Chapter 9
Ryenata tak menolak saat Syane menarik tangannya. Tubuh Ryenata jatuh menghimpit tubuh Syane. Tak melihat ada penolakan, bibir Syane langsung memagut bibir Ryenata tanpa permisi. Ciuman yang semula begitu lembut, perlahan menjadi semakin panas karena Ryenata tetap diam tanpa perlawanan.
Satu tangan Syane menyusup ke balik rambut hitam legam milik Ryenata. Ciumannya semakin dalam dan menuntut. Seperti mendapat tetesan air di tengah gurun pasir, Syane langsung tersadar saat merasakan balasan dari Ryenata.
Ciumannya mendapat sambutan. Syane senang bukan main. Lidahnya menyusup lebih dalam, mengabsen setiap lekuk yang mampu ia capai. Satu tangan Syane dengan berani membelai punggung Ryenata, menarik gadis itu lebih dekat dan intim.
“Ahh,” Syane terpekik kecil karena Ryenata menggigit lidahnya. Ciuman terlepas dan Syane mendapati sebuah senyum tipis terukir di bibir Ryenata. Gadis itu menyeka bibirnya tanpa canggung. Ia lalu bangkit berdiri.
“Kau sepertinya sudah sadar sepenuhnya. Aku pergi dulu.”
“Tidak mau menginap?” tawar Syane lebih berani.
“Ibu bilang sarang buaya itu berbahaya. Aku masih ingin hidup.”
Syane sontak tertawa. Ryenata kemudian benar-benar berlalu. syane menghembuskan napas panjang, menjatuhkan diri sepenuhnya ke kasur. Ia memandangi pintu yang sudah tertutup kembali, dengan satu lengan berada di dahi. Pria itu tersenyum.
“Ryenata Light, aku tidak akan melepaskanmu.”
…
Ryenata memandangi ponselnya. Mobilnya berhenti di pinggir jalan, tak jauh dari sungai Nezu berada. Hamparan sungai yang begitu luas terlihat berkilau tertimpa lampu jalan. Ryenata suka tempat ini. Sunyi dan damai.
Ada pesan dari Alda. Ryenata membukanya, melihat dengan teliti apa yang Alda kirim. Semua adalah informasi tentang orang yang tempo hari menyerangnya. Ryenata sudah menebak bahwa orang itu pasti orang suruhan salah satu musuh Bosnya. Serangan ini jelas personal, meski dari yang Alda jelaskan semuanya berkaitan dengan sang Bos.
“Mereka tidak berniat merebut apa yang aku miliki, tapi benar-benar ingin menghabisi nyawaku. Ini jelas bukan sekedar dendam antara organisasi, tapi lebih dari itu.” Ryenata menatap jauh ke depan. Satu-satunya kedamaian yang bisa Ryenata miliki adalah berada di tempat sunyi seperti ini. selebihnya dunianya sangatlah berisik dan melelahkan. Terikat hutang budi dan dihantui oleh amarah—dendam.
Dulu Alda pernah bertanya, apa suatu hari Ryenata ingin lepas dari dunia mereka dan hidup dengan tenang di tempat yang jauh. Hidup dengan normal seperti orang-orang. Pertanyaan itu begitu sederhana, namun Ryenata tak mampu memberikan jawaban. Ryenata bukan tak mau menjawab, tapi ia tak tahu apa jawabannya. Sampai saat ini Ryenata tak punya keinginan apa pun di dalam hidupnya selain membalas apa yang sudah terjadi pada kedua orang tuanya, pada keluarganya. Satu-satunya hal yang membuat Ryenata masih bernapas adalah dendam yang membara di dalam dirinya.
Ryenata tumbuh bersama Alda dalam beberapa tahun terakhir. Mungkin terhitung singkat. Tapi tahun-tahun berat itu seperti mengikat habis belasan tahun yang sudah Ryenata lalui sebelumnya. Ia bergantung pada Alda, ya. Bisa dikatakan begitu, setidaknya untuk hampir 80% hal yang ia lakukan.
Setelah dendam itu terbalas, apa yang akan Ryenata lakukan? Entahlah. Mungkin menghilang atau mungkin ikut menyusul mereka yang telah pergi lebih dulu meninggalkannya.
Setelah Ryenata mengirim pesan balasan pada Alda, pria itu menanyakan di mana keberadaannya.
“Tempat biasa, Sungai Nezu.”
“Berhati-hatilah. Orang bilang Sungai Nezu ada hantu.”
“Aku rasa hantu Sungai Nezu akan lebih takut pada diriku.”
Belasan emotikon tertawa terbahak-bahak dikirim oleh Alda sebagai balasan.
Ryenata hendak menyimpan ponselnya saat nomor asing tiba-tiba masuk melakukan panggilan. Dengan kekuatan ingatan yang ia miliki, Ryenata langsung tahu nomor itu milik siapa, meski ia tak menyimpannya dan baru sekali mengirim pesan.
“Ada apa?” Ryenata menjawab telfon itu.
Di tengah kesunyian malam di pinggir Sungai Nezu, suara di seberang berkata dengan begitu tenang, “Jadilah kekasihku, Ryenata Light.”
…
Dahi Ryenata mengerut. “Apa kau masih mabuk, Tuan Syane? Seingatku kau sudah sadar tadi.” Ryenata tidak terkejut, lebih pada merasa aneh.
“Aku serius.”
Ryenata menghembuskan napas pelan. “Aku tidak tertarik.”
“Kita bisa coba dulu.”
“Tuan Syane, apa kau akan terus mencoba jika aku terus menolakmu? Kau tidak akan berhenti sampai aku menerima?”
“Mungkin.”
“Kau sungguh membuang-buang waktumu, Tuan Playboy. Sejujurnya aku tidak tahu kenapa kau tertarik padaku. Itu pun jika kau memang tertarik atau sebenarnya kau hanya penasaran saja. aku ini aslinya adalah orang yang sangat membosankan.”
“Bagiku tidak. Kau sangat menyenangkan. Dadaku selalu berdebar saat dekat denganmu.”
“Jadi begini rasanya digombali oleh seorang pemain?”
“Aku serius. Dadaku memang berdebar kencang setiap kali aku dekat denganmu.”
“Jadi lebih baik kalau kau tidak dekat denganku.”
“Tapi aku menyukainya.”
Ryenata mengusap tengkuknya. Biasanya Ryenata tidak akan menggubris pria-p****************g yang mencoba merayunya. Tapi entah kenapa kali ini ia biarkan Syane bicara panjang lebar.
“Tuan Syane, aku ini benar-benar orang yang membosankan. Kau hanya membuang-buang waktu berhargamu denganku.”
“Kau sudah punya kekasih?”
“Kenapa bertanya?”
“Biar aku tahu pasti siapa yang harus aku lawan.”
“Ya, sudah.” Ryenata berbohong, meski sesaat kemudian ia mengerutkan dahi, bingung pada dirinya sendiri kenapa memilih berbohong.
“Berarti aku hanya punya satu saingan. Apa dia lebih tampan dariku?”
“Ya, tentu saja.”
“Ah, kau hanya membela kekasihmu.” Syane agaknya tahu betul bahwa ia itu tampan.
Ryenata memutar bola mata. “Dasar narsis,” gumam Ryenata.
“Apa dia sukses?”
“Oh tentu saja. aku tidak mengencani pria miskin. Aku suka uang.”
“Kalau begitu uangku pasti lebih banyak darinya. Aku bisa berikan semua yang kau inginkan.”
“Tapi sampai saat ini kekasihku masih mampu memberikanku semua yang aku inginkan. Jadi aku rasa sudah cukup.”
“Apa dia seorang good kisser?”
Tanpa sadar Ryenata tergelak. Pertanyaan yang vulgar.
“Tuan Syane, sudah berapa gadis yang kau perlakukan seperti ini?”
“Hanya kau.”
“Benar-benar seorang pemain.”
“Tidak, aku sungguh-sungguh.”
“Ini sudah malam, sebaiknya kau istirahat. Jika melihat dari tempat tinggalmu, sepertinya kau bukan orang biasa. Jadi aku yakin kau punya banyak urusan besok pagi.”
“Ah itu, tidak juga. Ini harta keluarga, bukan milikku. Tapi aku punya banyak uang.”
“Ya, bagus untukmu. Semoga kau semakin kaya.”
Belum sempat Syane menjawab, Ryenata sudah lebih dulu memutus sambungan. Ia meletakkan ponsel di kursi penumpang. Ryenata menurunkan sandaran kursi hingga berada pada posisi berbaring. ia kemudian melipat tangan dan memejamkan mata. Malam selalu terasa panjang. Tapi entah kapan Ryenata akan sampai pada tujuannya.
…
“Ini semua bagus.”
“Ambil saja semuanya.”
Yerika tersenyum senang. Sebenarnya ia tak perlu mengatakan hal itu karena Rafael pasti akan mengizinkan ia membeli apa pun yang ia inginkan. Tapi Yerika sangat menyukai sensasi saat orang-orang tercengang dan menatapnya penuh iri setiap kali Rafael mengabulkan semua yang ia inginkan. Yerika merasa seperti berada di atas awan, di level yang berbeda dengan gadis mana pun.
Hari ini Rafael memerintahkan untuk menutup beberapa toko agar istrinya itu bisa berbelanja dengan nyaman.
Di satu sudut toko dua pegawai berbisik-bisik, membicarakan betapa sangat beruntungnya Yerika. Sebelum ia bersama Rafael, wanita itu bahkan tidak dikenal oleh siapa pun. Entah di mana Rafael menemukannya, nama Yerika tiba-tiba melambung tinggi. Hingga saat ini identitas asli Yerika masih disembunyikan, dengan alasan privasi. Tapi banyak orang berspekulasi bahwa Yerika kemungkinan adalah puteri dari keluarga konglomerat yang tidak suka mempublih kehidupan mereka.
“Tapi apa rumor itu benar? Katanya Nyonya Yerika suka minum darah perawan untuk tetap awet muda?”
“Entahlah. Bukankah menyeramkan kalau memang iya?”
Pelayan senior melotot pada kedua pegawai itu, memberi kode agar mereka menutup mulut dengan rapat. Jika Rafael mendengar hal-hal buruk seperti itu, bukan hanya dua pegawai itu saja, tapi satu toko bisa terkena nasib buruk.
Tak berapa lama Rafael dan Yerika meninggalkan toko, setelah memborong semua barang yang ada di sana. Saat Rafael dan Yerika meninggalkan mall, Alda yang dari tadi mengawasi langsung mengirim pesan pada Ryenata.
…
“Apakah Kota Loure memang sekecil ini?” Ryenata menghela napasnya.
“Mungkin, atau kita memang berjodoh,” jawab Syane enteng. Ada senyum tipis pada wajah pria itu. ia duduk dengan begitu santai di seberang Ryenata. Gadis itu mau tak mau menarik kursi dan ikut duduk. Ia meletakkan berkas di atas meja.
“Seingatku namamu Syane Raveyr. Kenapa tiba-tiba berubah menjadi Rayan Silva?” Ryenata membaca nama klien di berkasnya.
“Itu nama bisnisku,” jawab Syane tanpa dosa. Pada kenyataannya itu adalah nama asisten pribadinya. Syane memang selalu menggunakan nama itu untuk urusan bisnis apa pun. Oleh sebab itu, mencari berita tentang nama Syane tidak akan membuahkan hasil yang terlalu berarti. Biasanya Syane jarang menemui langsung rekan bisnisnya. Tapi kali ini pengecualian, sebab Syane sendiri yang menginisiasi bisnis ini agar ia bisa bertemu dengan Ryenata.
“Baiklah, kita langsung saja. aku tidak ingin membuang waktu Tuan Rayan yang berharga.” Ryenata mulai membuka berkasnya dan menjelaskan semuanya dari A hingga Z. ia menjelaskan dengan sangat detail dan terperinci. Jujur saja, Syane takjub dan terpukau. Di luar tubuhnya yang indah, ternyata Ryenata memang punya kemampuan yang luar biasa. Otaknya sudah pasti luar biasa cemerlang. Meski sebenarnya tipe Syane bukanlah gadis-gadis pintar, tapi ia mengakui bahwa Ryenata memang menarik luar dalam.
“Ada yang ingin anda tanyakan, Tuan.. Rayan?”
“Apa keuntungannya masih bisa dinaikkan?”
Ryenata sudah menebak pertanyaan ini akan muncul. Hampir 99% kliennya menanyakan hal yang sama. Syane sudah pasti bukan pengecualian. Siapa yang tidak suka uang, kan?
“Bisa.”
“Oh ya? berapa?”
“1%.”
“Hanya 1%?”
“Dengan semua kondisi yang sudah saya jelaskan tadi, kenaikan 1% bukan angka yang kecil.”
“Ya, memang. Tapi dari yang aku dengar, kau sangat hebat dan punya skill yang tidak main-main. Sudah seharusnya kemampuanmu sesuai dengan harga yang aku keluarkan.”
“1,5%, tidak bisa naik lagi.”
Syane tersenyum. “Kau berani jamin, Nona Ryenata?”
Ryenata mengangguk tanpa ragu.
“Wow. Aku takjub. Baru kali ini aku bertemu dengan orang sepertimu. Tapi bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai?”
Ryenata dengan tenang menyodorkan berkas lainnya yang belum ia buka.
“Semua S&K ada di dalam dokumen ini, Tuan. Anda bisa membacanya dan menandatangi jika anda setuju. Jika anda merasa kurang cocok dan tidak setuju, kita tidak perlu melanjutkannya.”
Syane mengangguk-angguk kecil. Ia menarik berkas itu dan langsung bubuhkan tanda tangan bahwa tanpaa membacanya.
“Kau tidak mau membacanya?”
“Aku percaya padamu.”
“Aku bisa saja menipumu?”
Syane menarik sudut bibir, membentuk senyum campur seringai.
“Kemarin aku sudah tawarkan hartaku padamu. tidak masalah kalau kau mendapatkannya.” Syane tiba-tiba memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak. Kedua tangan bertautan di depan dagunya.
“Jadi tentang tawaranku yang kemarin, bagaimana?”
Dahi Ryenata membentuk kerutan-kerutan halus. “Bukankah urusan itu sudah selesai? Aku sudah jawab.”
“Aku memberikan tawaran baru.”
“Masih tidak tertarik.”
“Bahkan untuk mencoba?”
Ryenata menggeleng. Ia membereskan dokumen-dokumennya.
“Aku akan hubungi dalam 3 hari.” Ryenata mengulurkan tangannya. “Senang berbisnis dengan anda, Tuan Syane.”
Syane menatap tangan dengan jari-jari panjang dan lentik itu. pasti akan sangat menyenangkan bisa menautkan jari-jarinya di sana.
“Bagaimana kalau makan malam?” tawar Syane, masih berusaha.
“Maaf, sudah ada janji dengan kekasihku.”
“Kalau kekasihmu berubah menyebalkan, kau bisa hubungi aku. Aku akan langsung menghampiri di mana pun kau berada.”
Ryenata tak begitu menanggapi. Syane menerima uluran tangan Ryenata, setelahnya gadis itu pergi.
Dan siapa sangka kalau malamnya Syane benar-benar mendapat telfon dari Ryenata.
“Kau di mana?” Syane sudah bersiap mengambil kunci mobilnya.
“Tidak perlu. Aku yang akan ke sana,” ucap Ryenata di seberang.
“Aku di tempat kemarin,” jawab Syane dengan suara berat dan dalam.