8

1239 Words
"Jadi, kau tunangan Gabriel?" tanya Carlos dengan alis yang tertaut. Lelaki itu menurunkan ritsleting kemeja Lynne tiba-tiba, membuat wanita itu terkesiap. Lynne mundur satu langkah dan menyilangkan kedua tangannya ke depan sebagai bentuk pertahanan. Masa bodoh jika Calros gay dan tidak tertarik pada tubuh Lynne, tetapi satu hal yang pasti, Lynne tidak akan membiarkan lelaki ini menyentuh tubuhnya. "Kau mau apa?! Jangan mendekat!" pekik Lynne histeris saat Carlos kembali berjalan. "Oh ayolah. Kau membuatku seperti penjahat yang ingin memerkosa korbannya," ucap Carlos sembari memutar kedua bola matanya malas. "Lagi pula, apa yang mau kau lindungi? Aku tidak bisa melihat ada sesuatu yang bisa kau pamerkan di balik kemeja itu." Lynne ingin mengumpat keras-keras karena penghinaan Carlos. Sudah tak diragukan lagi, lelaki ini membencinya. "Jadi, kau mau melepaskan kemeja itu sendiri atau mau kubantu?" tawar Carlos sambil bersedekap. "Jika tidak, aku akan menemani Gabriel di depan." Lynne terdiam di tempatnya karena dilema. Ia tidak ingin Carlos menemani Gabriel di depan dan bemersraan berdua. Lynne tidak ikhlas! Tapi membiarkan bagian dalam tubuhnya dilihat oleh Carlos juga merupakan pilihan yang sulit. Lynne harus memilih satu di antara keduanya. "Tutup matamu!" perintah Lynne dengan setengah hati. "Nanti akan kuberi tahu kapan kau boleh buka." "Oh, terserah," balas Carlos malas. Ia menutup kedua matanya dan membiarkan Lynne membuka baju. Setelah memakan waktu cukup lama, Lynne akhirnya memberitahu kalau ia sudah selesai, tetapi Carlos masih belum boleh membuka matanya. "Kau menyuruhku memakaikanmu gaun dengan mata tertutup?" tanya Carlos tak percaya. "Ya. Maju tiga langkah ke depan dan kau akan menemukan aku," balas Lynne. Carlos menghela napasnya panjang. Pertanyaan mengenai siapa wanita ini belum terjawab dan ia harus merelakan waktunya terbuang sia-sia di sini. Padahal, jauh di dalam lubuk hati Carlos, ia ingin menemani Gabriel di depan.  Sudah lama sekali sejak Gabriel terakhir kali mengunjunginya. Lelaki itu terlalu sibuk dengan urusan kantornya, hingga Carlos khawatir dengan keadaan Gabriel.   Lelaki itu sembrono, tidak tahu jam makan dengan benar dan suka mengabaikan diri sendiri. Tipe orang yang butuh perhatian khusus. "Apa ini?" Carlos bertanya saat tangannya memegang sesuatu yang kenyal. Ia sudah berjalan tiga langkah sesuai dengan perintah Lynne. Namun, karena ia tidak bisa melihat dengan jelas, maka Carlos mengulurkan tangannya ke depan. Tapi tunggu dulu ... kenyal? ‘PLAK!’ Carlos refleks membuka mata saat pipinya ditampar begitu keras oleh Lynne. Kedua bola matanya membelalak saat mendapati sekretaris Gabriel itu hanya memakai baju dalam sembari menatap Carlos dengan alis yang tertaut. Lynne mengikuti arah pandang Carlos dan berteriak kencang. Wanita itu berlari terbirit-b***t, mengambil kemeja yang terletak di lantai lalu memakainya cepat. Ia menatap Carlos penuh kemarahan dengan tangan yang mengancung di depan wajah lelaki itu. "m***m!" pekik Lynne tidak percaya. "Kau m***m!" Carlos berusaha menenangkan Lynne karena wanita itu sudah membuat kehebohan di tokonya. Gila. Lynne benar-benar wanita yang ekspresif. Baru kali ini Carlos ditampar karena tidak sengaja memegang d**a seorang wanita, padahal ada beberapa pelanggannya yang malah ‘menagih’ untuk melakukannya saat ia tak sengaja menyentuh area sensitif itu. "A—ada apa, Ms. Dawn?" tanya Gabriel dari balik tirai. Suara teriakan Lynne keras sekali, hingga membuat Gabriel panik dan lari dalam sekejap. Jantungnya bahkan berdegup keras, tanda bahwa ia panik sekaligus takut. Mendengar suara teriakan, ia teringat pada kejadian di masa lalu. "A—apa terjadi sesuatu di dalam?" tanya Gabriel ragu. Tidak mungkin, ‘kan ... Carlos? Tunggu dulu, kenapa tidak mungkin? Selama ini Gabriel tidak pernah melihat Carlos dekat dengan wanita sama sekali, tetapi bukan berarti Carlos tidak tertarik, bukan? Oh sial. Gabriel membuka tirai itu dengan kasar dan memandang kedua insan di depannya bergantian. Ia terkejut melihat penampilan Lynne yang berantakan dengan kedua tangan yang menutupi d**a. Carlos tampak terenyak di tempatnya sembari memegangi pipinya yang memerah. Jadi ... mereka? "Berengsek!" Amarah Gabriel memuncak begitu saja ketika menyadari keadaan yang sesungguhnya terjadi. Ia menarik kerah baju Carlos kasar dan mendorongnya ke dinding secara kasar. Persetan dengan teman lama. "T—tunggu dulu, Gab," cegah Carlos cemas saat tubuhnya melayang di udara. Baru kali ini ia melihat Gabriel sangat marah. Lelaki itu bahkan tidak peduli dengan kerusakan yang mungkin terjadi di sini. "K—kau begitu emosi. Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Gab. Butikku bisa hancur jika kau—" "Persetan!" teriak Gabriel sembari membanting tubuh Carlos ke bawah. Ia membuat bunyi keras, hingga banyak sekali pegawai Carlos berkerumun menonton atasannya disiksa. Gabriel menimpa tubuh Carlos dengan mata yang menyala marah. Sangat disayangkan, pekerja Carlos rata-rata wanita. Mereka tidak bisa berbuat banyak, sama halnya seperti Lynne sekarang. Lynne berteriak kencang, bermaksud menghentikan pertengkaran yang ia sebabkan, tetapi Gabriel sama sekali tak menggubrisnya. "Aku punya banyak uang untuk merenovasi butik ini, dan aku tak akan melepaskan manusia yang berani melakukan hal yang kurang ajar pada wanitaku.” Gabriel kembali mencengkram kerah Carlos dan siap untuk melayangkan tinjunya sampai Lynne menahan tangannya dengan air mata yang berlinang. "J—jangan. Kumohon …." Lynne bergumam serak. Ia sudah berteriak dan hendak menghentikan Gabriel, tetapi lelaki itu seolah kesetanan. Lynne tidak mengenal sosok Gabriel yang seperti ini. Pria itu terlihat seperti orang yang berbeda. Napas Gabriel masih terengah-engah saat Lynne menahan tangannya. Di saat ia sadar dan mulai tenang, Lynne berusaha mengajak Gabriel berdiri dan keluar dari toko Carlos. Gabriel tak melawan, meski napasnya masih terengah-engah, dan tatapannya masih penuh emosi. Mereka berdua masuk ke mobil Gabriel dengan suasana yang luar biasa canggung. Lynne menatap wajah tampan Gabriel dari samping dan tertegun. Lelaki ini punya fitur wajah yang diidamkan setiap wanita di belahan bumi. Rahang yang tegas, bulu mata yang tebal dan terbentuk, mata yang tajam, bibir yang kissable. Semuanya bergabung menjadi satu, membentuk wajah Gabriel. Oh Tuhan. Katakanlah Lynne wanita paling gila di dunia ini. Jatuh cinta pada atasannya di hari pertama bekerja? Ini sungguh di luar akal sehat! Apa Lynne sudah terlalu lama sendiri dan tidak melihat pemandangan indah ini sampai-sampai ia menggila ketika bertemu Gabriel?  Bahkan, sekarang detak jantungnya sudah berdebar tak keruan karena perilaku Gabriel tadi. Meskipun seperti orang kesetanan, tetapi Gabriel melakukannya untuk Lynne bukan? Lelaki itu menghajar teman lamanya sendiri karena ingin melindungi Lynne, bukan? "T—terima kasih," gumam Lynne pelan. Ia tidak tahu harus mengucapkan apa. Gabriel menyelamatkannya dua kali hari ini. Meskipun kejadian yang sesungguhnya tidak seperti itu. Lelaki di depannya memang tidak bisa ditebak. Sejak mengenal Gabriel kemarin, Lynne sadar bahwa Gabriel punya dua sisi yang bertentangan. Dia adalah kombinasi antara malaikat kejam dan iblis yang baik. Gabriel menatap mata Lynne sejenak lalu menarik napasnya panjang. Bayangan masa lalunya yang kelam tiba-tiba saja muncul, membuatnya meringis pelan. Kepalanya pusing ... berdenging. Ingatan itu kembali. Berputar di kepala Gabriel. Berulang-ulang. Rasa sakit yang pernah ia rasakan. Rasa takut. Marah. Kalut. Frustrasi. Kehilangan. Semuanya kembali lagi. Semuanya terulang lagi. "Mr. Wallance, apa kau baik-baik saja?" Lynne cemas dengan Gabriel yang tiba-tiba kesulitan bernapas. Ia berusaha menyadarkan lelaki itu, tetapi Gabriel malah semakin memegangi lehernya. Ia seperti orang yang habis dicekik. "Mr. Wallance?" "Mr. Wallance?" "Mr. Wallance? Perlu aku panggil bantuan?" Ucapan Lynne terasa berputar-putar di kepala Gabriel. Semuanya kabur dan berbayang. Ia tidak bisa melihat wajah Lynne dengan jelas karena Gabriel melihat ada tiga Lynne di depannya. Kepalanya pusing sekali. "Aku akan mencari bantuan dulu," ucap Lynne seraya membuka pintu mobil. Ia tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi.  Lynne hendak berjalan keluar dan berteriak, tetapi tangan Gabriel menahannya. Wanita itu membeku di tempat lalu kembali menatap Gabriel. Wajah atasannya tampak sangat pucat. Apa lelaki ini baik-baik saja? "K—ku mohon ... jangan tinggalkan aku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD