“Kamu yakin mau bilang sekarang sama Christa?” tanya Linara meyakinkan suaminya sekali lagi. Ia melihat kekhawatiran yang jelas terpancar dari mata Agam yang memang tak sanggup untuk mengatakan hal penting itu pada adiknya, tapi ia tahu kalau ia memang harus menyampaikan hal itu sesegera mungkin.
“Aku yakin. Cepat atau lambat, Christa pasti bakalan tahu juga, jadi nggak ada gunanya menunda lebih lama” yakin Agam sembari menghela nafas dan berdeham.
“Taaa, Christa” serunya memanggil nama Christa dengan suara yang cukup kuat hingga terdengar ke telinga Christa dan dijawab oleh gadis itu dengan suara tak kalah lantang.
“Apaan? Sabar”
“Cepetan. Sini bentar” panggil Agam lagi.
“Nih, minum dulu, biar ngomongnya juga enakan” Lina menyerahkan segelas teh hangat ke hadapan Agam dan duduk di samping pria itu.
“Apaan manggil-manggil?” tanya Christa begitu ia sampai di ruang keluarga dan melihat kakak serta kakak iparnya sedang duduk tanpa memasang televisi.
“Kakak mau ngomong serius sama kamu” ujar Agam dengan meyakinkan diri.
“Seserius itu?” tanya Christa sambil menyipitkan matanya dan menatap kakaknya dengan aneh. Agam cukup jarang meng-kakak-kan dirinya kepada Christa dan jelas saja itu juga menjadi sesuatu yang aneh bagi gadis itu.
“Iya. Duduk dulu” titah Agam dengan menunjuk kursi di depannya. Raut dan tubuh tegapnya menunjukkan keseriusan hingga membuat Christa menurut begitu saja.
Setelah Christa duduk, Agam memantapkan hati dan berbicara “Kakak mau jodohin kamu sama temen Kakak” ujar pria itu sangat terus terang.
“Gue nggak tertarik” ujar Christa langsung menolak. Dia sudah bisa menebak siapa orang yang dimaksud oleh kakaknya.
“Ta, kamu itu nggak bisa terus-terusan bergantung hidup sama kakak. Umur kamu juga udah dewasa. Kakak sama Kak Lina mau pindah rumah dan akan menjual rumah ini karena Kakak mau fokus sama keluarga” jelas Agam.
“Yaudah, kalau Kakak emang udah nggak mau lagi menanggungjawabi Christa, kakak tinggal bilang aja, nggak usah pakai acara ngejodohin Christa segala. Aku bisa kok menghidupi diri aku sendiri sekalipun pake makanan dari tong sampah di luar sana.”
“Kakak udah punya pilihan yang tepat untuk kamu. Dia akan sesegera mungkin datang untuk ngelamar kamu dan kamu nggak punya kesempatan buat menolak” tegas Agam.
Christa menatap kakaknya dengan tajam “Ini pasti Kak Geo kan?” tanyanya menduga satu nama yang langsung muncul begitu saja di benaknya. Selama sebulan ini, Geo sangat gencar mengiriminya chat yang jarang ia tanggapi atau malah lebih sering ia abaikan.
“Iya, Geo adalah orang yang mau jadikan kamu sebagai istrinya. Kakak udah menaruh kepercayaan bahwa dia bisa bahagiain kamu lahir dan batin, jadi kakak udah mantepin hati buat nerima lamaran dia”
“Gue nggak mau. Gue bahkan masih bisa nyari pacar sendiri” tolak Christa tetap kekeuh.
“Kamu tinggal nunggu kedatangan keluarga Geo ke rumah ini dan jadiin kamu istrinya. Kamu hanya perlu menerima tanpa berkomentar apapun. Kalau kamu menolak, Kakak pastiin kalau kamu nggak akan menemukan Kakak lagi” ancam Agam dan membuat Christa terbelalak tak percaya. Linara mengusap punggung tangan suaminya agar suasana tak semakin memanas jika Christa dan Agam sama-sama emosi dengan pembicaraan ini.
“Kakak maksa gue untuk jadi istri dari seseorang yang bahkan gue nggak kenal gimana orangnya. Dan ngancam kalau gue nggak akan ketemu lo lagi. Sampai segitunya untuk jodohin gue sama dia? Lo tega. Lo egois” desis Christa dan melarikan diri ke kamarnya dengan berurai air mata.
Di kamar, Christa mengumpati segala sesuatu yang membuatnya berada dalam posisi ini. Ia sangat benci dengan Agam yang mengatur hidupnya seolah ia tak bisa menentukan sendiri tujuan hidupnya. Ia ingin memilih sendiri, pria seperti apa yang layak menjadi pasangannya, bukannya harus menerima apa yang Agam tentukan untuknya. Ia terlalu muak hidup dalam peraturan yang dibuat seseorang.
Christa menyusuni pakaiannya ke dalam koper kecil miliknya sambil sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya “Gue bakalan buktiin kalau gue bisa hidup tanpa bantuan Agam k*****t” desisnya pada dirinya sendiri.
Ia segera mengambil segala keperluannya dengan gerakan cepat, kemudian menariknya menuju pintu keluar. Agam hanya memperhatikan dengan tajam setiap langkah yang Christa ambil untuk meninggalkan rumah. Lina berusaha memberi kode pada sang suami untuk menahan gadis itu, tapi ternyata Agam lebih memilih menikmati teh hangat buatan istirnya dibandingkan menghentikan kepergian adiknya.
“Kak, tahan dong” ujar Linara pada Agam.
“Udahlah, biarin aja, nanti juga balik sendiri kalau uangnya udah nggak ada”
“Gimana kalau dia kerja?”
“Kamu pikir kerja itu gampang, Lin. Dengan kebiasaan bergantung dia dan belum punya pengalaman sama sekali dalam pekerjaan, orang mana coba yang mau menerima dia?” dengkus Agam dengan logikanya.
Linara akhirnya memilih diam dan tak lagi berkomentar karena apa yang dikatakan suaminya juga benar. Ia hanya berharap dalam hati, supaya Tuhan melindungi Christa dari kejahatan dan segala bahaya di luar sana.
Agam mengetikkan beberapa kalimat dalam ponselnya yang kemudian ia kirimkan pada Geo yang sedang menunggu kabar.
Agam : Christa keluar. Tolong cari dia dan awasi. Gue udah bikin adik gue telantar karena lamaran lo.
Tak menunggu waktu lamar, Geo sudah membalasanya dengan emot acungan jempol.
***
“Kenapa sih nggak dihentiiin?” desis Christa sembari menyusuri jalanan yang sepi. Ia berulang kali memperhatikan ponselnya yang tadi memesan ojek online, tapi sampai saat ini, tak ada tanda-tanda bahwa ada ojek online yang dekat dengan posisinya.
Ia bergidik ngeri saat melihat jam yang melingkar di tangannya dan merasa sangat sial karena kabur disaat yang tak tepat. Ojek online di jam yang hampir menunjukkan jam sepuluh malam memang sangat jarang berada di sekitar rumahnya, tapi ia tak memilih menyerah begitu saja, sampai akhirnya usahanya membuahkan hasil.
Ia bersyukur saat sang ojek online segera datang dan tak membuatnya menunggu lama. Ia duduk diam saat motor ojek itu menuju rumah sahabatnya. Tak ia duga bahwa Agam akan semudah itu melepaskan kepergiannya.
Sekitar setengah jam, akhirnya Christa sampai di sebuah rumah minimalis yang tampak cukup sepi. Ia segera menarik kopernya dan menjauh dari ojek online yang baru saja ia beri bayaran. Dengan cukup ragu, ia mengetuk pintu rumah itu dan memanggil-manggil nama “Erinaaaa. Halooo”
“Siapa sih” ujar Erina dengan sedikit teriakan dari dalam rumah.
“Christa” sahut Christa lagi.
Gadis yang tadi Christa sebut dengan nama Erina itu mengernyit heran sembari melihat penampilan Christa dari atas hingga bawah dan semua barang-barang yang gadis itu bawa “Lo mau pindahan atau liburan? Bawa koper segala” desisnya.
“Gue melarikan diri karena mau dijodohin. Kakak gue udah gila, Rin. Gue benci banget sama Agam itu, dia pikir dia siapa bisa ngatur hidup gue” rutuknya terang-terangan.
“Masuk dulu deh” ajak Erina sambil menggeret koper Christa ke dalam rumahnya.
Dari mobil yang terparkir tak jauh dari rumah Erina, Geo menghela nafas cukup lega begitu melihat Christa masuk ke dalam rumah seorang yang sudah cukup Geo tahu saat ia memperhatikan Christa beberapa kali. Ia kemudian mengirimkan pesan kepada Agam yang mengatakan keberadaan dan kondisi Christa saat ini.
***
“Jadi gimana ceritanya lo sampai kabur begini?” tanya Erina sembari meletakkan segelas air putih di hadapan Christa.
“Gue mau dinikahin sama temennya, Rin. Ya jelas lah gue nggak mau, gue aja nggak kenal sama temennya kakak gue. Lagian teman-temannya juga udah tua-tua.”
“Kenapa kak Agam tiba-tiba nyuruh lo nikah? Pasti ada alasannya kan”
“Ada. Dia bilang udah muak buat menaggungjawabi gue dan mau fokus sama istri serta buat anak. Alasan itu sangat nggak logika di kepala gue, Rin, dan kak Agam ngancem kalau gue nggak akan lihat kak Agam lagi jika menolak lamaran temannya itu. Tega banget kan dia gituin gue.”
“Kenapa lo nggak mau sama temen kak Agam? Apa orangnya jelek?” tanya Erina cukup penasaran dengan penolakan Christa.
Christa menggelengkan kepalanya “Bukan masalah ganteng atau enggaknya, Rin. Ini masalahnya, gue masih muda dan perjalanan hidup gue jelas masih panjang. Gue masih pengen kuliah atau kerja sambil ngejomlo. Atau, kalaupun gue punya pasangan, gue pengennya sama pilihan gue sendiri, bukan pilihan orang lain”
“Iya juga sih” angguk Erina setuju dengan alasan-alasan yang Christa lontarkan.
“Jadi, rencana lo mau kabur sampai kapan?”
“Gue juga nggak tahu, tapi yang jelas sampai kak Agam datang dan bujuk gue sambil bilang kalau dia batalin niat buat jodohin gue”
“Kalau seandainya kak Agam kekeuh dan tetap nggak mau mengalah, gimana? Lo mau tetep kabur-kaburan dan nggak pulang ke rumah?” tanya Erina memberikan kemungkinan sebaliknya.
“Pokoknya, gue mau buktiin kalau gue bisa hidup tanpa bantuan dan uang dari kakak gue, Rin. Gue udah telanjur kesal sama dia karena dia selalu maksain kehendak dia buat masa depan gue”
“Chris, nyari duit itu nggak gampang. Lo yang kebiasaan manja gini, memangnya bisa tanpa bantuan kakak lo? Lo bahkan belum mendapat bukti kelulusan lo dan mau ngelamar kerja sebagai apa? Sekarang untuk bekerja aja, orang lebih percaya sama yang udah berpengalaman dibandingkan sama yang tamatannya tinggi”
Christa menundukkan kepalanya dan sadar bahwa apa yang dikatakan oleh Erina memang benar, tapi ia tetap akan gigih dan berusaha untuk mencoba terlebih dahulu “Gue yakin bahwa gue bisa” semangatnya.
“Yaudah, kalau lo yakin, mendingan sekarang masuk kamar dulu dan bebersih. Gue mau kunciin pintu dulu, baru nyusul ke kamar” titah Erina dan diangguki oleh Christa yang segera berjalan menuju kamar Erina yang sudah ia tahu jelas dimana posisinya karena ia cukup sering menginap disana sejak mereka kuliah.
Christa mengecek ponselnya dan membelalak saat ia melihat pesan masuk dari kakaknya. Ia dengan cepat mengklik pesan itu dan berharap besar kalau kakaknya menyesal dan menyuruhnya segera pulang, tapi walau bagaimanapun, Agam tetaplah Agam yang keras kepala dan egois. Pria itu hanya memberikan harapan semu padanya.
Agam : Gue akan lihat seberapa bisa lo ngandelin diri sendiri dan bersikap egois seperti ini. Kalau nanti lo nyesel dan balik ke rumah ini, gue udah nggak ada di sini, itu artinya, kita memang nggak akan ketemu lagi.
Membaca pesan itu, muncul segala pikiran buruk yang menyumpahi Agam. Christa tahu bahwa sifatnya itu sangat kekanakan, tapi ia sedang kesal-kesalnya karena pesan Agam. Agam yang sok misterius dan ingin meninggalkannya, hanya membuatnya marah dan geram. Ia sangat yakin kalau Agam tak akan meninggalkannya sendirian begitu saja. Ia tahu benar kalau Agam sangat menyayanginya dan tak mungkin tak menganggapnya adik lagi. Ia berusaha meyakinkan diri, namun sedetik kemudian ia jadi merana dan galau.
“Kenapa lagi?” tanya Erina saat melihat Christa yang masih saja seperti cacing kepanasan.
“Nih”Christa menunjukkan pesan dari Agam kepada Erina. Erina membaca pesan itu dan terkekeh.
“Jadi ceritanya, lo mau balik nih?” tanyanya sambil menaik turunkan alisnya, menggoda Christa.
“Nggak tahu. Intinya, gue kepikiran sama maksud pesan ini”
“Yaudah lah Ta, terima aja tawaran kakak lo. Gue tahu nggak mudah untuk menerimanya kalau itu posisi gue, tapi yang lo punya kan cuma kak Agam sebagai satu-satunya keluarga”
Christa hanya diam dan merenungkan ucapan Erina yang semakin mempengaruhinya. Ia kemudian membaringkan diri dan memilih membawa masalah itu ke dalam mimpinya. Mana mungkin ia semudah itu mengubah pikirannya untuk menerima lamaran teman kakaknya. Ia juga tak bisa meruntuhkan harga dirinya dengan kembali ke rumah dan mengatakan ‘aku mau nikah sama kak Geo’ begitu saja, padahal tadi ia sudah bersikap jual mahal dan menjujung tinggi martabat dan harga dirinya hingga ke langit ke-7. Mau ditaro di mana mukanya nanti.
“Ah, udahlah, gue pusing mikirin itu mulu. Biarin aja lah dulu.” Ujar Christa ingin masa bodo dengan ucapannya Agam meski ia sedikit gelisah dan ingin mengetahui maksud chat pria itu.