Egois.

458 Words
Awalnya aku tidak mengindahkan ucapan Pie sahabatku itu. Aku menganggap angin lalu. Berkat ucapannya itu, di dalam otakku menari-nari sebuah bayangan yang menggambarkan sosok Mas Gavin sedang bersama wanita lain. Setiap Mas Gavin meminta ijin pergi keluar kota, hatiku selalu was-was. Ini ulah sahabatku yang terus menerus meracuni pikiranku. Kutelepon ia malam-malam saat hati ini kalut tak menentu. Memikirkan hal-hal diluar nalarku. Hal mistis yang terjadi diluar sana. Jam di dinding menunjukkan pukul 23.00 malam saat aku berusaha menghubungi suamiku. Hatiku benar-benar kalut. Percayalah, saat ini pikiranku tak tentu arah. Akhirnya panggilanku dijawab juga oleh suamiku, Gavin. Dengan segera aku berkata padanya. "Assalamu'alaikum, Mas," sapaku dengan lemah lembut pada Mas Gavin. "Wa'alaikumsalam, Dek," balasnya dengan suara parau. Mungkin ia baru bangun tidur setelah tidurnya diganggu olehku yang menghubunginya malam hari. "Mas kapan pulang?" tanyaku. Kucoba menenangkan hati ini yang terus menerus berpikir negatif tentang dia. "Hari minggu." Mas Gavin menjawab singkat. Suaranya terkesan sinis sekali. "Ooh, ya sudah kalau begitu," kataku sedikit tenang setelah mendapat jawaban darinya. "Ya sudah, Mas mau tidur lagi. Mas masih mengantuk. Besok lagi Mas telepon ya?" jawabnya. Sambil menutup telepon dariku. Namun, tiba-tiba saja aku mendengar suara lembut seorang wanita dari seberang sana. Suaranya begitu lembut, selembut bidadari. "Siapa yang telepon malam-malam, Mas?" Suara lembut itu mengguncangkan hatiku. Aku hampir saja tidak percaya saat mendengarnya. Kutajamkan pendengaranku. Benar saja, itu suara wanita yang usianya lebih muda dariku, mungkin. "Oh, itu adikku, Des. Dia nanyain kapan pulang ke rumah ibu. Ibu kangen sama aku katanya," jawab Mas Gavin. Mataku terbelalak karenanya. Tidak percaya akan apa yang diucapkan suamiku. Aku ini isterinya, bukan adiknya. "Ooh, kirain isterimu. Kalau tadi isterimu, aku yang angkat telepon dia," timpalnya. Kudengar ia terkekeh lalu, "Si Mala itu? Palingan juga ia sudah tidur. Ngorok di kasur empuk." Wanita itu ikut terkekeh, "Aku kasihan sama kamu, Mas. Pasti kamu tersiksa ya menikah sama Mala? Sudah gendut, eh, doyan ngorok pula, haha." Kali ini emosiku meledak. Ingin kucincang tubuh mereka. Lalu kulumatkan dagingnya menggunakan blender, setelah itu aku berikan pada ikan Arwana, ikan koleksiku yang harganya ratusan juta sebagai makanan bergizi agar ikanku tumbuh subur. "Aah, sudahlah. Ayo lekas tidur! Esok, kan, kita akan pergi berbelanja. Kau pasti suka itu," perintah Gavin. Mungkin ia sedang memeluk wanita selingkuhannya itu. "Iya deh iya," sahutnya. Lalu tak ada percakapan lagi yang kudengar dari keduanya. Hatiku meradang, antara sedih bercampur panas. Semua tercampur menjadi satu. Laki-laki itu, sungguh kurang ajar sekali. Bahkan ia tak ada rasa apapun lagi padaku. Pie ternyata benar, suamiku berselingkuh. Aku mengetahuinya pun dari kejadian yang tak terduga. Rasanya waktu berjalan cukup lama. Menunggu hari minggu rasanya cukup melelahkan. Kau tega mas, tega mengkhianati cintaku. Tega menduakan aku dan tega berselingkuh di belakangku. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD