Chapter 11

1030 Words
"Tak ada hal seindah apapun selain dirimu Soraya Aisyah Rihadatus Sholihah" - Danial Eka Abdillah - Waktu, waktu pernah membawaku pada sebuah hal yang berbeda. Hal itu adalah keindahan tentangnya. Tentangnya yang memiliki beribu keindahan untukku. Ya, dia bernama Soraya Aisyah Rihadatus Sholihah. Tampak dari namanya saja sudah terlihat jelas sosoknya. Aku, aku mulai mengenalnya saat aku tak sengaja berada di pondok pesantren. Saat itu aku tengah melamar pekerjaan dan dia yang mengantarku serta membimbingku. Tutur katanya yang lembut membuatku jatuh hati dengannya. Ah iya sebelum aku menceritakan tentangnya, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Danial Eka Abdillah, seorang laki-laki yang sedang mengejar mimpi dan cinta. Aku berasal dari keluarga yang sederhana. Umurku 22 tahun. Aku memiliki paras wajah oval, berkumis tipis, rambut gondrong, berkulit kuning Langsat dan kacamata hitamku. Sehari-hari aku hidup dengan keluargaku yang sangat memanjaku. Ya karena aku anak bungsu dari 3 saudaraku. Meski aku sering dimanja akan tetapi aku tetap berusaha untuk hidup mandiri. Aku berhasil menempuh masa kuliahku dan kini aku hanya menunggu beasiswa S2 ku di Kairo. Di sela aku menunggu beasiswa itu datang, aku berniat untuk mengajar di sebuah pondok pesantren. Dan Alhamdulillah dengan izin Tuhan ada lowongan pengajar di sebuah pondok pesantren. Tanpa basa-basi aku langsung memasukkan surat lamaran untuk melamar pekerjaan disana. Beberapa hari kemudian aku mendapat panggilan interview dari pondok pesantren tersebut. Aku senang tak main bisa menerima panggilan interview. Aku sangat menantikan hal ini. Dan tentu saja aku menantikan bisa bertemu dengannya cihuy. Aku pergi ke pondok pesantren dengan penampilan gondrongku. Ibuku sudah mengomeliku sejak aku izin pergi kesana. "Dani nak kamu yakin pergi kesana dengan penampilan seperti ini?" Tanya ibuku padaku tentang penampilanku "Tentulah buk, emang kenapa atuh buk?" Tanyaku balik "Dani apa kamu sehat?" "Sehatlah buk." Potongku pada perkataan ibuku "Dani kamu mau ke pondok pesantren bukan sekolah biasa. Liatlah penampilan sekarang Le." Omel ibuk yang mulai cerewet "Dengan izin Allah pasti bisa. Sudah dulu ya Bu aku mau pergi assalamualaikum." Ku kecup pipi ibuku kanan kiri dan segera bergegas pergi sebelum ibuku mengomeliku seribu kali lipat lagi haha. "Danial Eka Abdillah!" Teriak ibuku yang hanya ku balas dengan ketawa Sebelum ibuku mengejar aku sudah melajukan motor kesayanganku Beo. Ku kendarai motorku dengan bersenandung ria. Hari ini aku akan bersiap untuk bertemu dengannya. Tuhan ku mohon semoga aku bisa bertemu dengannya. Harapku dalam hati. **** 30 menit aku telah menempuh perjalanan. Kini aku telah sampai di pondok pesantren tersebut. Ku parkirkan motorku dan ku lihat penampilanku. Dani kau tak mungkin seperti ini. Sekarang kau harus memberi penampilan terbaikmu. Siapa tau kau bisa bertemu dengannya. Ucapku dalam hati. Ku keluarkan peci andalanku. Ku silahkan rambut gondrongku. Setelah semua rambut gondrongku telah tertutup ku liat kembali penampilanku. Semua tampak terlihat sempurna dan tak seperti biasanya. Bismillah! Waktunya untuk interview dan bertemu bidadariku! Harapku dalam hati. Sesampai di ruangan aku disambut oleh seorang gadis. Ia tampak terlihat malu-malu. "Anda Danial Eka Abdillah ya?" Tanya Gadis itu tentang namaku Aku mengangguk dan ku jawab singkat, "iya." "Perkenalkan saya Lela Badriyah. Saya menggantikan Soraya untuk memandu anda." Ujarnya mulai menjelaskan padaku "Um soraya? Soraya gadis kemaren yang mengantarku kemaren?" Tanyaku memastikan bahwa ia bernama Soraya. Ia mengangguk "iya benar." "Um dia kemana ya?" Tanyaku yang penasaran kemana perginya dia "Kenapa ya? Apa anda ada urusan dengannya?" Tanyanya balik kepadaku Bodoh kau Dani kenapa malah bertanya! Semua terlihat aneh tau gak sih kau tuh Dani! Geramku dalam hati merutuki pertanyaanku "Ah tak jadi, ya sudah dimana ruang interviewnya kak?" Tanyaku untuk mengalihkan perhatiannya "Ah iya disana! Mari ikut saya." Ku ikuti langkah kakinya. Ku bernafas pelan merasakan kekecewaanku yang tak bisa bertemu dengannya. Padahal aku sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya. Sudahlah Dani! Kau tak boleh kecewa! Hal yang terpenting sekarang adalah kau harus bisa lolos seleksi interview ini! Agar kau bisa bertemu dengannya nanti! Semua sudah ku tekadkan untuk bertemu dengannya. Ku pikir dengan lolosnya aku pada seleksi interview ini akan membawaku pada pertemuan dengannya. Dengan tekad bulat aku harus berusaha sebaik mungkin dalam tes kali ini. Agar aku bisa mengajar di tempat yang sama dengannya. Tes interviewku telah ku lakukan dengan sebaik mungkin. Kini aku hanya bisa menunggu hasilnya. Perempuan yang bernama Lela tersebut masih mengikutiku. Aku merasa aneh dengan sikapnya. Bahkan ia masih mengikutiku ke parkiran. Saat ku pakai helmku ku bertanya padanya "Apa anda butuh bantuan?" "Ah tidak, Saya hanya ingin mengucapkan hati-hati di jalan dan semoga kita bisa bertemu lagi." Setelah mengucapkan hal itu kepadaku ia berlari dariku Aku tertawa melihat tingkah anehnya. Sudah Ku pastikan bahwa dia menyukaiku. Bukan karena aku terlalu pede tapi itulah kenyataannya. Sosok perempuan manakah yang tak menyukaiku haha. Sudahlah Dani kau tak boleh terlalu pede dan sombong pada ketampananmu. Kau harus tetap rendah hati. Tampan tak akan membawamu pada hal yang baik. Hanya sikap baikmu lah yang akan membawamu pada Ridho-Nya. Ku lajukan motorku untuk pergi dari pondok pesantren. Sesampai di rumah aku diomeli oleh ibuku. Aku hanya bisa terus menggodanya dan meredamkan amarahnya dengan memberikan sekotak martabak manis mang Ujang kesukaan ibuku. Dan tentu ibuku akan mudah luluh. Setelah selesai makan bersama, aku masuk ke dalam kamarku. Ku tatap langit-langit kamarku. Aku berbicara sendiri sambil membayangkan wajahnya. Baiklah hari ini aku tak bisa bertemu denganmu tapi aku yakin suatu saat nanti aku akan bertemu dengan Soraya! Nantikanlah aku haha.. "Dek kamu masih waras kan?" Teriak kak Meli menegurku. Mungkin karena suara ketawaku yang keras membuat kakakku bertanya padaku. Kamar kak Meli memang berada di sebelah kamarku dan pantas saja kak Meli mendengarnya "Masih Kak haha." Tawaku "Awas Jan sampe gila ya dek!" Ledeknya "Doa kakak jelek ih!" "Ya udah sono tidur dek!" "Iye iye!" ***** Tiga hari kemudian ku mendapat pesan bahwa aku telah lolos ke tahap interview dan aku bisa menjadi guru di pondok pesantren tersebut. Aku senang tak main hingga mengajak ibuku menari. Ku nyalakan sound box dengan keras. Memutar lagu India kesukaanku. Lagu Dil To Pagal Hai. Semua merasa geleng kepala melihat tingkahku. Aku hanya bisa berteriak, "Yeay aku diterima dan besok aku akan bertemu dengannya!!" Mereka tak mengerti dengan maksud perkataanku. Aku hanya bisa terus tertawa dan mengajak seluruh isi rumahku untuk menari. Aku tak sabar menantikannya!! Aku tak sabar untuk bertemu dengannya!! Soraya tunggu kedatanganku!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD