4 Jaga Dia Ethan

1086 Words
Bab 4 “Apa ini?” tanya Edward pada Boby yang datang setelah mengunjungi kediaman Evelyn. Boby mengedikkan bahunya. Dia hanya memainkan bibir seolah bosan dengan pertanyaan Edward. “Entahlah Bos, saya juga nggak berani membukanya. Tertulis jelas untuk Edward Harris.” Kotak itu tidak begitu besar, berukuran sedang hanya sebesar kotak sepatu. Tertulis nama Edward di sana sebagai penerima dan ada juga alamat kantor yang bisa dituju jika dalam 2 Minggu tidak ada yang menghampiri. “Bagaimana kalau ini bom?” cetus Edward tiba-tiba. “Bos takut? Biar saya saja yang buka.” Boby merebutnya kembali, menempelkan telinga ke kardus untuk memeriksa apakah ada suara detak di dalamnya. “Aman, sama sekali nggak ada suara. Ini bukan bom ini juga bukan bangkai karena nggak ada baunya.” Boby menganalisis paket tersebut. Dia membukanya kasar, tergesa-gesa dan sama sekali tidak ada perasaan. “Uang. Ini uang Bos.” “Uang, coba lo hitung berapa. Apa dia nolak duit yang gua kasih kemaren?” gumam Edward yang mulai menerka-nerka. Kasus seperti ini bukanlah yang pertama kalinya bagi Edward, dimintai pertanggungjawaban dan dia memberikan uang lalu janin itu dibuang. Selalu seperti itu tanpa Niki ketahui selama ini. Iya, Edward adalah penebar benih sejati. “200 juta pas Bos. Ini beneran uang yang kita antar ke sana. Dia sama sekali nggak nyentuh uang ini Bos. Dia beda, dia datang bukan soal uang.” Edward menghela nafasnya. “Bodo amat! Gua nggak mau mikirin soal ini, terserah dia mau ngapain yang jelas gua punya cara buat nolak tuntutan dia. Lo masih nyimpen bukti transaksi itu ‘kan?” “Masih Bos.” Boby menjawabnya gagu. **** Tanpa terasa sudah satu bulan Evelyn mengasingkan diri. Dia benar-benar membentuk lingkungan tinggal yang baru dengan sangat baik. Dia terus berdiam diri di rumah sewa miliknya yang jauh dari keramaian, berada di ujung sebuah perumahan. “Maafin mama ya Sayang, mama terpaksa bawa kamu jauh dari keramaian. Nanti tetap kok kalau kamu udah cukup usia, mama akan bawa kamu ketemu sama kakek, sama nenek.” Evelyn menatap foto keluarganya dengan rasa bersalah. Dia telah gagal menjadi anak yang baik. Evelyn sempat ingin menggugurkan si jabang bayi. Namun, setelah serangkaian pemeriksaan yang dilakukan dan juga dia melihat banyaknya kasus nyawa melayang akibat tindakan pelenyapan tersebut, niatnya menciut. Evelyn membatalkan niat jahatnya itu dan kukuh ingin membesarkan janin yang ada di dalam kandungannya meski tanpa ayah yang mengakui. “Kak, makanannya udah siap. Sekarang waktunya makan, jangan makan buah terus, kakak juga harus makan nasi.” Binbin, anak buah sekaligus asisten Evelyn yang diminta untuk menemani Evelyn di rumah sewanya. “Binbin, apa perut gua udah kelihatan gede ya?” tanya Evelyn sambil mengusap perutnya. “Nggak Kak, kakak kehilangan banyak berat badan. Ingat kata Dokter itu, kakak harus semangat dan tetap menjaga asupan makanan. Kasihan dia Kak, kalau berat badannya kurang.” Binbin memberikan nasehatnya. “Ayahnya udah nggak peduli sama dia, nggak apa-apa Kakak udah ambil tindakan yang bener kok dengan ngerawat dia. Aku tau Kak, gimana rasanya terbuang dari orang tua, nggak enak Kak, jadi anak yang nggak diharapkan.” “Binbin....” Evelyn menatap sendu Binbin yang sedang menyiapkan makanan di meja. Binbin tersenyum simpul. “Aku anak terakhir dari 5 bersaudara. Saat aku lahir, bersamaan dengan ekonomi keluargaku yang buruk. Dari itu, ayah dan ibu, menganggapku sebagai anak pembawa sial. keluargaku keluarga Cina, mereka percaya dengan perhitungan seperti itu. Jadi, walaupun aku ini anak kandung, tapi aku merasa seperti anak tiri Kak. Kalau Kakak nanti nggak mau merawat dia, kasih ke aku aja Kak, aku yang akan membesarkannya.” Mendengar kata-kata Binbin membuat semangat Evelyn kembali terisi penuh. “Binbin.” “Apa lo nggak menilai gua rendah Binbin?” tanya Evelyn sembari menarik kursi dan duduk. “Aku tau Kakak baik hati. Kalau Kakak nggak baik mungkin uang itu sudah Kakak ambil. Langka Kak, perempuan seperti itu di jaman modern ini.” “Makasih ya Binbin, lo masih memanusiakan gua walaupun gua udah berdosa.” Evelyn menunduk kelu saat mengatakan hal tersebut. Hatinya merasa bersalah dan berdosa. “Karena kita manusia Kak, normal kalau kita berdosa. Membantu sesama itu juga wajib dilakukan bukan?” tanya Binbin pada Evelyn seraya tersenyum. “Iya, lo bener Binbin.” **** “Oh, jadi seperti itu?” gumam seorang lelaki tua sambil menekan tongkatnya. Dia berdiri di teras belakang rumah sambil memandangi hijau taman belakang. Banyak pepohonan buah yang ditanam. “Kalau begitu kamu awasi terus dan kamu katakan semua ini pada Ethan. Aku yang akan menghubungi Ethan kuminta kalian harus menjaga calon pewarisku itu. Apa kamu sudah memastikan kalau gadis itu adalah gadis baik-baik?” Balasan dari seberang tidak begitu terdengar. Lelaki tua itu bicara pada seseorang diujung sambungan jarak jauh. “Bagus, jaga dia dan awasi. Pastikan dia baik-baik saja sampai anak itu lahir. Oh... aku sama sekali tidak menyangka akhirnya dari sekian banyak benih yang Edward buang, ada satu wanita baik-baik yang menampung benihnya.” Kepala pria tua itu mengangguk beberapa kali sebelum panggilan terputus. Ernez Harris, lelaki tua yang merupakan pemilik dari perusahaan besar yang menjadi induk perusahaan pengolahan karet tempat Edward menjabat sebagai CEO itu menghela nafasnya jengah. Cucunya yang satu itu selalu saja membuat ulah. “Kakek, ada apa?” tanya Ethan Harris yang baru saja datang dengan gayanya yang begitu santai, menenteng tas kerja dan duduk setelah memeluk sang kakek. “Ada misi penting buatmu Ethan.” Ethan menatap sang kakek begitu lekat, tatapan yang sulit diterjemahkan dan menyiratkan rasa penasaran. “Ada apa Kek, apa hal penting itu?” “Ini soal keponakanmu.” “Apa?” Ethan tersedak. Dia yang sedang minum itu nyaris mengeluarkan air dari hidungnya. “Niki hamil? Benarkah sudah hamil? Kakak bilang nggak mau punya anak.” “Bukan Niki yang hamil.” Ethan terdiam beberapa saat, dia yang pemikir itu mengerti akan satu hal dan paham tentang apa yang kakaknya lakukan. “Oh, dia kebobolan. Minta uang tutup mulut berapa itu perempuan Kek?” “Kali ini berbeda. Makanya kamu kakek panggil kemari. Bantu kakek untuk menjaga calon keponakanmu. Kakek pusing, kamu belum mau menikah. Kakakmu mau menikah tapi nggak mau punya anak. Hhh... kakek merasa percuma saja kerja keras kakek selama masa muda dulu kalau kalian begini.” Ethan terdiam, dia menunduk. Bukan Ethan tidak mau menikah, hanya saja Ethan tidak seperti Edward yang begitu suka bergonta-ganti pasangan. Ethan sangat selektif dan terlalu perfeksionis. “Aku akan menikah bila sudah saatnya nanti Kek.” Ethan mengusap punggung tangan sang kakek. “Janji?” “Iya Kek, aku janji.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD