BAB 2: Sangkar Emas di Moskow

1689 Words
​Suara mesin jet yang menderu pelan perlahan menghilang, digantikan oleh sunyi yang mencekam. Sarah terbangun dengan sentakan kecil saat roda pesawat menyentuh landasan pacu yang tertutup lapisan es tipis. Melalui jendela kecil, ia tidak lagi melihat pegunungan batu Turki yang hangat. Di luar sana, dunia tampak monokrom—putih karena salju dan hitam karena langit malam Rusia yang pekat. ​"Bangun. Kita sudah sampai," suara dingin Maksimov memecah keheningan kabin mewah itu. ​Sarah tidak bergerak. Ia masih meringkuk di kursi kulit besar, memeluk lututnya. Cadarnya sedikit berantakan karena ia tertidur dalam posisi tidak nyaman, namun ia segera merapikannya dengan tangan gemetar. Ia merasa seperti domba yang baru saja tiba di kandang serigala. ​Maksimov berdiri, mengenakan mantel bulu hitam panjang yang membuatnya tampak semakin besar dan mengintimidasi. Ia tidak menunggu. Dengan satu gerakan santai, ia mencengkeram lengan Sarah dan memaksanya berdiri. ​"Lepaskan... aku bisa jalan sendiri," bisik Sarah, suaranya parau karena terlalu banyak menangis. ​Maksimov hanya mendengus, namun ia tidak melepaskan cengkeramannya. Ia menuntun—atau lebih tepatnya menyeret—Sarah turun dari tangga pesawat. Begitu kaki Sarah menyentuh tanah Moskow, udara dingin yang ekstrem seolah menampar wajahnya. Oksigen yang ia hirup terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk paru-parunya. ​"Dingin..." rintih Sarah, tubuhnya menggigil hebat. Ia hanya mengenakan gamis dan jaket tipis yang ia pakai di Turki. ​Tanpa sepatah kata pun, Maksimov melepas mantel bulunya yang berat dan menyampirkannya ke bahu Sarah. Beban mantel itu hampir membuat Sarah limbung, namun aroma maskulin Maksimov—tembakau mahal dan leather—seketika mengepung indranya. ​"Di Moskow, dingin bisa membunuhmu lebih cepat daripada peluru," ucap Maksimov rendah. ​Sebuah iring-iringan mobil Mercedes hitam antipeluru sudah menunggu di pinggir landasan. Para pria berjas hitam menunduk hormat saat Maksimov lewat. Sarah tertunduk lesu, matanya hanya menatap sepatu bot hitam Maksimov yang menginjak salju dengan mantap. ​Mereka masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju mansion Maksimov melewati jalanan kota yang sepi. Sarah menatap lampu-lampu jalan Moskow yang berpijar pucat. Ia merasa sangat jauh dari rumah. Jakarta, orang tuanya, dan kebebasannya kini terasa seperti mimpi di kehidupan lain. ​Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata laras panjang. Di balik gerbang itu, berdiri sebuah mansion megah bergaya Gotik yang dikelilingi oleh hutan pinus yang gelap. ​"Ini rumahmu sekarang," kata Maksimov sambil menatap profil samping Sarah yang tertutup kain hitam. ​"Ini bukan rumah. Ini penjara," jawab Sarah tajam, meski matanya berkaca-kaca. ​ Maksimov menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tidak sampai ke matanya yang abu-abu. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Sarah, membuat gadis itu terpojok ke pintu mobil. ​"Kau benar, Sarah. Ini adalah penjara yang sangat mewah. Dan di sini, akulah satu-satunya hukum yang harus kau patuhi. Jika kau mencoba lari ke hutan itu, serigala akan memakanmu sebelum kau sempat membeku. Mengerti?" ​Sarah memalingkan wajah, menolak menjawab. Maksimov tidak peduli. Ia keluar dari mobil dan menarik Sarah masuk ke dalam bangunan raksasa itu. Begitu pintu besar mansion tertutup di belakang mereka dengan suara dentuman berat, Sarah tahu... pelariannya benar-benar berakhir di sini. ​ ​Interior mansion itu jauh lebih mengerikan daripada bagian luarnya. Lantai marmer hitam yang mengkilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang dingin. Sarah merasa seperti semut di tengah istana raksasa yang tak bernyawa. Setiap langkah kakinya yang gemetar bergema di lorong-lorong tinggi yang dipenuhi lukisan kuno dan patung-patung marmer yang tampak mengawasi. ​Maksimov tidak membawanya ke ruang tamu. Ia menyeret Sarah menaiki tangga melingkar menuju lantai paling atas—wilayah pribadinya yang terlarang bagi siapa pun. ​"Ini kamarmu," ucap Maksimov sambil menendang pintu kayu ek berat hingga terbuka. ​Sarah tertegun. Kamar itu sangat luas, bahkan lebih luas dari rumahnya di Jakarta. Tempat tidur berukuran king-size dengan sprei sutra abu-abu, perapian yang menyala hangat, dan jendela besar yang menyuguhkan pemandangan hutan pinus bersalju. Di atas meja rias, bertumpuk kotak-kotak perhiasan dan pakaian mahal yang sepertinya sudah disiapkan khusus. ​Namun, mata Sarah tertuju pada satu hal: tidak ada gerendel di sisi dalam pintu. ​"Kenapa tidak ada kunci di pintu ini?" tanya Sarah, suaranya bergetar saat ia berbalik menghadap Maksimov. ​Maksimov melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan suara pelan yang justru lebih menakutkan daripada bantingan. Ia berjalan mendekati Sarah, membuat gadis itu mundur hingga terpojok ke pinggiran tempat tidur. ​"Di rumah ini, tidak ada pintu yang tertutup bagiku, Sarah," bisik Maksimov. Ia berdiri begitu dekat hingga Sarah bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu. "Kau adalah tawananku. Dan seorang tawanan tidak punya hak untuk privasi dari pemiliknya." ​ Sarah merapatkan mantel bulu milik Maksimov yang masih tersampir di bahunya. "Kau tidak bisa melakukan ini. Aku punya hak... aku manusia, bukan barang!" ​ Maksimov tertawa pendek, suara yang kering tanpa kehangatan. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar menyentuh pinggiran kain cadar Sarah, menyelipkan sehelai benang yang lepas. Sarah mematung, menahan napas. ​"Hakmu mati saat kau menginjakkan kaki di jet pribadiku," ucap Maksimov. "Sekarang, dengarkan aturanku baik-baik. Pertama, kau tidak boleh meninggalkan lantai ini tanpa izin dariku. Kedua, kau akan makan saat aku menyuruhmu makan. Dan ketiga..." ​ Maksimov merunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Sarah. Matanya yang abu-abu berkilat tajam di bawah cahaya lampu remang. ​"Jangan pernah mencoba melepas cadar ini di depan pria lain selain aku. Jika ada pria lain yang melihat wajahmu, aku akan mencungkil matanya sebelum aku menghabisinya. Mengerti?" ​ Sarah membelalak. "Kau gila..." ​ "Aku adalah hukum di sini, Sarah," Maksimov menjauh, berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak. "Mandilah. Pakaian di lemari itu sudah disesuaikan dengan 'standarmu'. Pelayan akan membawakan makanan sebentar lagi. Dan jangan coba-coba melompat dari jendela. Ketinggiannya akan menghancurkan tulangmu sebelum kau menyentuh salju." ​ Klik. ​Pintu tertutup. Sarah jatuh terduduk di tepi ranjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Di tengah kemewahan yang menyesakkan ini, ia merasa lebih miskin daripada pengemis. Ia terjebak di sarang iblis Rusia yang terobsesi pada setiap geraknya. ​ Tiba-tiba, Sarah melihat sebuah kotak kecil di atas nakas. Ia membukanya dengan ragu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk elang—lambang keluarga Volkov. Di balik liontin itu terukir sebuah kalimat dalam bahasa Rusia: ​ "Собственность Волкова" (Milik Volkov). ​ Sarah melempar kalung itu ke lantai. Ia menangis sesenggukan, menyadari bahwa mulai malam ini, identitasnya sebagai Sarah dari Indonesia telah dihapus, digantikan oleh label sebagai properti sang Mafia Moskow. ​ ​Malam semakin larut, namun kantuk tak kunjung datang menghampiri Sarah. Dari balik jendela besar kamarnya, ia bisa melihat deretan mobil hitam mewah terus berdatangan ke pelataran mansion. Suara tawa berat dan denting gelas kristal sayup-sayup terdengar dari lantai bawah. Maksimov sedang mengadakan pertemuan besar dengan para petinggi Bratva—mafia Rusia. ​ "Ini kesempatanku," bisik Sarah pada dirinya sendiri. Tubuhnya masih gemetar, namun keinginan untuk pulang jauh lebih besar daripada rasa takutnya. ​ Sarah bangkit dari tempat tidur. Ia melepas mantel bulu berat milik Maksimov dan menggantinya dengan jubah hitam tebal yang ia temukan di lemari. Ia merapikan cadarnya, memastikan hanya matanya yang terlihat. Dengan langkah mengendap-endap, ia mendekati pintu kayu ek yang tak terkunci itu. ​ Kriet... ​ Pintu terbuka sedikit. Lorong di depannya sepi, hanya dijaga oleh lampu dinding yang berpijar redup. Sarah keluar, menyusuri dinding marmer yang dingin. Ia ingat ada sebuah tangga pelayan di dekat dapur yang ia lihat saat diseret masuk tadi. ​ Namun, baru saja ia mencapai tikungan lorong, suara langkah kaki berat dan percakapan dalam bahasa Rusia yang kasar terdengar mendekat. Sarah panik. Ia bersembunyi di balik pilar besar, menahan napasnya rapat-rapat. ​ "Maksimov benar-benar gila membawa gadis itu ke sini," ucap salah satu pria dengan suara serak. "Seorang muslimah bercadar di tengah markas Volkov? Jika klan saingan tahu, mereka akan menjadikannya kelemahan Maksimov." ​ "Kelemahan?" pria satunya tertawa sinis. "Kau tidak lihat cara Maksimov menatapnya tadi? Itu bukan kelemahan. Itu obsesi. Dia akan membakar seluruh Moskow sebelum membiarkan seseorang menyentuh ujung kain gadis itu." ​ Suara langkah mereka menjauh. Sarah merasa mual. Obsesi. Kata itu terasa seperti racun. ​ Ia terus bergerak, menuruni tangga kayu sempit yang membawanya ke area belakang mansion. Udara di sini terasa lebih dingin, pertanda ada pintu keluar yang sering dibuka. Benar saja, ia melihat sebuah pintu besi kecil yang biasanya digunakan untuk pengiriman barang. ​ Sarah berlari kecil menuju pintu itu. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu yang membeku. ​ Klik. ​ Pintu tidak terkunci. Hati Sarah melonjak kegirangan. Ia membukanya perlahan, dan angin salju Moskow langsung menerjang wajahnya. Di depannya adalah hutan pinus yang gelap dan luas. Hanya seratus meter lagi menuju gerbang belakang. ​ "Satu langkah lagi, Sarah, dan aku akan menganggap ini sebagai pengkhianatan yang harus dihukum dengan darah." ​ Suara itu. Dingin, datar, dan sangat dekat. ​Sarah mematung. Ia perlahan berbalik dan melihat Maksimov berdiri di kegelapan koridor, hanya beberapa langkah di belakangnya. Pria itu tidak membawa senjata, namun kehadirannya lebih mematikan daripada moncong pistol mana pun. Ia memegang segelas vodka di tangan kirinya, sementara tangan kanannya masuk ke saku celana. ​ "Aku... aku hanya ingin udara segar," bohong Sarah, suaranya mencicit. ​ Maksimov melangkah maju, memangkas jarak hingga Sarah terdesak ke pintu besi yang terbuka. Ia tidak membentak. Ia justru mengulurkan tangan, membelai lembut pipi Sarah yang tertutup kain, namun tatapannya seajam silet. ​ "Udara segar di tengah badai salju minus lima belas derajat?" Maksimov menarik napas dalam, mencium aroma ketakutan dari tubuh Sarah. "Kau berbohong padaku, Ptichka." ​Maksimov tiba-tiba mencengkeram rahang Sarah, memaksanya menatap matanya yang abu-abu gelap. "Aku sudah memperingatkanmu. Hutan ini penuh serigala. Dan serigala yang paling berbahaya di sini adalah aku." ​ Maksimov membanting pintu besi itu hingga tertutup rapat, menguncinya dengan kunci elektronik. Suara beep yang keluar dari mesin kunci itu terdengar seperti vonis mati bagi Sarah. ​ "Kembali ke kamarmu," perintah Maksimov, suaranya kini kembali tenang namun penuh ancaman. "Dan karena kau sudah mencoba lari, mulai malam ini, aku akan tidur di depan pintumu. Aku ingin memastikan bahwa saat aku bangun, barang milikku masih ada di tempatnya." ​ Sarah jatuh terduduk, menangis di bawah kaki Maksimov. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: di bawah Hukum Sang Mafia, tidak ada celah untuk lari. Ia bukan lagi tamu, bukan lagi turis, ia adalah pusat dari kegilaan seorang Maksimov Volkov.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD