Chapter 8
Dengan sekuat tenaga Ryenata menyeret tubuh besar Syane menuju lift. Untuk ke sekian kali juga gadis itu menanyakan Syane tinggal di lantai berapa. jangan tanya bagaimana Ryenata bisa berakhir mengantar Syane. Ceritanya cukup panjang dan menyebalkan. Mengingatnya membuat Ryenata kesal.
“Syane, katakan, kau tinggal di lantai berapa?”
“Hmmm.. tekan saja.” sebuah gumaman yang tidak menjawab sama sekali pertanyaan Ryenata.
Gadis itu memutar bola matanya dengan malas. Syane sangat banyak membuang waktunya. Harusnya tadi Ryenata biarkan saja pria itu tidur di tengah jalan. Kenapa dia harus merasa kasihan? Ah sial.
“Iya tekan, tapi apa yang harus aku tekan? Lantai apartemenmu, Syane..”
“Hmmm, oh lantai?” Syane membuka matanya, kemudian menekan tombol angka. Dahi Ryenata mengerut dan matanya sedikit menyipit. Lift pun mulai bergerak. Tapi Ryenata tidak bisa memastikan apakah tombol yang Syane tekan adalah angka yang benar. Tak lama lift berdenting pertanda mereka sudah sampai pada tujuan. Ryenata kembali menyeret tubuh besar itu, menuju sudut di mana unit apartemen berada.
“Yang mana milikmu?”
Syane menyipitkan mata yang sebenarnya sudah nyaris tertutup. Ia memutar kepalanya, mencoba mengenali.
“Ah, yang ini punyaku.”
“Passwordnya?”
“Kau tidak tahu?”
Tarikan napas Ryenata terdengar sangat dalam. Seumur hidup menghadapi berbagai macam manusia, dari yang paling biasa sampai yang paling seram yang pernah ia temui, jujur saja baru kali ini Ryenata merasa ada orang yang begitu menyebalkan.
“Ah, tentu saja kau tidak tahu. Aku belum memberitahumu..” Syane bergumam sambil tersenyum tanpa dosa. Bau alkohol cukup keras menusuk hidung Ryenata. Ia tak yakin berapa banyak Syane minum tadi. Sepertinya pria ini sedang ada masalah. Bukan cenayang, Ryenata hanya iseng menebak.
Syane memasukkan password apartemennya dan Ryenata memilih memalingkan pandangan, tak ingin disebut kepo. Lagipula sama sekali tidak ada untung baginya mengetahui password apartemen Syane. Begitu pintu terbuka, Syane melangkahkan kakinya hingga hampir menyeret tubuh Ryenata.
“Bisakah kau tidak melangkah tiba-tiba? Aku tidak bisa menopang tubuh besarmu,” gadis itu mengutuk. Apa Syane tidak berpikir bahwa satu gerakan darinya sangat berpengaruh pada Ryenata yang jelas berbadan lebih kecil?
“Ah, maaf. Aku tidak biasa diantar pulang oleh seorang gadis kecil,” pria itu menjawab disertai sebuah seringain di sudut bibirnya. senyumnya jelas mengejek dan Ryenata tidak menyukainya.
“Kau sudah sampai di rumahmu. Aku pergi dulu.” Sudah bersiap berbalik, tiba-tiba lengan Ryenata ditahan. Gadis itu sontak memandangi Syane dengan dahi mengerut. Raut wajahnya seolah menanyakan ada apa.
“Kenapa begitu buru-buru? Aku belum sampai di kamarku.”
“Itu bukan tugasku. Lagipula kau bisa berjalan sendiri ke sana.” alis Ryenata terangkat, menatap Syane penuh curiga. “Lagipula aku lihat-lihat sepertinya kau sudah tidak mabuk. Sepertinya kau sudah sadar sepenuhnya.” Untuk ukuran orang dengan bau alkohol sekuat ini, harusnya Syane masih dalam keadaan teler. Tapi pada nyatanya pria itu terlihat biasa saja. padahal Ryenata masih bisa mencium bau alkohol dari tubuh Syane.
“Aku tidak bisa berjalan,” tubuh Syane tiba-tiba melemah. Ia jatuh dengan sangat dramatis ke arah Ryenata, membuat gadis itu secara spontan menahan tubuhnya yang besar. ditimpa secara tiba-tiba, tentu saja Ryenata mendengus kesal.
“Bagaimana kalau aku pingsan di sini?”
Ryenata memutar bola matanya. Jujur saja, kini ia merasa seperti sedang dijebak. Syane seperti sedang mempermainkannya. Harusnya memang ia biarkan saja Syane tidur di tengah jalan tadi. Kenapa dia harus merasa kasihan pada orang yang sangat menyebalkan seperti ini?
Dering ponsel Ryenata memecah keheningan. Gadis itu merogoh kantong jaketnya, mencari benda pipih pintar itu di sana. saat Ryenata melihat layar, Syane pun bisa melihat apa yang ada di sana. nama Alda tampak mengirim beberapa pesan. Syane hanya sempat membaca satu, sebab Ryenata langsung menyimpan ponselnya kembali ke dalam kantong jaket.
“Kau urus saja dirimu sendiri, aku pergi dulu.” Ryenata melepaskan pegangannya, namun Syane justru merangkulnya lebih erat.
“Ah perutku sakit. aduh. Aku tidak bisa berjalan. sepertinya asam lambungku kambuh. Aduh. Sakit sekali. Apa aku akan mati di sini sendirian?”
Ryenata benar-benar tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa memandangi Syane dengan ekspresi setengah tak percaya. Ia tidak bisa menebak apakah Syane serius atau sedang berpura-pura. Tapi Syane berpura-pura untuk apa?
Pada akhirnya Ryenata kalah oleh hati nuraninya. Rasa kemanusiaan di dalam dirinya membuatnya tertahan di sana, memapah tubuh besar Syane ke dalam kamar milik pria itu.
Saat lampu dinyalakan, hal pertama yang menyapa Ryenata adalah lukisan besar dengan pola abstrak di dinding di atas kepala tempat tidur. Kamar Syane didominasi oleh warna yang gelap seperti hitam dan abu-abu. Ruangannya rapi dengan barang-barang yang begitu tertata. Hanya ada beberapa foto dan Ryenata memilih untuk tidak terlalu memperhatikan. Dibandingkan dengan kamar seseorang, Ryenata merasa kamar Syane justru seperti tempat yang jarang sekali dihuni.
“Apa kau biasa tinggal di sini?”
“Hm, kenapa?”
Ryenata berikan gelengan pelan, tak ingin berkata lebih banyak. Apa pun urusan Syane jelas bukan urusannya. Ia tak ingin banyak tahu tentang pria itu.
“Sudah, tidurlah.” Ryenata beranjak pergi. Tapi baru dua langkah, bunyi gedebrug memaksanya berhenti. Ryenata menoleh ke belakang dan mendapati Syane sudah berada di lantai.
“Astaga. Kau kenapa?!” gadis itu melangkah besar menghampiri.
Syane meringis, memegangi pantatnya. Pria itu menggeleng pelan sembari memegangi kepalanya.
“Aku pikir aku sudah duduk di atas kasur, tapi ternyata aku menduduki angin.”
Helaan napas kencang lolos dari mulut Ryenata. Rasa kesal dan rasa ingin tertawa bercampur menjadi satu. Sepertinya Syane memang benar-benar mabuk.
“Sudahlah.” Ryenata membantu Syane mencapai kasurnya dengan benar. “Apa kau benar-benar tidak punya asisten Tuan Syane Raveyr?”
Syane menggeleng. “Aku tidak punya banyak uang untuk membayar gaji seorang asisten. Kecuali kalau kau mau menjadi asistenku, aku akan bekerja keras untuk menggajimu.”
Ryenata tak begitu menanggapi. Ia tahu Syane ini tipe pemain kelas kakap. Ia pasti seorang playboy. Setiap kata yang ia ucapkan mengancung racun. Ryenata tidak akan terpedaya.
“Aku tidak tertarik.”
“Sayang sekali.”
Tanggung sudah tertahan di kamar Syane, Ryenata akhirnya mengedarkan pandangan dan memandangi beberapa sisi sedikit lebih lama.
“Kamarmu sangat rapi.. dan sedikit suram.”
Ryenata benar-benar tidak sadar bahwa Syane tak pernah melepaskan pandangan dari wajahnya.
“Ya, aku juga merasa begitu. Mungkin karena tidak ada keindahan di sini.” Jika tadi nada suara Syane terdengar seperti orang sedang bercanda, kali ini suara Syane terdengar begitu syahdu dan mendayu. Lembut dan hangat.
“Harusnya kau menghiasnya dengan vas berisi bunga.”
“Tidak perlu,” ada jeda. “Kau sudah cukup.”
Dahi Ryenata mengerut perlahan. Gadis itu menoleh dan tatapan keduanya bertemu. Manik itu terkunci satu sama lain. senyum tipis di bibir Syane terlihat lebih manis di bawah cahaya temaram. Ryenata bahkan tak sadar bahwa sejak tadi pergelangan tangannya dicengkram oleh Syane.
“Kau lebih indah daripada bunga apa pun, Nona Ryenata.”
“Rayuanmu tidak mempan padaku. Cari gadis lain saja.” Ryenata hendak bangkit, tapi Syane menahannya.
“Tapi aku ingin kau.”
“Tapi aku tidak ingin.”
“Kenapa cepat sekali menolak. kau bahkan belum mencoba.”
“Tidak perlu dicoba. Kadang beberapa hal cukup dinilai dari luar saja.”
Syane mengulum senyum, menggigit tipis bibirnya.
“Tapi aku bisa jamin kalau aku sangat luar biasa di dalam.”
“Tidak tertarik.” Lagi-lagi Syane mencegah Ryenata bangkit. Satu tarikan darinya membuat wajah mereka hampir beradu. Jarak yang cukup dekat membuat hembusan napas Syane menerpa wajah Ryenata. Gadis itu mengernyit oleh bau alkohol yang bercampur dengan aroma sitrus.
“Takut?”
Satu kata itu berhasil mentrigger Ryenata.
“Apa kau takut kalah dan berakhir jatuh cinta padaku?” tanya Syane dengan suara yang sangat pelan hampir seperti sebuah bisikan.
Ryenata menatap dengan tatapan yang tajam. Ia tak ingin terpancing, sebab tahu bahwa Syane sangat ahli dalam mempermainkan orang lain.
“Katakan saja kalau tidak berani.” Syane semakin mendekatkan wajahnya, mengikis jarak dengan Ryenata.
“Nona Ryenata Light..” ucap pria itu tepat di depan bibir Ryenata.