Keamanan di Volkov Tower adalah yang terbaik di Rusia; setiap sudut dijaga oleh pria-pria berseragam hitam dengan senjata api otomatis yang siap menyalak dalam hitungan detik.
Namun, bagi Sarah, keamanan fisik itu tidak ada artinya saat ia melangkah masuk ke ruang rapat besar di lantai paling atas. Di sana, bahaya yang mengancamnya bukan berasal dari peluru, melainkan dari tatapan mata anggota keluarga besar Volkov.
Maksimov berjalan di depan, langkahnya angkuh dan dominan. Ia tidak melepaskan genggamannya pada tangan Sarah, seolah sedang memamerkan tawanan paling berharga sekaligus perisainya.
Di ujung meja panjang berbahan marmer, duduklah paman Maksimov, Viktor Volkov, bersama beberapa sepupu dan kerabat senior lainnya. Mereka adalah pemegang saham utama klan bisnis Volkov, dan wajah mereka tidak menunjukkan keramahan sedikit pun.
"Jadi, ini alasan kau mengacaukan kesepakatan di Turki, Maksimov?" suara Viktor menggelegar, kering dan penuh kebencian. Ia menatap Sarah dengan pandangan merendahkan. "Seorang gadis asing yang bahkan tidak berani menunjukkan wajahnya? Kau membawa 'aib' ke dalam silsilah keluarga kita."
Maksimov menarik kursi utama dan mendudukkan Sarah di sana—posisi yang seharusnya hanya milik pendamping pemimpin tertinggi. Tindakan itu memicu gumaman marah di seisi ruangan.
"Jaga bicaramu, Paman," ucap Maksimov dingin, suaranya tenang namun mengandung ancaman mematikan. "Dia adalah istriku. Dan di gedung ini, suaranya setara dengan suaraku."
"Istri?" seorang sepupu wanita Maksimov tertawa sinis. "Dia hanya sampah yang kau pungut dari jalanan Cappadocia. Dia tidak punya nama, tidak punya koneksi, dan yang paling penting, dia tidak punya tempat di Moskow. Lihat pakaiannya! Dia terlihat seperti pengungsi, bukan seorang Gospozha."
Sarah meremas jemarinya di bawah meja. Ia bisa merasakan kebencian yang begitu pekat di ruangan itu. Mereka bukan hanya membencinya karena ia orang asing, tapi mereka membencinya karena ia adalah simbol bahwa Maksimov tidak bisa lagi mereka kendalikan.
"Dia memiliki apa yang tidak kalian miliki," balas Maksimov, matanya menyapu seluruh ruangan hingga semua orang terdiam. "Dia memiliki kesetiaanku. Dan siapa pun yang menghinanya, berarti sedang menggali kuburannya sendiri di bawah salju Moskow."
Viktor berdiri, memukul meja dengan keras.
"Kau gila, Maksimov! Klan kita dibangun di atas darah dan aliansi yang kuat. Menikahi gadis ini adalah penghinaan bagi leluhur Volkov. Kami tidak akan pernah mengakuinya sebagai bagian dari keluarga ini. Bagiku, dia tetaplah orang asing yang tidak berguna!"
Sarah merasakan sesak di dadanya. Ia menoleh ke arah Maksimov, berharap pria itu akan membawanya pergi dari sana. Namun, Maksimov justru menatap pamannya dengan senyum iblis yang paling tipis.
"Aku tidak butuh pengakuan kalian," desis Maksimov. "Aku hanya butuh kalian patuh. Jika kalian tidak bisa menerima Sarah sebagai Nyonya Volkov, maka kalian tidak perlu lagi menerima dividen dari perusahaan ini. Silakan pilih: uang, atau harga diri kalian yang sudah tua itu?"
Suasana seketika membeku. Ancaman finansial Maksimov adalah pukulan telak. Namun, kebencian di mata Viktor tidak padam; justru ia menatap Sarah dengan tatapan yang seolah menjanjikan bahwa hidup Sarah tidak akan lama lagi di gedung ini.
Setelah rapat yang mencekam itu, Maksimov terpaksa meninggalkan Sarah di ruang kerjanya karena ada urusan mendesak di lantai bawah terkait pengiriman logistik klan. Ia menempatkan empat pengawal paling tangguh di depan pintu, meyakinkan Sarah bahwa ruangan itu adalah tempat teraman di seluruh Moskow.
Namun, pengkhianatan sering kali datang dari orang yang memegang kunci cadangan.
Pintu kantor terbuka pelan. Bukan Maksimov yang masuk, melainkan Viktor Volkov, paman Maksimov yang tadi menghina Sarah di ruang rapat. Ia masuk dengan tenang, seolah-olah para pengawal di luar tidak berani menghentikan anggota senior keluarga Volkov.
"Masih di sini, Gadis Kecil?" suara Viktor terdengar parau, penuh dengan kebencian yang ditekan.
Sarah bangkit dari kursi kebesaran Maksimov. Ia berdiri tegak, berusaha menutupi getaran di tangannya. "Tuan Volkov sedang tidak ada di ruangan ini. Anda sebaiknya kembali nanti."
Viktor terkekeh sinis. Ia berjalan mendekat dan meletakkan sebuah map kulit berwarna cokelat di atas meja kayu mahoni itu. "Aku tidak datang untuk bicara dengan keponakanku yang sudah buta karena obsesi. Aku datang untuk memberikanmu jalan keluar."
Sarah menatap map itu dengan curiga. "Jalan keluar apa?"
"Kebebasanmu. Dan keselamatan orang tuamu di Indonesia," ucap Viktor, matanya menyipit tajam. "Di dalam map itu ada dokumen pembatalan pernikahan dan paspor baru atas namamu. Pesawat pribadi sudah menunggu di bandara Vnukovo. Kau bisa pergi sekarang, kembali ke studimu, kembali ke keluargamu, dan lupakan semua neraka ini."
Jantung Sarah berdegup kencang. Kebebasan. Kata itu terdengar seperti nyanyian surga. Namun, ia tahu di dunia Volkov, tidak ada yang gratis.
"Apa imbalannya?" tanya Sarah lirih.
"Imbalannya adalah kau menghilang selamanya dari hidup Maksimov," desis Viktor. "Dia menghancurkan aliansi bisnis kami demi melindungimu. Selama kau ada di sini, klan ini dalam bahaya. Tanda tangani ini, dan aku pastikan orang tuamu tidak akan pernah disentuh oleh siapa pun."
Sarah perlahan membuka map itu. Jemarinya menyentuh lembaran kertas putih yang tampak begitu resmi. Namun, matanya yang jernih menangkap sesuatu di balik dokumen tersebut—sebuah lembar pernyataan yang menyatakan bahwa Sarah mengaku telah mencuri data rahasia Volkov.
Sarah tersenyum pahit di balik cadarnya. Ia menyadari jebakannya. Jika ia menandatangani ini, Viktor tidak akan melepaskannya; ia akan membunuh Sarah di tengah jalan dan menggunakan dokumen ini sebagai alasan bagi Maksimov bahwa Sarah adalah seorang mata-mata yang mengkhianatinya.
"Anda meremehkanku, Tuan Viktor," ucap Sarah, suaranya kini terdengar jauh lebih stabil dan berani.
Viktor mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Anda tidak peduli pada klan ini. Anda hanya takut kehilangan kendali atas Maksimov," Sarah menutup map itu dengan dentuman pelan. "Dokumen ini bukan tiket pulang. Ini adalah surat kematianku. Dan jika saya menandatanganinya, saya tidak hanya mengkhianati diri saya sendiri, tapi saya juga meremehkan pria yang telah mempertaruhkan segalanya untuk menjadikanku istrinya."
Wajah Viktor memerah karena murka. Ia maju selangkah, hendak mencengkeram bahu Sarah. "Kau pikir kau siapa, hah?! Kau hanya tawanan!"
"Dia adalah istriku!"
Suara dingin Maksimov menggelegar dari ambang pintu. Ia berdiri di sana dengan aura yang begitu gelap hingga suhu ruangan seolah turun beberapa derajat. Di tangannya, ia meremas selembar kertas—laporan dari pengawalnya bahwa Viktor memaksa masuk.
Maksimov berjalan cepat, melewati pamannya tanpa menoleh, dan langsung berdiri di depan Sarah. Ia melihat map di atas meja, lalu menatap Viktor dengan pandangan yang bisa membunuh.
"Paman," ucap Maksimov rendah, suaranya bergetar karena amarah yang ditahan. "Kau baru saja mencoba menyentuh milikku di dalam kantorku sendiri. Kau tahu apa hukumannya bagi penyusup, bukan?"
"Aku melakukannya demi keluarga, Maksimov!" teriak Viktor.
Maksimov mengambil map itu, merobeknya menjadi dua tanpa melihat isinya, dan melemparkannya ke wajah Viktor. "Keluarga Volkov adalah aku. Dan Sarah adalah mahkotaku. Keluar dari sini sebelum aku lupa bahwa darahmu sama denganku."
Viktor mundur, matanya penuh dendam. Ia menatap Sarah untuk terakhir kalinya sebelum keluar dengan langkah gusar.
Setelah ruangan sepi, Maksimov berbalik pada Sarah. Ia menatap mata Sarah yang masih tampak berkaca-kaca. Tanpa kata, Maksimov menarik Sarah ke dalam pelukannya—sebuah tindakan yang jarang ia lakukan. Ia memeluknya dengan sangat erat, seolah takut Sarah benar-benar akan terbang pergi.
"Kau tidak menandatanganinya," bisik Maksimov di atas kepala Sarah.
"Aku tidak akan pernah melakukannya," jawab Sarah lirih, tangannya perlahan membalas pelukan Maksimov.
Kepergian Viktor meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam kantor. Maksimov masih berdiri mematung, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap. Ia perlahan melepaskan pelukannya, lalu berjalan menuju bar pribadi di sudut ruangan, menuangkan vodka ke dalam gelas kristal dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Viktor benar soal satu hal," suara Maksimov pecah, terdengar serak dan berbahaya.
"Keluarga ini menuntut aliansi. Mereka ingin aku menikahi putri dari klan Petrov demi memperluas wilayah ke utara."
Sarah berdiri diam, menatap punggung tegap pria itu. "Lalu kenapa kau tidak melakukannya? Itu akan memudahkan posisimu."
Maksimov menenggak minumannya dalam satu tegukan, lalu berbalik dengan tatapan mata yang berkilat tajam. "Karena aku tahu kebusukan mereka! Klan Petrov hanya menginginkan akses ke jalur logistikku untuk menyelundupkan senjata cacat. Mereka ingin menghancurkan Volkov dari dalam lewat pernikahan itu. Aku tidak akan membiarkan parasit masuk ke tempat tidurku hanya demi status sialan yang mereka agung-agungkan!"
Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Sarah terdesak ke tepian meja kerja. Aura Maksimov kini berubah, bukan lagi pelindung, melainkan predator yang sedang mengklaim wilayahnya.
"Mereka pikir aku lemah karena memilihmu," desis Maksimov. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar mengusap pinggiran cadar Sarah dengan intensitas yang membuat Sarah menahan napas. "Tapi mereka salah. Aku memilihmu karena kau adalah satu-satunya variabel yang tidak bisa mereka kontrol."
Sarah mencoba memalingkan wajah, namun Maksimov mencengkeram dagunya dengan lembut namun menuntut. "Maksimov, tolong... batasan kita... agamaku—"
"Persetan dengan agamamu!" potong Maksimov dengan suara yang rendah namun menggelegar. "Di gedung ini, hukumku adalah tuhanmu. Aku bisa menyentuhmu kapan pun aku mau, Sarah. Aku bisa merobek kain ini dan mengambil apa yang sudah sah menjadi milikku di bawah hukum klan!"
Sarah gemetar hebat, matanya berkaca-kaca menatap mata abu-abu pria di depannya yang tampak kehilangan kendali.
"Kau tahu kenapa aku membawamu ke sini? Kenapa aku tidak membiarkanmu pergi meskipun seluruh keluarga besarku menentang?" Maksimov mendekatkan wajahnya, napasnya terasa panas di kulit Sarah. "Karena aku butuh keturunan. Aku butuh pewaris yang memiliki darahku, tapi dengan jiwa sepertimu—jiwa yang tidak bisa dibeli oleh kekuasaan. Aku ingin anak-anakku lahir dari rahimmu untuk mengamankan takhta Volkov selamanya."
"Aku bukan alat untuk kekuasaanmu, Maksimov," bisik Sarah dengan suara tercekik.
"Kau adalah segalanya bagiku sekarang," balas Maksimov, suaranya tiba-tiba melunak namun tetap penuh obsesi. "Istri, tawanan, dan ibu dari masa depan klan ini. Jangan pernah berpikir untuk lari, karena bahkan jika kau pergi ke ujung bumi, aku akan menyeretmu kembali hanya untuk memastikan kau melahirkan takdirku."
Maksimov melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik memunggungi Sarah, mencoba mengatur napasnya yang memburu. "Pakai gaun yang sudah kusiapkan. Malam ini, di pesta dansa klan, kau akan berdiri di sampingku sebagai Nyonya Volkov yang sesungguhnya. Tunjukkan pada mereka bahwa kau bukan sekadar 'pilihan', tapi kau adalah masa depan yang harus mereka takuti."