5 Efek Ngidam

1074 Words
Bab 5 “Sayang, ayolah makan. Kamu nggak mau makan dari kemarin.” Niki membujuk Edward untuk makan. “Nggak, aku malas makan. Sama sekali nggak seger di mataku. Kamu bisa carikan aku rujak bebek?” kata Edward yang terdengar sangat aneh di telinga Niki. “Rujak bebek? Mana ada bebek dirujak Sayang? Ih makanan apa itu? Kalau bebek itu dipanggang, atau digoreng, atau dibuat bebek peking. Bukannya ditujak.” Edward memainkan ponselnya mencoba mencari keterangan dari apa yang dimaksudkan. “Ini, maksudku rujak bebek yang ini.” Niki menatap jijik. “Iyuh, seperti muntahan Sayang. Makan salad buah saja mau?” tawarnya. “Kalau nggak mau usaha nyenengin ya udah, pergi aja sana. Pulang sana ke rumahmu.” Edward mengusir Niki secara halus dan hal seperti ini sama sekali nggak pernah terjadi sebelumnya. Sebelumnya Edward adalah pria yang begitu tunduk. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Sangat patuh dan tunduk kepada Niki. Namun belakangan dia sering sekali mengajukan protesnya. Edward mulai tidak suka dengan aroma parfum Niki, dia tidak suka melihat Niki dengan rambut pirangnya, dia juga jijik melihat kuku panjang Niki dengan nail art. Hampir semua yang ada di tubuh Niki, dia jijik. Bahkan sudah hampir satu bulan mereka tidak berhubungan layaknya suami-istri. Padahal sebelumnya Edward tak bisa jika dalam 3 hari dia tidak menjamah wanita. Itu adalah salah satu alasan dirinya mencari perawan. “Kamu mengusirku? Edward Harris, kamu bener-bener ngusir aku?” “Apa kurang jelas? Muak aku sama kamu!” bentak Edward yang entah kerasukan setan apa bisa membentak wanitanya seperti itu. Mungkinkah itu pengaruh ngidamnya Evelyn? “Edward!” sentak Niki. “Apa? Aku hanya mau makanan itu! Apa susahnya? Sesusah itu kamu menyenangkan hatiku Niki? Semua fasilitas yang ada padamu, aku memberikannya. Tapi baru kali ini aku minta makanan murah itu sama sekali nggak ada usahamu untukku!” Blam! Pintu dibanting keras oleh Edward yang masuk ke dalam kamar tanpa mau menatap atau menunggu balasan dari Niki. “Sial! Beraninya dia sekarang membentak dan mengusirku.” Niki pergi setelah pertengkaran itu. Tinggallah Edward seorang diri di dalam rumah mewahnya yang bergaya studio. Perutnya keroncongan, dia masih tidak menyadari ada begitu banyak perubahan pada dirinya belakangan ini. Edward jadi jarang keluar malam. Dia bahkan sama sekali tidak memiliki hasrat untuk melakukan hubungan dengan wanita. Setiap harinya, pikirannya hanya galau, galau, dan galau. Dia seperti kehilangan bagian terpenting dari hidupnya. Terutama tentang Evelyn yang mengembalikan uangnya secara penuh tanpa meninggalkan sepatah kata. “Bos! Ini makanannya yang kamu minta!” seru Boby yang baru saja masuk setelah satu jam dia berkeliling mencari penjual rujak bebek. Bahkan di hari liburnya dia tetap melaksanakan pekerjaan yang Edward berikan. Memancar kebahagiaan di mata Edward saat melihat rujak yang Boby bawa. Air liurnya nyaris tumpah ketika melihat rujak yang berwarna kecoklatan. “Tumben Bos mau makan ginian. Biasanya kalau saya yang makan begituan pasti diejek.” “Bos, tadi saya berpapasan dengan Niki. Apa kalian marahan? Mukanya masam banget tadi.” “Iya, aku bertengkar sama dia. Apa aku mengalami sindrom kebosanan ya? bosan sekali rasanya melihat dia, mencium aroma parfumnya aja aku mual. Sudah satu bulan ini aku sama sekali nggak nyentuh dia.” “Wah! Tumben Bos? Apa Bos mau cari perawan lagi?” tanya Boby. Edward kepedasan, dia sangat menikmati rujak tersebut sampai mengibaskan tangannya di depan mulut dan wajahnya menjadi kemerahan terutama daun telinga. “Gua nggak minat. Kepala gua sering pusing belakangan ini. Gua kayaknya kena tumor. Pagi gua pusing, siang sembuh, sore gua pusing lagi. Pagi-pagi gua selalu mual, kadang sampai muntah. Kayaknya gua perlu nulis wasiat deh.” Boby terdiam dia mencerna perkataan atasannya. “Apa jangan-jangan ini efek ngidam Bos?” “Ngidam? Makanan apa itu Bob?” “Ngidam itu....” Boby menggunakan ponselnya mencari artikel tentang ngidam. Sepuluh menit setelahnya. “Oh, jadi ini ada kaitannya sama cewek itu? Karena dia pertahanin kandungannya jadi gua kena imbasnya? Kurang ajar!” Boby semakin tidak mengerti dengan pemikiran Edward. “Bos, apanya yang kurang ajar? Itu wajar karena ada ikatan kebatinan antara anak dan ayah kandung. Apanya yang salah? Tuhan kasih karunia begitu.” “Lo belain dia?” tukas Edward dengan nada suara yang semakin tinggi. “Nggak Bos, nggak. Ampun gua mah. Saya pamit Bos, balik!” Boby segera bergegas pergi meninggalkan Edward yang terdiam termangu di dalam rumah sendirian. **** Evelyn dan Binbin berdiri di depan rumah sakit, mereka menatap rumah sakit yang begitu ramai dengan pengunjung. Sangat ramai, terutama di bangsal rawat inap. Mata Evelyn berkaca-kaca ketika dia sampai di ruang tunggu melihat ada banyak pasangan muda dan tua memeriksakan kandungan. “Sendirian Dek, suaminya mana?” sapa seorang ibu-ibu yang usianya sudah 40-an. “Kerja Bu, sibuk dia.” Evelyn berbohong. Dia masih bisa tersenyum menutupi kesedihannya. “Oh, sama dengan ibu. Suami ibu juga kerja, makanya ibu ke sini sendiri. Nggak apa-apa nggak diantar suami, yang penting semuanya sama-sama sehat. Anak pertama?” tanyanya lagi. “Iya Bu, anak pertama. Saya ke sini sama adik perempuan saya.” “Anak pertama itu kebahagiaannya kalau melimpah ya sangat tak terkira, anak yang dinanti-nanti dengan segala kesiapan dan kematangan, atau justru anak yang malang yang orang tuanya tidak siap sama sekali. Hhh... ini pengalaman untukmu ya Dek, bukan saya menggurui, tapi nanti jangan terlalu memikirkan keadaan rumah yang berantakan. Utamakan kamu dan bayimu aja.” Ibu-ibu itu mengusap perutnya. “Menjaga kewarasan ibu itu jauh lebih penting dan berpengaruh untuk pertumbuhan janin dan bayi.” “Iya Bu.” Evelyn mengangguk membenarkan dan mengusap perutnya yang masih rata. “Nyonya Lyn!” panggil asisten Dokter dan Evelyn bangkit meninggalkan ibu-ibu ramah tersebut. **** Di dalam ruangan yang dingin, Evelyn ditemani oleh Binbin bersama-sama melihat janin yang berada di dalam kandungan. Janinnya sehat, hanya saja ibunya harus meningkatkan asupan makanan. “Ini sudah hampir 4 bulan, sebentar lagi akan terasa saat dia berdenyut.” Dokter tersenyum saat mengatakan. Tetap saja saat di ruangan tersebut keberadaan ayah dari si janin dipertanyakan. Peran pasangan memang sangat penting untuk perkembangan janin dan kesehatan mental si Ibu. **** Sementara itu di kantor, seorang CEO melamun menatap pohon artificial di sudut ruangannya. “Apa aku benar-benar terkena dampak dari kehamilannya ya? Apa dia sengaja menolak uangku ini, dan pergi untuk suatu saat datang dan menuntut bagian saat aku tua bangka?” “Tapi wajahnya sangat polos, malam itu aku ingat benar bagaimana dia sangat kaku dan bahkan ciumannya terasa aneh. Aku yakin dia sama sekali nggak berpengalaman.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD