Chapter 12

2515 Words
"Dekati dia dengan cara yang berbeda. Dia pasti akan menyukaimu" - Kak Meli - Hari pertama aku mulai mengajar di pondok pesantren yang sama dengannya. Ku persiapkan diriku dengan penampilan yang berbeda. Rambut gondrongku ku pampangkan di depan peciku. Ku rapikan baju Koko putihku tak lupa ku semprotkan parfum di seluruh tubuhku. Semua telah siap! Kini waktunya aku pergi ke sekolah! Batinku dalam hati melihat penampilanku yang sempurna di depan cermin. Ku buka pintu kamarku. Ku berteriak "Buk Dani berangkat ya! Assalamualaikum!" "Lho Le ini bekalnya." Ibuku berjalan terburu-buru menghampiriku Aku berhenti dan menerima bekal buatan ibuku. Setelah itu ku kecup kening dan tangan ibuku. Berpamitan pada ibuku adalah hal terhangat yang tak pernah ku lupakan di dunia ini. Karena restu ibu adalah hal yang bisa membentangkan jalan kemudahan untuk seorang anak. "Widih wangi bener dek haha." Ledek kak Meli yang berdiri dari belakang ibuku. Ia titip mendekat ke arahku dan mencium bau bajuku. Ya, inilah tingkah aneh kak Meli yang tak pernah luput dari hariku. "Bodo amat! Udah ah Dani berangkat dulu assalamualaikum bukk!!" Ku berlari dan melambaikan tanganku pada ibuku. Sebelum kak Meli semakin menjahiliku lebih baik aku pergi terlebih dahulu. Ku naiki motorku dan segera melajukannya dengan kencang. Aku Danial Eka Abdillah, seorang musafir cinta siap bertemu dengannya. Semoga dia bisa mengenaliku! **** Tepat pukul setengah tujuh aku sampai di pondok pesantren. Ku liat barisan santri yang telah berkumpul. Ku letakkan helmku ke motorku kemudian ku lepas jaketku. Aku celingukan mencari keberadaannya. Diantara para asatid (guru-guru) itu mana ya dia? Tanyaku dalam hati sambil celingukan ke kanan kiri. "Assalamualaikum, Ternyata kamu sudah datang ya." Sapa seseorang dari belakangku Aku menoleh ke sumber suara yang menyapaku. Ku liat gadis kemaren yang mengantarku. Kalo tak salah namanya Lela Badriah. Ku berikan seulas senyum untuknya "Iya waalaikumsalam, saya baru sampai." "Ah iya, ayo kita baris di belakang santri sebelum Romo yai datang." Ia mengajakku untuk baris di belakang santri Ku anggukan kepalaku mengerti. Tiba-tiba ku dengar suaranya yang tampak mendekat.. "Lela! Haduh Lela ku cari kau kemana aja. Ternyata disini toh! Kenapa kamu bertemu dia? Mengajaknya pula? Ingat Lela bukan mahrommu." Omelnya pada Lela gadis di sampingku. "Haduh mbak Soraya ganggu pdkt Lela aja." Lela mengomel padanya yang menganggu proses pdktnya denganku. "Hust uwis Ra boleh gitu. Inget bukan mahrom! Udah ayo ikut baris ngatur para santri wae!" Ia menarik tangan Lela "Haduh mbak Soraya Lela Baru aja sebentar ish." Rengek Lela "Baru sebentar apa Lela Badriah?" Ucapnya melototkan matanya pada Lela. Ia menampilkan senyum yang mengerikan hingga membuat gadis di sampingku meringis "Baru kenalan hehe." Jawabnya singkat dengan sedikit ketakutan dengan senyumnya. "Uwis ayo ikut aku ngatur barisan santri saja! Udah ayo!" Dia menarik tangan Lela untuk pergi. Lela hanya bisa pasrah dan mengikutinya. Awal pertama yang ku liat saat bertemu dengannya adalah melihat ekspresi wajahnya yang berbeda dari biasanya. Terlebih melihat adegan yang baru saja terjadi membuatku tak bisa menahan tawa. Sungguh dia unik sekali Tuhan. Ujarku dalam hati sambil tersenyum sendiri. "Eh sampean ayo baris pak!" Panggil seorang guru padaku "Njeh pak." ***** Hari pertama aku bisa mulai mengajar dengan sorak-sorai dari para santriwati. Para santri dan santriwati senang menyambut kedatanganku. Dan meraka juga merasa senang ku ajar. Antusiasme santri dan santriwati mengingatkanku pada zamanku menuntut ilmu di pondok pesantrenku dulu. Sungguh aku rindu menuntut ilmu di pondok pesantren. Namun aku tak dapat mengulang waktu kembali. Tapi setidaknya sekarang aku merasa bahagia karena bisa menyalurkan ilmuku kepada santri dan santriwati disini. Selepas mengajar ku berjalan ke ruang guru untuk beristirahat. Samar-samar ku dengar suara seseorang yang ku kenali. Ku liat di ruang guru tampak ada dua orang gadis. Dua gadis itu ternyata dia dan Lela. Aku hanya bisa menunggu di luar sambil mendengarkan ucapan mereka. Bukan bermaksud menguping, aku hanya tak ingin menganggu momen mereka berdua. Ku dengar suara Lela yang sedang membicarakanku di hadapannya. "Mbak Soraya dia itu ganteng banget masyaAllah. Lela langsung jatuh cinta padanya mbak! Gimana donggg!!" Curhat gadis yang bernama Lela tersebut padanya "Lela ga boleh gitu. Ga baik atuh menilai dari fisiknya. Kenali dia dulu baru hati kamu bisa menentukan apakah dia pria yang tepat." Dia menasehati Lela dengan tutur kata lembutnya. "Tapi Lela udah yakin kok mbak! Lela yakin kalo dia pangeran yang dikirimkan tuhan untuk Lela." Ucap Lela dengan haluan tingginya yang tiada henti. "Hust uwis toh Lela, kamu dari dulu emang sering gini atuh. Udah ga usah mikirin cowo lagi mending perbaiki diri serta memantaskan diri. Daripada kamu sakit hati lagi kek kemaren." Dia masih kekeh menasehati Lela dengan lembut. "Kemaren mana atuh mbak Soraya wi?" Tanya Lela yang masih tak ingat "Kuwi Jaki yang kamu kejar-kejar eh ujunge nikah sama mbak Zaskia kan. Kamu pengen kayak dulu lagi hm?" Sekarang ia mengomeli Lela sambil mengingatkan masa lalunya mungkin. "Haduh mbak jangan doain aku gitu dong. Mas Jaki mah hanya masa lalu kalo Mas Dani itu masa depan Lela hehe." Lela masih kekeh dengan perasaannya padaku. "Uwis ah terserahmu Lel! Uwis ya aku mau ngajar dulu Assalamualaikum!" Dia pamit dari hadapan Lela. "Eh mbak Soraya aku kan masih belum selesai curhat!!" Teriak Lela yang masih belum merasa puas. Saat dia berjalan keluar, aku bersembunyi di balik dinding agar tak ketahuan olehnya. Setelah dia melewatiku, aku langsung mengikutinya. Mengikutinya untuk melihat cara dia mengajar. Sungguh aku sangat penasaran dengannya. Ku ikuti dia sampai di samping kelasnya. Ku liat dia dari jendela samping. Dia mulai mengucapkan salam pada santriwati. Ku liat ekspresi cerianya yang membuatku semakin jatuh hati pada pesonanya. Cara dia menyapa santriwati membuatku semakin bahagia. Terlebih melihat senyum manisnya yang bertengger di bibirnya. Sungguh inilah indahnya dunia yang sesungguhnya Tuhan. Batinku dalam hati yang tak sadar terucapkan. Tiba-tiba ada seorang santriwati menyeletuki perkataanku, "Ustad lagi ngapain?" Sontak aku menoleh dan melihat seisi kelasnya mengamatiku. Termasuk dirinya yang melihatku dan memberiku kode 'Ada apa?' Aku hanya bisa menggeleng pelan. Kemudian ku katakan pada mereka semua, "Maaf saya salah kelas, saya permisi." Aku langsung berlari dari kelas tersebut. Ku dengar suaranya yang mengatakan, "Ya, itulah anak-anak pentingnya fokus. Agar kita tidak salah masuk seperti ustad tadi." Setelah mengatakan hal itu ku dengar seisi kelas tersebut tertawa. Mungkin menertawakanku. Sungguh bodohnya diriku! Ku rutuki perbuatanku yang mempermalukanku di hadapannya. Semoga hal ini tak terjadi lagi aamin! ***** Sudah sebulan aku mendekatinya namun tak ada hal yang berhasil. Aku mati-matian mencoba berbicara dengannya di pondok pesantren, akan tetapi lagi-lagi dia selalu menghindar. Hanya sahabatnya Lela tersebut yang giat mendekatiku. Entah tak tau cara apa lagi yang harus ku lakukan padanya! Ku acak-acak rambutku sambil menghantamkan tanganku ke meja. Di malam yang sunyi ini aku merasa sangat frustasi. Frustasi pada caraku sendiri yang tak pernah berhasil. "Woi dek lu ngapain acak-acak rambut lu gitu?" Ku dengar suara yang sangat familiar. Suara siapa lagi kalo bukan suara Kak Meli. Aku menoleh ke arahnya yang sedang berjalan mendekatiku. "Ngapain lu kemari hah? Kalo mau ganggu gua mending minggir deh!" Ku peringati dirinya agar tak mendekatiku. Aku tak ingin mendapat gangguan darinya. "Buset galak amat lu dek. Tenang gua janji gak akan ganggu lu kok. Percaya deh sama gua." Janjinya padaku "Okey gua percaya, Ya udah duduk gih lu kak." Ku ajak kak Meli untuk duduk di sampingku. "Nih kopi dingin banget, Lu kan ga suka dingin dek." Tegurnya memegang segelas kopiku yang ku biarkan dari tadi. "Ya biarin deh, Kopi itu sedingin sikap dia ke gua." Ucapku dengan sadis "Buset lu dek, Lu kenapa hah? Lu juga gak panas." Ucapnya sambil mengecek suhu badanku di keningku "Terus lu kenapa dek? Patah hati dek?" lanjutnya Kak Meli bertanya padaku. "Iye gua patah hati bambang! Cewek yang gua deketi menghindar mulu! Malah Sahabatnya yang cewek aktif ngejar gua." Ku ceritakan semua kekesalanku pada kak Meli "Hahaha dek dek.. Baru kali ini gua liat lu bimbang gini. Padahal sebelumnya gua liat cewek-cewek yang patah hati sama lu eh ternyata sekarang giliran lu ya. Apa jangan-jangan kualat lu ya dek haha." Tawa Kak Meli pecah sembari terus meledekiku. "Udah deh kak kalo kau hanya ingin meledekiku terus mending lu minggir deh. Pergi deh dari sini!" Usirku pada Kak Meli, Ku tarik tangan kak Meli untuk pergi "Buset lu sadis amat sih, Iya deh maafin gua. Gua ga akan meledeki lu deh. Gimana lu maafin gua?" Ucap Kak Meli meminta maaf padaku "Iye iye tapi biarin gua sendiri. Mending lu pergi deh kak." Ucapku yang masih kekeh mengusirnya "Buset lu masih ngusir gua dek? Kalo lu masih kekeh ingin gua pergi lu pasti nyesel karena gua punya cara buat lu!" Kak Meli mengiming-imingiku sebuah cara untuk masalahku. "Siapa lagi yang tau caranya kalo bukan cewek. Iya kan?" Ia mengedip-edipkan matanya sambil terus mengiming-imingiku "Argh ya sudah ini duduk! Dan beritahu caranya ke gua!" Tegasku mengizinkannya untuk duduk kembali. Kak Meli tersenyum bahagia "Gini dong dari tadi. Ngusir mulu kerjaan lu dek!" "Cepat beritahu gua caranya dan ga usah bertele-tele deh kak!" Perintahku tanpa basa-basi "Buset sabar deh lu dek! Gua beritahu caranya nih. Caranya cukup simpel dek. Lu. mau tau gak caranya?" Kak Meli semakin gencar menggodaku "Katakan pada gua deh bambang! Gak usah lama-lama!" Ucapku yang merasa semakin kesal dengan perkataan kak meli yang tidak segera mengatakannya. "Buset sabar napa! Ngegas mulu kerjaan lu dek!" makinya "Ya lu sih bambang!" "Caranya cukup simpel yaitu dekati dia dengan cara yang berbeda. Cewek itu akan luluh pada cara itu." Kak Meli mengatakannya padaku Apa.yang dikatakan kak Meli memang ada benarnya. Tapi cara apa yang harus ku lakukan? "Cara lu bagus kak, Tapi gua pake cara apa bambang?" Tanyaku pada kak Meli "Ya lu pikirin lah! Kok malah gua yang disuruh mikir!" Balasnya dengan ketus "Buset lu dah kak, Gini lu bantunya cuma setengah-tengah!" Keluhku "Ya udah deh gua bantu mikir asal lu mau beliin satu gelas boba. Gimana? Deal gak lu?" Tawarnya memberiku penawaran "Yaelah ternyata ada udang di balik timun toh! Ya udah lu pesen dari hp gua! Gua turuti kemauan lu!" Tukasku mengiyakan permintaannya. "Uhh makasih adekku yang tampan sekali. Gini caranya gimana kalo lu buat surat untuknya." Pikir kak Meli yang mulai memberikan cara padaku "Terus gua berikan sama dia gitu?" Tanyaku "Ya iyalah bambang! Masa lu berikan ke jubaidah! Gimana sih lu!" Omel Kak Meli padaku "Iya deh tapi gua buatnya gimana? Lu bantu mikir ya! Dan bantu temeni gua buat suratnya ya!" Pintaku pada kak meli untuk menemaniku membuat surat "Beres dah asal nambah martabak manis dan telor ya!" Pintanya lagi "Buset dua? Lu ga kenyang apa? Sekarang malah nambah deh permintaan lu!" Gerutuku lagi "Gimana? Lu mau apa enggak nih!?'' Kak Meli berusaha untuk merayuku agar aku mau membelikan keinginannya "Iya deh iya, Gua turuti kemauan lu! Tapi inget bantu gua!" Perintahku mengingatkan kewajibannya "Iya iya tenang aja lu deh dek!" "Gua ambil kertasnya dulu." Ku ambil secarik kertas dari kamarku sedangkan kak Meli asyik memesan makanan dari aplikasi ponselku. Setelah selesai mengambilnya ku duduk kembali di sampingnya. "Ya udah ayo kita mulai buat suratnya!!" Serunya yang lebih bersemangat daripada diriku Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat tingkah kak Meli. Baru kali ini mendapati kak Meli yang bertingkah seperti ini. Tanpa menunggu waktu aku mulai fokus menulis surat untuknya. Dibantu kak Meli menuliskan kalimat yang tepat dan sempurna. Setelah beberapa menit akhirnya suratnya telah jadi. Aku dan kak meli bersorak gembira seperti anak kecil. Hingga membuat ibuku menghampiriku "Nduk Le kok masih belum tidur?" "Njeh bu tasek ada tugas." Jawabku memberikan alasan pada ibuku "oh iya udah kalo udah selesai cepat tidur ya nduk Le." Nasehat ibu pada kami berdua "Njeh bu.." Beberapa menit kemudian setelah kepergian ibu kami bersorak lagi. Baru pertama kalinya aku dan kak Meli bisa akrab dan kompak. Padahal sebelumnya kami selalu bertengkar. Setelah itu sang pengantar makanan datang. Ku nikmati makanan yang kak Meli pesan bersama dengannya. Awalnya kak Meli kesal akan tetapi ia masih mengizinkanku makan bersama. Ya, inilah kebersamaan ku dengan kak Meli serta bersama secarik surat untuknya. **** Keesokan harinya aku pergi ke pondok pesantren dengan semangat. Ku siapkan motor kesayanganku si Beo. Ku pakai kemeja hitam andalanku. Ku liat penampilan rambutku yang memiliki gaya berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya aku gondrong kini aku telah memotongnya. Ku liat dari pantulan cermin di depanku. Ku elus poni miring rambutku sembari memberikan gatsbi. Semua terlihat sempurna. Batinku dalam hati. "Widih buset cakep amat deh dek. Tumben nih si gondrong jadi si Maman wegeliseh." Puji Kak Meli yang berdiri di depan pintu kamarku "Apaan sih lu kak main nyelonong masuk aje!" Desisku memandangnya denga mata tajamku "Buset gitu aja sewot amat dek!" Balas kak Meli kemudian ia melempar ke arahku buket bunga "Nih ambil bunga!" Aku meliriknya tak paham dengan maksud kak Meli yang memberiku bunga "Bunga? Buat apa?" "Ya buat ngeluluhin cewe yang lu sukai lah dek! Ga peka amat lu!" Ledek kak Meli "Ya kan gua ga pernah Bambang!" "Ya udah gua kerja dulu bye! Semoga pdkt lu berhasil!" Teriaknya dengan kencang membuatku menoleh ke kanan kiri. Aku takut ketahuan oleh ibu dan abahku. "Le! Lagi pdkt sama siapa?" Tanya ibuku yang mengagetkanku dari belakang "Astaghfirullah i..ibuk!" Jawabku tergagap melihat kehadiran ibuku yang tiba-tiba "Kamu kenapa toh le? Kek liat hantu aja." "Mboten kok Bu, Dani berangkat dulu assalamualaikum." Pamitku guna menghindari pertanyaan ibuku lagi "Le kamu belum jawab pertanyaan ibuk!" Teriak ibuku Aku berpura tak mendengarnya dan terus melajukan motorku untuk pergi. Hampir saja ketahuan si ibuk! Kalo ketahuan bisa berabe gua! Ucapku dalam hati Tuhan semoga hari ini aku bisa menyatakan perasanku, semoga semua kau permudah jalan hamba aamin. Harapku dalam hati **** Sesampai di pondok pesantren. Aku celingukan mencari keberadaannya. Tentu aku berusaha tetap sembunyi. Ku dengar suara yang samar-samar seperti suaranya. Aku buru-buru bersembunyi di balik dinding. Suara itu terdengar seperti suaranya. Dugaanku pasti tak pernah salah. "Iya Lela iya! Ya udah ayo kita panggil santri buat baris baru kita bahas itu nanti." Dugaanku tak pernah salah jika suara itu adalah suaranya. Beberapa menit kemudian mereka pergi, aku segera masuk ke ruang guru. Ku liat dua tas wanita yang terlihat sama modelnya akan tetapi hanya beda warnanya. "Mana ya tasnya dia?" Pikirku tentang kedua tas di depanku Ada dua tas yang sama dan hanya beda warna. Warna itu adalah warna biru dan putih. Aku mencoba mengingat dia. "Ah tak salah lagi jika tas biru ini miliknya!" Setelah memilah akhirnya ku keluarkan buket bunga dan secarik surat buatanku. Ku letakkan di bangku meja yang berisi tas berwarna biru. "Ha! Semuanya sudah ku letakkan sekarang ganti aku yang harus pergi!" Saat aku ingin melangkah pergi, ku dengar suara derap kaki seseorang yang masuk ke ruang guru. Aku bergegas bersembunyi. Aku bersembunyi di bawah kolong mejaku. "Kyyaaa sorayyaaa aku dapat bunga darinya!!" Sebentar! Suara teriakan ini! Suara itu? Ku intip perlahan dari bawah meja dan ku liat sosok Lela yang sedang memegang bungaku. Ternyata teriakan seorang wanita itu menyadarkanku bahwa sosok yang mendapatkan bunga itu bukanlah Soraya akan tetapi Dia adalah Lela Badriah. seorang wanita yang tak pernah lelah mengejarku. Oh tidak Tuhan kenapa aku harus bernasib sial seperti ini! Kenapa aku salah menempatkan bunga di meja Lela! Ku kira tas biru itu milik Soraya dan ternyata milik Lela! Kau bodoh Dani! Apa yang harus ku lakukan setelah ini! Habislah riwayat ketenangan hidupku!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD