Pagi pertama di Moskow tidak membawa kehangatan. Cahaya matahari musim dingin yang pucat menembus jendela kamar penthouse, menyinari butiran debu yang menari di atas sprei sutra putih yang kini berantakan. Sarah terbangun dengan rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya—pengingat fisik akan intensitas Maksimov semalam. Ia menoleh ke samping, namun tempat tidur itu sudah kosong. Hanya tertinggal aroma maskulin yang tajam dan bekas lekukan tubuh di bantal sebelah. Di atas nakas, sebuah nampan perak berisi sarapan mewah dan segelas s**u hangat telah disiapkan, lengkap dengan sekuntum mawar merah yang kelopaknya seolah berdarah di atas meja putih. Sarah bangkit perlahan, melilitkan jubah beludru panjang ke tubuhnya. Saat ia hendak melangkah, matanya tertuju pada noda merah yang kontras

