"Kejarlah Soraya dengan melamarnya Dani. Karena hanya itulah satu-satunya cara!"
- Lela Badriah -
Berhari-hari aku mencoba mendekatinya. Namun, tetap sama saja, ia tetap enggan berbicara denganku. Ia akan bicara denganku jika memerlukan sesuatu. Selain itu ia tak akan ingin dekat denganku. Aku merasa sangat frustasi dengan semua cara yang telah ku lakukan.
Aku duduk di kursi taman. Ku tengadahkan kepalaku tuk menatap langit biru yang cerah. Ku pejamkan mataku sejenak. Sesuatu yang dingin ku rasakan di pipiku, mataku terbuka dan melihat Lela yang duduk di sampingku.
"Nih minumlah mas Dani." Ia memberikanku sekaleng minuman, Ku terima dan ku buka.
Setelah menegaknya ku ucapkan terima kasih pada Lela. Lela mengangguk, beberapa saat kemudian ia bertanya padaku. "Mas Dani lagi galau ya?"
"Bagaimana kau bisa tau hal itu?" tanyaku tanpa menoleh ke arahnya.
"Ya Lela tau dari sikap mas Dani lah." Ah, ketara sekali ya jika aku memang sedang galau?
"Ya gitulah." Jawabku singkat yang enggan menceritakannya.
"Mas Dani galauin Mbak Soraya ya?" tebak Lela lagi.
"Ya gitulah." Dan aku masih menjawab dengan kata yang sama
"Mas Dani tau gak cara terbaik mendekati mbak soraya." Aku langsung mengalihkan pandanganku padanya.
"Emang bagaimana caranya? Apa kau tau caranya Lela?" serbuku yang ingin tau caranya dengan cepat.
"Caranya cukup simpel kok mas Dani." Lela masih enggan mengatakannya secara to the point. Hal itu membuatku geregetan.
"Cepat katakan padaku Lela!" perintahku yang tak sabar mendengarnya.
Lela malah tertawa melihatku. "Haha, Mas Dani lucu ya kalo gini. Gara-gara galau mbak soraya aja jadi gini haha."
"Udahlah Lela jangan bercanda. Aku serius nih!" tegasku padanya.
"Hmm okey haha baiklah akan ku katakan caranya."
"Apa caranya!?" mataku membelalak, telah siap mendengar jawaban dari Lela.
"Caranya yaitu melamar mbak soraya di depan orang tuanya," balas Lela mengatakannya.
"Apa!?" Aku terkejut tak main mendengar cara yang dikatakan oleh Lela.
"Kau gila apa Lela!" Lanjutku.
"Ya hanya cara itulah yang bisa menaklukkan hati mbak soraya." Lela mengulanginya lagi.
"Tapi bagaimana mungkin aku bisa melakukannya! Itu semua terlalu cepat Lela."
"Tapi hanya itu satu-satunya cara mas Dani. Mbak soraya bukanlah seorang wanita yang suka dekat dengan seorang laki-laki. Ia wanita yang selalu menjaga marwahnya oleh karena itu dekatilah dia dengan cara meminta restu pada kedua orang tuanya," papar Lela menerangkan semua perihal tentang soraya.
Aku hanya tertunduk diam. Aku tak tau harus menjawab apa lagi. Tapi sebenarnya ada benarnya juga, akan lebih baik jika aku langsung melamarnya. Namun, apa dia mau menerima lamaranku?
Lela memegang bahuku. "Aku tau apa yang masih dani rasakan. Semua pasti berat bagi mas dani jadi pikirkanlah saran dariku. Ambillah keputusan dengan matang karena aku tak ingin melihat mas Dani menyesal nantinya."
"Ingat mas Dani, Mbak soraya adalah wanita yang langka dan ia bisa diambil orang tiba-tiba jadi segeralah untuk bertindak." Lela mengingatkanku lagi untuk segera berfikir dan bertindak.
Aku mengangguk lalu berujar, "Terima kasih atas semua saranmu Lela."
"Sama-sama, Aku akan mendukung mas Dani untuk maju dalam mendapatkan hati mbak soraya jadi fighting!" Ia menepuk pundak ku dengan semangat.
Aku tertawa melihat seruannya. Meski dalam hatiku merasa gundah tapi mendapat suntikan semangat dari Lela membuatku sadar untuk berjuang.
Aku sih yakin akan tetapi bagaimana dengan ibuk dan abah?
Sudahlah hal itu bisa ku katakan nanti di rumah!
Sekarang aku harus persiapkan dengan matang!
Bel istirahat berbunyi, Aku dan Lela segera pergi. Waktu mengajar telah tiba kini waktu untukku fokus mengajar baru nanti memikirkannya nanti.
****
Di rumah Dani
Aku berjalan mondar-mandir. Menunggu kedatangan ibu dan abahku. Seperti biasa kak Meli mengagetkanku.
"Dek lu napa sih? aneh bet dah dari tadi, mutar muter mutar muter kek setrikaan rusak." Ku dengan suara celetukan dari kakak Perempuanku.
"Kak ibuk dan abah kemana sih? Kok lama pulangnya." Aku bertanya dengan gelisah.
"Lah Dek, Ibuk dan Abah di kamar. Mereka berdua udah pulang dari tadi." Balas Kak Melo yang membuatku ternganga.
"Apa kak!? Kenapa lu ga bilang sih?"
"Ya lu aja sih yang ga tanya hm! Udah sana temui aja."
Aku pergi ke kamar abah dan umik. Di depan pintu kamarnya, ku ketuk pintu kamarnya dengan lirih. Abah keluar dari kamar dan membukakan pintu untukku.
"Iya Le kenapa?" Tanya Abah
"Abah, Dani mau mengatakan sesuatu pada Abah dan ibuk." Tuturku
"Mau bicara apa le?" Sahut ibuk yang tiba-tiba berdiri di samping abah
Ku ajak mereka berdua untuk pergi ke ruang santai. Mereka berdua hanya menurutiku. Aku diduk di depan kedua orang tuaku.
"Abah .. Ibuk.. Dani mau melamar seseorang wanita. Tolong izinkan Dani." Tuturku secara terus terang tanpa menunda-nunda lagi
"Apa? Siapa wanita itu?" Tanya mereka berdua bersamaaan
Ku ambil ponselku dan ku perlihatkan foto soraya "Ini dia wanita yang ingin Dani lamar."
"Kamu sudah mengenalnya sejak kapan Le?" Tanya Abah
"Sejak awal Dani melamar pekerjaan di pondok pesantren itu." Jawabku
"Ceritakan pada abah tentangnya." Perintah Abah yang ku balas dengan "Baik abah.."
Setelah itu aku mulai menceritakan tentangnya. Ku ceritakan pada Abah sedetailnya tanpa ada yang kurang. Abah hanya mengangguk paham begitu pula ibuk.
"Le jika kamu yakin dan tak ingin menundanya maka abah restui kamu untuk mendatangi orang tuanya." Tutur Abah yang mulai mengizinkanku.
"Ibuk juga akan merestui setiap keputusanmu. Ibuk juga gak ingin kamu berpacaran jadi jika kamu sudah yakin dan siap maka datangilah orang tuanya baru nanti kita akan pergi melamarnya kesana." Restu kedua telah ku dapati dari ibuk. Aku senang tak main, ku dekati abah dan umik. Ku sentuh kedua kakinya dan menciumnya.
"Doakan Dani ya ibuk abah.."
"Apapun langkah yang kamu ambil akan abah dan ibuk doakan Le." Tutur Ibuk yang membuatku terharu
"Gua akan restui lu juga dek." Kak Meli ikut menyahuti
"Apaan lu kak ikut-ikut bae lu." Ejekku
"Weh gua juga berhak ikut-ikut. Ingat gua juga punya peran andil lu dek." Ujar kak Meli
"Haha iya iya bawel ah lu kak."
"Dasar adek durhaka!"
Kami tertawa bersama saat melihat kak meli kesal terhadapku. Ya, kali ini aku telah mendapat restu dari kedua orang tuaku. Dan besok adalah waktu untukku mulai menemuinya di rumahnya.
*****
Keesokan harinya, Aku telah mempersiapkan diriku untuk datang ke rumahnya. Aku telah bersiap sejak petang tadi jam 3. Sebelum aku mulai bersiap, Ku lakukan sholat tahajud. Memohon pada Tuhan untuk mempermudahkan setiap langkahku nantinya.
Setelah itu aku di waktu subuh, aku sholat subuh di masjid. Setelah itu bersiap dengan serapi mungkin. Semua barang yang ku perlukan telah ku siapkan. Pukul 5 kini waktuku untuk pergi. Ku liat ponselku dan ku dapati pesan Lela yang memberikanku sebuah alamat. Sebuah alamatnya tentunya.
Setelah semua persiapan telah sempurna aku berpamitan pada ibuk dan abahku. Aku keluar dan mengambil motorku si beo.
Beo mari kita melaju!
Aku siap melajukan motorku..
Brum..Brum..
Ku lajukan motorku dengan semangat yang menggebu. Aku, Danial Eka Abdillah telah siap menjemput engkau jodohku Soraya Aisyah Rihadatus Sholihah.
*****
Sesampai di depan halaman rumahnya. Ku parkirkan motorku jauh dari rumahnya. Aku melangkah maju ke rumahnya. Ku liat dia yang sedang berceloteh ria dengan kedua adiknya. Ku panggil dirinya dengan lirih. Saat itu ia merasa terkejut melihat kehadiranku. Ia bertanya tentang alasanku yang mendatanginya. Ku ungkapkan perasaanku tanpa menunggu waktu lagi. Dia terkejut mendengar hal itu, terlebih ada kehadiran ayahandanya yang datang di belakangnya.
Tentu aku merasa tak siap, Saat aku merasa deg-degan ayahandanya mempersilahkanku untuk masuk ke dalam rumah. Aku disambut keluarganya dengan ramah. Aku merasa jauh lebih tenang. Kemudian ayahnya bertanya padaku tentang ungkapan perasaanku tadi. Dengan hati yang siap, ku beranikan diriku untuk melamar soraya. Respon yang ku terima dari keluarganya adalah isak tangis terharu. Aku menegaskan lagi niatku yang ingin melamarnya dan ku tunggu jawabannya.
Ayah dan uminya memberi pengertian pada soraya. Mereka berdua mencoba membujuk soraya. Dan atas izin tuhan akhirnya dia menerima ajakan khitbahku. Aku sangat bersyukur di setiap langkahku selalu dipermudah oleh tuhan yang maha kuasa. Semua berkat izin Tuhan yang maha kuasa aku bisa mengkhitbah dirinya dan menjadikan dia sebagai teman hidupku.
Definisi cinta dan perjuangan memang selalu beriringan. Kesempatan memperjuangkan cintaku ke dia tak akan pernah datang dua kali. Dan kali ini demi dia serta atas Ridho-Nya ku taklukkan dia. Tanpa menunda waktu lagi, Kami melangkah bersama dalam ikatan yang pasti. Ku berharap segala proses menuju hari-H kan berjalan dengan lancar.
inilah kisah tentangku dan perjuanganku dalam mendapatkan cintanya..