bc

Sistem Penakluk Mantan Musuh

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
family
drama
enimies to lovers
like
intro-logo
Blurb

Terlempar dari kehidupan masa lalu yang penuh pertumpahan darah, Lin Xinyi terbangun di era modern sebagai seorang ibu muda di kota Shanghai. Sialnya, takdir mempermainkannya. Pria yang kini menjadi suaminya sekaligus ayah dari anak balitanya adalah Lu Junfeng—CEO dingin bertangan besi yang di kehidupan masa lalu merupakan musuh bebuyutan paling ia benci!​Hubungan pernikahan mereka hambar dan penuh kecurigaan. Lu Junfeng menganggap Lin Xinyi menikahinya hanya demi harta dan status keluarga Lu. Di ambang keputusasaan untuk mempertahankan posisinya demi sang anak, sebuah suara mekanis tiba-tiba bergema di kepala Lin Xinyi:​[Sistem Suara Hati Aktif. Misi Utama: Buat mantan musuhmu jatuh cinta lagi dalam waktu 100 hari, atau Anda akan tereliminasi!]​Berbekal panduan sistem, Lin Xinyi mulai menyusun strategi. Di depan Lu Junfeng, dia bersikap sebagai istri yang penurut, lembut, dan sempurna. Namun, di dalam hatinya, Lin Xinyi tak henti-hentinya mengumpat, mengejek, dan merencanakan trik busuk untuk menaklukan pria itu.​Lin Xinyi merasa di atas angin, tanpa menyadari satu eror besar pada sistemnya: Lu Junfeng bisa mendengar setiap patah kata yang berkecamuk di dalam hatinya!​Saat Lin Xinyi menyuguhkan teh sambil tersenyum manis, Lu Junfeng mendengar: “Minum ini, dasar Tuan Muda Lu yang menyebalkan! Cepat jatuh cinta padaku agar misiku selesai!”​Melihat wajah bermuka dua sang istri, Lu Junfeng yang awalnya sinis justru mulai merasa terhibur. Perlahan, dendam masa lalu mencair, menggugah kembali rasa cinta yang sempat terkubur. Bagaimana jadinya jika Lin Xinyi tahu bahwa seluruh isi kepalanya telah telanjang di hadapan pria yang paling ingin dia kelabui?

chap-preview
Free preview
Terlahir Kembali di Shanghai
Rasa sakit yang menghujam d**a itu perlahan memudar, digantikan oleh sensasi dingin yang menusuk tulang. Lin Xinyi mengira kematian di tengah medan perang masa lalu akan membawanya ke keabadian yang tenang. Namun, saat kelopak matanya yang terasa seberat timah berhasil terbuka, hal pertama yang menyambutnya bukanlah hamparan tanah tandus ataupun gerbang akhirat, melainkan kilauan lampu gantung kristal yang megah dan langit-langit kamar yang asing. ​Lin Xinyi tersentak duduk. Napasnya terengah-engah. ​"Di... di mana ini?" gumamnya serak. ​Dia menatap kedua tangannya. Kulitnya putih bersih, halus, tanpa ada satu pun bekas luka pedang atau kapalan akibat bertahun-tahun memegang senjata. Pakaian yang dikenakannya adalah sepotong gaun tidur sutra satin berwarna hijau zamrud yang sangat lembut—sesuatu yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. ​Belum sempat rasa bingungnya terjawab, kepalanya mendadak dihantam rasa sakit yang luar biasa. Kilasan memori yang bukan miliknya berputar paksa di dalam benaknya seperti gulungan film. ​Ini adalah era modern. Kota Shanghai. ​Pemilik tubuh ini juga bernama Lin Xinyi, seorang wanita muda dari keluarga kelas menengah yang entah bagaimana caranya berhasil menikah dengan pewaris tunggal konglomerat paling berpengaruh di kota ini. Namun, pernikahan itu hambar. Lin Xinyi yang asli dikenal sebagai wanita yang lemah, manipulatif, dan dicurigai hanya mengincar harta. ​Oekkk... Oekkk... ​Suara tangisan bayi yang melengking memecah keheningan kamar, membuyarkan lamunan Xinyi. Refleks militernya dari masa lalu membuat Xinyi langsung melompat turun dari ranjang king-size tersebut. Di sudut kamar, terdapat sebuah ranjang bayi berukir indah. ​Xinyi mendekat dengan ragu. Di dalam sana, seorang bayi laki-laki berusia sekitar beberapa bulan sedang menangis sesenggukan, menendang-nendang kecil selimutnya. Begitu melihat wajah bayi itu, sudut hati Xinyi yang paling dalam mendadak bergetar hebat. Naluri keibuan dari memori pemilik tubuh ini mengalir deras, menyatu dengan jiwanya. ​"Lu Lian..." sebut Xinyi lirih, membaca nama sang anak yang terlintas di kepalanya. dengan canggung namun lembut, dia mengangkat bayi itu ke dalam dekapannya, menepuk-nepuk punggungnya perlahan hingga tangisan bocah kecil itu mereda menjadi isakan pelan. ​Cklek. ​Suara pintu kamar yang terbuka membuat bulu kuduk Xinyi meremang. Naluri bertarungnya berteriak waspada. Dia langsung berbalik, memeluk Lu Lian lebih erat untuk melindunginya, sementara matanya menatap tajam ke arah pintu. ​Seorang pria melangkah masuk. ​Pria itu tinggi menjulang, mengenakan setelan jas hitam formal yang sangat pas di tubuh tegapnya. Garis rahangnya tegas, matanya setajam elang, dan auranya begitu dingin hingga sanggup membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat. Dia sedang melonggarkan dasinya dengan gestur yang elegan namun acuh tak acuh. ​Begitu mata mereka bertemu, napas Lin Xinyi tercekat di tenggorokan. Jantungnya bergemuruh hebat, bukan karena terpesona oleh ketampanan pria itu, melainkan karena rasa syok yang luar biasa. ​Lu Junfeng! ​Pria di hadapannya ini memiliki wajah, mata, bahkan aura intimidasi yang persis sama dengan musuh bebuyutan paling berdarah dingin yang ia benci setengah mati di kehidupan masa lalunya! Pria yang bertanggung jawab atas separuh penderitaannya dulu! ​"Kenapa menatapku seperti itu?" suara berat dan dingin milik Lu Junfeng memecah keheningan, matanya menatap Xinyi dengan kilatan sinis yang tak disembunyikan. Suasana kamar seketika membeku. Tatapan sinis Lu Junfeng membuat insting Lin Xinyi menegang, seolah ia sedang berhadapan kembali dengan jenderal musuh di garis depan pertempuran. Xinyi menunduk, menatap bayi di pelukannya, berusaha keras mencerna memori tubuh ini agar tidak salah melangkah. ​Di kehidupan ini, dia adalah seorang istri yang tidak dianggap. ​Xinyi menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam tatapan tajamnya dan mengubahnya menjadi pandangan yang lebih lembut—atau setidaknya, tampak tidak berbahaya. "Lian'er tadi menangis," jawab Xinyi dengan nada sedatar mungkin, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya. "Aku hanya menenangkannya." ​Lu Junfeng mendengus pelan, melangkah mendekat ke arah ranjang. Aura intimidasinya yang pekat membuat Xinyi refleks mundur satu langkah. ​"Menenangkannya?" Lu Junfeng menatap Xinyi penuh selidik. "Sejak kapan kamu peduli pada anak ini, Lin Xinyi? Bukankah biasanya kamu hanya peduli pada kartu kredit yang kukasih?" ​Xinyi mengepalkan sebelah tangannya yang bebas. b******k, umpatnya dalam hati. Jika ini di masa lalu, pria sombong di hadapannya ini pasti sudah ia tebas dengan pedang. Namun, sebelum Xinyi sempat membalas ucapan ketus itu, sebuah suara mekanis yang dingin dan asing mendadak bergema, berdering nyaring langsung di dalam pusat kesadarannya. ​Ding! ​[Sistem Suara Hati berhasil diaktifkan. Melakukan sinkronisasi dengan jiwa pengguna...] [Sinkronisasi 100% Selesai.] [Selamat datang, Pengguna Lin Xinyi. Anda telah diberikan kesempatan kedua untuk hidup di era modern.] ​Xinyi tersentak. Matanya membelalak panik. Dia celingukan menatap sekeliling kamar, namun tidak ada siapa-siapa lagi di sana selain dirinya, sang bayi, dan Lu Junfeng yang kini mengernyitkan alis melihat tingkah anehnya. ​'Suara... suara siapa itu?! Keluar!' seru Xinyi, berteriak di dalam benaknya sendiri. ​[Saya adalah Sistem Suara Hati Anda. Mulai detik ini, kelangsungan hidup Anda terikat pada misi utama.] [Misi Utama: Buat mantan musuh bebuyutan Anda, Lu Junfeng, jatuh cinta kembali kepada Anda dalam waktu 100 hari!] [Peringatan: Jika misi gagal atau waktu habis, jiwa Anda akan langsung dieliminasi dari dunia ini secara permanen!] ​Mata Xinyi hampir melompat keluar dari rongganya. Membuat si monster es ini jatuh cinta padaku?! Dalam 100 hari?! Yang benar saja! Lebih baik aku disuruh melawan seribu pasukan sendirian! amuk Xinyi di dalam hatinya, frustrasi dengan tuntutan gila dari suara gaib tersebut. ​Sementara itu, Lu Junfeng masih berdiri di tempatnya, menatap aneh ke arah istrinya yang mendadak diam membeku dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah—mulai dari syok, bingung, hingga melotot kesal. ​Namun, tepat saat Lu Junfeng hendak membuka suara untuk menegurnya, sebuah suara asing bernada cempreng dan penuh emosi mendadak terngiang, bergaung dengan sangat jelas di dalam gendang telinga Lu Junfeng: ​“Sialan! Dasar sistem gila! Bagaimana bisa aku harus menjinakkan harimau kutub seperti dia? Lihat wajahnya yang ditekuk itu, benar-benar minta ditampol seperti di masa lalu! Kalau bukan demi bertahan hidup dan melindungi bayi lucu ini, sudah kupatahkan lehernya sekarang juga!” ​Lu Junfeng langsung waspada. Langkahnya terhenti. Mata elangnya menyapu seluruh sudut ruangan yang sunyi, lalu pandangannya terkunci rapat pada bibir Lin Xinyi. ​Bibir wanita itu tertutup rapat. Dia sama sekali tidak bicara. ​Namun, suara umpatan yang sangat bising itu masih terus menggema di kepala Lu Junfeng, terdengar persis seperti warna suara Lin Xinyi yang sedang mengamuk. ​Lu Junfeng menyipitkan matanya, menatap istrinya dengan kilatan tak percaya yang mulai muncul di balik wajah datarnya. Suara apa... yang baru saja kudengar ini? Lu Junfeng mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Sebagai seorang CEO yang terbiasa mengendalikan segala situasi dengan logika, apa yang baru saja terjadi benar-benar di luar nalar. Dia menatap Lin Xinyi dengan intensitas yang bisa membuat orang awam gemetar ketakutan. ​“Apa dia masih menatapku? Cepat palingkan wajahmu, monster es! Matamu itu membuatku ingin mencoloknya dengan sumpit! Sialan, panel sistem ini bilang indeks cintanya saat ini adalah minus sepuluh persen? Bagaimana cara menaikkannya kalau dia sekaku papan gilasan begini?!” ​Suara bising itu kembali bergema di kepala Junfeng. Kali ini, dia yakin seratus persen. Suara itu tidak berasal dari udara, melainkan langsung terproyeksi ke dalam kesadarannya. Dan yang paling gila, suara itu sinkron dengan ekspresi kekesalan yang samar di wajah Lin Xinyi. ​Dia... tidak bicara, tapi aku bisa mendengar isi kepalanya? Batin Junfeng, tertegun. ​Sebagai pria yang di kehidupan masa lalunya adalah seorang jenderal perang yang licik dan penuh taktik, Junfeng tidak langsung panik. Sebaliknya, rasa ingin tahunya terusik. Sudut bibirnya hampir saja terangkat, namun dia berhasil menahannya dan mempertahankan wajah datarnya yang sedingin es. ​Sementara itu, Xinyi yang sama sekali tidak tahu bahwa benteng pikirannya telah bocor, mencoba mengikuti instruksi darurat dari Sistem. ​[Saran Sistem: Mulailah dengan pendekatan fisik yang lembut dan kata-kata manis untuk mencairkan suasana.] ​Xinyi menghela napas pasrah di dalam hati. Dia memaksakan seulas senyum paling manis yang bisa dia buat—walaupun baginya, senyuman itu terasa seperti topeng yang dipasang paksa. ​"Suamiku..." panggil Xinyi dengan suara yang dibuat selembut sutra, melangkah perlahan mendekati Junfeng sambil menggendong Lu Lian. "Kamu pasti lelah setelah seharian bekerja di kantor. Mau aku ambilkan air hangat untuk mandi?" ​Di luar, dia tampak seperti sosok istri teladan yang sangat perhatian. Namun, di saat yang bersamaan, jeritan hati Xinyi berdendang dengan nada yang sangat kontras di telinga Junfeng: ​“Hueeek! Menjijikkan sekali! Aku memanggilnya 'suamiku'? Lidahku rasanya mau rontok! Cepat jawab 'tidak perlu' dengan wajah sombongmu itu, biar aku bisa langsung tidur dan mengabaikanmu!” ​Mendengar kutukan batin istrinya, kilatan jenaka yang langka melintas di mata gelap Lu Junfeng. Oh, jadi kamu sedang berpura-pura dan bermain peran, Lin Xinyi? pikir Junfeng, merasa sangat terhibur. Dendam dan kecurigaan yang biasanya dia rasakan setiap kali melihat wanita ini mendadak menguap, digantikan oleh rasa penasaran yang besar. ​Junfeng sengaja mengambil langkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Xinyi bisa mencium aroma parfum maskulin yang pekat dari tubuh suaminya. ​"Kebetulan sekali, pundakku memang agak pegal malam ini," ucap Junfeng dengan nada berat, menunduk untuk menatap langsung ke dalam manik mata Xinyi. "Setelah menidurkan Lian'er, pijat pundakku di ranjang. Bagaimana, Istriku?" ​Mata Lin Xinyi langsung membelalak. Tubuhnya menegang kaku. ​Dan dalam detik itu juga, Lu Junfeng harus menahan tawa setengah mati saat mendengar jeritan histeris yang luar biasa berisik di dalam kepalanya: ​“APA?! Memijatnya?! Di ranjang?! Dasar m***m, ambil kesempatan dalam kesempitan! Kalau tanganku ini menyentuh pundakmu, yang ada aku akan langsung mematahkan tulang belikatmu, Lu Junfeng!!!”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.5K
bc

Orang Ketiga

read
36.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.4K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
4.6K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
18.1K
bc

Babysitter Canduku

read
20.1K
bc

Ranting Yang Patah

read
40.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook