Chapter 7

2611 Words
"Dilamar oleh laki-laki yang baik tak akan datang dua kali nduk jadi pikirkanlah" - Pak Lek - Setelah ia mengucapkan keseriusannya. Aku terdiam sejenak mengamatinya. Tak pernah aku kira dia datang untuk mengkhitbahku. Padahal kita tak pernah saling mengenal. Dan sudah lama juga kita tak pernah bertemu lantas kenapa dia memilihku? Sungguh aneh yang ku pikirkan tentang pria di depanku ini. Apa dia ingin berbuat jahat padaku? Ah tak mungkin! Dia terlihat pendiam dan bukan berwajah seperti penjahat pula. Lantas apa alasannya mengajakku menikah? Pokoknya Aku tak boleh terlalu gegabah untuk memutuskannya. Karena pilihan menikah tak bisa diambil secara langsung dan semua harus dipikirkan secara matang-matang. Bagiku pernikahan adalah momen yang sakral untuk pasangan. Dan pernikahan tak bisa diputuskan secara langsung. Sejatinya kita sebagai seorang wanita harus siap segalanya. Siap untuk melayani, siap untuk menerima perbedaan, siap untuk menerima adat istiadat yang baru, siap menerima keluarga baru dan siap untuk berubah. Segala kesiapan itu harus benar-benar dipikirkan baik jasmani maupun batin. Oleh karena itu, aku tak akan memutuskan secara langsung. Saat aku tengah diam dan berfikir Pak Lekku menyenggol lenganku "Nduk gimana? Kamu bersedia? Jawabannya ditunggu atuh nduk." "Njih pak lek." Setelah menjawab pertanyaan pak Lek ku liat matanya "Apa alasanmu mengajakku untuk menikah?" Tanyaku yang membuat pak lek terkejut mendengar pertanyaanku "Nduk.." "Pak Lek aku hanya ingin bertanya padanya jadi biarkan dia menjawab." Potongku terhadap perkataan yang ingin pak lek ucapkan padaku Dia terlihat tenang kemudian ia melihatku "Tentu alasanku mengajakmu menikah adalah untuk beribadah pada Allah. Tiada keseriusan seorang laki-laki pada seorang perempuan yang lebih utama adalah menikah. Menikah untuk menyempurnakan sebagian iman kita. " "Apa kau yakin denganku? Dan hal apa yang membuatmu yakin terhadapku? Kita saja tak pernah saling mengenal dan kau mengajak seorang wanita yang belum pernah kau kenali. Apa itu tak aneh?" Ku berondong dia dengan berbagai pertanyaan yang ketus. Aku ingin mencari tau seberapa besar dia bisa menaklukkanku. Pak Lekku merasa tak nyaman, ia memegang tanganku "Nduk gak baik berkata seperti itu." Aku tak menggubris nasehat pak lekku. Aku terus memberondongnya dengan pertanyaan lagi "Asal anda tau seorang laki-laki yang baik akan lebih mengenali perempuannya dahulu sebelum ia berjalan ke jenjang keseriusan." "Dan anda mengajak saya menikah tanpa anda mengenali pribadi saya. Itu hanya omong kosong!" Ketusku Sebenarnya aku lebih senang seorang laki-laki mengenalku lebih dalam lagi sebelum ke jenjang pernikahan. Dan salah satu prinsipku sebelum menikah adalah saling mengenal satu sama lain. Prinsip itu tak akan berubah sampai kapanpun. Dia bukannya merasa takut dia malah tersenyum padaku "Mengenal seorang pasangan lebih utama dilakukan setelah menikah. Itu jauh lebih nikmat karena menjadi ladang pahala untuk kita. Sedangkan mengenal satu sama lain sebelum menikah bisa saja menjadi hawa nafsu seorang hamba. Dan saya ingin mengajak anda pada kebaikan bukan kemaksiatan." Jawabannya tenang tapi menusuk hatiku. Jawabannya juga membuatku tak berkutik dan baru kali ini ada seseorang yang berhasil mengalahkan tutur kataku. Ku fikirkan semua perkataannya ada benarnya. Namun tetap saja aku tak bisa mengambil keputusan secara langsung. Pernikahan itu harus dipikirkan secara matang-matang! "Nduk apa yang nak Rif'an katakan itu benar jadi gimana nduk?" Tanya Pak Lekku mengawali pembicaraan diantara kebekuan diantara kami berdua Aku berdiri dan menatapnya "Silahkan anda pulang dan kembalilah setelah saya memutuskan pilihan saya. Maaf dan saya permisi." Setelah mengatakan hal itu ku berjalan meninggalkan Pak Lek dan dia. Pak Lek terus memanggilku namun aku tak menggubrisnya. Aku juga bersisipan dengan Bu Lekku. Ia juga bertanya kepadaku kenapa pak Lek memanggilku dengan keras. Aku hanya diam dan segera masuk ke dalam kamar. Ku kunci kamarku dan tak ku biarkan siapapun masuk. Aku ingin tenang. Kedatangannya merusak ketenanganku. Sebenarnya aku memiliki trauma. Dulu aku mencintai seorang pria yang bernama Fahriyan, sahabat masa kecilku. Dia pernah berniat serius denganku akan tetapi takdir berkata lain. Dia memilih wanita lain dan sungguh sejak saat itu aku menjauhi semua laki-laki yang berniat serius denganku. Perbincangan tentang pernikahan juga aku hindari. Tawaran Pak Lek, Bu lek, Abah dan Umik tentang pernikahan juga selalu ku hindari. Untuk melupakan rasa traumaku, ku sibukkan diriku untuk mengurus butik gamisku. Lebih baik berkarir daripada memikirkan tentang pernikahan. Sebenarnya butik gamis ini adalah pemberian Pak Lekku. Ia memberikanku butik agar aku bisa melupakan masa lalu kelamku. Dan aku merasa sangat bersyukur sekali pikiranku tentang masa laluku berhasil ku lupakan. Dan sekarang aku mengingatnya lagi. Sungguh aku merasa kecewa pada sikap pak lek! Jika saja pak lek tak menerimanya untuk bertamu dan memintaku untuk bertemu dengannya mungkin saja aku takkan mengingat tentang masa laluku lagi. Ku ambil air wudhu dan segera bertadarus untuk menghilangkan kesedihanku. Suara pak lek dan Bu lek terus memanggilku di depan pintu kamarku. Ku kencangkan suaraku untuk mengaji dan ku abaikan panggilan mereka berdua. Beberapa menit lagi tak ku dengar suara mereka lagi. Mungkin karena mereka mengerti tentang kesedihan yang ku rasakan. Oleh karena itu mereka berdua tak lagi menggangguku. Setelah aku merasa lega dengan kepergian mereka berdua ku berhenti mengaji. Ku lipat dan rapikan mukenahku. Ku letakkan kembali mushafku di meja. Beranjak dari dudukku dan ku rebahkan diriku di kasurku. Ku pejamkan mataku sejenak lama kelamaan aku terlelap dalam tidurku. ***** Drrtt.. Suara getar dan dering ponselku membangunkanku. Ku liat siapa yang sedang menelfonku dan ternyata asisten butikku yang menghubungiku dari tadi. Segera ku jawab telfon dari asisten butikku. "Iya Rena ada apa? Butik tak apa kan? Apa ada masalah? Kamu menelfonku karena butik sedang ada masalah ya?" Sebelum Rena berbicara aku sudah terlebih dahulu memberondonnya dengan spekulasi yang tidak-tidak. Aku merasa jika sedang ada hal buruk yang terjadi. Aku juga merasa tak tenang semenjak meninggalkan butik. Terlebih pada keadaan ada klien penting yang meminta desain baru. Aku merasa kecewa pada keadaan ini. Jika saja Pak Lek tak memintaku pulang dan berkata jujur saja tentang kedatangan pria itu mungkin saja aku tak merasakan hal ini lagi. "Bu Ria tenang saja.." Jawab Rena yang setengah-setengah. Di tengah dia masih menjawab sepotong pertanyaanku aku menyahutinya "Bagaimana aku bisa tenang Ren! Kau menelfonku! Dan pastinya kau membawa kabar buruk kan! Pasti ada masalah di butik iya kan!?" "Haha Bu Ria saya menelfon anda karena ada kabar gembira bukan kabar buruk." Tutur Rena menertawakanku karena rasa khawatirku "Iya kah? Kabar apa itu Ren?" Tanyaku sedikit penasaran "Iya Bu Ria, Kabar itu adalah Klien kita menerima seluruh desain gamis buatan Bu Ria dan mereka tadi mengajak kerjasama. Tentunya mereka ingin segera bertemu dengan Bu Ria." Terang Rena memberiku kabar baik tentang butikku "Masha Allah Ren!! Kamu beneran kan!? Kamu gak bohong kan?" Tanyaku yang masih saja tak percaya mendengar kabar baik tentang butikku "Iya Bu, nanti akan saya kirim buktinya jika ibu tak percaya." "Haha iya iya aku percaya asistenku." "Ya sudah Bu saya harus menutup telfon karena saya harus segera pulang. Kita lanjut saat Bu Ria sudah balik kesini ya. Cepet balik Bu Ria." Ucap Rena yang ingin menutup panggilan telfon "Ah iya tentu, Ya sudah kamu pulang dan hati-hati ya. Terima kasih banyak asisten cantikku muah." Balasku "Haha ada-ada aja Bu Ria. Ya sudah saya tutup ya Bu Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Panggilan telfon Rena terputus. Aku bernafas lega mendengar kabar gembira darinya. Bagaimana mungkin aku tak senang! Akhirnya usahaku mendesain gamis untuk butikku kini berbuah manis. Ku ucap hamdalah dan bersujud. "Ya Allah terima kasih banyak atas segala nikmat-Mu untukku." Tuturku lirih Setelah itu aku keluar dari kamar. Aku sudah lupa perkara pria itu. Hal yang ingin ku lakukan hanyalah memberi kabar baik butikku pada Pak Lek dan Bu Lekku. "Bu Lek .. Pak Lekk.." teriakku memanggil pak lek dan Bu Lekku Ku lihat Bu lek dan pak lekku sedang makan bersama. Ku berlari dan memeluk pak Lekku. Kemudian aku bergantian memeluk Bu Lekku. "Buk Lek .. Pak Lek .. Alhamdulillah Ria bawa kabar gembira."Sorakku mengatakan kabar gembira yang aku dapatkan "Kabar gembira apa nduk?" Tanya Bu Lekku. Hal yang ku lihat hanya Bu lek saja yang menanggapi perkataanku sedangkan pak lek masih enggan berbicara padaku. Ia lebih fokus membaca korannya Pak Lek melirik ke arahku "Hm pasti ya tentang butiknya Bu lek apalagi yang Ria fikirkan." "Pak Lek kok kedengarannya tak suka mendengarkan kabar gembira tentang butikku? Padahal aku baru saja mendapat klien yang setuju dengan desain gamisku. Apa pak lek tak senang?" Balasku pada perkataan pak lek yang ketus "Kabar itu sudah sering kami dengar jadi pak lek tak tertarik lagi. Lakukan saja karirmu sepuasnya nduk sampe kamu lupa tentang kodratmu sebagai perempuan." Sindir Pak Lek yang semakin terang-terangan Ini pasti soal pinangan pria itu. Sekarang pak lek lebih memikirkan pinangan tersebut daripada mendengar kabar sukses butikku. Jika dulu pak lek selalu memberiku pujian dan perhatian terhadap kesuksesan butikku kini pak lek terlihat biasa saja. Dulu pak lek senang sekali mendengar kesuksesanku mendapat klien. Bahkan ia sangat antusias mendengarkan keluh kesahku mendapatkan klien. Dan sekarang tampak berbeda. Ia terlihat seperti marah. Aku mengenali pak lek saat menahan marahnya dengan melihat guratan di dahinya. Dan aku melihatnya dengan jelas. "Ya sudah kalo pak lek tak senang, Ria minta maaf. Besok Ria akan balik ke butik." Tuturku yang tak ingin memulai perdebatan dengan pak lekku. Lebih baik menghindarinya daripada melawan perdebatan dengan pak lek. Saat ku ingin melangkahkan kakiku untuk kembali ke kamar Pak Lek memintaku berhenti "Berhenti Ria!'' ''Ria cape dan Ria mau istirahat.'' Tolakku secara halus ''Pak Lek minta kamu berhenti! duduk di depan pak lek. Turuti pak lek dan jangan menghindar lagi. Pak lek ingin bicara denganmu!" Pinta Pak Lek dengan tegas Suara pak lek yang memintaku duduk terdengar cukup menakutkan. Aku memilih untuk menurutinya. Aku tak ingin menerima akibatnya. Ku balikkan badanku kemudian mendekati sofa. Aku duduk di depan pak lek. Sorot mata Pak Lek melihatku dengan tajam, baru kali ini ku liat ekspresi pak Lek yang seperti ini. ''Mau sampai kapan kamu seperti ini Ria!?'' Tanya Pak Lek yang membuatku tak berkutik ''Maksud pak lek apa? Ria tak mengerti.'' Aku berpura-pura tak mengerti ucapan pak Lek ''Iya terus menghindari khitbah dari seorang pria. Mau sampai kapan kamu tak ingin menikah? Sampai kamu tua? Apa gimana?'' Ucap Pak Lek bernada kesal ''Pak Lek, Pak Lek tak pernah tau alasanku bersikap seperti ini. Hanya Bu Lek yang tau hal itu dan aku tak ingin membahasnya lagi. Ria ke kamar dulu.'' Pamitku yang ingin meninggalkan pembicaraan ini ''Berhenti dan ceritakan pada pak Lek nduk. Nduk kamu sudah dewasa dan jika kamu ada masalah ceritalah ke pak Lek. Jangan memendamnya sendiri Nduk, Jika kamu memendamnya dan tak ingin memberitahu pak lek berarti pak lek sudah merasa gagal untuk menjadi orang tuamu nduk.'' Tutur Pak Lek yang menyalahkan dirinya sendiri. Aku merasa pak lek sedang sedih dan aku tak ingin membuat pak lek sedih. Sebenarnya peran pak lek sebagai abah keduaku sudah sangat baik sekali. Mungkin hanya aku saja yang selalu bersikap tak dewasa di umurku sekarang. Banyak hal yang aku tutupi dari pak lek dan sekarang aku merasa hal itu tak benar lagi. Aku harus terbuka mulai hari ini. Aku tak ingin membuat pak lek berfikir berat. Aku tak ingin membuat pak lek sedih lagi. Aku kembali duduk, kali ini aku duduk di sebelah pak lekku. Ku pegang kedua tangan pak Lekku ''Ria tak akan menutupi hal apapun lagi dan Ria akan cerita alasan Ria yang tak ingin menikah. Ria akan cerita pada pak lek tentang masa lalu Ria.'' Pak Lek mengusap rambutku sembari tersenyum ''Ceritalah nduk, Pak Lek akan dengarkan.'' Aku mengangguk sembari tersenyum pada pak Lek ''Njeh pak Lek,'' ''Semua berawal dari....'' Flashback masa lalu Ria.. Kala itu aku mengenalnya, Dia adalah seorang pemuda dengan daya tarik yang sangat kuat. Mulai dari ketampanannya, tutur katanya, cara dia tersenyum dan cara dia membantu masyarakat. Semua hal yang ada pada dirinya membuatku jatuh hati. Dan untuk pertama kalinya aku berani mendekatinya. Dia bernama Fahriyan Alaika Rahmat. Aku sering memanggilnya Riyan. Aku mengenalnya melalui sahabatku yang bernama Rika. Saat itu ia dan Rika pergi ke butikku. Rika mulai mengenalkannya padaku dan Kami mulai berkenalan dengan singkat. Setelah itu ia sering datang ke butikku. Membantuku melakukan banyak hal. Rika juga sesekali datang juga ke butikku. Kami sering pergi jalan-jalan bersama. Hingga suatu ketika aku mengetahui bahwa dia adalah sahabat masa kecilku. Sahabat masa kecilku yang tinggal di sebelah rumahku. Aku tak menyangka jika dia adalah sahabat masa kecilku yang sangat ku rindukan. Setelah mengetahui hal itu kami semakin akrab dan dekat. Dia sering datang mengunjungiku di butik. Dia juga sering membantuku bahkan dia bersedia aku ajak bertemu dengan klienku. Aku merasa kehadirannya membuatku bahagia tak terhingga. Kehadirannya membuatku tertawa, Dulu jika sikapku tampak kaku sekarang aku sering tersenyum kepada siapapun. Dan semua berkat dia. Kedekatan kami membuatku merasa jatuh cinta padanya. Tanpa menunggu waktu ku ungkapkan rasa cintaku padanya. Tak ku sangka dia memiliki perasaan yang sama padaku. Kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Aku juga memperkenalkan dia pada Pak Lek dan Bu Lekku. Kedua keluarga kami sudah mulai saling mengenal. Hingga akhirnya kami berniat untuk lanjut ke jenjang yang serius. Ia mengatakan jika dia berniat untuk mengkhitbahku dan tentu aku merasa sangat bahagia tak terkira. Aku merasa sangat yakin dengannya begitu juga kedua keluarga kami. Awalnya aku mengira dia takdir yang datang kepadaku adalah takdir yang terbaik. Aku kira dia adalah jawaban dari jodohku. Dan ternyata semua salah. Aku kira dia mencintaiku sepenuh hati ternyata tidak. Dia justru mencintai wanita lain. Bagaimana aku tau hal itu? Aku tau saat tak sengaja melihatnya berbicara dengan Rika. Dia mengatakan dengan jelas jika dia tak bisa mencintaiku karena dia mencintai wanita lain. Aku mendengarnya pada H-1 rencana Khitbah kami. Sungguh aku kecewa sekali. Entar takdir apakah yang terjadi padaku. Sejak hari itu aku mulai mengurung diriku di kamarku. Saat itu pak lek sedang tak berada di rumah dan hanya Bu lek lah yang tau hal ini. Ku batalkan rencana khitbah kami. Aku tak pernah menceritakan apapun pada Pak Lek hal yang sebenarnya terjadi. Dan aku minta pada Bu Lek juga untuk tak mengatakannya pada Pak Lek. Itulah sekilas tentang masa laluku dan dia.. Flashback Off "Ya karena itulah pak lek alasan Ria yang tak ingin cepat menikah. Ria masih belum bisa sepenuhnya mempercayai laki-laki." Tuturku menundukkan kepalaku. Aku takut mendapat reaksi marah dari Pak Lekku Pak Lek mengusap kepalaku lagi. Kali ini ia menurunkan kepalaku di bahunya dan dipeluknya, ''Nduk maafkan Pak Lek yang menyalahkanmu tanpa mengetahui apa yang kamu rasakan. Maafkan pak lek ya nduk.'' ''Pak Lek ndak salah justru Ria yang salah pada Pak Lek.'' Balasku lirih, Jujur aku merasa terenyuh dengan kasih sayang pak lek yang tidak ada tandingannya. Dan kini pak lek masih sayang dan bersikap lembut padaku Aku dan Pak Lek duduk berhadapan. Pak Lek memegang bahuku ''Nduk, Pak Lek tau jika kamu masih trauma pada laki-laki. Hal yang harus kamu lakukan saat ini adalah berusaha keluar dari zona ketakutanmu nduk. Pak Lek tau jika hal itu tak mudah tapi jika kamu niat pasti dengan izin Allah kamu bisa melakukannya.'' ''Nduk ingat, Tak semua laki-laki seperti itu. Masih banyak laki-laki yang baik nduk seperti nak Rif'an. Pak Lek sudah lama mengenalnya dan pak lek yakin jika dia adalah laki-laki baik yang akan membahagiakanmu.'' ''Nduk cobalah untuk mengenali nak Rif'an terlebih dahulu. Setelah kamu mengenalnya kamu berhak memutuskannya. Apapun pilihannya pak lek akan selalu menghargai keputusanmu nduk.'' Apa yang Pak Lekku katakan memang benar. Aku tak seharusnya menghakimi setiap laki-laki seperti masa laluku. Dan sekarang aku sadar. ''Gimana nduk? Kamu mau mengenal nak Rif'an terlebih dahulu?'' Tanya Pak Lekku memastikanku Ku anggukkan kepalaku dan tersenyum pada pak lekku ''Njeh Pak Lek Ria akan melakukannya.'' ''Alhamdulillah nduk..'' Kali ini aku mencoba melakukan nasehat dari Pak Lek. Mengenalnya terlebih dahulu adalah pilihan terbaik sebelum berjalan ke jenjang yang serius. Tuhan semoga aku bisa. Harapku dalam hati Apakah Ria bisa mengenal Rif'an lebih dalam? Apakah Ria dapat melupakan masa lalunya? Dan apakah kisah Ria dan Rif'an dapat bersatu dalam ikatan suci? Nantikan di chapter selanjutnya~^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD