18

912 Words
Seminggu berlalu setelah ciuman singkat yang membuat Lynne kebingungan setengah mati dengan perasaanny, selama itu pula, Gabriel kembali pada wujud semulanya.  Lelaki yang dengan kejamnya membuat Lynne melayang hingga ke kayangan, tetapi langsung menjatuhkannya dengan keras hingga ke dasar jurang. Lynne sudah berusaha mengerti pada sikap Gabriel malam itu. Namun, seberapa pun kerasnya ia berpikir, Lynne tidak menemukan jawabannya.  Ia tidak menemukan jawaban kenapa Gabriel menciumnya dengan begitu lembut dan penuh kerinduan. Ia tidak mengerti dengan perasaan asing yang singgah di hatinya, meski hanya sebentar. Perasaan bahagia, seakan ia bertemu dengan seseorang dari masa lalunya. Masa lalu yang bahkan tak ia ingat. Semua begitu rumit dan samar. Lynne bahkan masih bingung dengan perasaannya. Ia jatuh cinta begitu cepat pada Gabriel. Ia terluka begitu dalam karena Gabriel. Ia memaafkan Gabriel dengan terlalu mudah bahkan setelah lelaki itu menciumnya tanpa izin. Dari semua itu, Lynne sadar kalau dia terlalu peduli hingga terkadang merasa sakit hati karenanya. Gabriel selalu menggambar batas di antara mereka. Ia meminta Lynne untuk tidak melewati batas itu dan mendeklarasikan bahwa hatinya tak akan pernah termiliki oleh wanita mana pun, tetapi dia sendiri melanggar aturan yang ia buat. Dia sendiri yang membuat Lynne ingin berlari dan memeluknya. Dia sendiri yang melakukannya. "Selamat pagi," sapa Lynne berusaha sesopan mungkin pada Gabriel. Ia meletakkan secangkir kopi yang telah dibuat di meja kerja Gabriel dan memutuskan untuk segera berbalik. Lynne sedang mengadakan aksi mogok bicara dengan Gabriel jika hal itu tidak diperlukan. Alasannya karena Gabriel tampak tak menyesal setelah mencium Lynne dengan begitu kurang ajarnya, ditambah lagi, lelaki itu tidak mau memberikan Lynne penjelasan apa-apa.  Meskipun lelaki itu sudah meminta maaf dan Lynne sudah memaafkannya, tetap saja Lynne masih kesal.  Ia hanya ingin membuat Gabriel sadar kalau wanita bukan untuk dipermainkan. Semoga Gabriel tahu kalau kelakuannya itu salah dan tidak melakukan hal gila lainnya yang berpotensi membuat jantung Lynne meledak. "Lynne," panggil Gabriel dengan suara beratnya. Lynne memutar bola mata malas dan berbalik menatap Gabriel. "Ada apa, Mr. Wallance?" tanya Lynne. "Bukankah kita sudah sepakat untuk saling memanggil nama?" tanya Gabriel dengan alisnya yang tertaut. "Belakangan ini tingkahmu aneh sekali. Apa kau sedang menstruasi?" Lynne mengernyit heran dengan penuturan Gabriel. Lelaki ini benar-benar tidak peka! "Tidak. Bukan begitu." Lynne menggelengkan kepala sembari menarik napasnya pelan. Ia harus menjaga emosinya saat ini. "Hanya saja, aku sedikit kesal dengan seseorang belakangan ini." "Benarkah? Siapa?" Gabriel menyeruput kopinya. "Kau terlihat seperti wanita yang tak mudah marah. Kujamin, orang yang membuatmu kesal pasti sudah kelewatan." "Ya, dia memang kelewatan, Mr. Wallance." Lynne mengangguk menyetujui. Ia akan menyampaikan semua yang ada di otaknya. Setidaknya secara tak langsung. "Dia melakukan hal yang kejam." "Maksudmu seperti membunuh orang?" tanya Gabriel tertarik. "Jika memang iya, maka orang itu pasti sifatnya mirip denganku, tapi aku tidak suka mengotori tanganku sendiri." "Bukan itu maksudku," gumam Lynne pelan. Ia mulai bergidik ngeri saat aura intimidasi itu terasa. Oh astaga. Apa Gabriel berkepribadian ganda? Bagaimana bisa dia punya dua sisi seperti ini? Bagaimana bisa ia membicarakan pembunuhan dengan begitu santainya? Apa dia tak merasa berdosa? "Lantas?" "Hmm, seseorang yang mempermainkan perasaanku," ucap Lynne pelan. "Aku menyukai orang itu. Sangat menyukainya. Bahkan aku jatuh cinta terlalu cepat. Tapi aku tidak menyangka ternyata dia adalah lelaki b******n. Dia membuatku terbayang-bayang dengan dirinya di saat dia sendiri sama sekali tak menginginkanku." "Dia berengsek. Seorang pengecut." Gabriel menanggapi perkataan Lynne. "Entah kenapa aku merasa kau sedang membicarakan Daniel. Apa perkataanku benar?" "Salah. Salah besar, Mr. Wallance." Lynne mendesis kesal. Oh Tuhan, kau begitu adil, menciptakan semua manusia dengan kekurangannya hingga tak ada yang sempurna di dunia ini. Akan tetapi, kekurangan Gabriel adalah hal yang paling menyebalkan yang pernah ada di dalam hidup Lynne. "Jangan berhubungan dengan laki-laki seperti itu, Lynne." Gabriel menasihati. Ia membuka beberapa lembar berkasnya dan berusaha fokus selagi terus berbicara. "Carilah orang yang memiliki pendirian kuat. Yakin denganmu dan memperlakuanmu layaknya puteri. Bukan laki-laki b******n yang tidak jelas hatinya untuk siapa." "Tapi aku sudah telanjur jatuh cinta, Mr. Wallance," ucap Lynne yang membuat Gabriel menghentikan aksinya. Ia mendongak dan menatap mata biru Lynne yang tampak berkaca-kaca. "Aku jatuh cinta terlalu cepat pada seorang b******n yang tidak tahu hatinya untuk siapa." Gabriel tertegun. Ia membeku di tempatnya untuk beberapa saat, hingga membuat Lynne tersenyum miris. Sudahkah ia sadar? Tahukah ia perasaan Lynne sekarang? Maukah ia menjelaskan perihal ciuman itu dan semua tentang perilaku manisnya? "Uhm, kurasa kau jangan terlalu memikirkan orang itu, Lynne. Hal itu bisa mengakibatkan performa kerjamu menurun dan aku tak suka itu." Gabriel kembali sibuk dengan berkas-berkasnya setelah berusaha mengalihkan topik. Ruangan itu hening. Tidak ada yang berbicara. Baik Lynne dan Gabriel sama-sama enggan untuk menatap satu sama lain dalam waktu lama, sampai deringan ponsel Lynne membuyarkan semuanya. Lynne merogoh kantongnya dan menemukan nama Robert di sana. Sudah hampir satu minggu lebih Lynne tidak berbicara dengan lelaki itu padahal dia juga bekerja di sini. Robert diterima di bagian administrasi, sedangkan Lynne bekerja sebagai sekretaris Gabriel.  Lynne terlalu sibuk dengan pikiran dan masalahnya sendiri sampai melupakan kalau ia punya masalah lainnya. "Jawab saja," ucap Gabriel tanpa menatap ke arah Lynne. Lelaki itu menulis di kertas-kertasnya tanpa mau mengalihkan pandangan. "Suara ponselmu menggangu konsentrasiku." "Maaf," tukas Lynne sembari membuka ponselnya. "Aku keluar dulu kalau begitu, Mr. Wallance. Permisi." Lynne berjalan keluar dengan tenang lalu menutup pintu ruang kerja atasannya. Menyisakan Gabriel yang sendirian di dalam ruang kerja sembari menatap kosong ke depan. "Sejak awal kau bukannya jatuh cinta terlalu cepat padaku, Lynne. Hanya saja cinta itu masih ada di dalam hatimu. Bahkan setelah lima belas tahun berlalu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD