3

1945 Words
Lynne menganga saat mendapati kalau perusahaan Wallance jauh lebih besar dari perkiraannya. Ini gila. Gedung ini bahkan terlihat lebih mewah dari dalam karena interiornya yang luar biasa. "Kenapa diam?" tanya Robert bingung. Lelaki itu tadi sudah berjalan jauh di depan Lynne karena ia pikir Lynne mengikutinya dari belakang. Namun, ia salah. Lynne masih bergeming di tempatnya karena wanita itu terpesona dengan desain interior Wallance's Group. "Aku suka tempat ini," gumam Lynne kecil. Pandangan matanya naik turun, seakan sedang meneliti gedung ini secara keseluruhan. "Entah kenapa, rasanya aku merasa punya ikatan dengan tempat ini." Robert terkekeh sembari mengacak rambut Lynne gemas. "Kau lucu saat terdiam seperti tadi. Persis seperti orang bodoh, Lynne,” katanya dengan wajah penuh senyum sambil ikut-ikutan mengamati desain interior Wallance Group’s. Lynne memutar bola matanya dan berjalan meninggalkan Robert. Wanita itu menghela napasnya beberapa kali sembari memperbaiki rambutnya yang acak-acakkan karena Robert. Ia sebal karena Robert menghancurkan hal yang ia tata sejak tadi pagi, rambut. "Lynne! Tunggu aku!” Robert berteriak saat Lynne sudah masuk lift. Tak ingin ketinggalan, Robert nekat berlari dan yang terjadi selanjutnya adalah, kakinya terjepit di tengah-tengah pintu lift. “Argh!” Robert merintih karena ternyata rasanya lebih sakit daripada yang ia duga. Sepertinya dia sedang sial hari ini. Di sisi lain, Lynne membelalak melihat kejadian di depannya. Dengan cepat, wanita itu menekan tombol di lift berkali-kali agar pintu itu terbuka kembali. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Lynne panik. Robert menghela napas sembari mengelusi kakinya yang terasa berdenyut-denyut, saat ia sudah masuk ke dalam lift. Padahal ia memakai sepatu bermerek, tapi rasa sakitnya terasa sampai ke tulang-tulang. "I'm fine." Lynne hanya bisa meringis sembari menatap Robert dengan penuh rasa bersalah. "Maaf, seharusnya tadi aku menahan pintunya," gumam Lynne. "Sekali lagi maafkan aku." "Hey, tidak perlu seformal itu, Lynne. Aku tidak apa-apa." Robert menenangkan Lynne dengan kata-katanya yang ternyata cukup ampuh. Pintu lift tertutup dan mereka terdiam sejenak. "Kita ke lantai berapa?" tanya Lynne memecah keheningan yang terjadi di antara mereka. "Tujuh belas," balas Robert singkat. Lelaki yang awalnya tampak tenang itu tiba-tiba saja mengubah ekspresinya dari senang menjadi gelisah. Kedua tangannya memegangi daerah perut dengan mimik wajah yang tampak menderita. "Lynne, apa kau punya obat penenang? Atau, obat sakit perut?" "Hah? Obat penenang? Aku tidak memilikinya. Untuk apa?" "Perutku sakit." Robert masih memegangi perut saat rasa sakit itu malah semakin menjadi-jadi. "Aku selalu sakit perut saat aku gugup, tapi hari ini aku lupa membawa obatku." ‘Ting!’ Lift terbuka, membuat Robert dan Lynne sama-sama terkejut di tempatnya. Kedua manusia itu berhenti berbicara dan keluar. Mendapati kalau koridor tampak sangat sepi. "Kau yakin di sini tempatnya?" Lynne mengernyit bingung sembari mengedarkan pandangan. Ia bahkan tidak memperhatikan wajah Robert yang sudah memerah karena menahan sakit. "Lynne, perutku sakit sekali. Aku harus ke toilet." "Eh, tapi wawancaranya?" "Aku akan melakukannya dengan cepat." Robert berlarian menuju toilet yang berada di ujung koridor, sedangkan Lynne ditinggalkan sendirian, saat ia sama sekali tidak mengetahui seluk-beluk dari perusahaan yang amat besar ini. Lynne memang melamar pekerjaan di sini karena gajinya yang tinggi, dan saat pertama kali menginjakkan kaki di Wallance’s Group, Lynne merasakan hal asing. Seperti ada bagian di dalam dirinya yang merasa familier dengan tempat ini. "Wanitamu?" "Benarkah kau punya? Karena dari yang kudengar … kau itu gay.” Suara seorang wanita yang cukup besar membuat Lynne mengernyit. Ia berjalan perlahan ke tempat yang diyakini sebagai sumber suara. Sebenarnya, Lynne bukanlah orang yang ingin tahu tentang urusan orang lain. Akan tetapi, entah kenapa ia jadi penasaran setelah mendengar sepenggal kalimat dari mulut wanita itu. Dengan gerakan lambat, Lynne mengikuti asal suara. Tak butuh waktu lama sampai ia berhenti di depan sebuah pintu besar nan kokoh. Ia yakin kalau kalmiat tadi berasal dari ruangan ini. Lynne mendekatkan telinga agar bisa mendengar dengan jelas. Namun, apa yang terjadi selanjutnya sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Pintu itu tak terkunci dan Lynne menumpukan badannya di sana, membuat tubuhnya tidak sengaja memasuki ruangan yang tak seharusnya ia datangi. "Ups, maaf."   ******   "Gabriel Wallance?" Gabriel yang sedang sibuk mengurusi berkas-berkas perusahaannya mendongak saat mendengar namanya dipanggil. Lelaki itu mengernyit ketika mendapati seorang wanita dengan rambut pirang, bibir merah, dan dress yang membungkus tubuhnya ketat tengah menatap dirinya penuh hasrat. "Siapa?" tanyanya dengan pandangan tak suka. Gabriel mengernyit sembari menilai dari atas ke bawah. Wanita di depannya ini sangat tidak sopan. Ia bahkan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Pakaiannya juga sangat terbuka, seolah bajunya kekurangan bahan hingga terpaksa memakai pakaian setengah jadi. "Stacy Odelia Grace Pamela." Wanita berambut pirang itu mengulurkan tangan sembari tersenyum manis. Senyuman mematikan yang mampu membuat kaum adam bertekuk lutut. "Kau Gabriel Wallance, ‘kan?" "Hm," gumam Gabriel tanpa menggubris uluran tangan Stacy. Lelaki itu hanya memperhatikan kehadiran Stacy sejenak, lalu kembali fokus pada berkas-berkasnya. "Ehem." Stacy berdeham pelan sembari menatapi Gabriel tajam. Ini kali pertama ada seseorang yang tak acuh padanya demi pekerjaan. Sialan sekali, karena kini dia merasa terhina. "Apa?" tanya Gabriel lagi tak acuh. Lelaki itu memandang Stacy dengan sinis, seakan kehadiran wanita itu sangat menganggunya. "Kenapa kau mencariku?" "Kenapa kau mencariku?" Stacy mengulangi perkataan Gabriel dengan nada terkejut. "Kau baru saja bertanya kenapa aku mencarimu, Gabriel?" "Ya. Kenapa kau mencariku?" Gabriel malah bertanya balik. "Hah!" Stacy mengipasi dirinya sendiri karena tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Wanita itu merasa ditolak oleh Gabriel, meskipun lelaki itu melakukannya secara tidak langsung. "Aku tidak mencarimu, tapi Daniel yang memanggilku ke sini untuk menemanimu." "Kau langsung menyetujuinya?" balas Gabriel dengan senyumnya yang terkesan meremehkan. "Apa kau tipe wanita yang akan langsung setuju ketika lelaki asing memintamu untuk datang?" Ucapan, tatapan, serta nada bicara Gabriel benar-benar membuat Stacy merasa geram. Lelaki di depannya ini memang dingin dan kejam. Stacy tahu itu dari partner hubungannya yang lama. Mereka bilang, Gabriel Wallance adalah sosok yang mengerikan, seperti iblis, tetapi lelaki itu tidak menunjukan perangainya secara terang-terangan. Ia menunjukannya sedikit demi sedikit, sampai kau tidak sadar kalau sebenarnya ia adalah iblis yang bersembunyi dalam wujud manusia. "Aku tidak seperti itu, Mr. Wallance yang terhormat." Stacy mendesis sembari menatap Gabriel tajam. Kelakuan lelaki di depannya membuat emosi Stacy naik hingga ke ubun-ubun. Namun, meski merasa terhina, Stacy merasa tertantang karena Gabriel menolaknya. Baginya, menaklukan Gabriel adalah sebuah rintangan. "Lantas, kenapa kau mau datang ke sini? Menemaniku, huh?" Gabriel terkekeh. "Pergilah. Aku tidak butuh teman karena aku sudah punya wanitaku sendiri." "Wanitamu?" balas Stacy tertarik. "Benarkah kau punya? Karena dari yang kudengar … kau itu gay.” "Jaga mulutmu." Gabriel menatapi Stacy dengan pandangan menusuk, seolah memperingatkan wanita itu untuk segera enyah. "Aku tidak gay, aku—" "Ups, maaf." Sebuah suara yang berasal dari ambang pintu menginterupsi pembicaraan sengit antara Gabriel dan Stacy. Di sana, ada seorang wanita dengan tubuh semampai tengah berdiri sembari menatap keduanya dengan pandangan bingung. Wanita itu tampak cantik dengan balutan kemeja formal biasa. Riasannya tidak berlebihan, tapi dengan semua kesederhanaan yang ia miliki, ia tetap cantik dengan caranya sendiri. “Ah … aku tidak bermaksud. Permisi.” Ia mengelus lehernya lembut di saat tangannya yang lain memegang suatu berkas. Karena merasa gugup, wanita itu hendak keluar dari ruangan sampai suara Gabriel membuatnya mematung. "Tunggu!" Gabriel berteriak, membuat dua kaum hawa yang ada di ruangan itu sama-sama terlonjak karena terkejut. Ia berjalan mendekati pintu, membuat wanita tadi kebingungan. Tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. "Sayang, kau sudah membawa berkas yang kutitipkan, ya?" Gabriel menatap wanita itu penuh cinta dan menarik pinggangnya lembut, tangannya merangkul tubuh kecil itu erat. "Thank you." Wanita itu masih bergeming. Ia tampak syok dengan kejadian yang baru saja terjadi. Matanya mengerjap berkali-kali. Beradu pandang dengan mata biru milik Gabriel. "Oh, jangan salah paham, Sayang." Gabriel memanfaatkan diam wanita di depannya sebagai kesempatan emas untuk menyerang Stacy. Ia bertekad untuk membuat Stacy menyesal karena sudah datang dan menuruti perkataan Daniel.  Sejujurnya Gabriel tidak menyukai Stacy. Wanita angkuh, bertingkah seolah ia bisa memiliki semua hal. "Dia bukan siapa-siapaku, kok. Hanya w***********g yang datang sendiri ke sini," jelas Gabriel, meskipun wanita itu tidak bertanya. "Kau ...," geram Stacy dengan mata menyala. Napas wanita itu memburu karena tersinggung. Matanya menatap wanita yang di panggil ‘sayang’ oleh Gabriel dari atas ke bawah, meremehkan. "Kau suka tipe seperti ini, Riel?" Stacy mengubah ekspresinya dari kesal menjadi tersenyum dalam jangka waktu cepat. "Tak kusangka. Kau menolakku hanya demi wanita kampungan sepertinya." Wanita yang dirangkul Gabriel itu terdiam saat Stacy jelas-jelas menghinanya. Ia menarik napas sejenak, sebelum memutuskan untuk ikut bersandiwara meski tidak terlalu mengerti pokok permasalahannya. "Maaf. Aku bukan wanita kampung. Namaku Lynne." Lynne menatapi Stacy dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan, persis seperti yang dilakukan oleh Stacy tadi. "Lalu, apa kau tidak malu dengan penampilanmu, Nona? Lihatlah bajumu yang kekurangan bahan itu. Lelaki mana pun bisa melihat bagian dadamu jika kau menunduk sedikit saja. Atau, kau sengaja memamerkannya, ha?! Sekarang, bisakah kau berkaca? Bisakah kau bercermin dan menyadari kalau kau tidak lebih baik dariku? Karena aku tidak semurah itu untuk menujukkan bagian tubuhku pada orang lain," papar Lynne telak.   "Aku rasa, kau tidak mendapatkan pendidikan yang cukup saat masih di sekolah dasar, sehingga mulutmu itu terdengar kotor, seperti tidak pernah sekolah.” Emosi Stacy yang baru saja mereda sontak kembali meningkat drastis. Wanita itu berjalan cepat ke arah Lynne dan menjambak rambutnya keras. "Kau bilang aku tidak berpendidikan?" Stacy berteriak. "Kau gila? Pendidikan yang kutempuh bahkan jauh lebih berkualitas dan elite dibanding dengan yang kaudapatkan!" Gabriel bingung karena wanita yang bernama Lynne itu justru ikut bermain di dalam drama ini. Awalnya, dia hanya diam dan memerhatikan. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena setelahnya Gabriel membelalak saat Stacy semakin menggila. Lelaki itu berusaha melepaskan cengkeraman tangan Stacy dari rambut Lynne, tetapi percuma. Dia tidak menghentikan apa pun, karena semakin Gabriel mencoba, maka ia justru membuat Lynne semakin merasa kesakitan karena rambutnya ikut tertarik. "Lepaskan rambutku!" Lynne berteriak di sela-sela pertengkarannya dengan Stacy. Wanita berambut cokelat itu sudah mengangkat tangannya, mencari rambut Stacy yang mungkin saja bisa ia jambak. "Tidak akan. Aku harus mengajari jalang sepertimu untuk—" Stacy berteriak kencang saat rambutnya serasa ditarik, hingga rasa sakit itu terasa hingga ke akar-akar rambutnya. "Lepaskan rambutku!" Lynne terkekeh, meskipun hanya sejenak karena setelah itu ia kembali meringis. Badannya memang kecil, tenaganya juga tidak sekuat Margo, tapi Lynne punya tubuh yang lincah. Selain itu, Lynne juga ahli dalam menjambak orang lain. Karena saat ia kecil, Lynne sering menjambak rambut adiknya—Judith, hingga kepala Judith botak setengah. "Kaulah yang harusnya belajar, kalau kualitas dan harga sama sekali tidak berguna jika hati serta pikiran orang itu masih saja tidak berkembang. Seperti milikmu misalnya." Lynne mengejek Stacy lagi. "Apa gunanya kekayaan, jika kau hanya bisa menggunakan mulut kotormu untuk menyakiti orang lain?" "Sialan!" Gabriel yang tadi sudah menelepon security hanya bisa menatap wanita yang ia seret ke dalam sandiwara ini dengan tak enak hati. Meskipun lelaki itu dingin, ketus, dan katanya tidak memiliki hati, tetapi tetap saja ada bagian dari dalam diri Gabriel iba pada wanita itu. Ia sama sekali tak bersalah, dan karena Gabriel, ia harus menerima tindakan yang sangat di luar batas wajar dari Stacy. Beberapa security berbadan besar datang ke ruangan Gabriel, memisahkan Stacy dan Lynne dari pertengkaran mereka. Setelah situasi mereda, Gabriel meminta para security itu untuk membawa Stacy pergi keluar dan mengusirnya secara kasar. "Aku tidak terima kau lebih memilih dia dibandingkan aku yang jelas-jelas jauh lebih cantik, Gabriel." Stacy mendesis sembari meronta-ronta pada security itu, tetapi tenaganya yang lemah sama sekali tidak sebanding dengan badan security. "Kau akan memilihku, Gabriel. Aku tidak akan kalah hanya karena wanita sepertinya. Sebaiknya kau bersiap, karena aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku." "Dalam mimpimu," celetuk Lynne geram. "Jangan terlalu percaya diri, Nona. Selama ada aku di sisinya, maka ia akan selalu memilihku. Bahkan sampai akhir hayat kami berdua."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD