BAB 6: Di Balik Tirai Volkov

1046 Words
Moskow tidak pernah tidur, namun di dalam penthouse megah milik Maksimov Volkov, waktu seolah berhenti. Setelah kejadian di pondok perburuan dan konfrontasi dengan Irina, atmosfer di antara mereka berubah. Bukan lagi sekadar penculik dan tawanan, melainkan sebuah simpul rumit yang tak terurai. ​Sarah berdiri di depan jendela kaca setinggi langit-langit, menatap lampu-lampu kota yang tampak seperti kerlipan api di kejauhan. Ia masih mengenakan pakaian yang sama dengan saat ia diculik, namun di atas tempat tidur, sudah tersedia gaun-gaun mahal yang menurut Maksimov "pantas" untuk seorang Nyonya Volkov. ​Ceklek. ​Pintu kamar terbuka. Langkah kaki Maksimov yang berat dan berirama terdengar mendekat. Tanpa menoleh, Sarah tahu pria itu sedang memperhatikannya—tatapan yang selalu terasa seperti beban berat di pundaknya. ​"Pagi ini, kau harus mulai terbiasa dengan protokol keamanan," suara Maksimov memecah keheningan. Ia berdiri tepat di belakang Sarah, namun tidak menyentuhnya. "Tidak ada lagi jalan-jalan santai di luar tanpa pengawalan dua mobil penuh anak buahku." ​Sarah berbalik, menatap pria yang kini menjadi suaminya melalui ikatan paksa yang tak terbantahkan. "Aku bahkan tidak ingin keluar, Maksimov. Aku hanya ingin pulang." ​Maksimov tertawa kecil, suara yang terdengar dingin dan tak memiliki humor. "Pulang? Sarah, kau adalah kunci dari stabilitas kerajaanku sekarang. Jika kau kembali ke Indonesia, orang-orang yang mengincar nyawaku akan memburumu. Kau aman di sini, di bawah tanganku." ​"Keamanan yang kau tawarkan terasa seperti penjara," balas Sarah, suaranya tetap lembut namun penuh penekanan. ​Maksimov maju selangkah, memperpendek jarak hingga napasnya yang beraroma kayu cemara dan tembakau mahal menerpa wajah Sarah. Ia menarik sehelai kain yang sedikit bergeser dari kepala Sarah, merapikannya dengan jemari yang kasar namun sangat hati-hati. ​"Penjara atau istana, itu tergantung sudut pandangmu," bisik Maksimov. "Hari ini, kau akan ikut denganku ke kantor. Ada banyak orang yang harus tahu bahwa posisi di sampingku sudah terisi." ​Sarah terpaku. "Kantor? Kau ingin aku bekerja di sana?" ​"Aku ingin kau ada dalam pengawasanku dua puluh empat jam. Di sana, kau akan belajar bagaimana caranya menjadi seorang Volkov. Dan jangan berharap bisa lari, Ptichka. Anak buahku ada di setiap lantai, setiap sudut, dan setiap pintu keluar." ​Sarah memejamkan mata sejenak, berdoa dalam hati agar diberikan kekuatan. Ia tahu ini bukan sekadar tugas asisten biasa; ini adalah ujian untuk mempertahankan kewarasannya di jantung kekuasaan pria yang paling berbahaya di Rusia. ​Sebelum keluar, Maksimov berhenti sejenak di depan pintu. "Oh, satu lagi. Jangan mencoba bicara pada siapa pun di sana, kecuali aku yang mengizinkan. Dunia bawah tanah tidak mengenal keramahan, Sarah. Satu kata yang salah bisa mengakhiri hidupmu." ​Pintu tertutup rapat. Sarah terduduk di tepi tempat tidur, menatap sekeliling ruangan yang luas namun terasa mencekik. Ia tahu, di balik kemewahan ini, ia sedang berada di sarang monster, dan satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan tidak membiarkan dirinya ditelan oleh sisi gelap Maksimov. ​Lobi Volkov Tower bukan sekadar kantor; itu adalah pernyataan kekuasaan. Lantai marmer hitam yang dipoles hingga mengkilap memantulkan bayangan setiap orang yang melangkah di atasnya. Saat Maksimov melangkah masuk dengan setelan jas custom berwarna arang, para staf, eksekutif, hingga pengawal menunduk dalam tanpa kecuali. ​Di sampingnya, Sarah berjalan dengan langkah ragu. Cadar hitamnya tampak kontras dengan atmosfer korporat yang dingin dan teknokratis di sekelilingnya. Semua pasang mata tertuju pada mereka, penuh rasa ingin tahu yang diselimuti ketakutan. ​"Tuan Volkov, selamat pagi," sapa sebuah suara yang tajam dan terlatih. ​ Seorang wanita dengan rambut pirang sanggul sempurna dan setelan rok pensil yang melekat ketat melangkah maju. Dia adalah Elena, sekretaris pribadi sekaligus tangan kanan operasional Maksimov selama lima tahun terakhir. Matanya menyapu Sarah dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang nyaris menghina, sebelum kembali menatap Maksimov dengan kilat obsesi yang disembunyikan. ​ "Elena," jawab Maksimov singkat, tanpa menghentikan langkahnya. "Siapkan ruang asisten pribadi di sebelah kantorku untuk Nyonya Volkov." ​ Elena tertegun. Senyum profesionalnya sedikit retak. "Maaf, Tuan? Anda ingin... dia? Bekerja di sini? Bukankah itu akan mengganggu protokol keamanan rahasia perusahaan?" ​ Maksimov berhenti mendadak. Ia menoleh perlahan ke arah Elena, membuat wanita itu mundur selangkah karena tekanan aura yang tiba-tiba menekan jantungnya. "Sejak kapan kau mempertanyakan keputusanku, Elena? Tugasmu adalah memastikan mejanya tersedia, bukan mengurus protokol keamananku." ​ "B-baik, Tuan. Maafkan saya," Elena menunduk, namun jemarinya meremas tablet di tangannya dengan kuat. ​Sepanjang pagi, Sarah dipaksa duduk di meja kayu mahoni yang terletak tepat di luar ruang kerja Maksimov. Ia tidak memiliki tugas nyata selain "belajar". Namun, di balik pintu kaca yang tertutup, ia bisa merasakan mata Elena yang terus mengawasinya. ​ Saat Maksimov memanggil Elena masuk untuk sebuah rapat besar, Sarah sempat tertinggal sendirian. Elena keluar beberapa menit kemudian dengan wajah dingin. Ia berjalan menuju meja Sarah, menjatuhkan tumpukan dokumen tebal dengan kasar hingga membuat Sarah terlonjak. ​"Dengar, gadis kecil," bisik Elena dengan nada yang tidak lagi profesional, penuh racun. "Tuan Volkov hanya sedang bosan. Kau hanyalah mainan baru yang ia bawa dari liburannya. Begitu dia sadar kau tidak berguna bagi klan, kau akan dibuang seperti sampah." ​Sarah menatap Elena dengan tenang, meski hatinya berdegup kencang. "Jika itu benar, kenapa kau terlihat begitu ketakutan dan membenciku?" ​ Elena tersentak, wajahnya memerah karena amarah. "Kau tidak tahu apa-apa tentang pria itu. Aku sudah mengabdi padanya bertahun-tahun, aku tahu apa yang dia butuhkan!" ​"Dia membutuhkan seorang istri, bukan seorang bawahan yang terlalu berambisi," jawab Sarah lirih namun tajam. ​ Elena mendesis, tangannya terangkat hendak menyenggol cangkir kopi panas di atas meja Sarah agar tumpah ke pakaian gadis itu. Namun, sebelum cangkir itu bergerak, sebuah tangan besar dengan jam tangan mewah mencengkeram pergelangan tangan Elena di udara. ​Maksimov berdiri di sana, pintu ruang kerjanya terbuka lebar. Tatapan matanya adalah es yang siap membekukan siapa saja. ​"Elena," suara Maksimov rendah, namun setiap orang di lantai itu bisa mendengarnya. "Ini adalah peringatan terakhirmu. Sentuh dia, atau bahkan bicaralah dengan nada seperti itu padanya lagi, maka gedung ini tidak akan cukup besar untuk menyembunyikan sisa-sisa tubuhmu." ​Elena gemetar hebat, air mata ketakutan jatuh di pipinya yang terpoles riasan sempurna. ​ "Keluar. Dan jangan pernah kembali ke lantai ini," perintah Maksimov dingin. ​Keheningan total menyelimuti lantai kantor. Sarah menatap punggung Maksimov, merasa ngeri sekaligus terlindungi. Pria ini tidak hanya membelanya, ia menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya—bahkan jika itu adalah orang paling setia di perusahaannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD