Hari-hari berat menemui Ryenata. Tidak satu pun urusannya selesai. Masalah satu datang disusul masalah yang lain. Menyebalkan dan sedikit membuat frustasi. Ryenata merebahkan tubuhnya, berbalik, lalu kembali pada posisi telentang.
“Sial.” Ryenata tahu betul, bahkan sejak awal. Lingkungan satu itu jelas sulit untuk ditembus, bahkan terlalu sulit. Tapi ia tak mungkin menyerah. Sayangnya banyak jalan yang sudah Ryenata coba, tak satu pun ada yang membuahkan hasil.
“Aku rasa lawanmu memang bukan orang sembarangan,” ujar Alda tadi pagi. Ryenata tahu itu, jadi tak perlu Alda perjelas. Jika lawannya orang biasa, apakah Ryenata akan seperti ini?
Ryenata menatap langit-langit kamarnya. Sampai kapan ia akan mendekam di sini?
“Ayah, Ibu, Kakak, apa kalian kecewa padaku?”
Ryenata tak mampu memejamkan matanya. Ini bukan hanya soal gagal saja, ini lebih dari itu. Kejadian naas itu seperti itu mengubur jiwa Ryenata. Bahkan untuk sekedar memejamkan mata saja terasa sangat sulit. Kejadian itu terus menghantuinya. Benar-benar menghantui.
Pikiran-pikiran liar menyemak di dalam kepala Ryenata. Haruskah ia habisi saja musuhnya itu? Mungkin jika ia memohon pada sang Bos, Ryenata bisa mendapat bantuan. Tapi apa dia akan puas dengan itu saja? Apa semua selesai dengan kematian 1 orang?
Ryenata mengeram panjang, bangkit dari kasur dan meninggalkan kamar. Di ruang tamu ia bertemu dengan Alda yang sedang menyesap teh dengan TV menyala.
“Sudah jam segini, kau mau ke mana?”
“Cari angin.”
Ryenata sudah pergi. Ia memakai pakaian tipis dengan rambut diikat tinggi.
“Hey kenakan jaket. Anginnya kencang kalau malam!” Pria itu berteriak. Tapi teriakan Alda sirna begitu saja sebab Ryenata sudah pergi.
“Pasti ke Sungai Nezu lagi,” Alda membatin.
…
Ryenata melangkah masuk, mengedarkan pandangan seadanya. Tidak biasanya kelab sepi. Padahal biasanya lantai dansa sudah penuh pada jam segini.
“Halo, Nona. Pesan apa?” Bartender menyapa. Ryenata melihat, menyadari bahwa bartender hari ini adalah orang yang berbeda. Awalnya Ryenata ingin minum di meja bar saja, tapi ia mengurungkan niat. Ryenata ingin tempat yang lebih tenang. Ia akhirnya memesan satu ruangan pribadi. Tak apa membayar lebih, toh uang tak pernah benar-benar jadi masalah untuknya.
Ryenata meneguk minumnya. Entah gelas keberapa dalam 1 jam ini. Kepalanya terlalu penuh, jadi Ryenata berniat untuk sedikit melarikan diri. Ia punya kemampuan yang cukup dalam minum alkohol, jadi ia akan baik-baik saja minum banyak di sini sendirian.
Dinginnya AC di dalam ruangan menusuk ke kulit hingga tulang. Ryenata baru sadar kalau ia tak memakai jaket atau pun baju yang cukup tebal. Sepertinya ACnya terlalu dingin, atau tubuhnya yang mulai lemah dalam menangani suhu.
Ryenata bangkit, berniat menaikkan suhu AC, tapi suara ribut di luar menarik perhatiannya.
Ryenata mengintip sedikit. Ada 3 orang pria bersama 1 orang wanita. 2 orang pria bertubuh cukup besar terlihat menghardik si pria yang berdiri di dekat si wanita. Si pria memberikan perlawanan, meski tubuhnya tidak sebesar kedua lawannya. Dari kalimat yang terucap, sepertinya ini masalah uang dan wanita. Tak lama 1 orang pria lagi datang, berusaha menarik si wanita dan membawanya pergi. Tapi si pria berusaha menahan dan melindungi. Perkelahian tidak bisa dihindari. Dua pria besar memukul si pria yang pertama, sedangkan si wanita berusaha melindungi. Tapi pria yang terakhir menarik paksa wanita itu menjauh.
Jangan salah paham. Ryenata tak berniat membantu, sebab ia tak mau ikut campur. Ini bukan urusannya, jadi Ryenata kembali duduk. Ia lupa pada apa yang tadi ia cari. Tak berapa lama suara ribut di luar menghilang. Ryenata pikir urusannya sudah selesai.
10 menit kemudian Ryenata tiba-tiba ingin buang air kecil. Ia bergegas bangkit dan berjalan cepat ke arah toilet. Saat kembali ke ruangannya, Ryenata mendengar lagi suara ribut dari dalam salah satu ruangan. Pintu ruangan yang sedikit terbuka membuat Ryenata bisa mengintip ke dalam. Sungguh, ia tak berniat ikut campur, tapi teriakan dari dalam membuatnya tak bisa diam.
Ryenata sudah hampir menerobos masuk, tapi lengannya dicekal. Ryenata menoleh karena terkejut.
“Kau mau apa?” Tanya Syane.
“Di dalam—“
“Tidak usah ikut campur.” Syane menarik Ryenata ke belakang, kemudian memberi kode pada beberapa pria berpakaian serba hitam di belakangnya. Orang-orang itu masuk, lalu terjadilah keributan yang lebih besar.
Syane membawa Ryenata menjauh.
“Kau tahu siapa yang tadi di dalam ruangan itu?”
Ryenata menggeleng. Ia tak peduli siapa yang ada di sana. Ryenata tak suka ada pria yang menindas wanita.
“Dia anak salah satu orang berpengaruh di Kota ini. Kau bisa kena masalah jika mengusiknya.”
“Jadi kau akan biarkan saja dia berbuat semena-mena seperti itu?”
Syane menghentikan langkah, memandangi Ryenata.
“Kau tahu dari mana kalau dia berbuat semena-mena?”
“Kau dengar sendiri kan wanita itu tadi menangis dan berteriak minta tolong.”
“Ya walau pun begitu, bukan berarti kau harus ikut campur. Apa kau seorang super hero?”
“Aku bukan super hero, tapi aku juga bukan pengecut.”
Syane memandangi Ryenata lekat, seolah tak pernah cukup waktu untuk memandangi wanita cantik itu.
“Lalu kau sendiri?”
Alis Syane terangkat. “Apa?”
“Tadi orang-orangmu? Kau juga ikut campur.”
Syane terlihat tenang dan santai. “Dia cukup sering membuat masalah, jadi aku berhak memberinya pelajaran.”
“Kenapa kau merasa berhak?” Ryenata menatap Syane polos, antara lupa atau masih tidak tahu kalau kelab yang ia sering datangi itu adalah milik pria jangkung di depannya.
“Karena aku—“ Syane menjeda, “Kenapa kau di sini?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Memangnya kenapa kalau aku di sini? Ini tempat umum.”
Syane seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan di bibirnya. Ryenata memakai pakaian yang cukup tipis, sementara angin cukup kencang malam ini.
“Pokoknya jika ada masalah di kelab ini ke depannya kau jangan ikut campur. Jika ada keributan langsung laporkan saja pada keamanan.”
Dahi Ryenata mengerut.
“Apa kau paham?”
Ekspresi serius Syane ditambah suara tegas yang ia keluarkan membuat Ryenata refleks mengangguk.
“Kau di mana? Aku antar.”
“Tidak usah. Aku sudah mau pulang.” Mood Ryenata sudah sedikit membaik, jadi dia putuskan untuk pulang saja. Walau sebenarnya botol miliknya masih banyak yang berisi.
“Kau sendirian?”
“Memang kapan kau lihat aku tidak sendiri?” Balas Ryenata. Ia tak sadar kalau Syane menyamai langkahnya meninggalkan kelab, menuju parkir.
“Pernah, saat di—“ Syane terjeda.
“Saat di mana?”
Tak ada jawaban. Ryenata mengikuti arah pandang Syane. Dahinya mengerut. Ryenata seperti mengenali orang-orang itu. Mereka adalah bagian dari kalangan elit Kota Loure. Belum selesai Ryenata berpikir, tubuhnya tiba-tiba ditarik, dibawa ke dalam coat panjang milik Syane. Gerakan yang begitu cepat membuat Ryenata terdiam bisu—terkejut. Ia seperti sedang disembunyikan di dalam coat.
“Ayo..” Syane menarik Ryenata menjauh. Lalu tiba-tiba ia kenakan coatnya pada Ryenata.
“Pakai saja, jangan dilepas,” perintahnya ketika Ryenata hendak membuka coat itu.
“Kau ini kenapa?”
“Kau bawa mobil, kan?”
“Iya, kenapa?”
“Pergilah. Hati-hati.”
Ryenata bingung, tapi akhirnya tetap pergi. Syane menghubungi seseorang kemudian kembali ke dalam kelab.
…
Ryenata baru bangun saat suara TV Alda terdengar cukup kencang.
“Kau menonton apa sepagi ini?”
“Lihat.” Alda menunjuk layar.
Ryenata mengikuti arah telunjuk Alda. Itu adalah orang yang Ryenata lihat di kelab tadi malam. Syane benar, ternyata pria itu adalah anak salah satu pejabat tinggi Kota Loure. Memang seharusnya Ryenata tak berurusan dengan orang seperti itu.
“Anak pejabat tinggi Kota Loure tertangkap pakai narkoba sekaligus terlibat kasus pemerkosaan wanita. Tidak hanya itu, dia juga diduga memaksa si wanita mengonsumsi narkoba dalam jumlah berlebih hingga hampir overdosis. Wah, ini berita yang cukup menggemparkan.” Alda berdecak.
Ryenata terdiam. Apa itu alasan Syane melarangnya ikut campur? Apa mungkin sebenarnya Syane sudah tahu?
“Kenapa kau begitu serius? Apa kau kenal dia?”
Ryenata melangkah menuju pantry. Ia mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas. Tiba-tiba saja ia menjadi haus.
“Tidak.”
Dering ponsel menarik perhatian Ryenata. Meski masih tanpa nama, Ryenata tetap ingat siapa yang menelfonnya. Ia menjawab panggilan, bicara pada orang di telfon selama beberapa menit. Ryenata naik ke lantai 2. Setelah sibuk di kamar selama beberapa menit, Ryenata meninggalkan rumah mengenakkan pakaian formal. Sepertinya ia ada urusan pekerjaan.
…
Ryenata berdiri di depan unit apartemen yang sebelumnya sudah pernah ia datangi. Bedanya kali ini ia datang untuk bekerja. Tak berapa lama setelah Ryenata menekan bel, pintu pun terbuka.
“Masuklah.” Syane mengenakkan kemeja yang lengannya sudah tergulung setengah. Bagian bawah kemeja itu dimasukkan rapi ke dalam celana. Terbiasa melihat Syane mengenakkan celana jeans, Ryenata sedikit terkejut melihatnya tampil formal. Ternyata Syane bisa terlihat berbeda.
“Kenapa tidak masukkan saja passwordnya? Bukankah terakhir kali ke sini kau sudah tahu password apartemenku?”
“Aku tidak tahu,” jawab Ryenata cepat. Lebih tepatnya tak mau terlihat tahu.
“Oh ya? Tapi—“
“Tuan Syane, bukankah kita mau membicarakan masalah pekerjaan? Sebaiknya kita fokus pada tujuan pertemuan kita.”
Syane tertawa pelan. “Maaf, tidak ada banyak makanan. Aku baru kembali dan belum sempat berbelanja.”
“Ya, tidak apa. Bisa dimulai?”
Setelah Syane mengangguk, Ryenata langsung menjelaskan. Selama Ryenata menjelaskan, pandangan Syane tak pernah lepas dari wajahnya.
Andai Ryenata tahu, bahwa isi kepala Syane dipenuhi oleh dirinya. Perhatian Syane sama sekali tak tertuju pada semua penjelasan Ryenata tentang keberhasilan investasi pria itu.
“Ada yang mau ditanyakan?”
“Tidak.”
“Baiklah, kalau begitu ini dokumennya. Untuk semua pembayaran akan diurus dalam 3 hari. Silakan ditanda tangani.”
Syane dengan cepat menggoreskan tinta pena di atas kertas.
“Sudah?” Gantian Syane bertanya.
“Ya.”
“Sekarang giliranku.” Tiba-tiba Syane mendekat, mengikis jaraknya dan Ryenata. Wanita itu sedikit terhuyung ke sandaran sofa—cukup terkejut.
“Aku bukan tipe pemaksa. Tapi bibirmu benar-benar menggodaku sejak tadi.”
Ryenata tetap diam. Tanpa babibu lagi Syane langsung melumat bibir Ryenata.