadinya nak? Yakin kamu mau ninggalin Rosi disini? Nanti kalau anakmu tanya macam-macam, ambu harus jawab apa?” bu Mirah langsung membuka pembicaraan. Key tertunduk lesu. Sebenarnya sangat berat untuk meninggalkan Rosi dan hidup sendirian di Jakarta. Namun Key tak ingin terus-terusan meninggalkan Rosi sendirian setiap malam.
“Habisnya gimana atuh ambu? Keysha teh kerja dapat shift malam terus. Kan karunya (kasihan) atuh kalau Rosi ditinggal sendirian terus di kosan” ujar Key.
“Lagian kamu tuh kerja kok shift malam terus sih nak? Kamu teh teu karunya (tidak kasihan) sama anak? Memang gak bisa minta tukar shift kerja aja?” sang ibu kini mulai sedikit memarahi Key. Namun Key hanya tersenyum kecil.
Sampai saat ini Key masih belum bisa mengatakan secara jujur apa pekerjaannya di Jakarta. Dia hanya mengatakan jika dia bekerja freelance saja di sebuah restoran. Lagipula hal yang tak mungkin jika Key mengatakan dengan jujur apa pekerjaannya. Hal itu akan mencoreng wajah dan nama baik ibunya.
“Ambu, Keysha teh harus kerja di Jakarta. Mau ngumpulin modal buat buka usaha juga. Jadi kalau memang modalnya udah terkumpul, Keysha janji bakal pulang. Atau mungkin malah nanti Keysha bakal jemput Ambu dan Rosi untuk tinggal bareng Keysha di Jakarta”
“Kamu lebih baik cari pekerjaan lain saja nak. Kerja di restoran kok ya dapat shift malam terus sih! Kamu cari tempat lain saja!” titah sang ibu yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Key. Untuk saat ini Key hanya bisa mengiyakan keinginan ibunya itu, namun sekembalinya ke Jakarta untuk sementara Key tetap akan menjalani profesinya itu. Sementara, hingga dia benar-benar bisa mengumpulkan modal usaha yang dia katakan barusan.
“Nak, ambu mau tanya satu hal lagi sama kamu” wajah bu Mirah mendadak menjadi serius. Key menolehkan pandangannya ke bu Mirah dan dilihatnya mata sang ibu yang memandangnya tajam. Sepertinya pertanyaan bu Mirah kali ini juga sangat serius.
“Ambu mau tanya apa?”
“Bapaknya Rosi sudah pernah ketemu sama Rosi?” pertanyaan bu Mirah membuat Key sedikit terkejut karena tidak menyangka sang ibu akan menanyakan tentang hal itu. Key mengira ibunya sudah tidak akan membahas tentang ayahnya Rosi lagi.
Key menyunggingkan senyuman pada sang ibu sebelum menjawabnya. “Sudah ambu. Sudah pernah juga Rosi diajak kerumahnya” kini gantian sang ibu yang terkejut dengan jawaban Key. Karena setahunya Key tak mau bertemu lagi dengan mantan suami di bawah tangannya itu. Ibunya sangat tahu tentang sakit hati yang dialami oleh anaknya itu.
“Ambu, Key mau tidur sebentar ya di kamar. Capek banget tadi seharian di jalan” pinta Key yang tak ingin melanjutkan pembicaraan lebih jauh lagi. Bu Mirah hanya bisa mengiyakan permintaan Key untuk beristirahat. Key kemudian masuk ke kamar dan bu Mirah sendiri menyusul Rosi dan Mita yang berada di balong belakang rumah.
***
Key sudah kembali ke Jakarta. Ternyata tidak sulit membujuk Rosi untuk tinggal di kampung. Awalnya Key berpikir Rosi akan menangis dan merajuk namun ternyata Rosi malah menawarkan diri untuk tinggal dengan neneknya. Rosi bilang dia ingin tinggal disana agar setiap hari bisa memberi makan ikan di balong.
Key merasa lega dengan permintaan Rosi, karena dia tidak harus bermain drama jika saja Rosi menolak tinggal di kampung dan meminta ikut pulang. Setelah Rosi mendapat persetujuan Key, Rosi langsung berteriak kegirangan. Tentu saja disetujui, karena memang niat awal Key mengajak Rosi ke kampung ya karena ingin meninggalkannya di sana.
Malam ini Key tidak pergi bekerja. Dia merasa sangat lelah sepulang dari kampung. Macet di sepanjang perjalanan telah menguras tenaga Key. Padahal dia hanya duduk manis saja di dalam mobil, Mita lah yang mengendari mobilnya dari Garut ke Jakarta. Itu juga karena Key tidak bisa menyetir.
Key hampir terlelap di tempat tidurnya. Matanya sudah terasa sangat berat, sangat mengantuk. Tiba-tiba ponsel Key berdering. Dilihat nama yang tertera di layar ponselnya. Irwan.
Diangkat atau jangan ya teleponnya? Duhh Irwan ngapain juga sih telepon malam-malam gini? Gak tau apa orang udah ngantuk gini? Atau jangan-jangan dia datang ke klub tapi aku gak ada disana?
Akhirnya Key memutuskan untuk menerima panggilan telepon dari Irwan.
“Halo mas” suara Key terdengar sangat lembut saat menerima panggilan telepon tersebut.
“Kamu dimana? Saya sudah nunggu kamu di klub” benar saja yang dipikirkan Key, Irwan datang dan menunggunya di klub malam. Posisi Key yang tadinya sudah berbaring kini berubah posisi menjadi duduk.
“Kamu dimana mas? Klub? Kok bisa?”
“Ya tentu saja bisa, tidak ada larangan” benar juga sih. Tempat itu kan memang terbuka untuk siapa saja yang sudah cukup usianya.
“Kamu ada di kosan? Boleh saya jemput? Saya mau bicara” lanjut Irwan.
“Mau bicara apa mas? Bisa kita ngobrol di telepon aja?” Key merasa enggan untuk menemui Irwan saat ini. Dia juga sudah merasa lelah karena perjalan pulangnya.
“Gak bisa, saya maunya bicara secara langsung gak lewat telepon” tolak Irwan dengan cepat. Irwan hanya ingin bertemu dengan Key dan berbicara secara langsung.
“Yasudah kita ketemu di kafe dekat kosan saja ya mas. Aku sedikit capek habis balik dari kampung. Nanti aku share lokasinya via w******p”
“Oke” Irwan menjawab dengan singkat dan mengakhiri panggilan teleponnya.
Key dan Irwan kini berada di kafe yang tak jauh dari kosan Key. Key yang sudah datang terlebih dahulu segera memesan minum dan makanan selingan untuk mereka berdua. Wajah Irwan terlihat sangat serius. Matanya lurus memandang Key yang duduk di hadapannya. Pipi Key terlihat tersipu dipandangi oleh Irwan seperti itu.
Sudah hampir 10 menit mereka berdua duduk disana namun tak satu pun dari mereka memulai pembicaraan. Irwan juga hanya terus memandangi Key. Key melihat jam di lengan kiri Irwan. Jarum jamnya sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Untung saja mereka berada di kafe yang buka hingga pagi, jadi mereka masih bisa bersantai tanpa harus terburu-buru.
“Mas, tadi ditelepon katanya mau bicara? Ada apa mas?” Key mencoba membuka pembicaraan. Lagipula mereka berdua tidak bisa harus terus diam seperti itu. Key merasa sangat lelah dan ingin beristirahat.
“Saya mau mendengar jawaban kamu” Irwan langsung menanggapi Key secara cepat. Matanya terus memandang Key tanpa berkedip. Tapi hal itu malah membuat Key menjadi risih.
“Jawaban apa mas?” tanya Key pura-pura tidak tahu, padahal Key tahu jika yang dimaksud Irwan adalah jawaban dari perasaan yang sudah diutarakannya.
“Saya mau kamu jadi milik saya. Bagaimana dengan kamu?” Irwan juga terus menembak pertanyaan Key. Key menarik nafas panjang sebelum menanggapi permintaan Irwan tersebut.
“Mas, aku wanita malam. Kupu-kupu malam. Wanita penghibur. Apa yang bikin kamu mau bersama aku? Kalau memang kamu hanya ingin bermain-main saja kamu cukup datang ke klub untuk bertemu sama aku. Aku pasti akan melayani kamu” ujar Key. Sebisa mungkin Key mengatur nada suaranya agar tetap terlihat tenang.
“Saya tahu kamu wanita malam. Tapi saya jatuh cinta sama kamu. Setelah kita menjadi dekat beberapa waktu lalu sebagai teman, saya melihat sisi lain dari diri kamu, kamu bekerja menjadi wanita malam juga hanya untuk memenuhi kebutuhan financial kamu saja” pernyataan Irwan membuat Key terpaku.
“Jika kamu mau bersama saya, maka saya akan memenuhi semua kebutuhan kamu” lanjut Irwan.
Key hanya terpaku dengan semua pernyataan Irwan. Hatinya masih meragu. Dia tak yakin apa yang Irwan katakan itu semua benar isi hatinya atau hanya guyonan belaka. Kini balik Key memandang Irwan tajam. Dilihatnya wajah tampan Irwan yang tampak serius sedari tadi. Key menyunggingkan senyuman pada Irwan sebelum menjawab permintaan Irwan.
“Maaf mas, aku gak bisa”