BAB 3: Mahkota Salju

1698 Words
Pagi di Moskow tidak membawa kehangatan. Cahaya matahari yang pucat menembus celah gorden beludru, menyinari butiran debu yang menari di udara kamar Sarah yang luas. Sarah terbangun dengan mata sembab. Ia masih mengenakan jubah hitam semalam, meringkuk di atas permadani tebal di samping tempat tidur—ia terlalu takut untuk tidur di atas ranjang milik Maksimov. ​ Tok. Tok. ​Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban. Seorang wanita tua dengan wajah sekaku batu masuk membawa nampan perak. Di belakangnya, dua pria bersenjata berdiri berjaga di lorong. ​"Makan," ucap wanita itu dalam bahasa Inggris yang kaku. "Tuan Besar menunggumu di lobi dalam tiga puluh menit. Pakai ini." ​ Wanita itu meletakkan sebuah kotak besar di atas tempat tidur. Di dalamnya terdapat sebuah gaun panjang berbahan sutra tebal berwarna hijau zamrud gelap—warna yang kontras dengan salju. Namun, yang membuat jantung Sarah berdegup kencang adalah sebuah cadar baru yang tergeletak di atas gaun itu. Cadar itu terbuat dari sutra hitam terbaik, dengan sulaman benang perak berbentuk elang kecil di sudutnya. ​ Lambang keluarga Volkov. ​ Sarah merasa mual. Memakai cadar itu sama saja dengan memakai borgol yang dipamerkan ke dunia. Namun, ancaman Maksimov tentang orang tuanya di Turki masih terngiang jelas. Dengan tangan bergetar, ia mengganti pakaiannya. ​Tepat tiga puluh menit kemudian, pintu kembali terbuka. Kali ini, Maksimov sendiri yang berdiri di sana. ​ Pria itu tampak luar biasa tampan namun mematikan dalam setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap. Mantel bulu serigala tersampir di bahunya yang lebar. Ia tertegun sejenak melihat Sarah. Gaun hijau itu membalut tubuh ramping Sarah dengan sempurna, dan cadar bersulam perak itu membuat mata cokelat Sarah tampak lebih dalam dan misterius. ​ "Cantik," bisik Maksimov, suaranya serak. Ia melangkah mendekat, mengabaikan tarikan napas pendek Sarah yang ketakutan. ​ Maksimov mengulurkan tangan, jemarinya yang mengenakan cincin stempel perak menyentuh sulaman elang di cadar Sarah. "Sekarang semua orang akan tahu siapa pemilikmu, Sarah. Jangan lepaskan ini, atau kau akan melihat betapa cepatnya Moskow berubah menjadi kuburan." ​ "Ke mana kau akan membawaku?" tanya Sarah, suaranya tertahan di balik kain sutra. ​ "Ke tempat di mana hukum dibuat," jawab Maksimov singkat. ​ Ia menuntun Sarah menuruni tangga utama. Di bawah, iring-iringan mobil hitam sudah menunggu. Mereka melaju membelah kota yang tertutup es menuju sebuah katedral tua yang terisolasi di pinggiran Moskow. Bangunan itu tampak megah sekaligus menyeramkan dengan menara-menara runcing yang menusuk langit kelabu. ​Saat mobil berhenti, puluhan pria berjas hitam dengan senjata otomatis membentuk barisan panjang. Di ujung barisan itu, beberapa pria tua berwajah bengis—para Don dari klan lain—sudah menunggu. ​ Maksimov keluar lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangannya pada Sarah. Tindakan itu bukan sekadar bantuan, melainkan sebuah perintah. ​ "Pegang tanganku, Sarah. Tunjukkan pada mereka bahwa kau adalah satu-satunya hal yang paling berharga bagi Maksimov Volkov hari ini," bisik Maksimov tepat sebelum mereka melangkah ke hadapan para mafia. ​ Sarah terpaksa menyambut tangan besar yang panas itu. Saat mereka berjalan melewati barisan pria bersenjata, ia merasa ribuan pasang mata menatapnya dengan rasa haus dan penasaran. Ia adalah "Mawar dari Timur" yang diculik sang Tsar, dan hari ini, di dalam gereja tua itu, Maksimov akan mengumumkan perang atau perdamaian demi dirinya. ​Pintu kayu raksasa katedral itu terbuka dengan derit yang memilukan, melepaskan hawa dingin yang terperangkap di dalamnya. Di dalam, ribuan lilin menyala, memberikan bayangan yang menari-nari di dinding batu yang lembap. Aroma kemenyan bercampur dengan bau mesiu yang samar. ​ Maksimov melangkah masuk dengan dagu terangkat, tangan besarnya menggenggam jemari Sarah begitu erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, dunia akan merampas gadis itu darinya. ​ Di tengah aula gereja, berdiri sebuah meja kayu panjang yang dikelilingi oleh para pemimpin klan Bratva. Salah satu yang paling menonjol adalah Dmitri Volkov, paman Maksimov yang memiliki bekas luka melintang di lehernya. Pria itu adalah pesaing terberat Maksimov untuk takhta tertinggi mafia Rusia. ​ "Ah, keponakanku tersayang," suara Dmitri bergema, serak dan penuh sarkasme. "Kau terlambat untuk pertemuan dewan. Dan... apa yang kau bawa ini? Seorang biarawati dari padang pasir?" ​ Tawa rendah pecah di antara para pria bersenjata yang berjaga di sisi ruangan. Sarah menundukkan kepala, merasa ribuan pasang mata sedang menguliti keberadaannya. ​ Maksimov berhenti tepat di depan meja. Ia tidak melepaskan tangan Sarah. Justru, ia menarik Sarah lebih dekat hingga bahu mereka bersentuhan. ​ "Dia adalah Sarah," ucap Maksimov, suaranya tenang namun memiliki getaran yang sanggup menghentikan napas siapa pun yang mendengarnya. "Dan mulai hari ini, dia adalah hukum yang tidak boleh kalian langgar." ​ Dmitri berdiri, melangkah mendekat dengan langkah yang menantang. Ia menatap kain cadar Sarah dengan pandangan merendahkan. ​ "Kau membawa seorang gadis asing yang menutupi wajahnya seperti pengecut ke dalam gereja suci kami, Maksimov? Ini penghinaan bagi tradisi Volkov," cetus Dmitri. Ia mengulurkan tangannya yang kasar, berniat menyentuh kain cadar Sarah. "Mari kita lihat, apa yang kau sembunyikan di balik kain murah ini. Mungkin dia hanya seorang p*****r yang kau ambil dari jalanan Turki—" ​ CRAKK! ​ Dalam sepersekian detik, sebelum tangan Dmitri menyentuh kain sutra Sarah, Maksimov bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga mata manusia sulit mengikutinya. ​Maksimov mencengkeram pergelangan tangan pamannya dan memelintirnya hingga bunyi tulang patah terdengar jelas di seluruh ruangan. Dmitri mengerang kesakitan, namun Maksimov belum selesai. Dengan tangan satunya, ia menghantamkan kepala Dmitri ke meja kayu ek hingga darah segar muncrat membasahi taplak putih di sana. ​ "AAAKHHH!" Dmitri berteriak, wajahnya tertekan ke meja sementara Maksimov menodongkan pistol Glock peraknya tepat ke pelipis pria tua itu. ​ Seluruh ruangan seketika ricuh. Puluhan pria dari pihak Dmitri menarik senjata mereka, namun anak buah Maksimov—termasuk Viktor—juga sudah mengokang senapan otomatis mereka. Suasana menjadi sangat mencekam, hanya butuh satu tarikan pelatuk untuk memulai pembantaian. ​ "Dengarkan aku baik-baik, Paman," bisik Maksimov, suaranya sangat rendah hingga hanya Sarah dan Dmitri yang bisa mendengarnya. "Sentuh kain ini, dan aku akan memastikan lidahmu dipotong dan diberikan kepada anjing-anjing di hutan." ​Maksimov melirik ke arah para Don lainnya dengan tatapan predator yang haus darah. ​ "Kalian menyebutnya kain murah? Bagiku, cadar ini adalah bendera kekuasaanku. Siapa pun yang berani menatapnya dengan niat buruk, berarti dia menyatakan perang dengan seluruh kekuatan Volkov." ​ Sarah gemetar hebat. Ia melihat darah Dmitri mengalir di dekat kakinya. Ia ingin lari, tapi ia terlalu takut untuk bergerak. Maksimov menoleh sejenak ke arah Sarah, dan untuk sesaat, kilat kejam di matanya menghilang, digantikan oleh proteksi yang gelap dan posesif. ​ "Jangan takut, Ptichka," ucap Maksimov pelan, lalu ia melepaskan cengkeramannya pada Dmitri yang kini terkapar lemas. "Pertemuan selesai. Sekarang mereka tahu, siapa yang tidak boleh mereka sentuh." ​Maksimov berbalik, merangkul pinggang Sarah dengan posesif dan membawanya keluar dari gereja tersebut, meninggalkan para mafia yang kini terdiam dalam ketakutan. Di luar, salju turun semakin lebat, seolah-olah langit pun takut pada kemarahan sang Tsar Moskow. ​ ​Mobil SUV hitam Maksimov melesat membelah badai salju yang kian ganas. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa begitu mencekam. Sarah duduk meringkuk di pojok kursi, tangannya masih gemetar hebat. Ia tidak bisa menghilangkan bayangan darah paman Maksimov yang muncrat di atas meja gereja tadi. ​ Maksimov duduk di sampingnya, tenang seolah baru saja menyelesaikan makan malam biasa. Ia sedang mengelap noda darah di buku jarinya dengan saputangan sutra putih. ​ "Kau gemetar, Sarah," ucap Maksimov tanpa menoleh. Suaranya rendah, bergetar mengikuti deru mesin mobil. ​ "Kau... kau hampir membunuhnya," bisik Sarah, suaranya nyaris hilang ditelan deru angin di luar. "Dia pamanmu sendiri." ​ Maksimov menghentikan gerakannya. Ia menoleh perlahan, matanya yang abu-abu berkilat tajam di bawah cahaya lampu kabin yang temaram. "Di duniaku, tidak ada keluarga jika mereka berani menyentuh milikku. Dan kau, Sarah... kau adalah milikku yang paling berharga saat ini." ​ Tiba-tiba, CIIIIIIIT! ​ Ban mobil berdecit keras. Tubuh Sarah terlempar ke depan sebelum tangan kekar Maksimov menyambarnya dengan satu sentakan kuat, menariknya ke dalam pelukan pelindungnya yang kokoh. ​ BOOM! ​ Sebuah ledakan granat menghantam jalanan di depan mereka, menciptakan kawah api di tengah salju. Mobil terhenti paksa. ​ RATATATATATA! ​ Rentetan peluru menghujani bodi mobil antipeluru mereka. Sisa-sisa pengikut Dmitri melakukan serangan balik secara membabi buta. Namun, Maksimov tidak tampak panik sedikit pun. Wajahnya justru mengeras, memancarkan aura kegelapan yang murni. ​ "Tiarap di bawah sini, Sarah. Jangan bergerak sedikit pun," perintah Maksimov dengan suara yang sangat tenang namun tidak menerima bantahan. ​ Maksimov menarik sebuah senapan serbu laras pendek dari bawah kursi. Ia tidak menunggu di dalam mobil seperti mangsa. Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi, ia menendang pintu mobil hingga terbuka lebar. ​ "Viktor, bersihkan sisi kiri. Sisanya... biarkan aku yang menyelesaikannya," perintah Maksimov melalui interkom. ​ Sarah melihat dari celah kursi. Maksimov keluar dari mobil di tengah hujan peluru seolah-olah butiran timah panas itu hanyalah rintik hujan yang tak berarti baginya. Ia berdiri tegak, bayangannya memanjang di atas salju yang memerah. ​ BANG! BANG! BANG! ​ Setiap tarikan pelatuk dari pistol Maksimov adalah satu nyawa yang melayang. Ia bergerak seperti bayangan di antara pepohonan, sangat cepat dan mematikan. Tidak ada satu pun peluru musuh yang mengenai kulitnya; ia seolah-olah bisa memprediksi ke mana arah peluru itu akan datang. ​ Dalam waktu kurang dari dua menit, suara tembakan musuh mereda, digantikan oleh suara rintihan maut dan keheningan hutan yang mencekam. ​ Maksimov kembali ke mobil. Tidak ada satu pun goresan di jas mahalnya. Tidak ada noda darah di kemejanya, kecuali darah milik pamannya tadi. Ia mengulurkan tangan yang masih memegang senjata panas itu ke arah Sarah. ​ "Keluar, Sarah. Kita harus pindah mobil," ucapnya datar. ​ Sarah gemetar saat menyentuh tangan Maksimov. Pria ini bukan sekadar mafia; ia adalah mesin pembunuh yang sempurna. Saat Sarah berdiri di sampingnya, ia melihat belasan mayat tergeletak di atas salju putih. ​ "Kenapa... kenapa kau tidak terluka sedikit pun?" tanya Sarah dengan suara hampir tidak terdengar. ​ Maksimov menatap Sarah, matanya yang abu-abu kini berkilat dengan kepuasan yang gelap. Ia merangkul pinggang Sarah dengan sangat posesif, menariknya hingga d**a mereka bersentuhan. ​ "Karena Tuhan pun tahu, jika Dia mengambilku hari ini, tidak akan ada yang tersisa untuk melindungimu di dunia yang kejam ini," bisik Maksimov. "Aku adalah hukumnya, Sarah. Dan hukum tidak pernah mati." ​ Ia kemudian membimbing Sarah menuju mobil cadangan yang baru saja tiba, meninggalkan medan pembantaian itu tanpa menoleh sedikit pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD