BAB 4: Malam di Pondok Pinus

1737 Words
​Badai salju semakin menggila, mengubah jarak pandang menjadi putih buta. Mobil cadangan yang membawa mereka terpaksa memutar arah, menembus jalanan setapak di tengah hutan pinus yang dahan-dahannya mulai merunduk terbebani es. ​"Jalan utama diledakkan di dua titik, Tuan. Kita tidak bisa menembus Moskow malam ini," lapor Viktor dari kursi kemudi. ​Maksimov melirik Sarah yang menggigil di sampingnya. Meski pemanas mobil menyala maksimal, trauma dan hawa dingin Rusia tampaknya telah meresap hingga ke tulang gadis itu. ​"Ke pondok perburuan. Sekarang," perintah Maksimov singkat. ​Pondok itu muncul dari balik kegelapan seperti benteng kayu yang kokoh. Tersembunyi, tak terpetakan, dan dijaga oleh sistem keamanan tingkat tinggi. Begitu mobil berhenti, Maksimov tidak membiarkan Sarah menyentuh salju. Ia mengangkat tubuh Sarah dalam gendongannya, membawa gadis itu masuk ke dalam kehangatan pondok yang beraroma kayu cemara dan kulit. ​ Maksimov menurunkan Sarah di depan perapian besar. "Diam di sini. Jangan coba-coba membuka pintu jika kau tidak ingin membeku dalam lima menit." ​Sarah hanya mengangguk lemah. Ia memperhatikan Maksimov yang bergerak dengan keanggunan seorang predator di dalam ruangan itu. Pria itu melepas mantel bulunya, menyisakan kemeja hitam yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Tidak ada satu pun luka di tubuhnya, tidak ada noda di wajahnya yang tegas. Ia tampak... tak terkalahkan. ​"Kau lapar?" tanya Maksimov tiba-tiba. ​Sarah mendongak, terkejut dengan pertanyaan yang terasa sangat 'manusiawi' itu. "A-aku tidak nafsu makan." ​"Hukum nomor dua, Sarah," Maksimov mengingatkan dengan suara rendah yang bergetar. "Kau makan saat aku menyuruhmu makan." ​Maksimov berjalan ke arah dapur kecil yang elegan di sudut ruangan. Ia membuka lemari pendingin yang terisi penuh. Namun, bukannya memanggil pelayan (karena memang tidak ada pelayan di pondok rahasia ini), ia justru menatap deretan bahan makanan itu dengan kening berkerut. ​ "Masakkan sesuatu," perintah Maksimov sambil menoleh pada Sarah. ​Sarah terpaku. "Apa?" ​"Aku bosan dengan makanan restoran bintang lima dan koki pribadi. Masakkan sesuatu yang biasa kau makan di negaramu. Sesuatu yang... hangat," ucap Maksimov. Ia menarik sebuah kursi kayu, duduk dengan kaki menyilang, dan menumpukan dagunya di tangan—memperhatikan Sarah seolah gadis itu adalah pertunjukan yang menarik. ​ Sarah ragu-sejenak. Namun, melihat tatapan Maksimov yang tak terbantahkan, ia perlahan bangkit. Ia menemukan beras, beberapa butir telur, bawang, dan rempah-rempah dasar di dapur itu. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mulai mencuci beras. ​ Suasana menjadi sunyi, hanya ada suara kayu bakar yang berderak di perapian dan denting spatula yang beradu dengan wajan. Untuk pertama kalinya sejak diculik, Sarah merasa sedikit tenang karena melakukan aktivitas yang familiar. ​ Maksimov terus memperhatikannya. Matanya yang abu-abu tidak lepas dari punggung Sarah, mengikuti setiap gerak-gerik tangan gadis itu saat mengiris bawang dengan terampil. ​ "Kenapa kau terus menatapku?" tanya Sarah tanpa berani menoleh. ​ "Karena di duniaku, segalanya transparan. Tapi kau..." Maksimov berdiri, melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di belakang Sarah. Ia bisa mencium aroma rempah yang harum bercampur dengan wangi bunga melati dari hijab Sarah. "Kau adalah satu-satunya teka-teki yang belum kupecahkan." ​ Maksimov mengulurkan tangan, nyaris menyentuh bahu Sarah, namun ia menahannya. "Masakanmu harum, Sarah. Jika rasanya sama enaknya dengan baunya, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tidak mengurungmu di ruang bawah tanah." ​ ​Uap panas mengepul dari dua piring nasi goreng sederhana yang diletakkan Sarah di atas meja kayu ek tua. Harum bawang putih dan rempah lokal yang ia temukan di dapur kecil itu seolah mengusir hawa dingin Moskow yang mencekam di luar dinding pondok. ​Maksimov duduk di hadapannya. Pria yang biasanya memegang senjata dengan jemari dingin itu kini memegang sendok perak, menatap hidangan di depannya seolah-olah itu adalah benda asing dari planet lain. ​"Ini yang biasa kau makan di Indonesia?" tanya Maksimov, suaranya rendah, hampir menyatu dengan derak api perapian. ​"Nasi goreng. Makanan paling sederhana yang bisa kubuat dengan bahan yang ada," jawab Sarah pelan. Ia duduk agak jauh, tetap mengenakan cadarnya, hanya menyisakan sedikit celah di bagian bawah agar ia bisa menyuap makanannya sendiri. ​Maksimov mencicipi satu suapan. Rahangnya yang tegas bergerak perlahan. Ia terdiam cukup lama, membuat jantung Sarah berdegup kencang karena takut rasanya tidak sesuai dengan selera sang Tsar Rusia. ​ "Hangat," gumam Maksimov. Matanya yang abu-abu menatap uap nasi itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sesuatu yang jarang ada di Moskow." ​Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hanya suara angin badai yang melolong di luar, mencoba merubuhkan pepohonan pinus. Sarah mengumpulkan keberaniannya. Ia menatap siluet Maksimov yang diterangi cahaya jingga dari perapian—pria ini tampak seperti dewa kematian yang sedang beristirahat. ​"Kenapa kau melakukan semua ini, Maksimov?" tanya Sarah tiba-tiba. Suaranya gemetar namun tegas. "Membunuh pamanmu sendiri, menghancurkan musuhmu tanpa kedipan mata... apa kau memang lahir tanpa hati?" ​Maksimov meletakkan sendoknya. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Sarah dengan intensitas yang membuat gadis itu ingin bersembunyi. ​ "Hati adalah beban di duniaku, Sarah," ucap Maksimov dingin. "Ayahku dibunuh di depan mataku saat aku berumur sepuluh tahun oleh orang-orang yang ia sebut 'saudara'. Ibuku... dia memilih mengakhiri hidupnya daripada menjadi tawanan musuh. Sejak hari itu, aku belajar satu hal." ​ Maksimov condong ke depan, wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari Sarah. "Hukum di dunia ini hanya satu: Kau yang memangsa, atau kau yang dimangsa. Tidak ada ruang untuk belas kasihan." ​ "Tapi aku bukan musuhmu," sela Sarah. "Aku hanya orang asing yang tidak sengaja melihatmu." ​ "Benar. Kau bukan musuhku," Maksimov mengulurkan tangannya, kali ini ia benar-benar menyentuh helai kain cadar Sarah, merasakan kelembutan sutranya di sela jarinya yang kasar. "Tapi kau adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa... hidup kembali setelah sekian lama aku hanya merasa dingin." ​ Sarah terpaku. Sentuhan Maksimov tidak kasar seperti biasanya; ada semacam kerentanan yang tersembunyi di balik dominasinya. ​ "Jangan menatapku dengan iba, Sarah," geram Maksimov, menyadari perubahan tatapan mata gadis itu. "Iba adalah penghinaan bagiku." ​ "Aku tidak iba," bisik Sarah. "Aku hanya sedih melihat seseorang yang memiliki segalanya, tapi sebenarnya tidak memiliki siapa-siapa." ​Rahang Maksimov mengeras. Ia menarik tangannya kembali, berdiri dengan tiba-tiba hingga kursi kayu itu berderit keras. Suasana hangat tadi seketika menguap, digantikan oleh ketegangan yang pekat. ​ "Tidurlah," perintah Maksimov dingin. "Besok badai akan reda, dan kau akan kembali ke sangkar emasmu di Moskow. Jangan pernah berpikir kata-katamu bisa mengubahku, Ptichka. Aku tetaplah monster yang membawamu ke sini." ​ Maksimov berjalan menuju pintu balkon, berdiri membelakangi Sarah sambil menatap kegelapan hutan yang membeku. Sarah menatap punggung lebar itu dengan perasaan campur aduk. Ia menyadari bahwa di balik kemegahan dan kekuatan mutlak sang Mafia, ada jiwa yang sudah lama mati membeku—dan entah kenapa, kehadirannya justru mulai memicu 'badai' lain di dalam hati Maksimov. ​ ​Tengah malam tiba dengan kesunyian yang mencekam. Di dalam pondok, hanya suara kayu bakar yang hampir habis yang sesekali memercikkan api. Sarah meringkuk di atas sofa bulu di dekat perapian, mencoba memejamkan mata namun pikirannya terus melayang pada kata-kata Maksimov tadi. ​Tiba-tiba, Maksimov yang sejak tadi berdiri di kegelapan dekat jendela, bergerak secepat kilat. Ia tidak bersuara, namun auranya berubah menjadi predator yang mencium bau darah. ​"Sarah, masuk ke kamar mandi sekarang. Kunci pintunya dan jangan keluar sampai aku yang memanggilmu," bisik Maksimov. Suaranya rendah, nyaris seperti desisan ular, namun penuh otoritas. ​ "Ada apa—" ​"SEKARANG!" ​ Sarah tersentak dan langsung berlari ke kamar mandi kecil di sudut pondok, mengunci pintunya dengan tangan gemetar. Di luar, ia mendengar Maksimov mematikan seluruh lampu. Pondok itu seketika tenggelam dalam kegelapan total. ​ Srak! Srak! ​ Suara kaca jendela pecah di tiga titik berbeda terdengar serentak. Kelompok pembunuh bayaran profesional—unit elit yang dikirim oleh sisa-sisa musuh Volkov—masuk menggunakan sensor panas. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang memasuki sarang monster yang lebih mengerikan dari bayangan mereka. ​ Di dalam kegelapan, Maksimov tidak membutuhkan cahaya. Ia mengenal setiap inci pondok ini. Ia bergerak tanpa suara, menyatu dengan bayangan hitam. ​ Jleb! ​ Terdengar suara logam menembus daging, disusul bunyi tubuh yang jatuh ke lantai tanpa sempat berteriak. Maksimov menggunakan pisau komandonya, menghabisi penyusup pertama dalam hitungan detik. ​ "Dia di sini! Gunakan kacamata thermal!" teriak salah satu penyusup dalam bahasa Rusia. ​ Namun, sebelum pria itu sempat menekan pelatuk senjatanya, Maksimov sudah muncul di belakangnya seperti hantu. Dengan satu gerakan tangan yang luar biasa kuat, Maksimov mematahkan leher pria itu hingga terdengar bunyi krak yang mengerikan. ​Dua penyusup lainnya mulai menembak membabi buta ke arah bayangan. RATATATATA! Peluru menghancurkan perabotan kayu, namun Maksimov sudah berguling di balik meja besar dan membalas dengan pistol silencer-nya. ​ Phut! Phut! ​ Dua peluru tepat bersarang di dahi mereka. Presisi yang mustahil di tengah kegelapan total. ​ Sarah di dalam kamar mandi menutup telinganya rapat-rapat, menangis tertahan. Ia bisa mendengar suara pergulatan fisik yang brutal di luar—suara pukulan, tulang yang remuk, dan napas berat yang mematikan. ​ Penyusup terakhir, yang tampaknya pemimpin tim, berhasil mencapai pintu kamar mandi. Ia tahu ada target di dalam sana. Saat ia hendak menendang pintu, sebuah tangan besar mencengkeram kerah bajunya dari belakang dan membantingnya ke dinding batu perapian dengan kekuatan yang sanggup meremukkan beton. ​ Maksimov berdiri di sana, dikelilingi oleh mayat-mayat yang berserakan. Napasnya teratur, matanya berkilat abu-abu tajam di bawah sisa cahaya bara api. Ia mencengkeram leher pria itu, mengangkatnya hingga kakinya tak menyentuh lantai. ​ "Siapa yang mengirimmu?" tanya Maksimov dingin. ​ Pria itu meludah darah ke wajah Maksimov. Maksimov tidak berkedip. Ia hanya menyeringai tipis, lalu dengan satu gerakan brutal, ia menghantamkan kepala pria itu ke sudut meja hingga tak bernyawa seketika. ​Maksimov menyeka noda darah di pipinya dengan punggung tangan. Ia merapikan kemeja hitamnya yang sedikit berantakan, lalu berjalan menuju pintu kamar mandi. ​ Tok. Tok. ​ "Keluar, Sarah. Sudah selesai," ucapnya tenang. ​ Sarah membuka pintu dengan perlahan. Begitu pintu terbuka, ia melihat Maksimov berdiri tegak dengan latar belakang kekacauan. Tidak ada luka sedikit pun di tubuhnya. Ia tampak seperti malaikat maut yang baru saja menyelesaikan tugasnya. ​ "Kau... kau membunuh mereka semua?" bisik Sarah, menatap noda darah di lantai. ​Maksimov melangkah maju, menghalangi pandangan Sarah dari mayat-mayat itu. Ia menarik Sarah ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah gadis itu di dadanya yang keras. ​ "Jangan melihat ke bawah. Lihat saja aku," perintah Maksimov. "Mereka mencoba mengambil apa yang sudah menjadi milikku. Dan di duniaku, hukumnya tetap sama: tidak ada yang boleh menyentuh apa yang aku jaga." ​ Di tengah badai salju dan aroma kematian yang memenuhi ruangan, Sarah merasakan kehangatan yang aneh dari pelukan pria yang paling ia takuti sekaligus satu-satunya pelindungnya di tanah Rusia ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD