06

1736 Words
Geo menatap Christa dari kejauhan sambil menyesap minumannya dengan menggunakan pipet. Sesekali matanya juga melirik pria di sampingnya yang tampak tenang, padahal ia sendiri merasa gelisah. “Segitu buruknya ya gue, sampai Christa nggak mau jadi istri gue?” tanyanya pada Agam. Agam yang semula fokus pada ponselnya, mau tak mau menoleh pada Geo dengan kekehan kecil “Ya, gue rasa lo memang buruk” angguknya setuju dengan pemikiran pria itu. Geo mendengkus kasar “Gue serius, k*****t” “Gue juga serius” balas Agam tak kalah sewot. “Berarti Christa nggak mau sama gue karena gue buruk? Dalam hal apa?” tanyanya penasaran. Saat ini, Geo dan Agam sedang memperhatikan Christa yang bekerja di sebuah cafe terbuka. Mereka memperhatikan lewat sebuah café yang tepat berseblahan dengan café tempat Christa bekerja. Gadis itu sudah bekerja di sana sekitar sebulan dan masih tak ingin menyerah juga untuk menerima tawaran kakaknya. Dan ini sudah ketiga kalinya bagi Geo untuk melihat keadaan Christa karena khawatir. “Christa nggak nganggap lo buruk, tapi dia memang sulit beradaptasi. Seandainya nanti dia canggung dengan teman-teman ataupun orang tua lo, tolong bantu dia supaya bisa mendekatkan diri” pinta Agam dengan wajah serius. Geo menatap Agam dengan kernyitan yang jelas terpancar di keningnya “Lo beneran yakin kalau Christa bakalan jadi istri gue? Dia bahkan masih berusaha menghindar dan cukup keras kepala” ujar Geo mulai ragu. Agam menatap Geo dengan senyum kecil, kemudian menepuk bahu pria itu “Gue kenal banget sama adik gue. Dia nggak bakalan tahan dengan pekerjaan seperti itu, apalagi kondisi tubuhnya juga gampang lemah” Geo hanya mengangguk singkat “Tapi, lo yakin kalau seandainya gue menikah sama Christa, gue harus lamar dengan cara yang lo mau?” “Iya, gue udah yakin” kekeh Agam “Kenapa? Lo nggak mampu ngelakuin itu?” “Mampu lah, gitu doang” “Gue tunggu kalau memang begitu” tantang Agam dengan senyum picik. “Lo emang berencana pindah beneran?” tanya Agam masih penasaran dengan ancaman Agam pada Christa. Ia memang tak tahu secara langsung kalau Agam mengancam seperti itu, tapi pria itu menceritakan padanya hingga akhirnya ia tahu apa yang membuat Christa keluar dari rumah dan melarikan diri. “Ya beneran lah. Ya kali gue becanda kayak bocah” jawabnya sewot. “Lo mau kemana?” “Nanti kalau lo udah resmi jadi suami adik gue, baru gue kasih tahu” *** Malam ini, Christa pulang sangat larut hingga ia kesulitan untuk menemukan ojek online atau kendaraan umum. Bekerja seharian dengan kerja keras yang cukup menyita energi tubuhnya membuat kepalanya jadi sakit dan sedikit berdenyut. Ia merasa tatapannya mulai mengabur dan seolah berkunang-kunang. Dengan gerakan pelan, ia memijat kepalanya untuk meredakan rasa sakit yang malah semakin terasa. Ia memegang sebuah pagar bangunan saat tubuhnya terasa begitu lemas dan mulai memberat. Ia melihat sekitar dan hendak mendekati halte yang tak jauh dari posisinya, tapi sayangnya, ia malah terjatuh sebelum sampai di halte. Christa pingsan dan jatuh di jalanan yang cukup sepi. Geo yang sejak tadi mengawasi, seketika langsung menghampiri Christa dengan wajha paniknya. Nafasnya memburu dan tangannya yang bergetar berusaha ia paksakan untuk membawa Christa ke dalam gendongannya, hendak menuju mobil yang terparkir tak jauh. Sore tadi, Agam sudah kembali ke rumah sehingga hanya Geo lah yang mengawasi Christa dengan cukup cermat dan sabar sampai malam pun datang. “Ta, bangun” ujarnya pada Christa saat gadis itu sudah berada dalam mobilnya dan berbaring di kursi belakang. Ia memilih melajukan mobilnya membelah jalan menuju rumah sakit. Ketika perjalanan mereka tehralnag oleh macet, Geo langsung menghubungi Adam untuk memberitahukan keadaan Christa. “Apaan?” tanya Agam cukup sewot. Kalau bukan karena keadaan yang menurut Geo cukup genting, ia pasti sudah mencibir pria itu, “Ini, Christa pingsan dan gue lagi menuju rumah sakit” “Rumah sakit? Udah lah, bawa pulang ke rumah gue aja. Dia cuma kelelahan doang, nggak perlu dibawa ke rumah sakit. Badan dia emang begitu kalau kecapaian banget” balas Agam dengan sangat santai. “Serius ini nggak perlu dibawa ke rumah sakit?” tanya Geo ragu. “Nggak perlu” Karena jawaban itu, akhirnya Geo jadi membawa Christa pulang ke rumah Agam. Setelah dipikir-pikir, menurutnya juga ia yang terlalu panik, bukannya tubuh Christa yang kenapa-napa. Wajar bagi Geo panik dalam keadaan seperti itu karena ia tak terbiasa melihat hal itu. Ia adalah orang yang dilayani bukan melayani sehingga ia tak cukup tahu cara untuk membuat Christa sadar dari pingsannya. Begitu mengemudi hampir dua puluh menit, akhirnya Geo tiba di rumah Agam dan membiarkan Agam menggendong Christa masuk ke dalam rumah. Tadinya, ia ingin beramah tamah dan masuk sebagai tamu, tapi ternyata Agam malah mengusirnya ketika tahu niatnya untuk memastikan Christa baik-baik saja. *** Pagi ini, Christa terbangun dan mengerjapkan matanya beberapa kali saat merasakan aroma dan suasana yang familiar. Ia membuka matanya secara perlahan dan cukup terkejut saat mendapati diirnya di rumahnya. Ia menoleh ke kanan kiri berulang kali untuk memastikan bahwa ia tak salah lihat dan langsung menatap dirinya sendiri. “Siapa yang bawa aku?” tanyanya pada diri sendiri sembari mengingat apa yang terjadi semalam, setelah ia pulang kerja. “Terakhir kali, aku pusing dan pandanganku mengabur, terus----” ia terus berpikir berulang kali, namun tak menemukan jawaban, hingga akhirnya memilih keluar dari kamar dan menemui kakak ataupun kakak iparnya. Ia sedang butuh penjelasan akan semua yang terjadi dan tak dapat ia ingat. “Kak” teriaknya. “Udah bangun kamu” cibir Agam sembari melihat penampialan Christa beberapa kali. Tidak berniat menilai, tapi ingin membuat Christa merasa tak nyaman dan terintimidasi. “Gue kok bisa disini?” tanya Christa memilih menghiraukan tatapan kakaknya. “Jawab dong. Kenapa gue bisa di rumah dan siapa yang bawa gue?” “Lo di rumah karena tempatnya lo memang disini” desis Agam menjelaskan. Christa menatap Agam dengan senyum picik “Gue nggak butuh uang dari lo buat hidupin diri gue sendiri” “Lo emang nggak perlu uang gue, tapi gue tahu kalau lo berdiri sendiri adalah hal yang sulit” “Biarin” desis Christa dan kembali ke kamarnya. Ia benci ketika dirinya dianggap lemah dan tak berdaya oleh kakaknya sendiri. “Mau kemana lo?” tanya Agam saat Christa membawa ranselnya dan berjalan hendak melalui Agam yang sedang duduk di sofa ruang utama keluarga. Tatapannya pada Christa menyiratkan kemarahan. “Mau keluar lagi dari rumah ini” Agam tersenyum menyeringai “Lo pikir lo bisa pergi lagi setelah gue lihat kalau keadaan lo tanpa gue itu susah banget? Lo bahkan kecapaian sampai nggak bisa menopang diri lo sendiri dan pingsan di jalan” “Gue bisa urus diri gue sendiri” tegas Christa tak ingin kalah. “Dan keputusan gue udah bulat untuk tetap jodohin lo. Lo nggak bisa keluar lagi dari rumah ini sebelum yang jemput lo itu suami lo nantinya” ancam Agam. “Lo egois” “Lo bahkan nggak bisa mengatur pola hidup sehat. Lo butuh seseorang, Ta. Kenapa sih lo itu keras kepala banget? Apa salahnya nerima Geo jadi suami lo?” Christa menatap tajam kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca, siap menumpahkan tetesan yang menumpuk di sudut matanya “Terus, apa salahnya kalau lo biarin gue untuk nyari pasangan sendiri dan di waktu yang gue mau. Gue berhak menentukan hidup dan masa depan gue” “Gue yakin kalau Geo adalah yang terbaik untuk lo, Ta. Gue bisa jamin itu” yakin Agam, sayangnya Christa tak akan pernah percaya pada kalimat pria itu. “Gue belum mau nikah” lirih Christa berusaha memancing Agam agar luluh pada tangisannya. “Lo harus siap, Ta. Gue nggak bisa lagi menanggungjawabi lo dan gue butuh sosok pengganti yang tepat. Gue ngerasa Geo layak untuk itu” Mendengar kegigihan Agam yang terus pada keputusannya membuat Christa kesal dan kembali ke kamar dengan deru air mata. Ia tak siap menikah dan Agam malah memaksanya dengan alasan yang tak bisa ia terima begitu saja. Ia tak mengerti mengapa Agam jadi berubah dan terus memaksakan kehendaknya sendiri, padahal selama ini, Christa selalu diberikan wewenang untuk bertindak sebagaimana yang gadis itu mau. “Mama…huuuu.. kenapa kak Agam jadi egois gini, Ma. Aku pengen mutusin sendiri masa depan aku” adunya sembari menatap foto keluarganya. “Apa pilihan Kak Agam memang yang terbaik, Ma? Gimana kalau Kak Agam salah pilihin suami untuk Christa?” Christa tak berhenti mengoceh dan protes pada foto Mamanya. “Ta, kakak masuk ya?” Suara Linara yang memanggilnya, tak Christa tanggapi karena rasa kesal. Ia juga membiarkan saja, kala pintu kamarnya dibuka tanpa izin oleh kakak iparnya. Ia mengalihkan tatapannya ke arah lain agar tak menatap Linara. Linara hanya tersenyum kecil dan menatap punggung adik iparnya. Ia duduk di tepi ranjang dengan dehaman kecil “Ta, kakak mau ngomong” “Ngomong aja sih” desis Christa kesal. “Mungkin kamu marah sama Kak Agam karena hal seperti ini tampak seolah merebut masa depan kamu yang udah kamu rancang sedemikian rupa, tapi kakak mau bilang kalau kakak kamu nggak akan menjerumuskan kamu ke pria yang nggak bertanggung jawab. Kakak bilang gini bukan sebagai istri kakak kamu atau kakak ipar kamu, tapi sebagai orang yang pernah ngerasain posisi kamu” jelas Linara. Christa tetap tak memutar tubuhnya dan Linara mengerti akan hal itu, hingga akhirnya ia memilih melanjutkan penjelasannya “Kamu mungkin baru dengar kisah kakak ini, tapi ini beneran terjadi. Dulu, kakak ngerasa bahwa semua orang egois karena kakak yang waktu itu cita-citanya pengen jadi pramugari, harus terhalang sama restu Bapak dan Ibu kakak yang minta kakak untuk jadi guru” Linara menghela nafas kasar sejenak dengan air mata yang menggantung di suudt matanya. Sedih rasanya mengingat kenangan buruk itu. Christa diam, namun hatinya merasa terenyuh saat mendengar helaan nafas berat Linara. “Kakak pikir bakalan masuk saat tes, ternyata kakak gagal karena suatu pernyakit. Kakak kekeuh bakalan nyoba tes tahun depan, tapi sebulan setelah tes, Bapak kakak meninggal. Disitu, Ibu bilang sama Kakak kalau Bapak cuma mau kakak jadi guru supaya kakak berguna untuk mengajar dan membimbing orang lain di masa depan. Kakak nyesel senyesel-nyeselnya karena kakak nggak bisa ngabulin permintaan terakhir Bapak. Kakak nggak tahu harus gimana lagi dan akhirnya malah berkabung dalam penyesalan terus-menerus sampai kakak melupakan niat untuk kuliah. Kakak nyesel nggak menuruti keinginan Bapak disaat terakhirnya” Christa ikut terisak dengan cerita yang Linara bawa. Ia tahu ini terlalu gegabah, tapi membayangkan kejadian itu akan menimpa kakaknya, membuatnya mengubah pikiran dan siap untuk menerima saran kakaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD