15

1347 Words
Lynne berdiri di depan sebuah ruangan yang terletak di lantai bawah hotel ini. Ia tidak mengerti kenapa Gabriel mengajaknya kemari di saat pesta baru saja dimulai. Tangan mereka bertaut. Gabriel sendiri yang berinisiatif menggandeng Lynne. Tidak hanya itu, lelaki itu bahkan menuntun Lynne, karena jujur saja, ia kesulitan dengan gaun mahal ini. "Mereka ada di dalam." Gabriel menatap kosong ke arah pintu putih itu. "Bersiaplah, Lynne. Mereka juga tidak menyukaiku." Lynne mengernyit. "Kenapa mereka tidak menyukaimu? Bukankah kau bagian dari keluarga Wallance?" "Ya ...." Gabriel menarik napasnya panjang. "Aku pernah menjerumuskan diriku sendiri dan Daniel ke dalam masalah sewaktu kecil. Sejak saat itu, aku kehilangan kepercayaan mereka." "Masalah? Masalah apa?" tanya Lynne penasaran. Apa masalah itu begitu besar sampai Gabriel yang notabene punya darah yang sama dengan mereka bisa dibenci? "Akan kuberi tahu, suatu saat nanti." Gabriel menatap lurus ke arah Lynne. "Kuharap kau menjawab dengan tenang. Jangan terintimidasi. Aku minta maaf terlebih dulu jika mereka menghinamu nanti." Lynne mengangguk. "Baiklah." Gabriel lagi-lagi menghela napas panjang sebelum memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Ia tampak gugup. Baru kali ini Lynne melihat sisi lain dari Gabriel yang berbeda dari biasanya. "Masuk." Suara itu berasal dari dalam. Gabriel mendorong pintu tinggi dan besar dengan sebelah tangannya lalu menuntun Lynne untuk masuk. Lynne sempat ternganga saat tahu bahwa ruangan itu adalah tempat jamuan makan yang mewah. Ada banyak sekali kursi di sana. Belum lagi ada sebuah meja yang sangat panjang.   Jantungnya tiba-tiba berdebar sangat kencang saat mendapati keluarga besar Wallance berada di sana, tengah menatapi mereka dengan bingung. "Anakku!" Teriakan itu membuat Lynne terkejut. Seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik berdiri dari tempatnya dan mencium pipi Gabriel. "Kau akhirnya menunjukan diri." Gabriel tersenyum. "Ya. Aku bersama pasanganku malam ini, Ma." Wanita paruh baya itu mengalihkan pandangannya. Lynne tersenyum semanis mungkin dan memperkenalkan diri. "Saya Lynne. Lynne Dawn." "Panggil aku Fanny, tanpa tante.” Fanny berkata sambil menatap Lynne dari atas hingga ke bawah, menilai. Namun, hanya sebentar, karena setelahnya dia kembali berbicara pada Gabriel. “Duduklah, kami sudah menunggu kalian.”  Lynne mengangguk diiringi dengan tarikan Gabriel setelah mendengar perkataan Fanny. Lelaki itu mempersilakan Lynne untuk duduk terlebih dahulu. Di depan Lynne saat ini, ada dua orang tua dengan gaya yang elegan tengah menatapnya dengan penuh intimidasi. Sepertinya mereka adalah kakek dan nenek Gabriel.  Lynne menarik napasnya. Memang benar kalau aura di sini mencekam, karena untuk menelan ludah saja, Lynne ragu. Semua orang diam dan memperhatikan mereka seolah Lynne dan Gabriel adalah narapidana yang tengah menunggu hukuman. "Jadi ... akhirnya kau keluar dari lubangmu?" Pertanyaan itu keluar dari kakek Gabriel. Entah siapa namanya, Lynne tidak tahu. "Setelah bertahun-tahun hidup seperti pengecut, kau akhirnya muncul di publik dengan seorang w***********g? Hebat sekali." Tangan Lynne bergetar. Ia baru mendengar kakek tua ini berbicara dua kali. Tapi ia sudah tertohok setengah mati. Gabriel menelan ludah kasar dan menggengam tangan Lynne. Mengelusnya pelan, seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja. "Dia bukan w***********g, GrandPa. Dia pasanganku. Pasangan yang sudah kupilih," ucap Gabriel. Terdengar suara kekehan sinis dari sebrang sana. "Bagaimana kami bisa percaya kalau dia bukan w***********g?" sela nenek Gabriel. Oh astaga. Apa keluarga Wallance memang seaneh ini? Menuduh seseorang yang bahkan mereka tak kenal? Lynne bersyukur mama Gabriel tidak terlihat seperti mereka. Akan tetapi, ia juga bertanya-tanya bagaimana bisa Fanny melewati semua ini? "Saya wanita baik-baik. Saya tidak pernah ke club ataupun melakukan tindakan tidak terpuji lainnya." Lynne buka suara. Ia berusaha untuk berani dan tak terintimidasi meski tatapan kedua orang tua itu sangat tajam, seolah mau merobek tubuhnya. "Kaupikir hanya karena kau tidak pernah ke club, maka kau menjadi orang yang baik?" tanya nenek Gabriel. "Jangan terlalu bermimpi, Nona. Kami tidak bisa memercayai orang lain sejak Gabriel membuat masalah lima belas tahun yang lalu." Lynne terdiam. Jadi benar, Gabriel sudah membuat masalah besar dulu. Tampaknya masalah ini cukup serius. Nenek Gabriel menatapi Lynne lekat, membuat wanita itu ketakutan. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Lynne bingung mendengar pertanyaan itu. Namun, dengan cepat ia menggeleng. “Tidak pernah.” "Tolong jangan sakiti tunanganku." Gabriel tiba-tiba buka suara. "Aku datang ke sini untuk merayakan anniversary pernikahan kedua orang tuaku dan membuka diri ke publik agar orang lain tidak mengira aku gay. Bukannya membuat tunanganku menjadi bahan gunjingan." "Jangan bodoh. Mereka pasti tahu kalau kedatanganmu hanya untuk menepis rumor gila itu," ujar nenek Gabriel. "Belum lagi, kau membawa wanita yang tak jelas asal-usulnya. Kita tidak tahu siapa dia. Mungkin saja sejak awal dia mengincar hartamu, Gabriel." "Saya tidak begitu," tukas Lynne cepat. "Lihat? Kau menemukan w***********g ini di mana? Bagaimana bisa dia menjawab omonganku seperti itu?" tanya nenek tua itu. "Hei, Nona. Apa kau tidak punya sopan santun? Apa kedua orangtuamu tidak pernah mengajarkannya? Atau jangan-jangan kedua orangtuamu juga tidak mengerti? Memang susah berurusan dengan orang miskin yang tak tahu malu. Menjijikan. Inilah alasannya kenapa aku membenci kaum kalian." Seolah belum puas, wanita tua itu menatap ke arah Fanny dan berseru, “Inilah akibatnya kalau dia terlalu dimanja seperti itu. Pada akhirnya Gabriel kembali membuat masalah. Aku hanya meminta dia untuk membereskan rumor itu, bukannya datang dengan wanita miskin ini.” Fanny hanya bisa termangu mendengar perkataan mertuanya yang pedas. Dia sudah terbiasa, mungkin anak-anaknya juga demikian, tetapi gadis itu … bagaimana nasibnya? Mata Lynne memanas. Ia tidak apa-apa jika dihina, ia tidak apa-apa jika dimaki, tetapi kalau ada yang mengejek kedua orangtuanya yang sudah meninggal, Lynne tidak bisa tinggal diam.  Ia ingin membantah semua perkataan nenek Gabriel dan membalasnya telak. Namun, Lynne sadar, ia harus menahannya. Ia pasti bisa membendung emosi bercampur tangis dalam dirinya. Jangan menangis. Jangan menangis. Jangan biarkan mereka menang, batin Lynne pada dirinya sendiri. "Kau menangis?" serang nenek Gabriel sembari terkekeh penuh ejekan. "Kau menggunakan air mata buaya untuk menipu kami? Caramu sangat murahan, Nona." Gabriel ikut melirik dan mendapati mata Lynne memang berkaca-kaca. Ia mengeratkan pegangan tangannya, berharap Lynne bisa tahan banting dengan semua ini. "Aku mencintainya, GrandMa, GrandPa. Aku membawanya kemari bukan hanya sekadar untuk menepis rumor itu dan tolong jangan salahkan Mama, karena semua ini murni keinginanku sendiri," ucap Gabriel penuh keyakinan. "Oleh karena itu, jangan sakiti tunanganku. Ia berharga untukku dan aku tidak suka melihatnya menangis." Lynne tertegun. Ya Tuhan, jantungnya berdebar lagi. Pengakuan palsu yang Gabriel lontarkan sukses membuat Lynne terbang ke awang-awang. Ia sejenak melupakan kesedihannya dan memandang ke arah Gabriel. Mungkin benar. Dalam cinta, seberapa lama kau mengenal seseorang bukanlah hal yang penting. Karena hari ini Lynne sadar, ia sudah jatuh cinta dengan Gabriel sedalam-dalamnya. Terlepas dari lelaki itu adalah keturunan keluarga Wallance ataupun dia adalah lelaki tampan yang mungkin kejam, Lynne memahami satu hal, bahwa ia sudah memberikan hatinya pada lelaki ini. Seluruh hatinya. Lynne terlalu asik memandangi sang atasan sampai tidak sadar kalau nenek Gabriel tengah memicingkan mata, seolah menilai hubungan mereka berdua. "Para wartawan tidak akan semudah itu percaya padamu." Kakek Gabriel meninum tehnya lalu memandangi mereka berdua penuh tanda tanya. "Mereka pasti membuat artikel lain yang menguatkan asumsi bahwa kau adalah gay. Kau tidak memberi bukti yang kuat, Gabriel. Dan masyarakat lebih suka melihat fenomena CEO Wallance yang suka sesama jenis dibandingkan dengan kebenaran yang ada." Gabriel menghela napasnya frustrasi. Kenapa manusia begitu rumit? Kenapa mereka semua mau menjerumuskan Gabriel? Kenapa semua orang tidak percaya kalau ia normal? Sial. Gabriel berjanji akan memberi perhitungan pada setiap orang yang menulis berita bohong tentangnya. "Aku akan menuntut mereka." Gabriel menggeram. "Semua yang membuat berita tak benar tentangku akan kuproses hingga ke jalur hukum." "Lakukanlah." Kakek Gabriel terkekeh. "Jika kau melakukannya, itu berarti kau menyetujui bahwa wanita di sebelahmu hanya digunakan untuk menepis rumor. Lalu para ngengat-ngengat itu akan semakin gencar menyerangmu." Gabriel menghela napasnya berat. Pusing dengan semua keadaan ini. Ia seperti berada di dalam labirin yang tak berujung dan Gabriel ingin segera keluar dari sini. "Kalau memang kau serius melakukannya atas keinginanmu sendiri maka aku punya satu solusi," ucap nenek Gabriel tiba-tiba. “Saran yang sangat baik, tapi berisiko. Aku tidak menyetujui hal ini. Namun, mungkin inilah jalan terbaik.” Seluruh orang yang berada di ruangan itu terdiam. Mereka menunggu kelanjutan dari para tetua untuk berbicara. "Kalian berdua harus menikah."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD