Fajar menyingsing di atas hutan pinus, menyinari hamparan salju yang kini tampak seperti permadani kristal. Iring-iringan mobil hitam sudah mengepung pondok, menjemput sang Tsar yang baru saja memenangkan pertarungan malam itu tanpa satu pun luka di tubuhnya.
Maksimov keluar dari pondok dengan langkah mantap. Ia mengenakan mantel baru yang dibawakan oleh anak buahnya, sementara tangannya tidak sedetik pun melepaskan genggaman pada Sarah.
"Kita kembali ke Moskow," ucap Maksimov saat mereka melangkah menuju Mercedes-Benz G-Class (G-Wagon) hitam pekat dengan kaca antipeluru yang sangat tebal. Mobil itu tampak gagah dan dominan, cerminan sempurna dari sang pemilik.
Di dalam kabin Mercedes yang beraroma kulit mewah dan dingin, Sarah hanya terdiam menatap keluar jendela. Ia melihat markas besar Volkov di kejauhan—sebuah gedung pencakar langit kaca yang mendominasi cakrawala Moskow, dikenal sebagai The Volkov Tower.
"Maksimov," panggil Sarah lirih. "Kenapa kau tidak membiarkanku tinggal di mansion saja? Kenapa harus membawaku ke pusat kekuasaanmu?"
Maksimov menoleh, tatapannya mengunci mata Sarah dengan intensitas yang melumpuhkan. "Karena mulai hari ini, kau bukan lagi sekadar gadis yang kutemukan di Cappadocia. Seluruh klan Bratva sedang mempertanyakan otoritas klan Volkov setelah kejadian di gereja kemarin. Mereka pikir aku lemah karena membiarkan seorang gadis 'mengalihkan' fokusku."
Maksimov mendekat, suaranya memberat. "Maka aku akan menunjukkan pada mereka, bahwa kau bukan pengalih perhatian. Kau adalah mahkotaku. Dan siapa pun yang tidak menunduk padamu, berarti mereka menantang maut."
Mercedes itu berhenti tepat di lobi utama gedung. Ratusan pria berseragam hitam berdiri kaku, membentuk pagar betis yang sangat panjang. Saat pintu mobil terbuka, suasana seketika menjadi hening total. Hanya suara angin musim dingin yang menderu.
Maksimov keluar lebih dulu, lalu ia berbalik dan mengulurkan tangannya. Kali ini, ia tidak menarik Sarah dengan kasar. Ia menunggu dengan kesabaran seorang raja yang menanti ratunya.
Sarah menarik napas panjang di balik cadarnya. Ia menyentuh tangan Maksimov, dan saat kakinya menyentuh lantai marmer gedung itu, terdengar suara serempak dari ratusan pria tersebut yang menunduk dalam:
"Zdravstvuyte, Gospozha Volkova!" (Selamat datang, Nyonya Volkov!)
Sarah tersentak. Gema suara itu membuat bulu kuduknya berdiri. Mereka tidak menyebutnya Sarah. Mereka memberinya gelar sebagai bagian dari penguasa Moskow.
Maksimov menuntunnya masuk menuju lift pribadi yang akan membawa mereka ke lantai paling atas—The Penthouse. Di dalam lift yang melesat cepat, Maksimov berdiri di belakang Sarah, menatap pantulan gadis itu di kaca.
"Kau dengar itu, Sarah? Gospozha. Nyonya," bisik Maksimov tepat di telinganya. "Mulai detik ini, kata-katamu adalah perintah di gedung ini. Tapi ingat, semua itu ada harganya."
"Apa harganya?" tanya Sarah takut-takut.
Maksimov membalikkan tubuh Sarah agar menghadapnya. Ia menatap kain cadar bersulam elang perak itu dengan tatapan yang sangat posesif.
"Harganya adalah kebebasanmu sepenuhnya. Kau adalah milikku, dan seluruh Moskow harus tahu itu."
Lift berdenting. Pintu terbuka, memperlihatkan kemewahan yang tak terbayangkan di puncak Moskow. Namun, di tengah ruangan luas itu, sudah berdiri seorang wanita paruh baya dengan gaun merah darah dan wajah yang sangat tajam.
"Jadi, ini 'sampah' Turki yang kau bawa pulang hingga membuat pamanmu cacat, Maksimov?" tanya wanita itu dengan suara yang sedingin es.
Itu adalah Irina Volkov, ibu tiri Maksimov yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang kekuasaan.
Suasana di dalam penthouse seketika membeku. Irina Volkov melangkah maju, tumit sepatu hak tingginya berdentang tajam di atas lantai marmer, terdengar seperti hitungan mundur menuju ledakan. Ia menatap Sarah dengan pandangan penuh jijik, seolah-olah Sarah adalah noda di atas karpet mahalnya.
"Bicaralah, Maksimov," desis Irina, matanya beralih ke putra tirinya. "Sejak kapan seleramu merosot begitu rendah? Kau membawa gadis yang wajahnya pun tidak berani ia tunjukkan? Apakah dia begitu buruk rupa hingga kau harus membungkusnya seperti paket?"
Maksimov tidak melepaskan genggamannya pada tangan Sarah. Justru, ia menarik Sarah sedikit ke belakang punggungnya, melindunginya dengan bahasa tubuh yang sangat dominan.
"Jaga bicaramu, Irina," ucap Maksimov. Suaranya tidak tinggi, namun ada getaran mematikan yang membuat para pengawal di pintu otomatis menundukkan kepala. "Kau sedang berbicara tentang calon pendampingku. Gelarnya di rumah ini lebih tinggi daripada posisimu sebagai janda ayahku."
Irina tertawa sinis, suara tawanya kering dan menusuk. "Pendamping? Seorang Volkov tidak bersanding dengan misteri. Aku ingin lihat wajahnya. Lepaskan kain bodoh itu sekarang juga!"
Irina bergerak maju, tangannya yang penuh perhiasan terangkat dengan cepat, hendak merenggut cadar Sarah.
Greb!
Hanya dalam sekejap mata, Maksimov sudah mencengkeram pergelangan tangan Irina di udara. Cengkeramannya begitu kuat hingga wajah Irina memucat karena menahan sakit.
"Aku sudah bilang di gereja, dan aku akan mengulanginya di sini agar kau paham," bisik Maksimov, wajahnya mendekat ke wajah Irina dengan aura iblis yang murni. "Tidak ada yang boleh menyentuh kain ini. Tidak kau, tidak siapa pun. Jika kau mencoba sekali lagi, aku akan mematikan fungsi tanganmu selamanya."
"Maksimov... kau berani mengancamku demi dia?" rintih Irina.
"Ini bukan ancaman. Ini adalah proklamasi," Maksimov menyentakkan tangan Irina hingga wanita itu terhuyung. "Berlutut."
Irina membelalak. "Apa kau bilang?"
"Berlutut dan minta maaf pada Gospozha Volkova," perintah Maksimov. Matanya yang abu-abu berkilat dingin, tak menyisakan ruang untuk negosiasi. "Lakukan, atau kau akan keluar dari gedung ini tanpa nama belakang Volkov lagi."
Irina gemetar hebat. Ia tahu Maksimov tidak pernah bermain-main. Dengan harga diri yang hancur berkeping-keping, ia perlahan menurunkan tubuhnya, berlutut di atas lantai marmer di depan kaki Sarah.
"Maafkan... ketidaksopananku... Nyonya," ucap Irina dengan suara tercekik.
Sarah terpaku. Ia menatap wanita yang tadinya begitu angkuh kini bersimpuh di depannya. Ia merasa ngeri melihat betapa besarnya kekuasaan Maksimov. Pria ini bisa membuat siapa pun merangkak hanya dengan satu kata.
Maksimov mengabaikan Irina yang masih berlutut. Ia berbalik sepenuhnya pada Sarah, lalu perlahan ia merapikan helai kain cadar Sarah yang sedikit bergeser karena ketegangan tadi.
"Ingat ini, Sarah," bisik Maksimov, kali ini suaranya terdengar lembut namun tetap posesif. "Di bawah perlindunganku, dunia akan berlutut di kakimu. Kau hanya perlu tetap berada di sisiku."
Maksimov kemudian merangkul pinggang Sarah dengan sangat posesif, membawanya melewati Irina yang masih berlutut menuju balkon besar yang menghadap seluruh kota Moskow yang tertutup salju. Dari sana, seluruh kota tampak kecil, seolah-olah Maksimov dan Sarah adalah penguasa tunggal dari puncak dunia yang beku itu.