''Kenali aku hingga kau yakin denganku''
- Rif'an -
Tentang dia, Aku tak bisa mendeskripsikannya. Jika aku mendeskripsikannya maka aku butuh berlembar kertas yang tak terhingga jumlahnya. Mendeskripsikannya akan memakan berbagai kalimat dan kata yang tak terkira. Bagiku dia memiliki sejuta makna. Bagiku juga dia adalah segalanya dalam jendala kehidupanku. Sosoknya yang memiliki kepribadian gigih dalam impiannya membuatku jatuh hati padanya. Menurutku dia adalah pribadi yang memiliki kerja keras yang sangat tangguh. Dia tak pernah kenal lelah dalam impiannya. Dan aku sangat menyukainya.
Ia bernama Ria Santika Dewi. Dari namanya saja memiliki arti jika dia adalah pribadi yang kuat. Hal yang ku tau Ria memiliki arti kuat, Santika melambangkan pesona dan karisma yang mendamaikan, dan Dewi berarti seorang wanita. Semua telah tergambar jelas karakternya dari arti namanya.
Aku mengenalnya tak sengaja ketika aku menjadi pembicara di acara pondok pesantren kyai hambali. Aku mengenalnya dari hal yang konyol, dimana aku salah ambil kitabnya yang seharusnya saat itu aku mengambil kitab kyai hambali. Sungguh saat itu aku merasa malu dan bersalah. Akan tetapi aku juga merasa senang saat melihat tulisan sajak yang dibuatnya di setiap halaman kitabnya. Tulisan sajaknya sangat rapi dan memiliki arti yang bagus.
Aku suka cara dia membuat sajak-sajak di kitabnya. Semua terkesan sederhana nan memiliki arti yang mendalam. Saat ku tengah membaca sajak-sajak buatannya kyai hambali tak sengaja melihatku tertawa sendiri. Ia bertanya kepadaku kemudian ku tunjukkan kitabnya. Beliau ikut mebaca sajak-sajak buatan putrinya bersamaku. Beliau ikut tertawa bersamaku. Setelah itu ia bercerita banyak tentangnya.
Aku mendengarkan cerita kyai hambali tentang putrinya. Aku terkesima dan terenyuh mendengar tentangnya. Meskipun aku masih belum pernah melihat parasnya namun aku yakin jika dia memiliki paras wajah yang cantik dan manis. Mendengarnya saja membuatku ingin melihatnya. Namun hal itu tak mungkin ku lakukan. Sempat kyai hambali menawariku untuk bertemu dengannya dan tentu aku menolaknya. Bagiku hal itu tak pantas untuk ku lakukan.
Aku yakin jika aku ditakdirkan dengannya pasti akan ada waktu untuk bertemu dengannya. Teringat pada sajak buatannya yang indah dan membuatku tertawa di akhir katanya. Sajak itu berbunyi..
Hai pujangga jodohku
Kemanakah kau berada?
Di sudut bumi manakah kau berada?
Apa kau masih berada di lauhul Mahfudz-Nya?
Hai pujangga jodohku
Kapankah kau hadir di kehidupanku?
Hai pujangga jodohku
Apa kau masih singgah di dermaga lain?
Hai pujangga jodohku
Tahukah engkau bila aku terus menunggumu
Menantimu di setiap sepertiga malamku
Melangitkan setiap doaku untukmu
Hai pujangga jodohku
Ku mohon hadirlah ..
Agar aku tak terus-terusan diomeli oleh Pak Lekku
Itulah sekilas bait sajak buatannya yang membuatku tertawa karena akhir sajaknya. Ku kira akhir dari sajaknya akan berakhir dengan kata yang mengesankan. Dan nyatanya akhir sajaknya berhasil mengocok perutku. Saat itu kyai Hambali yang ikut membaca sajaknya bersamaku ikut tertawa terpingkal-pingkal.
Kyai Hambali mengatakan padaku jika dirinya tak pernah tau kebiasaan putrinya yang sering membuat sajak seperti ini. Ia selama ini hanya mengetahui tentang kerja keras putrinya pada impiannya. Memang kesibukan kyai Hambali dan putrinya berbeda. Meskipun di tengah kesibukan masing-masing kyai Hambali tak pernah lupa memberi perhatian pada putrinya.
Ku dengar cerita kyai Hambali tentang putrinya tersirat jelas kasih sayang kyai Hambali yang tiada tara. Dan aku merasa terharu.
Saat kami tengah asyik berbincang-bincang ada seorang santri putra yang memberitahuku untuk bersiap masuk ke dalam masjid. Ternyata sudah waktunya untukku menjadi pembicara. Ku berikan kitab putrinya kepada kyai Hambali. Kemudian aku berpamitan pada beliau untuk menjadi pembicara. Beliau mempersilahkanku untuk pergi.
Setelah mendapat izin dari beliau aku segera pergi bersama santri tersebut. Sesampai di masjid ku lihat ratusan santri yang menyambutku. Suara tabuhan rebana bersahut-sahutan bersama lantunan sholawat. Aku merasa bahagia dan rindu pada suasana pondok pesantren seperti ini.
Aku terus jalan ke depan. Duduk di hadapan ribuan santri. Setelah suara tabuhan rebana berhenti aku mulai mengucapkan salam. Menyapa ratusan santri dan mulai memberi materi kepada mereka. Aku memberi materi tausiyah dan motivasi pada ratusan santri selama satu jam setengah. Di tengah aku berbicara masih teringat jelas sajak buatannya.
Aku memiliki ide untuk menutup materi tausiyah dan motivasi dengan menuturkan sajak buatannya. Dan benar para santri bersorak gembira. Mereka juga tertawa di akhir sajak yang ku tuturkan. Aku tak tau apakah dia mendengarkanku apa tidak. Ya ku harap dia tak mendengarnya.
Setelah itu acara selesai. Waktu menunjukkan jam 3 sore. Waktu untuk sholat ashar. Para santri berbondong-bondong untuk mengambil air wudhu. Tentu aku ikut sholat berjamaah bersama mereka dengan diimami oleh kyai Hambali. Setelah sholat aku diajak kyai Hambali untuk pergi ke ndalemnya. Ndalem adalah sebutan untuk rumah seorang kyai.
Di rumah Ndalem, beliau masih membicarakan sajak itu. Dan istri kyai Hambali ikut tertawa terpingkal-pingkal mendengar sajak buatan putrinya. Setelah itu istri kyai Hambali berpamitan padaku untuk mempersiapkan makanan. Sedangkan kyai Hambali menerima telfon dari saudaranya. Aku sendirian di dalam ruang tamu. Ku liat ukiran-ukiran yang terpampang di setiap dinding ruang tamu ini. Semuanya tampak cantik.
Beberapa saat kemudian saat ku tengah asyik melihat ukiran tersebut ada suara yang memanggilku. Ku dengar suara itu dari balik tirai. Aku tak berani membukanya dan aku hanya menjawabnya.
"Iya ada apa? Anda memanggil saya?" Tanyaku dengan polos
"Iyalah siapa lagi huh." Dengusnya
"Hehe iya ada apa ya?" Tanyaku lagi
"Kenapa kau tuturkan sajakku di depan umum? Apa kau tak punya rasa malu dan bersalah kah?" Tanyanya menginterogasiku dengan ketus
Suara ini? Apakah suara ini adalah suara dari putri kyai Hambali?
Ah tidak mungkin tapi mungkin saja ini suara putri kyai Hambali.
"Kenapa kau hanya diam? Jawab pertanyaanku!" Ia meminta penjelasanku di tengah diriku mengira siapa pemilik gerangan suara ini.
Aku tak salah lagi jika suara yang menanyakanku hal ini adalah suara dari putri kyai Hambali.
"Bagaimana kau tau? Apa kau mendengarkanku?"
"Tentu aku tau dan mendengarkannya. Dan sekarang jelaskan padaku tentang alasanmu wahai pemuda!" Ucapnya dengan tutur kata yang terdengar kesal
"Ah maafkan aku jika aku lancang untuk menuturkannya di depan umum. Jujur saja sajak buatanmu sangat indah dan tadi aku hanya ingin menghibur para santri saja. Maafkan aku jika tindakan yang ku lakukan itu tak sopan." Jelasku meminta maaf padanya
Saat aku tengah selesai menjelaskan ada suara istri kyai Hambali yang memanggil nama putrinya.
"Nduk Ria kamu kemana?" Teriak istri kyai Hambali memanggil nama putrinya
"Njeh umik Ria datang." Jawabnya
Setelah itu ia berpesan kepadaku sebelum pergi "Jangan pernah bersikap seperti ini dan aku minta padamu untuk melupakan sajak buatanku yang telah kau baca. Berjanjilah padaku!"
"Ah iya aku berjanji padamu tapi bisakah kau memaafkanku Ning?" Balasku berjanji padanya
"Ya ku maafkan kau. Aku pergi dulu assalamualaikum." Pamitnya
"Waalaikumsalam.."
Setelah itu dia pergi. Kyai Hambali kembali masuk menemuiku. Beliau mengajakku untuk makan bersama keluarganya. Kami duduk bersama. Akan tetapi tak ku lihat dia sama sekali.
"Mik nduk Ria kemana?" Tanya kyai Hambali pada istrinya tentang keberadaan putrinya
"Tasek bersiap Bi." Jawab istrinya
Tak perlu banyak waktu dia muncul di hadapan kami. Ia memakai gamis berwarna coklat s**u dan khimar paris yang senada dengan gamisnya. Dan ia juga memakai topi di kepalanya. Menutupi wajahnya dariku.
"Pak Lek Bu Lek Ria pamit dulu ya. Ria harus ke butik sekarang karena ada urusan yang harus Ria tangani." Pamitnya
"Lho nduk kok cepet banget. Kamu makan dulu sebelum pergi." Tutur kyai Hambali mencegahnya untuk pergi
"Mboten pak lek, Ria buru-buru maaf nggeh pak lek." Balasnya dengan tutur kata lembutnya
"Huft ya sudahlah nduk." Balas kyai Hambali yang tampak lesu
Ia memeluk kyai Hambali dan menghiburnya, "Pak Lek Ria janji Minggu depan Ria akan di rumah sampai seminggu full. Ria janji akan pulang."
"Kamu janji ya nduk?"
"Njeh pak lek."
Kyai Hambali mengusap kepalanya dan memberikan kecupan kasih sayangnya untuk putrinya. Dia salim dan mengecup tangan kyai Hambali. Setelah itu dia menghampiri istri kyai Hambali. Ia juga Salim ke ibundanya.
Setelah itu ia berjalan pergi. Tepat berjalan di belakang kursiku ia memberi pesan padaku.
"Ingat janjimu dan jangan mengingkarinya." Ucapnya lirih sambil menundukkan pandangannya
Aku mengangguk dan tersenyum. Setelah itu ia pergi dari hadapan kami semua. Itulah pertemuan singkat antara diriku dengannya. Pertemuan yang menjadi awal untuk kami hingga kami ditakdirkan untuk berjodoh.
Jalan kami untuk berjodoh masih sangat panjang dan apakah kalian ingin tau kisahku dengannya selanjutnya?
Nantikan di chapter selanjutnya ya~^^