"Sulit ku katakan padamu jika aku benar-benar ada perasaan untukmu bukan untuknya"
- Danial Eka Abdillah -
"Kyyaaa Sorayaaa!!" Teriakan Lela melengking di seluruh penjuru ruangan. Hal itu membuat para guru melihat ke arahnya.
"Kyyaaa Soraya aku dapat bungaaa!!" Teriak Lela sekali lagi kegirangan telah mendapatkan bunga
Soraya yang berada di sampingnya mencubit Lela dan melototinya "Lela!" Ia memperingati Lela sahabatnya untuk menjaga teriakannya.
"Apa sih Soraya?" Lirik Lela yang masih belum paham. Saking gembiranya membuat dia terlena dan melupakan sopan santun seorang wanita.
"Jaga suaramu, inget aurat!" Peringat Soraya mengingatkan sahabatnya Lela
Lela menutup mulut dan tertawa cekikikan "Hehe iya maafkan aku Soraya. Aku saking senangnya hehehe."
Soraya menarik tangan Lela untuk pergi dari ruang guru. Sebelum Lela kembali berteriak lagi alangkah baiknya Soraya membawanya pergi terlebih dahulu. Tubuh Lela terhuyung saat Soraya menarik tangannya keluar dari ruangan. Ia tetap mengikuti langkah Soraya sambil membawa surat buatanku.
Aku semakin was-was melihat kepergian Lela. Aku segera keluar dari bawah meja. Firman mengetahui diriku yang baru saja keluar dari tempat persembunyianku.
"Bro ngapain lu di bawah meja? Sedang sembunyi biar gak ketahuan Lela pujaan hati lu ya?" Goda Firman padaku
"Berisik ah lu man! Tadi mereka pergi kemana?" Tanyaku
"Ke taman kali kalo ga gitu lu cari aja." Firman memberitahuku
"Oh ya udah gua cabut dulu!"
"Good luck ya bro buat jadiannya! Gua tunggu traktiran lu!" Teriak Firman
Aku tak peduli teriakan Firman. Hal yang ku pedulikan saat ini adalah Lela dan Soraya. Terutama respon Soraya. Aku takut jika Soraya membaca suratnya.
Haduh bisa gawat kalo suratnya dibaca Soraya dan Lela!
Nanti Lela pasti salah paham! Apalagi dia!
Bego lu dan!
Aku berlari sekencang mungkin. Ada beberapa santri yang memanggilku namun tak ku hiraukan. Akan tetapi ada seorang guru yang memanggilku. Dengan terpaksa aku berhenti.
"Pak Dani." Sapa seorang guru laki-laki yang tak lain adalah kepala sekolah
"Iya pak Gunawan." Aku berusaha untuk setenang mungkin agar beliau tak berfikiran yang tidak-tidak padaku.
"Pak Dani tadi kenapa lari-lari? Apa ada sesuatu yang bapak kejar?" Tanya pak Gunawan yang mulai mempertanyakan aksiku yang berlari kencang.
"Ah tak apa pak, saya hanya berolahraga pak Gunawan." Aku mengarang alasanku agar pak Gunawan tak curiga dengan sikapku.
"Oh begitu, Ah iya ada hal yang ingin saya sampaikan pada pak Dani. Silahkan ikut saya ke ruangan saya." Pak Gunawan mengajakku untuk bicara di ruangannya.
"Aduh mampus!" Umpatku yang terdengar oleh pak Gunawan
"Iya pak Dani? Siapa yang mampus?" Sahut pak Gunawan
"Ah tak ada pak Gunawan." Aku menunduk malu karena suara umpatanku yang didengar pak Gunawan.
"Ya sudah mari ikut saya sekarang." Perintah pak Gunawan
"Baik pak Gunawan." Dengan terpaksa aku mengikuti pak Gunawan. Aku terpaksa harus menunda mengejar surat itu.
Ah tidak!
Gimana surat gua Bambang! Umpatku dalam hati
Kalo Soraya baca akan lebih gawat!
Kalo Lela baca juga gawat!
Tapi gua gak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti pak Gunawan!
Tuhan tolong bantu diriku!
Aku terus menggerutu memikirkannya. Aku berharap dia tak akan salah paham lagi. Argh kenapa hari yang ku tunggu harus berakhir dengan kesialan!
Terlebih aku tak bisa melakukan hal apapun!
Terimalah nasibmu Danial Eka Abdillah!
*****
Ada dua gadis yang sedang duduk di meja taman. Kedua gadis itu memakai hijab yang berbeda. Ada yang memakai hijab berwarna biru dan ada yang memakai hijab berwarna putih. Ya, mereka adalah Lela dan Soraya.
Lela memeluk buket bunga dengan senang hati. Ia juga masih belum membuka isi surat dalam bunga tersebut.
"Lela lain kali itu kalo teriak dijaga. Ingat suaramu itu aurat Lela Badriyah." Omel Soraya lagi
Lela menutup mulut Soraya, "Sekarang jangan ngomel lagi ya. Sekarang ayo kita baca isi surat ini."
"Hmm baiklah.."
Lela mulai membuka surat tersebut. Dari lipatannya saja sudah rapi. Lela tetap terkesima dan tak sabar membacanya.
Lela memberikan surat tersebut ke Soraya "Bacakan untukku mbak Soraya!"
Soraya mengangguk dan menerima surat pemberian Lela. Ia mulai membaca isi surat tersebut.
Hai engkau tuan putri
Aku bukanlah seorang ksatria
Dan aku juga bukanlah seorang raja
Akan tetapi aku hanyalah seorang laki-laki yang ingin mencintaimu
Mencintaimu dengan sekuat tenaga
Pertemuan pertamaku denganmu
Menghadirkan sebuah cinta
Sebuah cinta yang tak mampu ku bendung lagi
Hadirmu seperti menghujaniku dengan cahaya bintang
Sehingga menerangi kalbuku..
Hai tuan putri..
Pada hari ini aku Danial Eka Abdillah
Ingin mengatakan suatu hal padamu
Maukah kau menjadi pelabuhan cintaku?
Jika kau mau balasalah isi suratku
Ku tunggu jawabanmu ..
Setelah soraya selesai membaca ia tampak merasa hangat. Wajah memerah seketika. Ia mulai menyadarkan dirinya bahwa surat ini untuk Lela bukan untuk dirinya.
"Sweett banget kan Sorayaaa!! Kyaa Dani berarti memiliki perasaan yang sama padaku!! Tak ku sangka hal itu." Lela berteriak dan menghentak-hentakkan dirinya saking bahagianya dirinya.
Soraya merasa senang melihat kisah cinta temannya yang tak bertepuk sebelah tangan lagi. Tapi entah kenapa dalam hati kecilnya ia masih merasa bahwa surat tersebut bukan untuk Lela tapi untuknya. Entah kenapa ia berfirasat seperti itu.
Aku harus menghilangkan fikiran ini! Batin Soraya dalam hati.
"Soraya ayo kita temui Dani! Aku tak sabar lagi membalas suratnya dengan langsung bicara dengannya." Belum persiapan apa-apa Lela sudah menariknya pergi.
Soraya hanya bisa mengikuti sahabatnya tersebut. Mereka berdua mencari keberadaan Dani. Tepat di depan ruang kepala sekolah Dani baru saja keluar. Lela melepaskan tangannya dari tangan Soraya dan berlari ke arah Dani.
Gyut!
Lela memeluk Dani tanpa merasa malu sedikitpun. Dani yang merasakan hal itu jadi diam kaku. Dani melihat ke bawah jika ada seorang wanita yang memeluknya. Dan wanita tersebut adalah Lela.
"Lela? Bisakah kau lepaskan pelukanmu?" Pinta Dani yang berusaha melepaskan pelukan Lela. Tak etis jika melakukan hal ini di sekolah.
"Dani aku juga mencintaimu dan aku mau menjadi pelabuhan terakhir cintamu. Aku menerima cintamu." Lela mengatakan perasaannya pada Dani
Dani semakin merasa Dejavu. Ia melirik ke Soraya untuk mau membantu dirinya melepaskan pelukan Lela. Soraya yang menyadari kode dari Dani akhirnya mendekat dan berusaha melepaskan pelukan Lela "Lela gak baik main peluk-peluk!"
Lela terpaksa melepaskan pelukannya karena Soraya yang menariknya dengan kuat. Ia menatap ke arah Dani, tak lupa ia berikan senyum terbaiknya "Berarti mulai sekarang kita resmi jadian ya?"
"Eh? Apa?" Dani merasa kikuk saat Lela memastikan hal itu padanya
"Iya aku dan kamu sekarang resmi jadian. Iya kan sayang?" Lela semakin gencar mengatakannya.
Soraya terpaku mendengar kedekatan sahabatnya dengan Dani. Ia hanya bisa diam dan menjaga sahabatnya jika bertindak aneh-aneh pada Dani.
Kringg!!
Bel berbunyi dengan keras. Waktu untuk siswa memulai pembelajaran.
"Lela ayo kita masuk ke dalam kelas!" Ajak Soraya
"Tapi kan aku masih belum mendengar perkataannya." Balas Lela yang enggan untuk pergi
"Udah itu nanti aja. Ingat kewajibanmu sebagai guru!" Peringat Soraya pada kewajiban Lela.
"Ah iya deh, sampai ketemu lagi nanti sayang." Lela melambaikan tangannya pada Dani
Dani belum sempat berucap Soraya sudah menarik tangan Lela.
"Ya udah aku dan Lela duluan assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
Kepergian Soraya dan Lela membuat fikiran Dani semakin kacau. Ia tak tau harus bagaimana lagi. Semua sudah terlanjur salah paham pada dirinya. Semua karena suratnya yang salah penempatan.
Aku harus bagaimana selanjutnya Tuhan! Ujar Dani dengan lirih
Sudah ah lebih baik segera masuk kelas! Hal itu bisa ku pikirkan nanti!
*****
Setelah hari itu terjadi. Aku tak lagi mendapatkan ketenangan di sekolah. Lela semakin menempel saja padaku. Dan dia semakin menjauh dariku. Aku merasa sangat frustasi pada kondisi ini.
Argh! Teriakku memukul meja di depanku.
"Buset Napa lu marah gitu dek." Sahut seseorang yang tak lain adalah Kak Meli
Aku hanya bisa diam untuk meredam emosiku.
"Lu ditanya bukannya jawab malah diem. Napa sih lu? Bukannya lu bahagia? Tapi kok gua liat akhir-akhir ini lu uring-uringan mulu." Ujar Kak Meli yang mulai menyadari tindakanku.
"Udah ah lu ga perlu tau." Acuhku yang memilih tak memberitahu kak Meli daripada nanti dia malah berbuat hal yang tidak-tidak
"Bambang lu gitu amat! Lu kalo Ade ape-ape tuh cerita sama gua! Bukan malah uring-uringan sendiri. Lu mau jadi cepat tua hah?" Desak Kak Meli yang membuatku mau tak mau mengatakannya.
"Ya surat yang gua tulis salah sasaran." Jawabku singkat
"Salah sasaran gimana sih Bambang? Ya jelas dong dan jangan setengah-setengah gitu!" Kak Meli semakin mendesakku untuk menceritakan lebih detailnya. Ya inilah kepribadian kak Meli yang suka hal detail.
"Ya gua salah meletakkan bunga dan surat itu. Gua letakkin di meja orang yang suka sama gua bukan ke mejanya. Gitu!" Paparku menceritakannya dengan kesal.
"Bego lu dek! Kok bisa gitu sih! Terus gimana selanjutnya?" Tanya kak Meli
"Ya feeling gua salah jadi gimana lagi kak, Selanjutnya surat itu dibaca gadis itu dan gadis yang gua sukai. Gadis itu salah paham dan dia menganggapku sebagai pacarnya! Lebih parahnya dia membuatku tak tenang di sekolah! Udah ah gua bingung Bambang!" Keluhku
"Hahaha bisa-bisanya lu dek haha. Tapi semua sudah terlanjur." Ujar Kak Meli yang ku potong "Terus gua harus gimana Bambang!? Bantu gua dong!"
"Ya lu lurusin ke cewek tersebut! Terus baru deh bilang ke cewek yang lu suka. Kalo bisa sih langsung lamar dia! Itu lebih mantap!" Saran kak Meli dengan seruannya
"Lu gila apa!" Umpatku
"Itu cara terbaik Bambang! Kalo lu gak mau ya udah!"
Aku diam sebentar. Memikirkan hal yang kak Meli ucapkan. Semua memang ada benarnya tapi aku ga mungkin langsung melamar Soraya. Semua harus butuh waktu yang tepat.
"Okey gua lakuin cara lu! Tapi gua butuh waktu yang tepat untuk melamarnya." Ujarku yang telah mengambil keputusan
"Iya itu lebih baik, jelaskan pada gadis itu baik-baik serta lebih cepat lebih baik dek." Saran kak Meli
"Iya kak, aku akan menjelaskannya besok!"
"Okey semangat dek!"
Okey! Besok aku akan jelaskan dan luruskan pada Lela!
Agar semua tak ada salah paham lagi!
Semangat Dani!
*****
Keesokan hari, Aku mencoba untuk mencari Lela. Aku celingukan kesana kemari namun tidak menemukan Lela.
Haduh kemana sih Lela ini! Rutukku dalam hati
Beberapa menit kemudian ku dengar suara yang mirip dengannya.
"Apa? Lela sakit? Terus dia dimana jah?" Sepertinya ia sedang berbicara dengan seseorang. Ku dengar ia sedang membicarakan Lela yang sakit.
"Ya udah jah aku jenguk Lela ke UKS dulu."
Dia mau pergi ke uks, Okey aku akan coba untuk mengikutinya. Aku mengikutinya dari belakang. Ia berjalan ke ruang uks. Saat ia masuk aku memilih untuk menunggu di depan pintu uks. Aku ingin bicara empat mata dengan Lela agar Soraya tak mendengarnya.
Aku mencoba menunggu Soraya untuk keluar dari dalam uks. Beberapa menit kemudian Soraya keluar dari uks, aku berpura-pura menundukkan kepalaku agar tak diliatnya. Setelah dia berjalan jauh aku baru masuk ke dalam uks.
"Assalamualaikum Lela." Sapaku mengucapkan salam saat masuk
"Waalaikumsalam." Ia bangun saat melihatku. Matanya membelak "Mas Dani. Silahkan masuk." Ujarnya mempersilahkanku untuk masuk.
Ku berikan sebungkus roti dan sebotol air mineral kepada Lela "Ini."
Wajahnya bersemburat merah saat menerima roti pemberianku "Mas Dani tak usah repot-repot jenguk aku."
"Tak apa Lela, Sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan. Aku ingin meluruskan semuanya Lela." Ujarku
Matanya membulat, "Mau bicara apa mas?"
"Maaf jika aku salah dalam tutur kata. Sebenarnya surat yang ku letakkan di mejamu itu surat untuk Soraya bukan untukmu. Maaf jika aku bikin kamu salah paham." Tuturku dengan sekali nafas ku ceritakan kebenarannya.
Ia meletakkan sebungkus roti di atas meja, ia melihatku dengan lekat. Tampak terpancar jelas di bola matanya jika ia sedang serius "Jadi sebenarnya mas Dani tidak suka denganku?"
"Sebenarnya bukannya tak suka tapi aku menyukai Soraya. Aku ada perasaan untuknya jadi maafkan aku yang bikin kamu salah paham." Paparku menjelaskan lagi
"Tapi kenapa mas Dani gak mengatakan padaku dari dulu?" Tanyanya meminta penjelasan padaku lagi.
"Karena aku udah berusaha untuk menjelaskan akan tetapi kamu tetap mengejarku." Tuturku lirih
"Ya sekarang aku paham. Jika hal itu yang ingin mas Dani katakan baiklah aku terima semua itu. Maaf jika aku menghalangi rencana mas Dani mendekati mbak Soraya." Balasnya yang terdengar menahan tangisnya. Ia memiringkan badannya ke kanan dan tak mau melihatku lagi.
"Sekali lagi Maaf." Hanya kata maaf lah yang bisa ku katakan padanya
"Sekarang mas Dani keluar, aku ingin istirahat." Pintanya
"Baiklah, semoga lekas sembuh Lela assalamualaikum." Aku berpamitan padanya sebelum keluar
Setelah itu aku keluar dari ruang uks. Ku biarkan dia menenangkan diri untuk mencerna semuanya. Aku tau jika perkataanku pasti menyakiti hatinya tapi mau bagaimana lagi. Inilah resiko yang harus ia terima karena kesalahpahamannya padaku. Lebih baik berkata jujur daripada ia semakin terhanyut pada perasaannya dan lama kelamaan akan menyakitinya.
"Berkatalah jujur sebelum kau menyakiti hatinya"
- Danial Eka Abdillah-