07

1631 Words
“Tumben banget lo pulang kak” sindir Hernan Arswendo, adik Geo. Geo hanya diam dan fokus pada apa yang ingin dibicarakannya. Ia memandang Papa dan Mamanya secara bergantian, begitu juga dengan Hernan yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Ia menarik nafas sejenak, lalu berdeham cukup kuat sampai menguncang perhatian Hernan. “Pa, Ma, aku mau melamar anak orang” ujarnya singkat, padat dan jelas. Rian Arswendo—Papa Geo—menatap pria itu dengan pandangan yang cukup tajam dan menyelidik. Pasalnya, ia tahu jelas kalau putra pertamanya itu adalah pemain wanita, ya walaupun ia tak tahu apakah putranya hanya gonta-ganti pacar atau sudah tidur dengan wanita gonta-gantinya. “Kamu serius?” Geo mengangguk mantap “Iya, aku yakin. Aku udah menemukan gadis yang tepat untuk kujadikan istri dan ibu dari anak-anakku. Dan aku sudah melamar dia ke keluarganya secara pribadi. Tinggal keluarga dengan keluarga saja yang belum dan aku mau Mama sama Papa datang untuk melamarkan Christa” jelasnya. “Nama pacarmu Christa, Kak?” tanya Hernan memastikan. “Bukan pacar, dia calon istri. Namanya Christa Ziecola” Geo memperjelas nama Christa dihadapan keluarganya. “Kamu kenal Christa itu dari mana?” kali ini, Agna Valensya—Mama Geo—yang bertanya. “Christa itu adiknya teman aku” “Kamu memang udah serius mau menikah? Menikah itu bukan tentang punya pasangan aja loh, Ge. Kamu yakin udah bisa bertanggung jawab sama satu cewek dan nggak bakal gonta-ganti lagi? Kamu yakin bisa jadi pria yang bertanggung jawab sebagai suami? Kamu udah tahu kalau menikah itu sama dengan mengubah banyak hal dari kesendirian kamu?” tanya Rian memastikan. Rian hanya ingin mengingatkan pada putranya kalau menikah adalah hal besar yang harus mempersiapkan tanggung jawab dan segala konsekuensi, bukan sekedar memiliki pasangan dan bisa putus seperti gaya berpacaran Geo selama ini. Ia tak ingin anaknya jadi seorang pria yang tak memiliki tanggung jawab dan malah menyebabkan perceraian hanya beberapa lama menikah. Geo mengangguk paham “Aku udah mempersiapkan itu selama tiga bulan terakhir ini Pa, dan aku yakin kalau aku udah siap dengan segala konsekuensinya” jawabnya mantap. Tak ada keraguan sama sekali dalam mata dan gerak tubuhnya. Ia ingin menunjukkan pada orang tuanya kalau ia memang tak main-main dengan niatnya. Ia yakin kalau selama tiga bulan terakhir ini, ia sudah cukup mempersiapkan dirinya lahir dan batin untuk menanggungjawabi kehidupan Christa sebagai istrinya nanti. Rian mengangguk “Kalau memang kamu udah siap, maka nggak ada alasan untuk Papa menolak keinginan kamu. Umur kamu juga sudah mencukupi untuk menikah” Agna menoleh pada suaminya “Tapi, kita belum mengenal calon menantu kita Pa” protesnya. Geo meneguk ludahnya yang terasa menyangkut di tenggorokannya. Ia tidak yakin kalau Christa mau dipertemukan dengan keluarganya, tapi setelah dipikir-pikir, ini adalah hal yang wajar bagi keluarga yang akan menyatu. Christa juga sudah mengangguki lamarannya minggu lalu dan itu artinya, gadis itu siap dengan pertemuan-pertemuan keluarga seperti ini. “Aku akan bawa calon istriku kesini” “Tuh, Mama mau kenal kan sama pilihan Adam?” tanya Rian. Agna mengangguk semangat. “Nanti aku jemput dan langsung ajak dia ke sini” “Christa kerja apa, Ge?” tanya Rian setelah teringat hal itu. “Dia baru selesai sidang dan masih menunggu wisuda, Pa. Saat ini, dia lagi bekerja di sebuah restoran” “Umur berapa, Ge?” kepo Hernan. “22 tahun” jawab Geo dengan setenang mungkin, padahal ia takut jika orang tuanya menentang keinginannya. “Masih muda ternyata. Kamu yakin dia bakalan jadi istri yang baik untuk kamu?” tanya Agna. Geo mengangguk yakin sekali lagi “Iya Ma, aku yakin banget kalau pilihan aku ini tepat” “Yaudah kalau begitu, Mama sih oke-oke aja kalau udah ketemu orangnya” “Makan malam, aku ajak dia ikut makan sama kita” *** Geo melihat Christa yang bolak-balik dari meja pemesanan ke meja pelanggan. Ia hanya menunggu sampai gadis itu selesai melayani pelanggan yang tampaknya cukup ramai hari ini, baru akan mengajak Christa bicara setelah cukup sepi. Ia tahu bahwa ia lebih tampak seperti pengangguran sekarang, tapi walau begitu, ia tetap mengontrol pekerjaannya dari ponsel yang selalu ia bawa. Leano dan Alka juga selalu menghubungi jika ada hal yang begitu mendesak. Setelah cukup sepi, Christa yang sedari tadi menyadari kehadiran Geo, segera menghampiri pria itu dan meminta izin pada teman-temannya untuk berhenti sebentar. Dengan langkah kecil, Christa mendekati Geo yang kelihatannya sangat sibuk hingga takmenyadari kehadirannya. “Hai, Kak” sapanya dengan suara yang teramat lembut dan pelan. Geo menoleh dan tersenyum “Hai Ta, Abang nggak ganggu kan?” tanyanya dengan meng’abang’kan dirinya kepada Christa. “A—a-bang?” ujar Christa dengan pertanyaan ragu. Geo terkekeh kecil “Iya, panggil Abang aja ya, Ta. Saya suka soalnya. Saya panggil kamu adek, boleh?” Christa mengangguk pelan “Terserah aja” ujarnya mempersilahkan. Ia sendiri masih canggung memanggil Geo dengan sebutan Abang. Selama ini, ia hanya terbiasa memanggil orang disekitarnya yang lebih tua dengan sebutan kakak. “Kamu nanti malam ada jadwal nggak?” “Jadwal?” tanya Christa heran. “Iya, shift malam gitu, atau ketemu temen atau kesibukan lainnya” “Nggak ada” Christa menggelengkan kepalanya. “Mau aku ajak ke rumah nggak?” Christa menahan deguban yang tak biasa dalam dadanya. Ia tiba-tiba merasa gugup hanya dengan membayangkan pertemuan dengan keluarga Geo, namun yang ia lakukan pada akhirnya adalah mengangguk “Iya, boleh” “Nanti Abang jemput ya” “Iya” angguk Christa ingin segera pergi dari sana karena jujur saja, tangannya sudah keringat dingin membayangkan pertemuan nanti malam. Ia takut jika orang tua Geo tak menyukainya dan memberikan penilaian buruk. Ia tak siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada. “Kalau kamu ada kerjaan, gih lanjutin lagi. Abang tungguin sampai pulang” “Jangan” tolak Christa “Kenapa? Abang nggak ada kesibukan juga kok. Abang juga nggak akan gangguin kamu” “Yaudah kalau begitu” angguk Christa lemas. Ia tak sanggup menolak kemauan Geo yang sebenarnya tak memaksakan dirinya, tapi tiba-tiba ia sadar diri karena lamaran Geo minggu lalu. Flashback ON “Lo yakin nggak mau ngasih tahu Christa tentang hal ini?” tanya Geo untuk kesekian kalinya dan jawabn Agam tetaplah sama, yaitu gelengan kepala dan jawaban ‘tidak’. “Lo tahu sendiri kan Ge kalau gue nggak bisa, makanya gue serahin Christa sama lo. Lo harus tepatin janji lo” “Iya k*****t. Ini surat yang harus gue tanda tangani, lo bisa baca lagi. Gue juga ngasih ini sama lo” Geo mengulurkan tas kepada Agam. “Apaan nih?” tanya Agam pura-pura tak mengerti. Ia membuka kancing tas dan melihat tumpukan uang di dalamnya. “Lo tahu sendiri itu apa. Gausah dipastiin keasliannya” kekeh Geo. “Gue cuma nggak nyangka aja kalau lo bakalan ngasih duit” “Ya, hitung-hitung biaya hidup Christa selama ini ke kakaknya yang b******k. Gue juga nggak masalah sama sekali ngasih uang itu sama lo” “Lo lagi beli adik gue?” “Lo sendiri yang nawarin” Geo bergidik geli. Christa yang tadinya hendak keluar kamar untuk menemui Geo yang kata Agam ingin bicara, malah tak sengaja mendengar percakapan yang membuatnya merasakan fungsi jantungnya berhenti dan tubuhnya membeku. Ia tercekat dan tak mampu protes ketika melihat tawa kedua pria itu. Apakah ia tak begitu berharga hingga Agam menghargainya hanya sebanyak uang yang Geo berikan? Dan apakah Geo selama ini hanya ingin membelinya untuk dijadikan boneka untuk bermain hubungan inti? Christa mengepalkan tangannya dan kembali masuk ke dalam kamar untuk menenangkan jantungnya sejenak. Ia juga tak bisa lagi menghindari hal ini karena ia melihat sendiri kalau kakaknya dan Geo saling bertukar persetujuan yang tertulisn dalam kertas yang Christa yakini merupakan hak sah kepemilikian Geo atas dirinya. “ Ta” panggil Agam. Christa meneguk ludahnya kasar dan segera menghapus air matanya. Dengan kasar, dihapusnya air mata yang sempat menitik dan membuat pipinya basah dalam beberapa detik. Ia keluar dari kamarnya lagi dan langsung menghampiri Agam dan Geo yang kini menatapnya. “Kenapa?” tanyanya tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Agam melirik kursi sebagai kode untuk menyuruh Christa duduk. Christa menurut dan duduk di depan Geo. Dapat Christa rasakan kalau Geo menatapnya begitu intens, namun ia memilih diam saja dan menatap kakaknya. “Kamu udah tahu kan kalau Geo mau ngelamar kamu. Dia mau nanya kamu secara langsung” Christa menatap Geo hingga membuat pria itu memamerkan senyum manisnya. Christa tak tahu arti tatapa Geo padanya. Apaah itu pandangan memuja dari seorang pria kepada seorang wanita? Atau justru pandangan lapar karena Geo sudah membayar harga Christa pada Agam? Ia hanya tak bisa berpikiran jernih untuk saat ini. Geo berdeham sejenak dan menatap Christa yakin “Ta, kamu mungkin merasa belum mengenal saya, tapi saya ingin kita saling mengenal dalam ikatan pernikahan. Saya ingin kamu tahu kalau saya menginginkan kamu menjadi istri saya, dan saya sudah siap menanggungjawabi kamu lahir dan batin. Saya hanya ingin memastikan kalau kamu juga mengharapkan saya seperti saya yang mengharapkan kamu. Kamu mau menjadi istri saya?” Christa menggigit bibir bagian dalamnya dengan lemah, kemudian mengangguk dengan tatapan tertuju pada Geo “Iya, Christa mau” jawabnya singkat. Apakah ia punya pilihan untuk berkata tidak? Apakah ia punya pilihan untuk menghindari Geo dan Agam? Tidak kan? Maka sepertinya lebih baik kalau ia menerima ajakan Geo menikah. Setidaknya, ia memiliki tulang punggung untuk menggantikan Agam menafkahi dirinya yang kesulitan mandiri. Geo menahan sorakan girang dalam dirinya dan menatap Christa “Saya akan bawa keluarga saya untuk melamar kamu minggu depan” “Iya” angguk Christa. “Kalau kamu nggak keberatan, mungkin nantinya orang tua saya juga ingin mengenal kamu lebih dalam dan ingin bertemu dengan kamu” “Iya, nggak apa-apa Kak” jawab Christa singkat. “Jadi udah resmi nih sebagai calon suami istri” goda Agam. Geo juga tersenyum membalas senyuman Agam. Flashback Off
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD