3 Pergi Menjauh

1070 Words
Bab 3 “Kenapa kamu masih di sini?” ketus Edward sambil menatap nyalang Evelyn. “Saya mau bicara hal penting sama Bapak.” “Apa? Kamu mau minta supaya saya nggak mecat kamu? Cih! Jangan harap!” Sombong dan tak tahu diri, itulah Edward Harris yang sudah terbiasa hidup mewah dari dia terlahir ke dunia sehingga baginya memecat pegawai bukanlah satu keputusan yang sulit untuk dipertimbangkan. Bahkan dia tak pernah berpikir panjang sebelum melakukan. “Bagus kalau Bapak mau memecat saya. Cukup sampai hari ini saya tahu kalau saya bekerja di perusahaan seorang lelaki hidung belang.” Dengan penuh keberanian dan darah yang mendidih Evelyn mengatakan itu. “Apa maksud Bapak meninggalkan saya di kamar 102 setelah malam itu?” Kamar 102? Bukankah itu adalah kamar yang menjadi langganan bagi Edward untuk membawa para perawan? Edward terkekeh. “Boby, keluar dan tutup pintu. Tunggu di depan pintu sampai saya selesai bicara dengan ja-lang ini.” “Baik Bos.” Boby keluar, dia menuruti perintah Edward. Dalam ruangan menjadi semakin tegang, hawa yang terasa sungguh tidak mengenakkan. Menggenang air mata di pelupuk mata Evelyn. Dia sedang memahami kondisi dan situasi, mencoba mengenali karakter seorang Edward Harris. “Hahaha! Ini lucu, ada pel-acur yang datang seolah dia suci dan baru ternodai. Hahahaha! Dunia sudah gila. Nona....” Edward melihat tag nama di da-da Evelyn. “Nona Evelyn. Aku sudah membayarmu 50 juta untuk satu malam itu durasi dua jam. Apa itu kurang?” Seolah kiamat dunia Evelyn saat mendengarnya. Kalau benar membayar, kepada siapa uang-uang itu masuk? Begitu pikir Evelyn dalam emosinya. “Aku sudah membayar mahal, jadi jangan bilang kalau lo hamil anak gue dan datang ke sini dan minta pertanggungjawaban gue. 50 juta itu sisa banyak buat lo beli obat peluruh bego!” Edward menunjuk dan menekan kening Evelyn yang menangis setelah mendapatkan penuturan langsung dari si pelaku. “Pak, aku nggak merasa pernah menerima uang itu. Aku juga bukan gadis yang rendah seperti itu. Malam itu aku sama sekali nggak ingat apa-apa!” tekan Evelyn dengan suara yang semakin tak terkondisikan. Melihat Evelyn menangis dan semakin tidak terkendali, Edward pun mendekat, menepuk dua bahu Evelyn. “Lo dateng ke hotel gue ntar malem, gue tunggu. Kita bicarain ini. Sekarang lo keluar baik-baik jangan sampai ada yang tau soal masalah ini. kalau sampai bocor, keluarga lo dalam bahaya Evelyn.” *** Malam pun tiba, namun Evelyn tak bergerak dari sofanya. Ariana menghilang, kemungkinan terbesar orang yang menjualnya adalah Ariana. Dugaan Evelyn begitu besar mengarah kepada Ariana. Sejak beberapa hari yang lalu Ariana memang sudah tidak bisa dihubungi lagi, dia seperti melarikan diri dan menghindari sesuatu. Namun Evelyn sama sekali tak menyangka bila sampai setega itu Ariana terhadap dirinya. Pukul 21.00 pintu rumah Evelyn digedor dengan tak sabaran. Suara yang tadi siang baru dia hafalkan malam itu datang bertandang. Evelyn tak mau menemui karena dia ketakutan. Dia takut Edward akan melenyapkannya karena dia tak menginginkan bayi dalam kandungan Evelyn. “Evelyn, buka pintunya. Gue mau ngomong penting sama lo.” Edward mengetuk pintu. Segera Evelyn mengambil pisau. Dia berjaga-jaga kalau orang kaya itu ingin menyingkirkannya lantaran dirinya membuka suara. Evelyn membuka pintu dia menyembunyikan pisau di balik punggungnya. “Kenapa lo nggak dateng ke hotel gue?” tanya Edward lugas dia duduk menyilangkan kaki meski tanpa dipersilahkan oleh si empunya rumah. Evelyn diam. Dia tetap diam dan menatap penuh kebencian. Sekelebat ingatan Evelyn tentang malam itu kembali datang, proporsi tubuh yang sama, gaya rambut yang sama, dan aroma yang sama serta kalung itu yang paling jelas tandanya. “To the poin aja, lo mau gua tambah berapa? Gue akuin, tubuh lo memang nikmat, bilang aja nggak usah malu-malu,” Edward benar-benar merendahkan harga diri Evelyn. Dia bahkan tertawa kecil saat mengatakannya. “Lo pikir gue apa b*****t!” amuk Evelyn yang mendekat dengan berlari dan menodongkan pisaunya. Boby dengan cekatan menendang tangan Evelyn sampai pisau terlempar ke lantai. “Hahaha! Lo mau nyakitin gue? Gue kira lo mau minta tambahan. Terima aja niat baik gue ini dan jangan sekali-kali lo bilang kalau lo hamil b***h!” Edward mencengkram rahang Evelyn dan menindihnya di atas sofa. “Gue punya dua pilihan buat lo, lenyapin dia sekarang atau lo pergi selamanya dari hadapan gua. Gue nggak mau bertanggungjawab sama lo sampai kapanpun!” Evelyn diam tak menjawab. Sama sekali tidak ada yang keluar dari dirinya selain air mata. “Jawab gue!” bentak Edward kasar, dia berteriak di depan wajah Evelyn. “Gue nggak akan minta pertanggungjawaban lo b******k! Nggak akan sudi gue!” Evelyn menatap nyalang Edward. Dia sudah tidak takut akan dilenyapkan lagi. Baginya dunianya sudah hancur semenjak mengetahui fakta tersebut. Edward tertawa seperti psikopat. Dia seolah menikmati tangisan dan rasa takut Evelyn. **** Satu Minggu setelah kejadian itu. Evelyn sudah dipecat dari perusahaan Edward. Sama sekali tidak ada kehormatan yang didapatkan. Gadis yang malang, yang sekalinya mencicipi dunia malam langsung menjadi korban. “Maafkan mama ya Nak, mama ini bodoh. Mama terlalu percaya sama teman mama. Dia nggak ada uang mama pinjami, nggak ada kerjaan mama beri. Tapi balasannya, dia malah kayak gini sama mama. Mau mengurus kasus ini ke pihak polisi pun mama sudah tahu siapa pemenangnya. Edward, papamu itu banyak uang, mama jelas kalah melawannya.” Evelyn mengusap air matanya. Dia menyesali semua yang telah terjadi. Sementara itu di sisi lain. “Gue ada tugas buat lo mastiin sesuatu, apa bener cewek bego itu udah pergi dari kota ini.” “Saya harus menyusup Bos?” tanya Boby. “Iya, lo cek dan lo pastikan tuh cewek beneran nggak ganggu gue lagi. Kalau perlu lo habisin dia.” Edward sampai hati ingin menghabisi Evelyn dan calon buah hatinya. “Baik Bos!” Malam itu juga Boby memeriksa rumah Evelyn. Rumah itu terlihat tak berpenghuni dan Boby bertanya kepada tetangga Evelyn. “Maaf Bu, penghuni rumah sebelah ini ke mana ya?” “Oh, kosong Mas. Rumahnya sudah dijual dan sekarang sudah jadi milik saya. Apa Mas ini Mas Edward?” “Bukan, saya Boby, karyawan yang sama di tempat Evelyn bekerja sebelumnya.” “Oh, gitu. Ini ada paket mas untuk Bos besar di perusahaan dia katanya. Kalau nggak mas Edward mas Boby katanya yang akan ambil.” Tetangga Evelyn berjalan menuju ke dalam rumah Evelyn lalu memberikan paper bag. “Ini Mas.” “Apa ini?” tanya Boby. “Nggak tau Mas, tapi boleh saya lihat KTP Mas untuk memastikan?” “Boleh.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD