17

877 Words
Aku dan Gabriel berada di tengah-tengah dance floor bersama banyak manusia lainnya. Kami berdua bisa berdansa dengan lancar setelah Gabriel mengajariku tadi. Lagu lembut kembali diputar, membuat banyak pasangan semakin mengeratkan pelukan satu sama lain. Gabriel memegang pinggangku erat, sedangkan kedua matanya menatapku lekat. Kami berdua memiliki warna mata yang sama dan aku bahagia mengetahui hal itu. Lelaki itu memandangiku begitu dalam. Aku tidak tahu maksud pandangannya apa, tetapi yang pasti pandangan ini sangat berbeda dari yang ia layangkan padaku di lantai bawah tadi. Lagu yang diputar adalah lagu Ed Sherran yang berjudul Perfect, lagu kesukaanku. Menurutku, Ed sangat romantis. Setiap lirik lagunya berhasil membuatku jatuh cinta. Aku berputar, sesuai dengan intruksi Gabriel. Jujur saja ini pertama kalinya aku berdansadan tadi, aku sempat menginjak kaki Gabriel beberapa kali, tetapi lelaki itu sama sekali tidak marah. Gabriel mendekatkan tubuhnya padaku hingga dadaku dengan dadanya bersentuhan. Aku mendongakkan kepala, kembali memandangi mata biru itu dengan penuh cinta, meski aku tahu aku tidak ada di sana. Dia tampak begitu indah, Tuhan. Dia makhluk ciptaanmu yang paling sempurna yang pernah kutemui. Menikah dengannya adalah impian setiap wanita, tetapi aku tidak mau menikah dengannya hanya karena paksaan. Aku ingin memiliki hatinya. Salahkah aku? "I don't deserve this. Darling, you look perfect tonight." Bisikan Gabriel di telinga membuat sekujur tubuhku merinding. Ia mengucapkan kata-kata yang sama dengan lirik lagu Perfect. Akan tetapi, kenapa aku terbawa perasaan? Kenapa aku bahagia? Bukankah perasaan ini sungguh membingungkan? "You look handsome too." Aku tersenyum padanya, berusaha menutupi detak jantung yang sudah berdebar tak keruan. Bagaimana bisa aku berhenti berharap dan sadar kalau dia tidak bisa digapai, di saat ia sendiri membuatku terus menginginkannya? "Sekali lagi, aku minta maaf karena para tetuaku menghina orangtuamu, Lynne. Aku—" "Stt." Aku mengeratkan pelukan pada tubuhnya. Perkataan tajam para tetua tadi sudah kulupakan. Aku hanya ingin mengingat kenangan indah untuk malam ini. Aku tak ingin menghancurkan mimpi indahku. Izinkan aku bahagia, sekali saja.  "Jangan membahasnya lagi, Gab." Aku tersenyum. "Aku tidak akan memasukannya ke hati. Toh, aku juga tak ingat kedua orangtuaku." "Kenapa kau tak ingat?" tanya Gabriel tampak terkejut. "Tentang mama dan papamu? Kau tidak tahu sama sekali?" Aku mengangguk, penuh kesedihan. Aku tidak punya kenangan apa-apa bersama mereka. "Kami mengalami kecelakaan dulu. Aku masih sangat kecil." Aku tersenyum kecut dan mendapati bahwa Gabriel tampak tertarik dengan kisahku. "Aku lupa ingatan. Sedangkan papa dan mamaku meninggal di tempat." "Lalu bagaimana dengan adikmu?" tanya Gabriel. Aku mengerjapkan mata bingung. Rasanya aku tidak pernah cerita dengan Gabriel tentang Judith. "Bagaiamana kau tahu aku punya adik?" tanyaku. Gabriel tampak terkejut dengan pertanyan yang kuajukan. Namun, seperti biasa, dia bisa mengatasi semuanya dengan baik. Dia lelaki yang pandai menyembunyikan emosi dan hal itu justru membuatku semakin takut. "Aku sudah bilang. Aku menyelidiki semua tentangmu." Gabriel tersenyum lagi. "Semuanya, Lynne." Aku meneguk saliva dengan susah payah sebelum mengangguk. "Waktu itu adikku sedang ditinggal bersama salah satu keluarga. Kami berniat untuk piknik sampai mobil kami ditabrak oleh sebuah mobil besar." Gabriel meringis pelan. "Itu tragis sekali. Apa kalian menemukan pelakunya?" "Pelakunya seorang pemabuk. Hanya karena kebodohannya, aku kehilangan keluargaku." Aku memalingkan wajah saat rasa sakit itu kembali menyeruak. Aku memang tak ingat apa-apa, tapi rasanya hatiku sakit sekali ketika membayangkan kedua orangtuaku harus mati hanya karena perbuatan bodoh orang lain.” Gabriel melepaskan tangannya dari pinggangku sebelum ia mengangkat daguku, hingga kedua mata kami beradu pandang untuk kesekian kalinya. "Don't cry." Gabriel berbisik pelan. Cahaya lampu menyoroti kami berdua, hingga seluruh mata tertuju kemari. Aku tahu, saat ini Gabriel tengah memandangi wajahku lekat-lekat. Aku tidak tahu apa yang ia cari dariku dan entah kenapa aku merasa gugup. "May I?" tanya Gabriel. Ia melirik ke arah bibirku. Aku membelalakan mata. Ada apa dengannya? Apa dia tidak tahu seberapa besar perasaan yang harus kupendam saat aku ada di dekatnya? Apa dia pikir aku tidak punya perasaan? Apa menurutnya mempermainkan perasaanku adalah hal yang menyenangkan? Aku belum sempat menjawab saat tangan Gabriel tiba-tiba saja menarik pinggangku. Dalam gerakan cepat, bibirnya menyentuh bibirku. Hangat. Lembut. Manis. Seluruh tubuhku bergetar karena ciumannya. Ini ciuman pertamaku, demi Tuhan! Aku merelakan bibirku dicium dengan sukarela oleh atasanku sendiri. Oh tidak, aku bahkan membalas ciumannya! Semua orang menyoraki kami berdua. Ciuman Gabriel terasa begitu lembut, dalam, dan tanpa tuntutan sama sekali. Ia menciumku seakan penuh kerinduan. Aku tidak tahu ini perasaan apa, tetapi aku merasa begitu merindukan Gabriel. Bagaimana bisa aku merindukannya di saat kami baru saja bertemu? Oh Tuhan. Aku pasti benar-benar gila. Sensasi bibirnya pasti membuat otakku mengalami korsleting. "I'm sorry." Gabriel bergumam setelah melepaskan ciumannya dari bibirku. Sedangkan aku? Aku masih ternganga.  Hubungan kami palsu. Dia menegaskannya. Dia bilang aku tidak boleh melewati batas dan memainkan peranku sendiri. Lantas, kenapa dia melewati batas yang ia buat sekarang? Kenapa dia membuatku terus-terusan berharap? "Apa menurutmu, permainan tarik-ulur adalah hal yang menyenangkan, Mr. Wallance?" Aku mengubah nada bicaraku menjadi sopan. Aku berusaha menutupi jantungku yang berdebar-debar. Aku berusaha mengabaikan kupu-kupu yang tengah beterbangan di perut. Aku berusaha menahan air mataku yang hampir turun. Tuhan, dia tidak mencintaku, tetapi kenapa, dia memperlakukanku layaknya pasangannya? Kenapa dia menciumku di saat ia trauma dengan wanita? Kenapa dia terus menerus memberikan harapan kosong untukku di saat hatinya sama sekali tak mungkin untuk kumiliki? Kenapa? "I'm sorry." Gabriel menunduk. Dia tampak kacau. "Sorry for everything, Lynne."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD