"Kau ada wawancara di Wallance hari ini, ‘kan?" Wanita berambut blonde itu mengikat rambutnya menjadi satu sembari menatapi room mate-nya dengan tatapan bertanya-tanya.
"Ya, aku pergi ke sana dengan Robert. Dia juga mendaftar di Wallance untuk bagian yang sama sepertiku.”
"Oh, astaga. Dia lagi?" Margo memutar bola matanya malas. "Ini sudah tiga tahun lebih sejak dia menjadi tetangga kita, Lynne. Kurasa kau harus mulai menjauh darinya. Dia tidak baik untuk wanita polos sepertimu. Aku bingung, kenapa kau betah berteman dengannya?"
Lynne tertawa sembari mengoleskan lipcream Kylie. Rasanya menggelikan setiap kali mendengar pendapat Margo soal Robert.
"Dia tidak seburuk itu, Ar. Kau harus mencoba untuk berteman dengannya," sahut Lynne cuek sembari mematut dirinya di cermin.”Dia bisa membantumu melepas beban, karena dengannya aku bisa menjadi diriku sendiri.”
Margo menggeleng tegas. "Tidak! Dia bahkan mencium bibirku saat kami sama sekali tak dekat, dan kau masih berpikir kalau dia waras?" gerutu Margo.
Lynne kembali tertawa ketika mengingat ekspresi Margo. “Maaf, itu karena game gila kami, Ar, bukankah aku sudah menjelaskannya padamu?”
"Terserah, yang pasti aku trauma padanya, Lynne. Seperti biasa, jangan bahas dia di depanku." Margo bergidik jijik sembari menghela napas. "Hati-hati dengannya. Kau belum pernah berciuman sama sekali. Jadi jangan biarkan si berengsek m***m itu merebutnya darimu, siapa tau dia akan melakukan hal yang sama padamu seperti yang ia lakukan padaku,” sambung Margo yang memang tidak pernah dekat dengan Robert, meski sudah lama bertetangga.
"Aku mengerti. Robert tidak akan seperti itu, Ar, Lagi pula, aku tidak berminat untuk mencium siapa pun," sahut Lynne.
Margo tertawa. "Hati-hati. Siapa tahu nanti kau menjadi maniak ciuman," ejek Margo pelan. "Mungkin kau akan tergila-gila dengar bibir manis Wallance yang menggoda."
Lynne menepuk punggung Margo pelan sembari menekuk wajahnya. "Aku melamar di bagian administrasi, Ar. Kemungkinan untuk bertemu para Wallance sangatlah tipis."
"Lalu, kalau kau ada kesempatan untuk bertemu salah satu di antara Daniel dan Gabriel, maka siapa yang akan kau temui?" Margo tersenyum menggoda. "Gabriel yang kau tak tahu bagaimana rupa dan sifatnya, atau Daniel yang sudah pasti tampan dan baik hati?" sambung Margo.
"Kau tahu dari mana Daniel baik hati?" Lynne memotong ucapan Margo sembari mengernyit. "Aku muak melihat wajah Daniel di televisi. Jadi aku memilih Gabriel."
"Entahlah, wajahnya tampan. Jadi sudah pasti baik hati, ‘kan?" Margo tertawa. "Lelaki tampan bebas, ‘kan? Bagaimanapun perlakuan atau sikapnya, asalkan ia tampan maka akan selalu ada wanita yang mengerjarnya."
"Kau benar," sahut Lynne datar. "Tapi bukankah hal itu membingungkan?"
"Apanya?"
"Pemikiran manusia. Jika mereka selalu menilai dan mencintai seseorang dengan rupanya, lantas bagaimana bisa cinta itu bertahan sampai tua? Bukankah pada saatnya nanti, kita juga akan berubah?" tanya Lynne bingung.
Margo terdiam. Bingung mau menjawab apa."Entahlah, Lynne. Kurasa kita bisa membahas itu nanti."
Lynne melirik jam tangan yang melingkar di tangannya dan membelak. "Oh, astaga! Robert pasti sudah menungguku di depan!"
Lynne membereskan semua perlengkapan make up dan menggamit tasnya sembari berlari, "Sampai jumpa, Ar. Doakan aku sukses dalam wawancara ini!" pekik Lynne.
Margo tersenyum. "Aku harap, kau mendapatkan pekerjaan itu, Lynne! Ah tidak. Aku harap kau bisa berinteraksi langsung dengan Gabriel, si misterius itu!"
******
"Kau sudah membereskan semuanya?"
Nada suara Gabriel yang rendah sama sekali tak berpengaruh pada seorang laki-laki yang saat ini tengah berdiri di depannya. Lelaki itu hanya mengangguk, tanda bahwa semua tugasnya sudah selesai.
"Saya sudah membereskan mayatnya, Mr. Wallance. Sudah dipastikan tak ada jejak apa pun yang tersisa," balas lelaki bernama Radit itu mantap.
"Bagus. Kau tahu, dia adalah pegawaiku sebelum kau menggantikannya. Sayangnya, dia mengkhianatiku." Gabriel memutar bolpoinnya sembari menekan kata mengkhianati.
"Kuharap kau tidak mengkhianatiku seperti yang dia lakukan ...." Gabriel menggantungkan ucapannya sembari menatap Radit datar.
"Raditya, Mr. Wallance," sahut Radit saat sadar maksud Gabriel.
"Ya, Raditya. Aku suka caramu bekerja. Hanya kau yang berani menatap mataku secara langsung tanpa merasa terintimidasi." Gabriel tertawa sinis. "Aku tak mau meminta pegawaiku selanjutnya untuk membereskan mayatmu dalam lemari pendingin, seperti yang kau lakukan hari ini."
"Saya bersumpah tidak akan berkhianat." Radit membungkuk dengan sudut 90 derajat pada Gabriel. "Saya juga bersumpah akan melakukan tugas dengan baik tanpa kesalahan sedikit pun."
Gabriel tersenyum meskipun senyum itu sama sekali tak sampai ke matanya. Lelaki ini mungkin akan menjadi pegawai andalannya. Gabriel suka sikapnya yang yakin pada diri sendiri.
"Bagus. Ak—"
"Hai, Adik." Ucapan Gabriel terpotong saat Daniel tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi. "Oops, ada tamu rupanya," kata Daniel tanpa rasa bersalah.
Lelaki bermata biru itu memasuki ruangan dan menatap Radit lama sebelum pandangannya beralih pada Gabriel. "Jadi ini partner gay-mu?" tanya Daniel dengan mimik muka serius.
Gabriel mengepalkan tangannya kesal sembari melempar bolpoinnya ke arah Daniel. Daniel merintih saat benda keras itu tepat mengenai kepalanya.
"Apa salahku? Aku hanya bertanya," gerutu Daniel kesal. "Lagi pula aku punya maksud baik kemari."
"Apa maumu?" balas Gabriel to the point.
Daniel menatap Radit lama, sebelum lelaki itu sadar kalau pandangan Daniel bermaksud untuk mengusirnya keluar.
"Ah, kalau begitu saya permisi dulu," tukas Radit sembari menunduk dan keluar.
Daniel tersenyum saat teman gay Gabriel keluar. Lelaki itu duduk di sofa sembari mengangkat kaki ke atas meja.
"Hari ini ada wawancara kerja. Setidaknya datang dan sapa mereka. Mereka berhak tahu rupamu sebab mereka akan bekerja di perusahaan kita."
"Tapi mereka belum diterima," potong Gabriel sembari membuka laptopnya. “Aku tahu kau tidak bermaksud membuatku muncul hanya untuk menunjukkan wajahku, Niel.”
“Oh, aku ketahuan.” Daniel tersenyum sinis. "Aku hanya memintamu datang supaya kau bisa melihat wanita. Siapa tahu ada seseorang yang menarik perhatianmu." Daniel menghela napas. "Atau kau mau Stacy?"
"Stacy? Benda apa itu?" Gabriel mengernyit.
"Dia bukan benda, Riel. Dia manusia berkulit super putih dengan bibir ranum bewarna merah." Daniel tertawa. "Aku suka tekstur bibirnya yang begitu lembut dan kenyal."
Gabriel memandangi Daniel dengan tatapan bergidik ngeri. "Ekspresimu itu … menjijikan."
"Tapi aku yakin kau akan menyukai bibirnya juga."
"Tidak," sahut Gabriel cepat. "Jangan macam-macam, Niel. Selera kita berbeda."
"Berbeda? Kenapa berbeda? Apa karena kau gay? Kau lebih menyukai lelaki barusan dibanding wanita?" tanya Daniel sembari memiringkan kepalanya.
"Aku tidak gay!" geram Gabriel kesal. "Lebih baik kau keluar dari ruanganku sekarang, Niel."
Daniel tertawa saat emosi Gabriel lagi-lagi berhasil terpancing karena ucapannya. "Baiklah aku keluar, tapi aku sudah menelepon Stacy untuk kemari sebentar lagi. Aku bilang padanya kalau kau kesepian dan butuh teman hiburan," ucap Daniel sebelum keluar dari ruangan Gabriel.
Gabriel menggeram kesal di kursinya sambil menatap marah punggung kakaknya. "Berengsek kau, Niel!"