2 Hamil

1069 Words
Bab 2 “Hari ini nggak keluar Bos?” tanya Boby pada atasan yang sedang duduk dengan wajah tegang menatap lekat monitornya. “Menurut lo, bisa gua jalan-jalan saat kerjaan numpuk begini? Nggak ke mana-mana gua. Niki ntar dateng, lo udah siapin apa yang gua minta?” “Udah Bos, ada di laci meja Bos.” Ritual wajib setelah melakukan dosa adalah menebusnya dengan barang-barang mewah dan berharga. Niki Wilson, tunangan Edward yang merupakan seorang model sekaligus aktris ternama itu memang sangat menyukai kemewahan. Setebal apapun kesalahan Edward, bahkan jika Edward selingkuh pun semua itu akan diampuni selama ada alat penebus yang setimpal. Tas, perhiasan, dan tiket jalan-jalan. Itulah Niki dengan ketamakannya. “Sayang! Sayangnya aku,” sapa Niki sambil melenggok manja masuk ke dalam ruang kerja Edward. Edward tersenyum manis dan mengibaskan tangannya pada Boby, meminta supaya tangan kanannya itu segera pergi. Sebuah kode yang tak bisa terbantah. “Ada apa Sayang? Gimana jalan-jalannya. Capek, hum?” Edward menepuk pahanya dan Niki dengan patuh duduk manis di sana bergelayut manja seperti monyet betina. “Capek, nih lihat rambutku kusut gegara banyak main di laut. Kamu kenapa sih nggak mau ikut? Aku jadi bete ‘kan di sana banyak yang pasangan.” Niki cemberut saat mengatakannya dan Edward paham benar itu perlambang apa. Edward menarik laci dan mengambil sebuah kotak perhiasan. “Ini obat capeknya. Kamu mau berapa buat perawatan? 100 cukup?” tanyanya. Raut wajah Niki seketika berubah girang. Dia begitu senang dan ya, ciuman manis selalu menjadi alat pembayaran. Edward dan Niki, pasangan yang terlihat begitu serasi. Keduanya tampak tak memiliki kekurangan sedikitpun, sama sekali tak ada cela dan noda. “Malam ini aku mau istirahat di hotel boleh?” tanya Niki yang memanfaatkan semua aset kekayaan keluarga Harris. Perusahaan, hotel, perkebunan, property, dan alat transportasi. Ada begitu banyak cabang usaha yang keluarga itu miliki. Hanya saja, anak kedua dari keluarga Haris tak mau pusing memikirkan itu semua, dia hanya fokus mengejar cita-citanya mengabdikan diri menjadi Dokter muda. “Boleh, kamu pakai kamar mana yang kamu suka. Semua orang udah kenal sama kamu ‘kan. Siapa yang nggak kenal Niki tunangan Edward Harris?” Alis Edward terangkat saat dia menyatakan kesombongannya. “Makasih banyak Sayang.” Iya, bualan seperti itulah yang Niki inginkan dan kebebasan seluas dunia yang Edward harapkan. Keduanya seperti pasangan yang begitu kompak. Mau menerima aib satu sama lain dan menutupnya dengan uang. **** Dua bulan berlalu. Evelyn mulai merasakan tubuhnya seperti meriang. Bahkan satu Minggu sudah dia tidak memeriksa restoran kecil miliknya. Beberapa komplain dari pelanggan pada akhirnya membuatnya terpaksa bergerak dan melakukan aktivitas seperti biasa. “Gua kenapa sih? Kenapa jadi lemes dan males gini woy! Mana Ariana pergi lagi.” Dua bulan setelah kejadian itu, Ariana menikah dan dia pergi ikut suaminya. Evelyn, dia yang berusaha melupakan kejadian itu pun tidak bisa sedangkan Ariana mengatakan dalam CCTV tidak terlihat jelas siapa laki-laki yang masuk ke dalam kamarnya. “Selain es krim sama buah, gua jadi nggak bisa makan apa-apa. Kenapa hawanya males banget sih?” gumam Evelyn yang kesal sendiri. Saat sedang menggerutu sendiri dia melihat seorang anak remaja yang tak sengaja menjatuhkan bungkusan pembalut di hadapannya. Mata Evelyn terbelalak dan dia baru teringat akan sesuatu. “Mens. Gua kapan terakhir mens?” gumamnya yang langsung berdiri dan kembali ke rumahnya. Dengan gugup dan panik, Evelyn membuka laci nakas, memeriksa kalender kecil tempat biasa dirinya menulis siklus haid. Tercengang seolah nyawanya hampir melayang. Siklus itu sudah terlewatkan satu bulan yang lalu. “Astaga, apa gua hamil?” gumam Evelyn ketakutan. Hari itu juga Evelyn membeli alat tes. Dia memeriksa sendiri dan betapa terkejutnya saat garis dari setiap alat tes yang digunakan menunjukkan tanda kehamilan. Tanda positif yang tegas. “Gua beneran hamil.” Tangis Evelyn pecah. Dia menangis meraung menyesali malam itu. Dia seperti orang terbodoh di dunia yang bahkan tidak sadar melakukannya dengan siapa dan bagaimana. Lama Evelyn menangis sampai langit yang semula cerah menjadi pekat dan hitam. Tak ada bintang bertaburan, yang ada hanyalah hujan rintik yang seolah begitu mengerti akan kesedihannya. “Apa gua gugurin dia,” gumam Evelyn lagi yang benar-benar tumpul otaknya dalma berpikir. Dia sendirian menghadapi masalah besar itu. Terdiam beberapa saat dan kemudian melihat sebuah video singkat di sebuah aplikasi yang memutar kedekatan antara ibu dan buah hati. “Mereka sangat mungil dan bersih dari dosa. Aku yang berdosa, tidak etis rasanya jika mereka menjadi korban keegoisan orang dewasa. Ah... Tuhan, maafkan hambamu ini.” Evelyn menangis dan memeluk lututnya menyesali perbuatannya yang begitu ceroboh. Malam itu, Evelyn menghubungi ibunya. Dia seperti ingin bercerita namun menahannya, dia hanya banyak bertanya bagaimana dirinya semasa kecil dan bagaimana dirinya saat baru lahir. Setelah perbincangan panjang itu, Evelyn memutuskan satu hal, dia akan tetap merawat bayi itu dengan atau tanpa ayah. Namun, dia tetap berusaha meminta pertanggung jawaban bila dirinya bisa menemukan siapa pria tersebut. *** “Bagian Admin mana?” seru Boby di sudut meja Evelyn. “Saya Pak.” Evelyn mengacungkan tangannya. Dia tetap berangkat kerja meski wajahnya begitu pucat. “Ke ruangan bos sekarang, kamu perlu menjelaskan beberapa hal tentang data karyawan.” “Baik Pak.” Evelyn masuk ke dalam ruangan Edward. Auranya begitu dingin, di dalam ruangan sudah ada beberapa pentolan HRD dan juga bagian keamanan. Rupanya ada perselisihan tentang data dari staf keamanan. “Ada apa Pak?” tanya Evelyn dengan takut, baru pertama bertemu dengan Edward secara langsung dan dari jarak dekat membuatnya sedikit gemetaran. “Kamu ini lulusan S1 dan hanya saya tempatkan di bagian Administrasi. Bagaimana bisa kamu salah input data?” ketus Edward yang menatap nyalang bawahannya tersebut. Manik mata Evelyn menyipit, dia memperhatikan sesuatu yang keluar dari dalam kemeja tak berdasi yang Edward kenakan. “Kalung itu, inisialnya sama. EH. Apa EH itu Edward Haris? Kalau benar begitu maka dia....” Evelyn melamun sambil mengusap perutnya. “Jawab!” bentak Edward sambil menggebrak meja. “Kamu ini memasukan data yang salah. Ada nama yang sama diantara satpam kita, tapi kenapa bulan ini kamu nggak memberikan tanda di nama mereka? Nggak becus banget kamu suruh kerja. Udah bosen kerja!” Jika Edward sudah marah, semua yang ada di ruangan itu hanya bisa diam. Diam menerima kemarahan. Setelah satu jam mengomel, Edward pun membiarkan semuanya keluar. “Keluar kalian semua! Nggak becus banget kerja. Urusan gitu aja sampai ke CEO segala!” Edward menoleh dan Evelyn masih ada di tempatnya. “Kamu ngapain masih di sini? Tuli!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD