chapter 6

1160 Words
Ini tentangku, seorang gadis sederhana yang tinggal di kota metropolitan. Namaku Ria Santika Dewi. Seorang wanita sekaligus ibu rumah tangga dan wanita karir tentunya. Usiaku 27 tahun. Aku memiliki kulit kuning langsat dengan tinggi yang semampai. Aku memiliki seorang suami yang sangat ku cintai bernama Rif'an Aufa Fatahillah. Rif'an adalah suami yang sederhana, berwibawa dan irit bicara. Ia juga lelaki yang sangat tampan. Kesholehannya membuatku jatuh hati tak karuan padanya. Mendeskripsikan tentang suamiku Rif'an tak akan ada habisnya. Bagiku dia adalah segalanya untukku. Ia juga adalah Imam yang selalu diidamkan oleh wanita dan aku bersyukur mendapatkannya sebagai imamku. Rif'an adalah pemuda yang tak pernah meminta apapun padaku. He is always treat me like a Queen, itulah istilah yang saat ini digunakan oleh kaum remaja menggambarkan tentang sikapnya padaku. Mengingat tentang pertemuan kami membuatku tiada henti tersenyum sendiri. Pertemuan kami berawal dari dia yang salah ambil kita ku saat di pondok pesantren. Dulu dia adalah tamu sekaligus pembicara di acara pondok pesantrenku. Dia datang dengan kharisma yang luar biasa. Membuat para santriwati terpesona dengan ketampanannya, kesholehannya, dan tutur bicaranya yang lembut. Saat itu aku masih mengabdi di pondok pesantrenku. Dan dia datang mengisi acara di pondok pesantrenku. Saat itu kyaiku atau pak lekku memintanya untuk mengambil kitabnya. Akan tetapi kitab yang diambilnya justru salah. Justru kitabku lah yang diambilnya bukan kitab pak lekku. Tentu aku merasa malu sekali saat itu. Di kitabku ada berbagai coretan sajakku dan juga ada fotoku. Pak lekku dan dia membaca semua sajak buatanku. Aku merasa sangat malu sekali. Bahkan saat acara besar di pondokku dia mengucapkan sajak buatanku di hadapan santriwati. Semua santriwati bersorak ria mendengarkan sajak buatanku yang dituturkannya. Sungguh aku merasa tiga kali lipat malunya. Ustad dan ustadzah di pesantren menggodaku terus-terusan. Bahkan ada yang berkata kepadaku jika itu tandanya dia menyukaiku. Apa itu benar? Tentu aku tak tau itu karena aku bukanlah seorang cenayang. Aku tak tau itu karena aku tak pernah tau apapun tentang mas Rif'an. Hal yang ku tau hanya kebaikannya selama ini pada pak lekku. Setelah acara itu selesai aku tak pernah mendengar kabar apapun tentangnya. Dia tak pernah datang kembali ke pesantren pak lekku. Dan aku juga semakin sibuk mengurus butik gamisku. Banyaknya pesanan dari konsumen membuatku sibuk wira-wiri. Aku bahkan tak sempat menengok pak lekku di pondoknya. Kesibukanku membuat kedua orang tuaku khawatir, bahkan pak lekku selalu menelfonku dan menanyakan kabarku. Pak lek selalu menelfonku mungkin karena panggilan dari Abi dan umikkku yang jarang ku angkat. Pak lek selalu bertanya padaku kapan aku pulang? Dan ia selalu bertanya bagaimana kondisiku?Apa aku sudah makan dengan baik? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Aku selalu bersyukur mendapatkan banyak kasih sayang dari keluargaku dan keluarga pak lek. Bagi keluarga pak lekku aku adalah anak kesayangannya seperti anak kandungnya. Aku juga selalu dimanja olehnya. Bahkan masa kecilku tinggal di rumah pak lek. Oleh karena itu aku dibesarkan oleh pak lekku di pesantrennya. Abah dan umik tak pernah khawatir jika aku berada di rumah pak lek. Mereka berdua selalu senang melihatku diasuh pak lekku. Pak lekku bernama Muhammad Hambali, ia seorang kyai besar di pondok pesantren ternama. Ia memiliki 4 anak laki-laki. Dulu ia sangat ingin memiliki seorang putri namun ia justru seorang 4 putra. Alasan keinginannya itulah yang membuatnya izin kepada Abah dan umikku untuk mengasuh dan membesarkanku. Dan tentu Abah dan umikku mengizinkannya. Ah kembali tentang kisahku yang bertemu dengan suamiku. Saat itu Pak lekku memintaku untuk pulang. Ia berkata padaku jika itu sangat penting untukku. Tentu aku heran dan merasa khawatir pada kondisi pak lek. Pak lek tak pernah menyuruhku pulang jika hal itu penting sekali. Oleh karena itu ku putuskan untuk cuti seminggu. Keadaan pak lek lebih berharga dibanding pekerjaanku. Ku serahkan pekerjaanku pada asistenku. Sebelum pulang ke rumah tak lupa ku beri bekal dan langkah-langkah kepada asistenku. Aku juga berpesan padanya untuk mengabariku jika ada masalah. Dan tentu asistenku selalu sigap dengan tugas yang ku berikan. Setelah semua beres aku langsung pulang ke rumah. Ku lajukan mobilku dengan cepat. Ah ya aku sangat suka mengendarai mobilku sendiri daripada ada seorang supir. Pak lek selalu khawatir tentangku yang mengendarai mobil sendiri. Mungkin karena aku seorang wanita dan ia takut aku kenapa-napa. Ia bahkan selalu menelfonku lama saat aku sedang mengendarai mobil sendirian. Semua itu ia lakukan karena saking khawatirnya pak lek padaku. Pak lek selalu memberikanku perhatian yang sangat banyak. Dan tentu aku merasa sangat bersyukur. Satu jam ku lajukan mobilku akhirnya aku sampai di pondok pesantren pak lekku. Ku parkirkan mobilku kemudian keluar. Aku buru-buru masuk ke dalam rumah dan memanggil pak lek. "Pak lek..pak lek Ten pundi?" Panggilku berjalan masuk ke dalam rumah Dan kalian tau saat aku berteriak memanggil pak lek aku tak sadar tentang satu hal. Satu hal itu adalah ada tamu di ruang tamu rumah pak lek. Tentu aku sangat malu dan menundukkan pandanganku. Pak lek tertawa sumringah melihatku yang dilanda rasa malu. "Nduk Ria kamu sudah pulang akhirnya. Sini duduk disamping pak lek." Pinta pak lek menepuk di bangku sofa di sebelahnya "Njeh pak lek." Jawabku, aku hampiri pak lek dan duduk di sampingnya. Ku kecup tangan pak lek dan bertanya "Pak lek ada apa atuh minta Ria cepat pulang? Pak lek gerah nopo? Pak lek jaga kesehatan dong." Aku mengomeli pak lek tanpa sadar dengan tamu yang datang hari ini. Pak lek tersenyum padaku dan mencubit pipiku "Pak lek sehat nduk. Cuma ada seseorang yang ingin bertemu kamu nduk." "Siapa pak lek?" tanyaku dengan penasaran "Itu pria di depanmu nduk. Liatlah." Tunjuk pak lek tanpa mengatakan namanya justru ia menunjuk pada seorang tamu yang duduk di depanku Ku tolehkan wajahku tuk melihatnya. Dan dia ternyata adalah Rif'an Aufa Fatahillah. Seorang tamu sekaligus pembicara yang menuturkan sajak buatanku saat acara itu. Oh tidak kenapa dia datang kemari? Apa dia masih ingin membuatku malu? Sebenarnya niatnya datang kemari untuk apa? Tentu aku merasa penasaran dengan kedatangannya setelah sekian lama tak datang ke pesantren ini. Dan dia juga datang bersama kedua orang tuanya. Sebenarnya ada apa? "Assalamualaikum, ada apa ya cari saya?" Tanyaku dengan berani di hadapan orang tuanya dan pak lekku. Aku tak suka basa-basi dan hal yang ku pilih adalah menanyakannya secara langsung padanya "Waalaikumsalam sang pujangga maestro." Sapanya dengan senyum yang seolah menyimpan ejekan padaku Tentu aku sangat malu saat dia menyebutku seperti itu. Sebenarnya rasa kesalku lebih besar daripada Maluku. "Tanpa basa-basi saja ya, kesayanganmu mencariku kesini ada apa wahai pemuda?" Tanyaku dengan lantang "Apa anda sangat ingin tau kedatanganku kesini?" Tanyanya yang masih ingin bermain-main denganku "Iya cepat jawab!" Ku sorotkan mataku menatapnya dengan tajam. Melihatnya tanpa merasa takut, justru yang ku lakukan adalah mengancamnya "Kedatangan saya kesini adalah ingin mengkhitbah engkau putri Ria Santika Dewi." Tuturnya dengan tepat menusukku. Aku merasa kaget sekaligus tak percaya. Ku hantamkan tanganku di meja 'Brak!' "Jangan main-main anda!" "Saya tak pernah main-main dan saya serius itu putri maestro." Jawabnya Apa ? Jadi dia tak main-main? Lantas apa yang harus ku jawab? Apakah jawaban dari Ria pada pinangan Rif'an? Ingin tau? Nantikan di chapter selanjutnya~^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD