7

1257 Words
"Bibir ini, apa boleh aku mencobanya satu kali?" Pertanyaan gila yang terlontar dari lelaki tampan itu membuat tubuh Lynne sukses menegang. Jarak mereka semakin menipis karena tubuhnya terus-menerus di tekan hingga akhirnya Lynne terjebak dalam penjara tubuh Daniel. "Kau terlalu jujur, sederhana dan lugas. Tipikal yang tidak pernah kutemui sebelumnya," bisik Daniel tepat di telinga Lynne. Tangan kekarnya menarik pinggang Lynne mendekat, hingga mata mereka berdua bertatapan langsung. "Aku penasaran, bagaimana bisa adikku yang aneh itu menemukan spesies langka sepertimu." Lynne meneguk salivanya pelan lalu menatap Daniel, ia marah. Akan tetapi, dengan jarak tubuh yang sedekat ini, nyali Lynne menciut. "Maaf, tapi sa—aku harus pergi." Lynne berusaha melepaskan diri dari Daniel, tetapi sesaat setelah ia bebas, tangan kekar milik lelaki itu mengurungnya cepat hingga Lynne terkesiap. "Aku harus menyerahkan berkasku pada Mr. Gabriel," lanjut Lynne takut-takut. Sial, selain takut ia juga gugup. Pertama kalinya ia sedekat ini dengan laki-laki. "Oh, tenang saja. Ciuman kita hanya berlangsung sebentar. Yah, aku tidak jamin, sih. Kau tahu, aku bisa membuat wanita mana saja lemas dengan bibir ini," ujar Daniel dengan rasa percaya diri yang tinggi sembari tersenyum. "Kurasa kau akan menjadi kisslover setelah berciuman denganku, Nona." Lynne semakin panik saat Daniel mendekatkan wajahnya hingga ia bisa merasakan embusan napas berat milik lelaki itu. Sial, ia tidak bisa begini. Berciuman dengan atasannya di hari pertama bekerja? Itu gila! Apa lagi, saat ini status Lynne adalah tunangan Gabriel. Daniel pasti benar-benar gila jika ia ingin mencium Lynne. Wanita itu sudah pasrah dengan keadaan saat bibir Daniel nyaris menyentuh miliknya. Ia memejamkan mata sembari menyilangkan tangannya di depan d**a. Apa ini akhirnya? Pada akhirnya Lynne akan memberikan ciuman pertamanya pada lelaki yang ia benci? Lelaki yang ia umpat setiap paginya? Oh God. "Lepaskan dia." Suara berat itu membuat tubuh Daniel membeku. Jarak bibir mereka kurang dari lima senti. Lynne bahkan membeliakkan mata, merasa lega sekaligus bersyukur. Itu Gabriel! Astaga, Gabriel benar-benar menolongnya! Lynne sempat tak percaya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa ia tidak berhalusinasi. Gabriel ada di sana, berdiri dengan sorot mata marah.    Daniel mengurungkan niatnya dan tersenyum miring, lalu berbalik dan menatap Gabriel yang tampak kesal. "Kenapa? Apa yang salah? Apa salah jika aku mencoba bibir sekretaris barumu, Riel?" Gabriel menggeram. Ia berjalan mendekati Lynne dan memegang tangannya erat. "Salah. Kau sangat salah." Gabriel menatap Daniel dari atas ke bawah dengan pandangan menyalang. "Dia milikku! Back offI! Jangan pernah bermimpi untuk menyentuhnya!" "Wah!" Daniel tampak tertegun sejenak lalu menatap Lynne dengan pandangan tak terbaca. "Really? This woman? Milikmu?" "Apa ada yang salah?" balas Gabriel ketus. "Tidak. Tidak ada."  Daniel mengangguk-angguk. "Hanya saja, seleramu agak ... unik. Lagi pula melihatmu yang super posesif seperti itu membuatku ingin tertawa. Apa benar, dia wanita yang kau pilih untuk dibawa ke pesta nanti?" "Terima kasih atas komentarnya," tukas Gabriel masih sama ketusnya. "Tapi aku tidak punya waktu untuk meladenimu. Kita bertemu lagi nanti malam." Lynne bisa merasakan tangannya ditarik pelan oleh Gabriel. Mereka berjalan menjauh dari Daniel, tetapi fokus Lynne tidak terletak di lelaki kurang ajar itu lagi. Ia berusaha untuk menenangkan jantungnya yang berdebar-debar setelah Gabriel mengatakan bahwa Lynne miliknya. Tangan Gabriel yang memegang Lynne saat ini juga terasa sangat nyaman, seolah mereka sudah ditakdirkan untuk berpegangan tangan seumur hidup. Astaga ... apa yang salah denganku? Kenapa jantungku berdebar sekencang ini? batin Lynne lagi-lagi berseru, meminta penjelasan atas perasaan asing yang terus mengusik hatinya.   ******   Gabriel dan Lynne sampai di sebuah toko yang tampak mewah dengan berbagai macam dekorasi unik. Dari auranya saja, Lynne tahu kalau tempat ini pasti punya banyak pelanggan kaya. Orang semacam dirinya hanya bisa bermimpi untuk membeli produk mewah semacam itu. "Selamat datang, Gabriel!" Teriakan itu terdengar berat sekaligus feminine, hingga membuat Lynne mengernyit bingung. Ia mendapati seorang lelaki macho dengan wajah garang berjalan mendekat. "Apa kabar?" Lelaki itu berjalan mendekati Gabriel dengan langkah lentiknya lalu memeluk tubuh Gabriel erat. Melihat kejadian di depannya, keyakinan Lynne kalau Gabriel itu gay mulai muncul kembali. Interaksi di antara kedua lelaki ini bisa dibilang terlalu intim. Lynne tidak pernah melihat dua lelaki macho berpelukan di depannya sebegitu erat seperti ini. Tepatnya, mereka tampak seperti pasangan. Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Lynne sesaat setelah melihat keduanya berpelukan. Aneh, tapi yang lebih aneh lagi, Lynne merasa dadanya tiba-tiba sesak. Ia merasa kesal karena statusnya saat ini hanyalah tunangan palsu Gabriel, sedangkan lelaki di depannya ini ... oh apa dia adalah pasangan gay Gabriel? Apa dia penyebab kenapa Lynne harus berpura-pura menjadi tunangan Gabriel? Apakah dia penyebab Gabriel selalu jauh dari wanita? Meski Gabriel sudah menjelaskan kalau ia tidak gay, tapi memikirkan semua itu membuat Lynne merasa kecewa sekaligus panas. Ia kesal karena lelaki ini berhasil memiliki hati Gabriel yang terasa sangat jauh untuk digapai. Pasti akan menyenangkan bila Lynne bisa membuat lelaki itu jatuh hati padanya. Sial. Padahal baru tadi ia merasa senang karena Gabriel bilang Lynne adalah miliknya, tapi sekarang? Oh Tuhan ... Lynne seharusnya sadar situasi. Gabriel mengatakannya hanya untuk menyelamatkan Lynne dari si kurang ajar Daniel. Tapi, apa ini, kenapa Lynne kecewa? "Lynne, perkenalkan. Ini Carlos, temanku saat di universitas," ucap Gabriel seraya menunjuk ke arah lelaki macho tadi. Tampaknya, Lynne diminta untuk bersalaman dengan Carlos karena sedari tadi Gabriel hanya diam sembari menatapinya penuh makna. Lynne berjalan maju dengan enggan. Ia benci status yang mengharuskannya untuk bersikap sopan pada teman Gabriel di saat mood-nya sedang benar-benar hancur. "Lynne," ucap Lynne pelan seraya mengulurkan tangannya, berusaha untuk bersikap senatural mungkin agar tidak mencurigakan di mata Gabriel. "Carlos Richard." Lelaki itu memperkenalkan diri dengan singkat lalu berjalan mendekati Gabriel. "Baru kali ini kau membawa seorang wanita ke butikku. Ada apa? Apa dia adalah sekreatismu? Dia bukan pacarmu, ‘kan?" Lynne menggeram kesal. Ia benci melihat interaksi Carlos yang terasa berlebihan dengan Gabriel. Entah kenapa, Lynne merasa Carlos menyimpan perasaan pada Gabriel. Hanya saja atasannya terlalu bodoh untuk peka terhadap itu. "Dia bukan pacarku. Dia tunanganku." Gabriel berjalan mendekati gaun-gaun yang terpajang dengan cantik dan mengambil salah satu di antara mereka. "Aku mau ambil ini. Bisakah kau membantunya untuk memakai ini, Carl? Pastikan kau tidak melihat bagian tubuhnya." "Tunangan ... ya?" Carlos bergumam kecil tidak mengacuhkan perkataan Gabriel. Membuat Lynne semakin curiga. "Carl?" panggil Gabriel lagi saat Carlos tak merespons. Carlos terkesiap, tapi ia bisa menutupinya dengan cepat. "Apa harus aku?" Carlos tampak tak senang dengan pernyataan Gabriel. "Aku punya Sophine, Nara, Kaka, Jihan, dan yang lain untuk membantunya, Gab." Gab? batin Lynne bingung. Lagi-lagi, ia tidak suka dengan cara Carlos bersikap pada Gabriel. Lelaki itu punya panggilan sendiri untuk atasannya dan Lynne benci fakta itu. Oh astaga, dia pasti sudah gila. Bagaimana bisa ia bertingkah seperti remaja yang dilanda cemburu buta saat pacarnya tertangkap basah tengah berselingkuh? Bedanya, Lynne itu baru satu hari bekerja dengan Gabriel dan ia sudah jatuh cinta hanya karena kata-kata Gabriel yang membuat hatinya berdesir. Bagaimana Lynne bisa menolak semua perasaan ini jika setiap hari mereka harus berinteraksi? Sial. Apa sekarang ia menyesal karena sudah menerima tawaran ini? "Tapi kau yang paling handal," tukas Gabriel yang membuat pipi Carlos merona merah. Sekarang Lynne seratus persen yakin kalau Carlos menyukai Gabriel. "Baiklah," ucap Carlos yang menyerah karena takluk dengan perkataan Gabriel. "Aku melakukannya untukmu.” "Terima kasih." Gabriel tersenyum manis. Lagi-lagi, pipi Carlos merona malu. Ya Tuhan, haruskah Lynne menyaksikan pemandangan menjijikkan ini lebih lama lagi? Ia tak tahan. "Kau." Carlos menunjuk ke arah Lynne. "Ikuti aku." Lynne meneguk salivanya pelan lalu melirik ke arah Gabriel yang justru sibuk melihat gaun-gaun milik Carlos. Dengan berat hati, Lynne mengikuti langkah Carlos menuju ruang belakang. Semoga saja, lelaki gay ini tidak berniat jahat padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD