"Mal, tadi aku lihat suamimu lagi di Mall Yogya terus di sampingnya menggandeng tangan wanita lain," ujar Pie, sahabatku yang saat itu bertandang ke rumah. Seperti biasa, ia mampir untuk sekedar main sambil mengajak kedua anaknya yang berusia lima tahun dan dua tahun itu.
"Ah, kamu Pie, selalu aja ada bahasan yang tidak penting. Bisa tidak, sih, Pie jangan bikin aku galon terus?" Cerocosku tanpa henti. Dengan bibir yang sengaja aku manyunkan ke depan. Biar terkesan seperti anak paud, hihi.
"Serius, Mala. Aku enggak bohong! Kemarin aku enggak sengaja bertemu dengan suamimu di sana saat aku berburu bahan makanan selama sebulan." Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapannya itu.
"Tahu tidak, suamimu itu ...."
Segera aku tutup bibirnya menggunakan jemari telunjukku. Tak ingin mendengar ucapannya lagi. Bikin aku mual mendengarnya.
"Kalau kamu enggak mau dengar, ya sudah, gak masalah, kok," gerutunya sambil mengunyah beberapa keping keripik kentang yang baru aku beli sebagai stok cemilanku.
Anehnya, ia makan banyak akan tetapi, berat badannya normal. No big fat! Nah, jika aku yang makan banyak dan banyak ngemil, tahu apa yang terjadi? Badanku melar, bo. Dalam satu bulan aku naik hampir dua kilo. Itu pun aku hanya ngemil keripik kentang. Coba kalau aku makan mie instan terus tiap malam, bayangkanlah berapa kilo timbangan akan naik? Tak bisa aku bayangkan.
"Bukan gitu, Pie. Aku hanya tidak ingin mendengar kejelekan suamiku. Aku percaya ia, Pie. Jika tidak, mana mungkin pernikahan ini bisa bertahan selama delapan tahun, benar bukan?" Aku menjelaskan pada Pie, sahabat karibku.
Pie hanya mengangguk, sambil menatap lekat wajahku. Ia berharap jika aku percaya akan perkataannya kali ini saja. Setelah itu, ia tidak akan mengatakan apapun tentang Mas Gavin.
Bagiku Mas Gavin adalah sosok yang sangat aku cintai. Dulu, aku mempertahankan Mas Gavin mati-matian. Padahal ayahku tidak setuju akan pilihanku ini. Namun, berkat kegigihanku akhirnya ayah menyetujui hubunganku dengan Gavin. Kami berdua menikah, akan tetapi, tak kunjung mempunyai keturunan.
***
Pie, ia sahabatku. Nama aslinya Lutfiatin Diniyah. Biasa aku panggil ia dengan sebutan Pie agar mudah diucapkan. Ia temanku saat sama-sama bekerja di Pabrik Pratama Utama, pabrik sepatu. Lalu kami resign karena memilih fokus untuk mengurus suami dan anak-anak.
Sampai saat ini pun, persahabatan kami begitu lengket tak bisa dipisahkan. Begitu juga dengan para suami masing-masing, mereka tidak mempermasalahkan persahabatan kami. Mereka mendukungnya dan tidak pernah mengganggu.
"Mal, aku pamit dulu ya? Suamiku bentar lagi pulang. Aku harus ada di rumah sebelum suami pulang," pamit Pie, sambil bersiap-siap untuk pulang.
"Iya, hati-hati di jalan ya?" jawabku.
Setelah sahabatku pergi, tinggallah aku sendiri di rumah. Sepi sekali rumah ini. Terkadang aku merasa kesepian, karena tidak ada keceriaan yang berasal dari suara-suara anak kecil.
Ya, aku merindukan sosok seorang putera di rumah ini. Namun, agaknya itu mustahil sekali. Sebab, dokter memvonis diriku mandul. Lucu sekali vonis dokter itu. Aku wanita yang gagal. Gagal menjadi seorang ibu. Yang karena itulah aku menjadi kurang mengontrol makanan yang masuk ke dalam lambungku. Menyebabkan tubuhku melar seperti beruang hutan.
***