6

1076 Words
Lynne tersenyum manis ke arah Gabriel yang tampak muram pagi ini. Kemeja kusut, rambut acak-acakkan, serta kantong mata yang menghitam adalah tanda bahwa lelaki itu lembur semalaman. "Selamat pagi," sapa Lynne ragu-ragu. Ia meletakkan secangkir kopi yang sudah ia buat ke meja Gabriel dan beringusut mundur setelahnya. "Aku tidak tahu kau suka kopi jenis apa, tapi aku membuatkanmu americano." Gabriel mendongak dan menatap mata Lynne. Wanita itu sempat merasa berhenti bernapas untuk sesaat ketika netra Gabriel menatapnya intens. "Terima kasih, Ms. Dawn. Aku memang butuh kopi sekarang." Gabriel mengambil gelas dengan asap yang mengepul itu dan menghirupnya perlahan. "Kau tahu, ini sangat wangi." "Ah, aku terbiasa membuatkan room mate-ku kopi setiap paginya," ucap Lynne menjelaskan. "Jadi bisa dibilang, aku berpengalaman, tapi aku tidak tahu standarku cocok atau tidak denganmu." "Benarkah?" Gabriel melirik ke arah Lynne tertarik. "Kalau begitu, aku coba dulu." Lynne bisa merasakan jantungnya berdebar-debar saat melihat Gabriel menyesap kopi yang ia buat. Bukan tanpa alasan, tetapi sekarang Lynne merasa hidup dan matinya seolah dipertaruhkan. Tentu saja ia menyukai Gabriel. Bahkan sebelum ia melihat wajah lelaki itu, Lynne selalu suka dengan image Gabriel. Namun, sekarang urusannya berbeda. Lynne itu sekretaris sekaligus tunangan palsu Gabriel. Lelaki ini akan menggajinya dua puluh lima juta per bulan dan Lynne butuh uang itu untuk melunasi biaya rumah sakit Judith. "Ini enak," ujar Gabriel yang membuat kaki Lynne lemas. Wanita itu terlalu lega hanya karena kata-kata Gabriel. "Kuharap mulai besok, kau membuatkanku kopi juga setiap paginya." "Eh?" Lynne sempat melongo mendengar perkataan Gabriel. Namun, sedetik kemudian, ia mengangguk. "Baiklah. Akan kulaksanakan dengan baik." "Terima kasih," ujar Gabriel sembari tersenyum simpul. Senyum yang sukses membuat Lynne sesak napas lagi untuk beberapa saat. Ya Tuhan. Bagaimana bisa ada makhluk seperti Gabriel? Dia itu bagaikan es. Kadang mencair, kadang membeku. Bisakah Lynne bertahan dengan keadaan ini?   ******     Lynne sedang mengurusi berkas-berkas yang baru saja ia terima di hari pertamanya bekerja. Tugasnya memang banyak, tetapi setidaknya gajinya sepadan. Atau sebenarnya, sangat sepadan. Ia mulai membuka satu per satu berkas itu dan menyipitkan matanya serius, sampai suara seseorang mengganggu konsentrasinya. "Wow, siapa kau?" Pertanyaan itu keluar dari mulut seorang lelaki tampan dengan mata biru tajamnya yang tampak familier. Lynne sempat terpaku melihat ketampanannya, tetapi hanya sesaat, karena setelahnya lelaki itu mengerling padanya. Lynne berdiri dari tempatnya dan menunduk sebagai tanda rasa hormat. "Selamat siang, perkenalkan nama saya Lynne Dawn. Saya baru bekerja sebagai sekretaris Mr. Wallance." "Wah, sekretaris? Jadi kau ... wanita yang berhasil membuat adikku merasa nyaman?" Daniel bertepuk tangan kencang sembari berjalan mendekati Lynne. Lynne mengernyit, tidak mengerti. Sejujurnya, ia merasa tak nyaman saat lelaki di depannya memandanginya dari atas ke bawah dengan tatapan menilai. "Menarik," ucap lelaki itu sembari mengangguk-angguk, membuat Lynne lagi-lagi mengernyit tak mengerti. "Oh ya, jangan terlalu formal padaku. Santai saja, Ms. Dawn." Lynne mengangguk paham sebelum berkata, "Maaf jika tidak sopan, tapi … Anda siapa?" "Wah!" Lelaki itu bertepuk tangan kencang, hingga Lynne terkesiap karena terkejut. "Kau tidak tahu aku? Dari mana asalmu? Apa kau tidak punya TV di rumah?" "Aku punya ...?" jawab Lynne bingung. "Nah! Apa kau pernah menonton TV--mu?" tanyanya lagi. Lynne mengangguk. "Tentu, tapi aku sangat malas karena hampir setiap hari ada wajah Daniel Wallance di sana. Lama-kelamaan wajahnya tampak menyebalkan dan dia—" Lynne menutup mulutnya terkejut saat menyadari bahwa lelaki di depannya ini pasti salah satu petinggi di Wallance. Sial. Mulutnya berbicara sendiri tadi. "Kenapa tidak di lanjutkan?" Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya. "Teruskan. Aku ingin mendengar kelanjutannya. Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang diriku." Lynne semakin merutuki dirinya sendiri. Pantas saja wajah lelaki ini familier. Ia baru menyadari kalau dia adalah Daniel Wallance. Lelaki yang setiap paginya Lynne umpat karena terus-menerus muncul di TV. "Aku ...." Lynne menggaruk tengkuknya canggung sembari mencari-cari alasan, sialnya otaknya sedang buntu. Ia sungguh tidak bisa memikirkan alasan lain. Oh sial. Kenapa dia terjebak dalam situasi semacam ini? Lynne melirik ke arah pintu besar, ruangan Gabriel. Ia berharap kali ini, lelaki itu mau berbaik hati padanya dan keluar dari kandang persembunyian itu. Setidaknya, Lynne bisa menyelamatkan diri dalam situasi seperti ini bila ada Gabriel. "Jawab. Kenapa diam?" tanya Daniel dengan nada menuntut. Lynne memejamkan matanya saat harapannya benar-benar pupus. Gabriel tidak akan keluar dari ruangannya. Ah, tidak tahu lah. Lelaki itu memang tidak mungkin menyelamatkannya, lantas  kenapa Lynne berharap banyak? "Karena aku muak melihat wajahmu!" teriak Lynne lantang, seolah tanpa beban. Ia terlalu frustrasi hingga melemparkan tubuhnya sendiri ke dalam kandang buaya. Oh Tuhan, sekarang bagaimana? "Oh, begitu." Suara bariton milik lelaki itu kembali terdengar membuat Lynne meneguk salivanya dengan susah payah sembari mengangguk tak jelas. Tamat sudah riwayatnya. Mungkin dia harus mengucapkan selamat tinggal pada gaji bulanannya. Ah, sial. Sekarang bagaimana ia bisa melunasi biaya rumah sakit?  Kenapa pula mulutnya ini bergerak sendiri? Sial, sial, sial! "Maafkan aku." Lynne menundukkan kepalanya, memohon pengampuanan pada lelaki menyebalkan yang selalu muncul dan menganggu acaranya setiap pagi. Masa bodoh harga dirinya jatuh, yang penting sekarang ia tidak dipecat dari pekerjaannya dan Judith bisa di rawat dengan baik. "Tidak. Tidak perlu." Lelaki itu berucap santai, membuat Lynne mendongak karena terkejut. Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi anehnya ketika melihat Daniel Wallance tengah tersenyum manis. Tidak, tidak. Lynne bukannya terpesona. Hanya saja ia bingung. "Aku suka sikapmu yang mengucapkan sesuai dengan yang ada di pikiran." Orang gila mana yang senang ketika orang lain mengatakan bahwa ia muak melihat wajahnya? Bahkan sekarang Daniel memujinya? Hell! Mereka benar-benar keluarga yang unik. Lynne tidak sangka bahwa keturunan Wallance memiliki gen semacam ini. “K—kenapa?" tanya Lynne formal sembari berusaha menahan rasa penasarannya kuat-kuat. Ia harus menjaga sikapnya. Orang di depannya ini bukan orang baik dan dia bisa memecat Lynne kapan saja. Jadi, daripada harus mengucapkan selamat tinggal pada uang 25 juta, Lynne lebih memilih untuk bersikap sopan dan patuh. "Karena wanita sepertimu menarik," ucap Daniel sembari berjalan satu langkah mendekat ke arah Lynne. Lelaki itu sempat memegang wajah Lynne dengan jari telunjuknya. Mulai dari dahi, hidung, hingga menyentuh bibir Lynne. Pada mulanya, Lynne sudah siap untuk menampar tangan Daniel yang kurang ajar, tapi lagi-lagi, ia berusaha menahan diri. Ia tidak mau kelepasan seperti tadi dan menyesal kemudian hari. "Wajahmu cantik, juga familier. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" gumam Daniel pelan. Lynne bisa merasakan bulu kuduknya meremang saat jari Daniel benar-benar sudah berada di bibirnya. Otaknya tak lagi bisa berpikir. Yang terlintas di benaknya hanya menampar Daniel dan membuat jari-jarinya remuk.  Jantung Lynne berdebar kencang, sedangkan tubuhnya bergetar hebat.  "Bibir ini, apa boleh aku mencobanya satu kali?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD