"Mas, besok jadi meeting di luar kota?" tanyaku saat suamiku berada di rumah. Kedua netranya fokus menatap layar ponselnya. Ia terlihat asik sendiri dengan ponsel pribadinya. Sesekali matanya melirik ke arahku, kemudian fokus lagi ke layar ponselnya.
"Sudah dibereskan baju yang mau dibawa, Mas?" tanyaku lagi padanya. Berharap kali ini ia menjawab pertanyaanku. Kesal aku jika sedang mengobrol dengannya, ia malah fokus dengan ponselnya. Seperti ada sesuatu rahasia besar di sana.
"Hem," jawabnya sesingkat mungkin.
Aku meradang. Kesal bercampur marah menjadi satu. Kuambil ponselnya, lalu kusembunyikan di belakang ketiakku. Agar ia berhenti memainkan ponselnya.
"Kembalikan ponsel aku, Mala!" gertaknya. Sorot matanya tajam.
"Bisa tidak, sih, Mas sekali ini saja kamu tuh fokus kalau aku ajak ngobrol? Aku ini isterimu mas bukan radio butut yang seenaknya kamu acuhkan."
Ia berdiri dari tempatnya duduk. Kemudian mendekatiku dan mengambil ponsel miliknya dari tanganku. Aku sedikit terkejut karena ia mengambil ponselnya dengan paksa.
"Mas," panggilku. Dengan nada penekanan.
Ia mendelik, kedua matanya malas menatap mataku, "Mas mau tidur. Mau istirahat. Mas capek, Dek. Besok, kan, mau berangkat subuh."
Setelah berbicara seperti itu padaku. Ia pun pergi menuju kamarnya. Sejujurnya kami sudah tidur terpisah. Aku di kamar utama, kamar kami berdua tinggali dulu. Mas Gavin, di kamar tidur yang kedua. Dekat dengan ruang kerjanya. Aku juga tidak tahu kenapa kami pisah ranjang. Setiap kali kutanyakan jawabannya pasti saja tak pernah masuk di akal.
***
Tingkah suamiku kian hari makin menyebalkan. Ia seperti sedang menjaga jarak denganku. Apalagi saat melihatku sedang makan. Cibiran pun tak luput dari bibirnya. Bahkan ada beberapa kata yang menusuk hatiku. Mas Gavin memang begitu. Tampangnya saja yang keren, tetapi, mulutnya busuk.
"Mala, kamu bisa tidak seminggu saja tidak makan? Itu badan kamu makin hari makin melar aja, tahu," sindir Mas Gavin. Pagi ini ia akan berangkat menuju kota Jakarta. Di mana ia akan meeting dengan klien.
"Kenapa, Mas? Apa mas keberatan aku makan banyak?" tanyaku padanya. Sambil mengunyah nasi uduk campur telor balado satu piring muncung.
"Kamu itu sudah kayak beruang hutan tahu, gak, sih," cerocosnya, "Gimana mau langsing, kamunya saja kalau makan bisa habis satu bakul."
Aku hanya diam mendengar ocehannya. Bagiku ini bukanlah sebuah kata motivasi. Namun, ini ke arah penghinaan. Kesal? Siapa sih yang tidak kesal saat kekasih hatinya berkata seperti itu? Sakit hati, iya, aku sakit hati. Aku coba sekuat tenaga untuk meredam emosiku. Dengan cara memakan makanan yang ada dihadapanku ini.
"Mala, hentikan makanmu! Kamu akan benar-benar menjadi melar jika makan terus!" Ucapnya geram melihatku terus saja memasukkan makanan ke dalam mulut tanpa henti.
"Kenapa, Mas? Mas keberatan bukan?" tanyaku, berpura-pura polos.
"Mas akan menceraikan kamu jika kamu semakin nambah melar. Seperti beruang!" gertaknya. Membuatku terhentak kaget.
"Loh Mas, emang bisa?" Aku menantangnya.
"Bisa, sekarang juga andai aku mau, aku bisa menceraikanmu saat ini juga," sergahnya.
Aku menghentikan kunyah terakhir.Apapun yang terucap dari bibirnya, itu hanya gertakan saja.
"Coba saja, Mas. Kau tentu saja tidak akan berani menceraikan aku!" Aku menantangnya. Kedua mata kami saling bertatapan. Tak lama kemudian, Mas Gavin pergi meninggalkan aku. Ia menyambar tas kantornya dengan kasar dan menutup pintu pun ia tutup dengan kasar pula.
Di matanya aku ini hanyalah wanita penuh lemak. Wanita memalukan yang pernah ia nikahi. Meskipun begitu, aku tetap mencintai Mas Gavin. Hari ini, esok ataupun nanti, cintaku padanya takkan lekang dimakan waktu.
Ini hanyalah cinta buta.
***