Chapter 10
Syane langsung membuka pintu begitu bel terdengar. Ia sudah menunggu. Di balik pintu, orang yang Syane nantikan berdiri dengan raut wajah yang tampak begitu kelam. Sepertinya Ryenata baru saja menghadapi sesuatu yang besar.
Syane membawa tamunya itu masuk. Sejak Ryenata masuk hingga Syane memberinya air minum, pandangan Syane tak pernah lepas dari wajah gadis itu. Entah kenapa Syane begitu suka melihat wajah Ryenata. Ia punya banyak kenalan yang tidak kalah cantik oleh Ryenata. Tapi entah kenapa Ryenata seolah punya pesona sendiri yang tak bisa Syane elakkan.
“Kau lapar?” suara Syane memecah keheningan di dalam ruangan besar dengan design mewah yang tak bisa disembunyikan itu.
Ryenata mengangkat wajahnya perlahan, bertemu pandangan dengan manik milik Syane. Sejujurnya tidak ada keteduhan atau kehangatan yang bisa Ryenata temukan pada tatapan pria tinggi besar di depannya itu. Namun entah kenapa seperti ada tarikan yang membawanya untuk datang pada Syane.
Tadi Ryenata sangat kalut. Ia sedang berada di fase tertekan hingga kerongkongannya terasa begitu sulit untuk melewatkan oksigen. Dan kini, begitu menginjakkan kaki di kediaman Syane, lalu melihat wajah pria itu, entah kenapa seperti ada udara segar yang mengguyur, memeluk perlahan tubuh ringkih Ryenata ke dalam kehangatan. Ia menjadi lebih tenang dan terkendali.
“Kau punya makanan?”
“Tentu. Kau ingin apa? Aku akan pesankan.” Syane sudah bersiap mengetik pada layar ponselnya. Ia akan minta asistennya untuk membeli makanan enak secepatnya. Namun gelengan pada kepala Ryenata membuat alis Syane terangkat.
“Kau punya mie instan?”
“Mie instan?”
Ryenata mengangguk perlahan. Syane tersenyum. “Aku punya. Duduklah, aku akan buatkan untukmu.”
“Kau bisa memasak?”
“Tentu. Memasak adalah hal yang mudah.” pria itu beranjak menuju tempat kompornya berada. Ryenata mendekat, kemudian menyandarkan tubuhnya ke kitchen island. Dari tempatnya Ryenata bisa melihat dengan jelas apa yang Syane lakukan. Pria itu tampak begitu lihai di dapur.
“Kenapa di sini? Nanti kau terkena asap. Tunggu di meja makan saja..”
“Tidak apa-apa. Aku ingin melihatmu. Sedikit penasaran bagaimana seorang Tuan Rayan Silva memasak.” Seolah ada sindiran halus di dalam kalimat itu. tapi alih-alih marah, Syane justru tertawa dengan begitu senangnya. Ia suka saat Ryenata menggodanya. Suara Ryenata terdengar begitu renyah di telinga Syane.
Alis Ryenata terangkat saat Syane bergerak menuju meja makan. Pria itu kembali dengan membawa kursi. Ia persilakan Ryenata duduk. Sikap gentleman itu cukup membuat Ryenata takjub. Siapa sangka seorang Syane Raveyr bisa bersikap begitu gentle pada wanita.
Selama hampir 10 menit Ryenata menyaksikan bagaimana Syane begitu lihai mengoperasikan alat-alat di dapur. Bahkan cara ia memotong bawang saja terlihat begitu profesional. Ryenata berspekulasi bahwa Syane pernah les memasak, mungkin untuk membuat para gadis terpesona.
Dalam beberapa menit, sebuah mie kuah terhidang di depan Ryenata. Tampilannya patut diacungi jempol. Sangat cantik untuk ukuran semangkuk mie instan. Syane jelas tahu apa yang ia kerjakan.
“Kau pernah les memasak?” akhirnya Ryenata suarakan rasa ingin tahunya. Ia masih belum mencoba masakan Syane, masih memandangi setiap ornamen yang ada di dalam mangkuk.
“Tidak.”
“Lalu kenapa kau bisa memasak?”
“Aku sering melihat ibuku memasak.”
Ryenata manggut-manggut.
“Ayo dicoba.” Syane menunggu dengan perasaan yang begitu bersemangat.
Ryenata mencoba mencicipi kuah dari mie tersebut. Dan hasilnya tidak mengkhianati usaha Syane. Ryenata terlihat menyukainya.
“Enak. Kau pintar.” Gadis itu mulai menikmati mienya. Syane duduk di sampingnya, memandangi Ryenata dengan satu tangan menopang dagu. Senyuman tak pernah pudar dari wajah tampan Syane. Bahkan Ryenata yang sedang makan saja terlihat begitu mempesona di matanya.
“Kau mau?” Ryenata menawarkan di tengah kegiatan makannya.
“Tidak. Untukmu saja. Katakan jika kau ingin lagi.”
Ryenata menghabiskan mienya dalam sekejap. Entah ia memang lapar atau masakan Syane terlalu sayang untuk dilewatkan. Ryenata menyelesaikan hingga hanya tersisa sedikit kuah saja di sana.
“Kau menyukainya?”
“Ya. Ini enak. Aku berikan kau dua jempol.” Ryenata mengarahkan dua jempolnya ke depan Syane.
“Ingin lagi?”
“Tidak, aku sudah kenyang.”
“Kenapa makanmu sedikit sekali?”
Ryenata menarik napas dalam, menyeka sisa makanan di bibirnya. Ia memandangi Syane dengan wajah ditopang oleh tengan.
“Karena lambungku kecil.”
Syane tertawa. Tawa itu terdengar begitu renyah. Rahangnya yang tegas terlihat begitu memanjakan mata. Ryenata sempat terpesona, mengagumi ciptaan Tuhan yang duduk dengan jarak begitu dekat dengannya. Kapan lagi ia bisa melihat ciptaan sesempurna ini, kan?
“Boleh aku tanya satu hal, Tuan Syane?”
“Ya, tentu. Banyak juga boleh.”
“Apa kau benar-benar tertarik padaku?”
“Ya.” Syane menjawab dengan cepat dan tanpa berpikir. Tidak ada keraguan. Entah ia penipu ulung atau ia memang bicara apa adanya.
“Kenapa?”
“Kenapa?” tanya pria itu balik. Satu alisnya terangkat sesaat, sebelum sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman halus. “Kau sangat menarik. Bukankah wajar jika pria sepertiku tertarik padamu?”
Ryenata tidak serta-merta tersipu oleh jawaban Syane. Ia sudah bertemu banyak pria seperti Syane, meski tidak benar-benar menghadapi mereka secara langsung seperti ini. tapi pada dasarnya semua polanya sama saja. Sebenarnya Syane hanya penasaran saja, tidak benar-benar tertarik. Dan pastinya ia akan hilang setelah mendapatkan. Tapi sayangnya Ryenata tak punya waktu untuk bermain-main seperti ini.
“Mau tidur denganku?” tanya Ryenata tiba-tiba. Pertanyaan itu sepertinya cukup membuat Syane terkejut, sebab raut wajahnya berubah seketika.
Ryenata lalu kembali bertanya. “Kenapa terkejut? Apa kau tidak menduga aku akan menanyakan pertanyaan ini langsung?”
“Apa kau pikir aku tertarik padamu karena ingin tidur denganmu?”
“Apakah bukan? Aku sudah bertemu cukup banyak pria sepertimu, Tuan Syane. Dan mereka semua hanya menginginkan satu hal, tubuhku.”
Syane hembuskan napas pelan. Senyumnya hilang. Meski masih terlihat tenang, namun tubuhnya terlihat lebih tegak daripada semula. Pria itu terlihat lebih serius.
“Ya, memang aku ingin tidur denganmu, tapi bukan itu yang utama.” Syane bergerak cepat mengikis habis jarak di antara ia dan Ryenata. Kini keduanya hanya terpisah jarak beberapa sentimeter saja. Ryenata terkesiap—terkejut.
“Aku jauh lebih tertarik pada kepribadianmu,” ucap Syane dengan suara yang sangat pelan, disertai hembusan napas yang menerpa wajah Ryenata. Wangi. Cukup memabukkan.
Ryenata tak ingin terkena oleh tipu daya Syane. Ia paham betul bagaimana pria-pria seperti Syane menaklukkan mangsa mereka. ryenata tak akan membiarkan dirinya masuk ke dalam perangkap.
“Aku sudah kenyang.” Gadis itu bangkit dari tempat duduknya. “Terima kasih atas jamuannya, Tuan Syane. Aku merasa tersanjung. Maaf sudah merepotkan di tengah malam begini.”
Ryenata sudah mendapatkan kendali dirinya lagi. beberapa jam yang lalu ia benar-benar ada di fase kalut dan hilang arah. Ryenata juga tanpa sadar menghubungi Syane. Biasanya ia akan menghadapi fase itu sendirian, bergelung, menangis hingga kehilangan setengah kesadarannya. Tak tahu kenapa hari ini Syane ia libatkan di dalam fase healingnya.
“Sudah mau pergi? Begitu saja?”
Ryenata mengangkat kedua alisnya. “Lalu apa lagi? Kau berpikir apa saat aku bilang mau datang ke sini?”
Syane bangkit, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Sudut bibirnya tertarik, membentuk seringai halus yang manis. Ia berdiri tepat di depan Ryenata. Gadis itu tidak merasa terintimidasi. Skenario paling buruk adalah Syane memaksanya dan dia akan lakukan apa pun untuk membela diri.
“Kau pergi terlalu cepat. Bagaimana kalau minum segelas wine dulu?”
“Wine?” Ryenata tertawa pelan. “Apa kau berencana membuatku mabuk?”
“Apa aku begitu buruk di dalam pikiranmu?”
“Hm, tidak juga. Baiklah. Apa yang kau punya?”
“Kau suka apa? aku pasti punya sesuatu yang akan kau sukai.”
Syane membawa Ryenata menuju ruangan tempat di mana koleksi winenya berada. Saat memasuki ruangan itu, Ryenata cukup terpukau. Ia tak menyangka rumah dengan tampilan begitu rapi seolah tak berpenghuni ternyata menyembunyikan berbagai macam wine kualitas terbaik.
“Kau pengoleksi wine?”
“Tidak juga. Hanya iseng.”
Ryenata manggut-manggut. “Iseng?” Syane pasti bercanda. Orang iseng seperti apa yang punya berbagai macam wine dengan harga tidak biasa seperti ini.
“Iseng yang tidak biasa,” gumam Ryenata.
“Kau mau yang mana?”
“Boleh apa saja?” tanya Ryenata sembari berbalik sebentar, sedikit menggoda Syane. Di dalam kepala, gadis itu menebak Syane pasti hanya akan mengizinkannya mengambil wine yang biasa. Tidak mungkin Syane rela wine mahal dan terbaik miliknya diambil oleh orang antah barantah.
“Ya..”
“Ini?” Ryenata sebenarnya bukan wine addict, juga bukan pengoleksi. Tapi Ryenata tahu cukup banyak tentang wine, sebab ia harus punya pengetahuan luas untuk kelancaran urusan pekerjaan.
Syane berdiri di dekat rak wine, dalam posisi bersandar dan kedua tangan berlipat di d**a. Pria itu tidak menunjukkan ekspresi terkejut sama sekali. Ia tampak begitu tenang dan..
“Tentu. Kau boleh ambil yang mana pun yang kau sukai..” ucap Syane tanpa ragu.
“Hah?” Ryenata melongo, tak bisa sembunyikan rasa terkejutnya. Bukankah ini sudah jauh dari ekspektasinya tentang Syane? Sampai beberapa detik yang lalu, Ryenata masih berpikir bahwa Syane hanyalah pemain. Tapi sekarang Ryenata berubah pikiran. Syane bukan pemain, tapi pemain ulung. Ia sudah sampai pada tahap menggunakan barang-barang dan trik-trik tidak biasa untuk menggaet mangsanya.
“Kau sepertinya cukup tahu soal wine,” ujar Syane, mengambil wine di tangan Ryenata dan membawa gadis itu keluar. Ia sempat bertanya apa Ryenata masih menginginkan wine yang lain lagi. Dan Ryenata langsung menggeleng tanpa berpikir. Ia jelas tak ingin berlama-lama di tempat Syane, tak peduli untuk menikmati wine atau apa pun.
“Tidak juga. Hanya tahu sedikit.”
Syane mengambil gelas, membuka tutup wine dengan begitu fasih. Ia menuang wine ke dalam gelas.
“Selamat menikmati.”
Ryenata menerima gelas itu, sempat terdiam sesaat sebelum memutuskan untuk meneguk wine itu, disusul Syane.
“Suka?”
“Hm, enak.”
“Kau mengatakan enak seolah sedang makan steak,” ujar Syane tertawa pelan—renyah.
“Kau pasti penggila wine. Ini harganya sangat fantastis.”
“Sebenarnya hanya kebetulan dapat,” sahut Syane, kembali menuang wine ke dalam gelas mereka. “Hasil taruhan,” sambungnya kemudian.
Alis Ryenata terangkat.
“Dengan sahabatku,” ucap pria itu lagi. “Sebenarnya dia yang mengoleksi berbagai jenis wine langka. Maksudku dia punya jauh lebih banyak.”
Ryenata manggut-manggut. Ia tidak benar-benar tertarik, tapi tidak sepenuhnya abai juga.
Obrolan di antara dua orang itu mengalir begitu saja. Ryenata bahkan tak sadar bahwa jarum jam sudah bergerak jauh, mulai memasuki tengah malam. Syane memang tipe pria yang asyik untuk dijadikan teman berbincang. Keduanya sudah terduduk di karpet, di antara sofa dan meja besar.
Di tengah obrolan yang berlangsung seru, Syane tiba-tiba terdiam. Matanya tertuju lurus memandang Ryenata. Ryenata pun ikut berhenti bicara, membalas tatapan Syane.
“Apa kau tahu bahwa kau sangat cantik, Ryenata?” Suara Syane terdengar begitu seksi dan dalam.
Ryenata tertawa. “Tahu.”
Syane menarik sudut bibirnya. “Benar-benar cantik,” puji pria itu lagi. tiba-tiba Syane bergerak mendekat, mengikis perlahan jarak antara ia dan Ryenata. Tak ada penolakan atau perlawanan. Ryenata tetap pada posisinya, tidak berusaha menjauh.
“Rasanya aku ingin memakanmu.” Syane sengaja menghembuskan napasnya ke wajah Ryenata.
“Kau butuh tenaga yang besar untuk bisa memakanku.”
Seperti mendapat sambutan, Syane menjadi semakin bersemangat.
“Boleh dicoba.”
Ryenata mencibir, kemudian mendorong d**a Syane agar menjauh darinya.
“Kau pasti sudah punya banyak koleksi wanita.”
“Tidak ada.”
“Tidak mungkin.”
“Tidak apa-apa kalau kau tak percaya, tapi aku tidak pernah berbohong jika soal wanita. Aku tidak punya. Makanya sekarang aku mendekatimu.”
“Bartender di club itu bilang kalau kau bukan orang sembarangan. Aku tidak berani macam-macam denganmu. Salah-salah aku bisa kehilangan nyawaku.”
Hening.
“Terima kasih.”
Syane menoleh, bertemu tatap dengan Ryenata.
“Sudah menemaniku mengobrol malam ini,” sambung Ryenata. “Aku tidak akan lupa jasamu. Kalau suatu saat kau butuh sesuatu, kabari aku. aku akan membantumu.” Ryenata mengambil ponsel yang bergetar. nama Alda muncul di sana. Ryenata sempat menjawab panggilan itu. Syane diam, tak mengatakan apa pun. Di dalam kepalanya, Syane menyusun skenario. Kemungkinan tadi Ryenata bertengkar dengan Alda. Kini mereka mungkin akan kembali berbaikan.
Ryenata sudah pergi, meninggalkan Syane sendirian, di tengah ruangan besar yang sunyi. Haruskah Syane cari wanita lain untuk pelampiasan?