Kelahiran Chelsea
Malam yang terang oleh sinar bulan yang menyinari gubuk bambu di tengah hutan yang lebat pepohonan, angin yang berhembus kencang membuat udara semakin dingin, angin yang terus menerus menusuk tulang dan tubuhnya membuat gadis berusia 25 tahun itu kedinginan, hari yang sudah mulai gelap, ia terus berlari, kedua tangannya memegangi perut yang buncit menuju gubuk bambu miliknya.
setelah ia sampai di gubuk bambu miliknya, ia membuka pintu kayu dengan tangan kanannya, dan ia bergegas lari menuju tempat tidurnya yang terbuat dari bambu di sebelah kanan, ia dengan cepat berbaring di tempat tidurnya, dan ia merasakan rasa sakit yang luar biasa dari perutnya.
“Ahk, aku tidak kuat ...!”
Darah yang mulai keluar dari rahimnya, dan membasahi tempat tidurnya, ia terus berteriak keras.
“Ah ... tidak aku harus bisa, untuk keselamatan anakku!” Air mata yang berlinang mengalir di pipinya.
Emosi, rasa sakit, semuanya bercampur aduk dalam dirinya, ia terus berusaha keras untuk mengeluarkan anaknya yang ada di dalam perutnya.
“Martin, aku tidak akan mengecewakanmu, demi anak kita!” Ucapnya di dalam dirinya, dan penuh keyakinan.
Selama 2 jam, ia bertarung mempertaruhkan nyawanya demi anak yang ia kandung, wajah yang sudah pucat kehabisan darah saat ia melahirkan, ia menghela nafas terakhirnya.
“Maafkan aku, Martin, aku tidak bisa menyelamatkan anak kita!” Ucap dalam hatinya, wajah yang sangat kecewa dan air mata terus membanjiri pipinya, dan iapun mati.
*****
Matahari yang terbit dari arah timur, kabut tebal yang mulai menghilang, suara kicauan burung di atas pohon.
“Kakek, ayo kita berburu rusa yang gemuk biar kita makan enak?” Ucap seorang anak laki-laki berusia 15 thaun, kepada kakeknya.
“Semoga saja perburuan kali ini akan menghasilkan” senyuman wajah kakeknya kepada cucunya yang ada sebelahnya.
“Kakek, lihat tanganku aku sudah biasa menggunakan sihir pertamaku” wajah anak itu sangat gembira, ia terus menerus berlatih sihir miliknya.
“Bagus, Kakek sangat bangga padamu, Nak” senyuman wajahnya dan tangan kanannya mengelus-elus kepala cucunya.
Kakek, dan Cucunya terus berjalan-jalan mencari hewan buruan di tengah hutan, hingga matahari terbenam, kabut tebal yang mulai menyelimuti seluruh hutan.
“Apanya yang mau dapat buruan banyak!” Wajah anak itu sangat kesal.
“Hahaha, Nak, udah Kakek katakan berburu rusa itu tidak mudah” Kakek yang terus tertawa melihat cucunya sendiri, marah-marah padanya.
“Kakek, lihat didepan ada gubuk” Tangan kanan anak itu menunjuk kearah gubuk yang ada didepannya, dan ia berlari menuju gubuk bambu repot itu.
Kakek yang melihat cucunya berlari menuju gubuk bambu, ia terus berjalan menghampiri cucunya yang sudah didepan pintu kayu.
“Kakek, ayo masuk!” Anak itu membuka pintu kayu dengan kedua tangannya dan ia berjalan masuk kedalam gubuk itu dengan Kakeknya.
„Kakek, bau apa ini?” Tanya cucunya kepada kakeknya sambil ia menutup hidungnya dengan tangan kanannya.
Kakek itu yang mencium bau darah segar, ia bergegas mencari bau darah tersebut, Kakek yang melihat kamar tidur itu sangat menyengat dengan bau darah, ia berjalan menghampirinya dengan cucunya yang ada dibelakangnya.
“Bau darah ini berasal dari sini” ucap dalam hatinya, dan wajahnya yang penasaran, ia masuk kedalam kamar itu.
Kakek yang sedang berdiri, ia terkejut melihat wanita yang sedang berbaring dengan perut buncitnya dan darah segar membanjiri tempat tidurnya.
Kakek yang melihat wanita itu tidak bernafas, ia menghampiri wanita itu dengan cucunya.
“Aneh sekali wanita ini sudah mati, tapi energi sihir yang sangat kuat terus menerus mengalir didalam dirinya” ucap hatinya.
Kakek, yang sangat penasaran dengan energi sihir yang mengalir di dalam perut perempuan itu, ia mengeluarkan energi sihir ditangannya, dan ia memasukan energi sihir miliknya kedalam perut wanita itu.
Kakek yang melihat perut wanita itu bersinar terang, ia kaget melihat bayi yang keluar secara tiba-tiba dari dalam perut wanita itu.
“Oe, oe, oe” tangisan bayi yang baru melahirkan.
“Kakek, lihat bayi itu keluar dari wanita itu?” tanya cucunya, kepada kakeknya.
“Ini anugrah dari Dewi Freya, maha Dewi memberikan anak itu kehidupan” air mata yang terbendung dimatanya keluar, membanjiri pipinya.
Kakek yang terus-menerus menangis dengan rasa bahagia, tangannya yang terus mengusap air matanya, ia berjalan menghampiri bayi yang sedang menangis itu, ia membuka baju yang ia kenakan dan memberikan pakaian yang ada ditangannya, untuk menyelimuti seluruh tubuh bayi itu.
“Hore, aku punya adik” cucu sang Kakek itu, loncat-loncat bahagia.
“Kakek, kita akan kasih nama siapa?” wajahnya yang tersenyum.
“Anak ini perempuan, dia lahir di hutan Gemari, aku berasal dari keluarga Shelsea” ucap hatinya.
“Aku akan memberimu nama Shelsea Genari, nama ini aku ambil dari hutan dan nama keluargaku” senyum bahagia melihat bayi itu terus menangis.
Nantikan Episode selanjutnya.