BAB 1: Senja Berdarah di Cappadocia
Langit Cappadocia sore itu tampak seperti lukisan cat air. Ratusan balon udara yang tadi pagi menghiasi cakrawala sudah mendarat, menyisakan semburat jingga dan ungu yang memantul di bebatuan fairy chimneys. Bagi Sarah, ini adalah mimpi yang menjadi nyata. Mahasiswi asal Indonesia itu merapatkan pashmina panjangnya, membiarkan angin sejuk Turki menerpa kain cadar hitam yang menutupi wajahnya.
"Sarah! Jangan jauh-jauh, Nak," seru sang Ayah dari kejauhan, sibuk mengambil foto sang Ibu dengan latar lembah batu.
Sarah tersenyum di balik kainnya. "Hanya ke depan sana, Yah! Mau lihat matahari terbenam lebih dekat!"
Ia melangkah menjauh, menyusuri jalan setapak berbatu yang mengarah ke pintu masuk salah satu gua kuno yang sudah tidak digunakan. Suasana di sini lebih sepi, jauh dari kerumunan turis. Sarah ingin menikmati ketenangan sejenak, menjauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang selama ini ia tinggali.
Namun, ketenangan itu hancur dalam hitungan detik.
Bugh!
Suara benturan keras dari dalam gua membuat langkah Sarah terhenti. Ia membeku. Bukan hanya suara pukulan, tapi ada rintihan kesakitan yang dalam, disusul suara benda logam yang terjatuh ke lantai batu.
Sarah seharusnya berbalik. Ia seharusnya lari kembali ke pelukan orang tuanya. Namun, rasa ingin tahu yang naif menuntun kakinya mendekat ke mulut gua yang gelap.
Di sana, di dalam remang cahaya lampu minyak yang tergantung di dinding batu, Sarah melihat pemandangan yang takkan pernah hilang dari ingatannya.
Tiga pria raksasa berjas hitam berdiri mengelilingi seorang pria lokal yang sudah babak belur, berlutut bersimbah darah. Dan di tengah mereka, duduk seorang pria dengan aura yang begitu dominan hingga udara di sekitarnya seolah membeku.
Maksimov Volkov.
Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menonjolkan urat nadi dan tato samar di pergelangan tangannya. Ia sedang memutar-mutar sebuah belati perak dengan gerakan elegan, seolah benda tajam itu hanyalah mainan. Matanya yang berwarna abu-abu dingin, sedingin es Rusia, menatap korbannya tanpa emosi.
"Aku tidak suka membuang waktu di tempat yang indah seperti ini," ucap Maksimov. Suaranya rendah, serak, dan penuh otoritas. "Di mana kode enkripsinya?"
"A-aku tidak tahu... Tuan Volkov, tolong..." pria itu memohon, suaranya tercekik darah.
Maksimov menghela napas pendek, seolah merasa terganggu. "Jawaban yang salah."
Tanpa peringatan, Maksimov mengayunkan belatinya. Sarah sontak menutup mulutnya, menahan jeritan yang hampir lolos dari tenggorokannya. Tubuhnya gemetar hebat, dan tanpa sengaja, tas kecil yang ia pegang menyentuh dinding batu.
Srak!
Suara gesekan kecil itu terdengar seperti ledakan di dalam gua yang sunyi. Dalam sekejap, Maksimov menoleh. Matanya yang tajam seperti predator langsung mengunci posisi Sarah di balik celah dinding.
"Siapa di sana?" geram Maksimov.
Sarah berbalik untuk lari, namun kakinya terasa lemas seperti jeli. Sebelum ia sempat melangkah, sebuah tangan besar sudah mencengkeram bahunya dan menyentaknya ke belakang. Tubuh mungilnya membentur d**a bidang yang keras seperti baja.
Sarah mendongak dengan napas tersengal. Untuk pertama kalinya, ia menatap langsung ke dalam mata iblis. Maksimov menatapnya, bukan dengan amarah, melainkan dengan tatapan intens yang seolah ingin menembus kain cadar yang menutupi wajah Sarah.
"Seorang gadis?" bisik Maksimov, ujung belatinya yang masih hangat oleh darah kini terangkat, perlahan menyentuh dagu Sarah di balik kain hitamnya. "Kau baru saja menyaksikan sesuatu yang seharusnya menjadi tiket kematianmu, Sayang."
Jantung Sarah berdegup begitu kencang hingga ia merasa dadanya akan pecah. Bau amis darah yang kental dari pria di lantai gua bercampur dengan aroma parfum maskulin yang tajam dan mahal dari tubuh Maksimov.
"Tolong... lepaskan aku..." bisik Sarah, suaranya bergetar hebat di balik kain cadarnya.
Maksimov tidak menjawab. Matanya tidak beralih dari mata cokelat Sarah yang digenangi air mata ketakutan. Biasanya, Maksimov akan langsung menghabisi siapa pun yang melihat wajahnya saat sedang bekerja. Tak ada pengecualian. Namun, ada sesuatu pada gadis ini—mungkin keteguhannya, atau mungkin kontras antara kain hitam yang menutupinya dengan kesucian yang terpancar dari tatapannya—yang membuat jemari Maksimov tertahan.
"Tuan, kita harus segera pergi. Polisi pariwisata mulai berpatroli di area atas," lapor salah satu anak buahnya, seorang pria Rusia bertubuh kekar bernama Viktor.
Maksimov masih bergeming. Ujung belatinya masih menekan dagu Sarah, mendongakkan wajah gadis itu agar tetap menatapnya.
"Siapa namamu?" tanya Maksimov dingin.
"Sa-Sarah..."
"Sarah," Maksimov mengulang nama itu dengan aksen Rusia yang berat, seolah sedang mencicipi rasa nama itu di lidahnya. "Kau tahu apa yang terjadi pada orang yang melihat pekerjaanku?"
Sarah menggeleng pelan, air matanya jatuh membasahi kain cadarnya.
"Mereka dikubur di bawah batu ini," ucap Maksimov tanpa ekspresi. Ia terdiam sejenak, lalu seringai tipis yang mengerikan muncul di sudut bibirnya. "Tapi kau... kau terlalu menarik untuk dikubur di sini."
Tiba-tiba, Maksimov menyarungkan belatinya dengan gerakan kilat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Sarah dengan cengkeraman yang tak mungkin bisa dilepaskan.
"Bawa dia," perintah Maksimov pada anak buahnya.
"Tapi Tuan, bagaimana dengan orang tuanya?" tanya Viktor ragu.
Maksimov melirik ke arah luar gua, ke arah tempat Ayah dan Ibu Sarah berada. "Jika mereka mendekat, habisi. Tapi jangan sentuh gadis ini. Dia milikku sekarang."
"Tidak! Ayah! Ibu!" Sarah berteriak sekuat tenaga, namun sebuah tangan besar segera membekap mulutnya.
Maksimov menarik Sarah keluar melalui pintu belakang gua yang tersembunyi, menuju sebuah mobil SUV hitam yang sudah menunggu dengan mesin menyala. Sarah meronta, mencoba menendang dan mencakar, namun kekuatan Maksimov seperti dinding beton yang tak tergoyahkan.
"Diam, Sarah," bisik Maksimov tepat di telinganya saat mereka masuk ke dalam mobil. "Jika kau berteriak sekali lagi, aku akan memerintahkan orang-orangku untuk memastikan orang tuamu tidak pernah meninggalkan Cappadocia hidup-hidup."
Ancaman itu seperti siraman air es bagi Sarah. Ia seketika membeku. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, hanya matanya yang memancarkan kebencian mendalam saat menatap pria di sampingnya.
Mobil melesat membelah jalanan berbatu Cappadocia, meninggalkan kebahagiaan Sarah yang hancur berkeping-keping. Di kursi belakang yang gelap, Maksimov memperhatikan Sarah yang meringkuk di sudut pintu.
"Jangan menatapku seperti itu," kata Maksimov sambil menyalakan pemantik api peraknya. "Kau seharusnya berterima kasih. Di duniaku, hukumnya adalah kematian. Tapi untukmu, aku membuat hukum baru: Kau tetap hidup, selama kau berada di bawah genggamanku."
Mobil itu terus melaju kencang menuju bandara pribadi, di mana sebuah jet dengan lambang elang perak sudah menunggu untuk membawa mereka terbang menuju kegelapan Moskow yang abadi.
Mobil SUV itu berhenti dengan decitan tajam di landasan pacu pribadi yang tersembunyi di balik perbukitan gersang. Di sana, sebuah jet mewah berwarna hitam legam dengan logo elang perak di ekornya sudah menunggu, mesinnya menderu rendah seolah memanggil mangsanya.
Maksimov keluar lebih dulu, lalu menarik Sarah dengan kasar. Angin malam Cappadocia yang mulai menusuk membuat kain cadar Sarah berkibar liar.
"Masuk," perintah Maksimov singkat, matanya memantulkan cahaya lampu landasan yang temaram.
Sarah melihat sekeliling dengan panik. Ini adalah kesempatan terakhirnya. Jika ia menginjakkan kaki di tangga pesawat itu, ia tahu Indonesia—dan orang tuanya—hanya akan menjadi kenangan.
"Tidak! Aku tidak mau!" Sarah menyentak tangannya dengan kekuatan yang tak terduga.
Memanfaatkan keterkejutan sesaat Maksimov, Sarah berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju kegelapan lembah. Ia tidak peduli ke mana kakinya melangkah, ia hanya ingin sejauh mungkin dari pria iblis itu.
"Sarah! Berhenti!" suara menggelegar Maksimov membelah kesunyian malam.
Sarah terus berlari, napasnya tersengal di balik cadar. Namun, ia lupa bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang pria yang dilatih untuk berburu. Hanya dalam beberapa detik, Sarah mendengar langkah sepatu bot yang berat mengejarnya dengan kecepatan predator.
Greb!
Tangan Maksimov melingkar di pinggang Sarah, mengangkat tubuh mungil itu dari tanah. Sarah meronta, memukul d**a Maksimov yang sekeras pelat baja dengan tangan kosong.
"Lepaskan! Kau monster! Kau penculik!" teriak Sarah histeris.
"Cukup!" Maksimov membanting tubuh Sarah ke dinding badan pesawat yang dingin. Ia mengunci kedua pergelangan tangan Sarah di atas kepalanya dengan satu tangan.
Wajah Maksimov hanya berjarak beberapa inci dari wajah Sarah. Napas mereka beradu. Maksimov tampak geram, rahangnya mengeras, namun ada kilat aneh di matanya—kilat obsesi yang semakin menyala melihat perlawanan korbannya.
"Kau pikir kau bisa lari dariku di tanah seluas ini?" bisik Maksimov, suaranya sangat rendah dan berbahaya. "Aku bisa saja mematahkan kakimu agar kau tidak bisa lari lagi, Sarah. Tapi aku lebih suka melihatmu berjalan dengan sukarela ke dalam sangkarku."
Maksimov mendekatkan wajahnya ke telinga Sarah, suaranya kini melunak namun tetap mematikan. "Lihat ke sana."
Sarah menoleh dengan gemetar ke arah mobil. Viktor, anak buah Maksimov, sedang memegang sebuah ponsel yang menampilkan siaran langsung dari kamera tersembunyi. Di layar itu, Sarah melihat Ayah dan Ibunya sedang menangis histeris di kantor polisi lokal, mencari dirinya.
"Satu perintah dariku, dan kantor polisi itu akan meledak sebelum mereka sempat menyebut namamu," ucap Maksimov dingin.
Tubuh Sarah lemas seketika. Pertahanannya runtuh. Air mata mengalir deras membasahi kain hitamnya. Ia kalah. Benar-benar kalah.
"Jangan... jangan sakiti mereka," isak Sarah lirih.
Maksimov tersenyum tipis, sebuah seringai kemenangan. Ia melepaskan cengkeramannya dan mengusap air mata di sudut mata Sarah dengan ibu jarinya yang kasar.
"Pilihan yang cerdas, Moya Radost (kebahagiaanku). Sekarang, naik."
Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, Sarah menaiki tangga jet tersebut. Maksimov berjalan di belakangnya, menatap punggung gadis itu dengan tatapan posesif yang tak tersembunyi. Saat pintu jet tertutup rapat dan terkunci secara otomatis, Sarah tahu bahwa hukum Sang Mafia telah dimulai.
Tujuannya hanya satu: Moskow, Rusia.
Tempat di mana matahari jarang bersinar, sesunyi hati pria yang kini menjadikannya tawanan.