BAB 8: Dansa di Atas Belati

1122 Words
​Malam itu, Moskow diselimuti badai salju yang paling ganas dalam dekade ini, namun aula utama Grand Volkov Ballroom justru membara dengan kemewahan yang mematikan. Kristal-kristal gantung memantulkan cahaya kuning keemasan ke atas lantai dansa, tempat para gembong mafia dari berbagai penjuru Rusia berkumpul. Bau cerutu mahal, vodka premium, dan aroma bahaya memenuhi udara. ​Di dalam kamar riasnya, Sarah menatap pantulannya di cermin besar. Ia mengenakan gaun beludru hitam pekat yang menjuntai hingga ke lantai, dengan lengan panjang dan potongan yang sangat elegan namun tetap menutup auratnya dengan sempurna. Cadar yang ia kenakan malam ini bukan lagi kain biasa; itu adalah kain sutra hitam yang dihiasi sulaman benang emas membentuk motif elang—lambang klan Volkov. ​Pintu terbuka tanpa ketukan. Maksimov melangkah masuk, tampak luar biasa tampan sekaligus mengintimidasi dalam setelan tuxedo tiga potong berwarna hitam legam. Ia berhenti tepat di belakang Sarah, menatap bayangan gadis itu di cermin. ​"Kau tampak... berbahaya," bisik Maksimov, suaranya berat dan penuh kepuasan. Ia meletakkan sebuah kotak beludru di atas meja rias. Di dalamnya, melingkar sebuah kalung berlian hitam dengan mata safir yang berkilau dingin. ​"Aku merasa seperti target yang sedang dipajang, Maksimov," jawab Sarah lirih. Tangannya yang terbungkus sarung tangan sutra hitam gemetar saat Maksimov mengambil kalung itu dan memakaikannya ke lehernya. ​"Kau bukan target, Sarah. Kau adalah peringatan," Maksimov merapikan rambut Sarah yang tertutup hijab satin di balik cadarnya. "Malam ini, semua mata akan tertuju padamu. Klan Petrov, paman Viktor, dan semua musuhku akan mencoba mencari celah untuk menghancurkanmu. Tetaplah di sisiku. Jangan lepaskan tanganku sedetik pun." ​Maksimov mengulurkan lengannya yang kokoh. Sarah menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang liar, lalu menyambut lengan pria itu. ​Saat pintu aula terbuka dan nama mereka diumumkan oleh penjaga pintu berseragam militer, seluruh kebisingan di dalam ruangan seketika lenyap. Musik orkestra mereda, dan ratusan pasang mata tertuju ke arah tangga besar. ​Di sana berdiri Maksimov Volkov, sang Tsar yang ditakuti, dan di sampingnya adalah sosok misterius bercadar yang selama ini menjadi desas-desus di dunia bawah tanah Moskow. Penampilan Sarah yang tertutup justru memberikan aura mistis dan kekuasaan yang tak tergoyahkan, jauh lebih menarik daripada wanita-wanita lain yang memamerkan kulit mereka. ​"Lihat itu," bisik salah seorang bos klan dari utara. "Dia benar-benar membawa pengungsi itu ke sini." ​"Itu bukan pengungsi," sahut yang lain dengan nada ngeri. "Lihat elang emas di cadarnya. Dia memakai segel pribadi Maksimov. Dia bukan sekadar istri; dia adalah pernyataan perang." ​Maksimov menuntun Sarah menuruni tangga dengan langkah yang sangat tenang. Ia tidak mempedulikan bisik-bisik yang merayap di sekeliling mereka. Namun, di ujung tangga, mereka sudah dihadang oleh seorang gadis cantik berambut pirang dengan gaun merah yang sangat berani. ​Dia adalah Katarina Petrov, putri dari klan sebelah yang perjodohannya ditolak mentah-mentah oleh Maksimov demi Sarah. ​"Selamat malam, Maksimov," suara Katarina terdengar semanis madu, namun matanya menatap Sarah dengan kilat kebencian yang murni. "Aku tidak menyangka kau akan membawa 'koleksi' barumu ke acara sepenting ini. Bukankah pesta ini untuk para bangsawan, bukan untuk... pertunjukan sirkus misterius?" ​Maksimov tidak berhenti melangkah, ia justru menarik Sarah lebih dekat ke tubuhnya. "Katarina, perkenalkan. Ini Sarah Anindita Volkov. Pemilik tunggal dari segalanya yang kau impikan, namun tidak akan pernah kau miliki." ​Wajah Katarina memucat, sementara Sarah hanya diam, menatap wanita itu dengan ketenangan yang luar biasa. Namun, Sarah tahu, ini barulah permulaan dari malam yang sangat panjang. ​ ​Suasana di aula besar semakin mencekam. Musik orkestra klasik kembali mengalun, namun nadanya terasa lebih berat, seolah mengiringi setiap intrik yang bertebaran di udara. Katarina Petrov tidak mundur meski telah dihina oleh Maksimov. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan belati di baliknya. ​"Tradisi adalah tradisi, Maksimov," ujar Katarina dengan suara yang cukup keras hingga menarik perhatian para petinggi klan di sekeliling mereka. "Malam ini adalah malam pembuktian. Jika istrimu ini memang layak menyandang nama Volkov, dia harus melakukan Dansa Kehormatan bersamaku. Kecuali... dia terlalu takut untuk menunjukkan bahwa di balik kain itu, dia hanyalah gadis lemah yang tidak punya nyali." ​Bisik-bisik kembali menjalar. Di dunia Mafia Rusia, menolak tantangan dansa kehormatan—yang biasanya merupakan ajang adu mental dan d******i—adalah tanda kelemahan yang fatal bagi seorang pemimpin. ​Maksimov mencengkeram lengan Sarah sedikit lebih erat. Rahangnya mengeras. "Dia tidak perlu membuktikan apa pun pada p*****r klan Petrov sepertimu, Katarina." ​Namun, Sarah merasakan tatapan ratusan pasang mata yang meragukannya. Ia tahu jika ia terus bersembunyi di balik punggung Maksimov, pria itu akan dianggap memiliki "kelemahan" yang mudah diserang. Dengan keberanian yang dikumpulkan dari sisa-sisa harga dirinya, Sarah melepaskan lengan Maksimov perlahan. ​"Aku akan melakukannya," ucap Sarah lirih namun tegas dari balik cadarnya. ​Maksimov menoleh cepat, matanya berkilat antara amarah dan kekhawatiran. "Sarah, jangan gila. Kau tidak tahu permainan mereka." ​"Aku tahu siapa diriku, Maksimov," bisik Sarah. "Dan aku tidak akan membiarkan mereka menghinamu lewat aku." ​Lantai dansa dikosongkan. Sarah dan Katarina berdiri berhadapan. Katarina dengan gaun merahnya yang menantang, dan Sarah dengan gaun hitam megahnya yang misterius. Musik berubah menjadi tango Rusia yang bertempo cepat dan agresif. ​Saat dansa dimulai, Katarina sengaja bergerak dengan kasar, mencoba menyenggol dan membuat Sarah kehilangan keseimbangan. "Kau pikir kau bisa bertahan di sini?" bisik Katarina di telinga Sarah saat mereka berputar. "Setelah pesta ini, aku akan memastikan ayahku memburu keluargamu di Indonesia sebagai balasan atas penghinaan Maksimov." ​Mendengar ancaman terhadap keluarganya, ketakutan Sarah berubah menjadi api. Saat langkah berikutnya, Sarah tidak lagi mengikuti gerakan Katarina. Ia menggunakan kecerdasannya, bergerak dengan ritme yang tenang namun mengunci pergerakan Katarina. ​Pada satu gerakan putaran yang cepat, Sarah dengan sengaja menginjak ujung gaun panjang Katarina dengan tumit sepatunya, membuat Katarina hampir tersungkur di depan semua orang. Namun, sebelum Katarina jatuh, Sarah justru menangkap tangannya—menunjukkan bahwa dialah yang memegang kendali. ​"Keluargaku berada di bawah perlindungan Tsar Moskow," bisik Sarah dingin tepat di hadapan wajah Katarina yang memucat. "Dan kau... kau bahkan tidak bisa menjaga langkahmu sendiri di lantainya. ​Seluruh ruangan terdiam. Sarah melepaskan tangan Katarina dan berjalan kembali menuju Maksimov dengan anggun, seolah tidak terjadi apa-apa. Maksimov menatapnya dengan binar kebanggaan yang belum pernah Sarah lihat sebelumnya. ​Namun, kemenangan kecil itu segera sirna. Saat Sarah baru saja sampai di sisi Maksimov, seorang pengawal berbisik panik di telinga sang Tsar. ​Wajah Maksimov seketika berubah menjadi gelap gulita. Ia menatap ke arah balkon atas, di mana Viktor Volkov sudah menghilang dari posisinya. ​"Sarah," bisik Maksimov, tangannya merogoh pistol di balik jasnya. "Tetap di belakangku. Paman Viktor baru saja mematikan sistem keamanan di sayap barat. Mereka tidak hanya ingin mempermalukanmu... mereka datang untuk mengambilmu." ​Tiba-tiba, lampu kristal raksasa di tengah ruangan padam. Kegelapan total menyelimuti aula, diikuti oleh suara rentetan tembakan yang memecah keheningan malam. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD