14

1493 Words
"Lynne," panggil Gabriel pelan. Suaranya terdengar lembut sekaligus serak, membuat Lynne mau tak mau menatap ke arah matanya. "Iya?" tanya Lynne heran. Mereka berdua sudah sampai di depan gedung hotel yang tampak mewah. Banyaknya wartawan di depan pintu masuk berhasil membuat Gabriel bergidik ngeri. Berurusan dengan berbagai jenis manusia yang belum pernah ia temui adalah momok bagi Gabriel. Sedangkan bagi Lynne, ini luar biasa. Perayaan ini sungguh fantastis dan Lynne sadar bahwa Wallance adalah konglomerat asli. Lantas sekarang, apa Lynne akan bergandengan tangan dengan salah satu keturunan Wallance yang tak pernah muncul ke publik? Oh astaga, seluruh wanita di dunia akan iri setengah mati kepadanya. "Ini." Gabriel merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kotak. Dengan gerakan lambat, ia membukanya. Lynne bisa melihat sebuah cincin berkelap-kelip karena pantulan cahaya. Ya Tuhan ... indah sekali. Lynne merasa dilamar meskipun nyatanya tidak begitu. Ia nyaris meneteskan air mata, tetapi Lynne tahu kalau Gabriel akan menganggapnya gila jika tiba-tiba menangis. "Be my princess tonight." Gabriel memasangkan cincin berlian itu di tangan Lynne dan yang aneh, ukurannya pas! "K—kapan kau menyiapkannya, Gab? Bagaimana bisa ... kau tahu ukurannya?" tanya Lynne sembari memandangi cincin itu, terpesona. Berliannya memang tak terlalu besar dan tampak simpel. Mirip dengan karakter Gabriel. "Sesaat setelah kau setuju untuk menjadi tunangan palsuku, aku menyelidiki semua tentangmu. Lagi pula itu tidak mahal. Jangan terlalu dipikirkan." Lynne melongo dibuatnya. Ia yakin, cincin ini seharga mobil yang mungkin sudah cukup mewah bagi Lynne dan Gabriel menyebutnya tidak mahal? Shit, orang kaya memang berbeda. Gabriel tersenyum singkat lalu melirik ke arah para wartawan itu. "Kita harus turun sekarang. Kau siap?" Lynne mengangguk seraya menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdebar kencang. Ia gugup, tetapi Lynne berjanji dalam hati kalau Gabriel tidak akan menyesal membawanya ke sini. "Tapi ... apa kau masih sakit? Maksudku, kau baik-baik saja, ‘kan?" tanya Lynne ragu, meskipun sekarang ia bisa melihat rona merah di pipi Gabriel. Tampaknya suhu tubuh lelaki itu sudah kembali normal. "Aku baik-baik saja berkatmu. Bahkan sekarang semua rasa pusing itu berangsur-angsur hilangg. Terima kasih, Lynne." "Sama-sama." Lynne mengangguk-angguk. Gabriel tersenyum singkat lalu keluar dari mobil. Ia membukakan pintu dan menuntun wanita itu keluar, kemudian menyodorkan tangannya dan tersenyum manis. "Let's go, Princess." Lynne mengerjap. Ya Tuhan, ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Ia dan Gabriel bergandengan tangan di depan para wartawan. Entah kenapa Lynne merasa seperti berada di negeri dongeng. Ia menjadi Cinderella dan Gabriel adalah pangerannya. Mereka berdua berjalan pelan. Lynne sempat menundukkan kepala karena malu. Semua orang menatapnya. Semua orang sedang menilai penampilannya. Satu hal yang Lynne tahu, mereka sedang menilai kecocokan antara Lynne dan Gabriel. "Jangan menunduk. Nanti mahkotamu jatuh, Princess," tukas Gabriel dengan suara rendahnya. "Jangan malu, Lynne. Tunjukkan sisi dirimu yang begitu mengagumkan hingga bisa membuatku terpukau waktu itu. Kau adalah tunanganku. Ingat, tunangan Gabriel Wallance tidak boleh malu pada dirinya sendiri." Lynne mendongakkan kepala setelah mendengar perkataan Gabriel. Lelaki itu seperti memberi mantra kepada Lynne, hingga kepercayaan dirinya langsung meningkat sampai pada titik tertinggi.  Para wartawan sempat mengernyit melihat mereka berdua. Pasalnya, Gabriel tidak pernah muncul ke publik sama sekali. Jadi sepertinya mereka bingung mau meliput Gabriel atau tidak. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa aku harus berteriak kalau kau adalah Gabriel Wallance?" bisik Lynne. Gabriel mengerutkan alisnya. "No, Lynne. Biarkanlah mereka melepaskan kesempatan ini. Aku malas berinteraksi dengan wartawan jika tidak terpaksa." Lynne kemudian mengangguk. Ia tidak berbicara lagi dan fokus berjalan agar cepat sampai ke pintu masuk setelah melewati tangga yang banyak ini. Saat mereka hamper sampai ke pintu masuk, para wartawan itu berlarian ke arah mobil yang baru datang. Membuat Lynne dan Gabriel bisa menghela napas lega karena merasa terbebas dari neraka. "Kerja bagus. Kita baru saja melewati ujian pertama," ucap Gabriel. Lynne tersenyum. "Kalau begitu, ayo kita masuk." Gabriel mengangguk. Mereka berdua hanya butuh dua anak tangga lagi untuk mencapai pintu masuk. Gerakan mereka sedikit terhambat karena Lynne kesulitan dengan gaunnya. Lynne dan Gabriel sama-sama menghentikan langkah laki ketika mendengar suara familier yang datang dari bawah. Gabriel menghela napas ketika sang trouble maker datang. "Oh hai, hai," ucap Daniel seraya melambai ke arah kamera. Ia sudah merasa bagaikan artis sekarang, atau mungkin lebih? Karena rasanya wajah Daniel sangat sering terpampang di televisi dibanding para aktor . Daniel tersenyum karena imajinasinya sendiri. Lalu saat ia mengalihkan pandangan, ia membelalak ketika mendapati Gabriel tengah bergandengan tangan berdua bersama Lynne tanpa ada yang menyorot mereka.  Hanya butuh beberapa detik bagi Daniel untuk mendapatkan ide kotor sekaligus cemerlang di otaknya. Ia melakukan ini agar seluruh dunia tahu, siapa Gabriel Wallance sesungguhnya. "Kalian semua pasti penasaran dengan kedua adikku yang tidak pernah muncul di televisi," tukas Daniel di depan kamera. Para wartawan mengangguk sebagai jawaban pertanyaannya. Daniel tersenyum. "Lihat lelaki yang tengah berdiri di sana dengan seorang wanita bergaun mint?" tunjuk Daniel. "Dia adikku. Gabriel Wallance." Pandangan seluruh orang langsung beralih pada mereka, membuat Gabriel dan Lynne sama-sama terkesiap. Mereka tidak bisa mendengarkan apa yang Daniel katakan karena jarak yang terlalu jauh. Daniel tersenyum penuh kemenangan. "Kalian bebas merekam mereka sekarang! Untuk wartawan wanita, diperbolehkan untuk memegang tubuh Gabriel! Semuanya gratis untuk malam ini!"   ******   "Terima kasih, Niel. Berkatmu, aku mendapat pelecehan seksual." Gabriel menatap sinis ke arah Daniel yang tampak santai seraya meminum champagne-nya. "Kau memang Kakak yang sangat baik." "Oh sama-sama. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya seorang kakak lakukan. Jangan terlalu tersanjung seperti itu." Daniel tersenyum manis kemudian pandangan matanya beralih pada Lynne. "Hari yang panjang. Rasanya baru tadi pagi aku mau mencium bibirmu." "Ya ... senang bertemu denganmu lagi, Mr. Wallance." Lynne menatap nyalang. Berusaha mengumpulkan keberanian karena saat ini statusnya adalah tunangan Gabriel. "No ... kau tunangan Gabriel. Kenapa memanggilku seperti itu?" Daniel terkekeh. "Panggil aku Niel, Nona. Lagi pula, untuk malam ini aku punya pasanganku sendiri. Jadi aku tidak akan menganggumu. Tidak tahu kalau pesta selesai. Mungkin aku akan menyeretmu ke dalam suatu ruangan tanpa sepengetahuan Gabriel." "Niel ...," desis Gabriel kesal. Kakaknya ini memang sejak dulu menyebalkan dan Gabriel tidak pernah terbiasa dengannya. Emosinya selalu terpancing lagi dan lagi. "Tidak terima kasih, Niel," ucap Lynne tanpa ragu. Ia mendekatkan tubuhnya pada Gabriel dan merangkul tubuh lelaki itu erat. "Tapi aku ada urusan dengan lelaki ini nanti malam. Oh, atau tepatnya mungkin kami akan melakukannya sampai pagi. Jadi aku tidak ada waktu untuk bersamamu." "Seriously?" Daniel mengangga. "Aku tidak percaya Gabriel sekuat itu hingga bisa tahan sampai pagi. Kau pasti berbohong, ‘kan?" "Nope." Lynne menggeleng. "Aku serius." "Tapi aku lebih lihai daripadanya, Lynne," ucap Daniel lagi, membanggakan diri. "Aku sudah tidur dengan banyak wanita. Aku lebih berpengalaman untuk memuaskanmu." "Tapi aku tidak suka barang bekas," tukas Lynne yang membuat Daniel terdiam. Lelaki itu kalah telak. Gabriel hampir tertawa saat melihat ekspresi Daniel. Lelaki itu kehabisan kata-kata karena Lynne. "Hai, Baby." Seorang wanita dengan balutan gaun yang amat sangat terbuka berjalan mendekat lalu memeluk Daniel dari belakang. Daniel tersenyum dan menarik wanita itu mendekat. Mereka berdua berciuman panas di depan Gabriel dan Lynne hingga keduanya salah tingkah sendiri. "Kenapa lama sekali? Aku sudah di-bully oleh mereka karena tidak memiliki pasangan," gerutu Daniel seraya melirik ke arah Gabriel dan Lynne. "Maaf, macet." Wanita itu tertawa, kemudian mengikuti arah pandang Daniel. "Ini siapa? Aku tidak pernah bertemu dengannya." "Dia adikku, Gabriel Wallance. Sebelahnya adalah Lynne, tunangan Gabriel." Daniel menjelaskan. "Oh, Riel, apa kau mendapat kabar dari Angel?" Lynne menyimak pembicaraan mereka. Sedari tadi Lynne penasaran, bagaimana tampang adik bungsu mereka itu? Apa secantik puteri raja? Secara, gen Wallance memang luar biasa. Lynne bahkan rela jika ia punya anak dari Gabriel dan—Ah, apa yang ia pikirkan? "Kudengar dia sudah sampai di New York sejak dua hari yang lalu dan akan menetap sementara waktu," jelas Gabriel. "Uhm, Niel. Apa pacarmu memang selalu berbeda setiap waktu? Kemarin kau bersama Stacy dan sekarang siapa wanita ini?" Daniel tampak tergagap ketika Gabriel menyebutkan perihal Stacy. Ia menatap ke arah mata Rose—pacarnya yang baru—dan tersenyum ketika mendapatkan kemarahan di sana. Pasalnya, Daniel mengaku sangat jarang berpacaran dan tidak pernah jatuh cinta pada wanita lain. Terima kasih pada Gabriel karena sudah menjebloskan Daniel ke dalam lubang buaya. "Uh oh," gumam Daniel. Ia benar-benar mati malam ini. Mungkin Rose akan mencakar, atau setidaknya menamparnya. Meskipun ia sudah berpengalaman disiksa karena sering mempermainkan perasaan wanita, Daniel tetap saja tidak pernah terbiasa. "Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Niel. Kami harus mengunjungi para tetua dulu. Pastikan kalau kau tidak bertengkar dengan wanita barumu, ya?" ucap Gabriel seraya menarik tangan Lynne menjauh dari Daniel. "Apa menurutmu Daniel akan baik-baik saja, Gab? Aku melihat kobaran api di mata wanita tadi." Lynne melirik ke belakang, hendak melihat Gabriel, tetapi pandangannya tertutup oleh banyak manusia. Gabriel menghentikan langkah kaki dan memutar kepala Lynne. Kedua tangannya membingkai wajah wanita itu hingga mata keduanya beradu pandang. Jarak ini terlalu dekat. Oh Tuhan, Lynne tidak kuat. Bolehkah ia pingsan sekarang? Atau setidaknya, bolehkah ia mimisan? "Nanti saja memikirkan Daniel, Lynne." Kedua mata Gabriel menatap bola mata Lynne intens. "Sekarang, siapkan mentalmu. Karena kita akan melalui ujian tersulit dari pesta ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD