Bab 14

1670 Words
Salju turun cukup deras di luar membuat sebagian jalanan tertutup oleh kristal es yang menggumpal.  Kendaraan tidak banyak lalu lalang kecuali beberapa orang yang masih melintas dengan payung.  Aku menghela napas menatap butiran salju melalui jendela toko,  entah mengapa musim dingin kali ini membuat perasaanku semakin melankolis. Dalam jarak waktu yang dekat, aku telah ditinggalkan oleh dua lelaki.  Namun,  di antara waktu itu, Tuhan juga mengirimiku lelaki lain. Apa ini cara Tuhan untuk membuatku kembali bahagia?  Atau apakah ini cara Dia untuk membuatku menderita secara perlahan-lahan? Liv menghampiriku sambil menggendong Elsa yang nampak menguap. Dia duduk di depanku sambil berkata, "Sepertinya salju akan terus deras hingga besok pagi.  Sebaiknya kau tidur di rumahku saja, Em." "Aku.... " "Lagipula David juga tidak datang, kan?" Aku tidak berani mengiyakan namun kalimat itu memang benar. David belum juga menampakkan batang hidungnya,  padahal ini sudah hampir dua jam aku menunggunya seperti orang gila. Jika bukan karena permintaan Paula,  aku lebih suka pulang sendiri daripada harus melibatkan orang lain. "Mungkin dia terjebak macet," kataku dengan ragu. "Tapi, Elsa juga butuh istirahat, Em," kata Liv. Aku memandang anakku di pangkuan bosku itu. Dia sudah terlelap sambil menghisap jempolnya.  Kupikir Liv memang ada benarnya,  tapi aku merepotkan orang lain lagi dan lagi. "Kabari saja David jika dia masih ingin menjemputmu,  suruh jemput di rumahku saja. Sementara kau bisa istirahat di sana, kan?" lanjut Liv. "Baiklah. Terima kasih, Liv." #### Tempat tinggal Liv tidak jauh dari toko, sekitar sepuluh blok bangunan tepatnya di perempatan jalan di depan sebuah kedai sayur. Kami melangkah dengan hati melintasi trotoar yang sedikit licin meski salju sudah tidak sederas tadi. Sebuah mobil besar nampak melaju lamat-lamat menyingkirkan gundukan salju ke tepi jalan agar bisa dilewati kendaraan. Melihat itu sesekali Liv bercerita tentang kecelakaan yang pernah menimpa dirinya bersama suami.  Di antara senyum yang dia tawarkan ada celah kesedihan yang disembunyikan oleh wanita bermata biru terang itu. Liv mengembuskan napas membuat kepulan asap di mulutnya lalu berkata, "Jika melihat Elsa, aku selalu saja melihat wajah mendiang anakku, Em." Dia menarik napas menerobos orang-orang yang melewati dirinya lalu menoleh kepadaku. Bibirnya masih saja menyunggingkan senyum, menampakkan guratan garis wajah yang menunjukkan bahwa perlahan dia telah dimakan oleh sang waktu dan mungkin juga beban hidupnya yang tidak diceritakan kepada orang lain. Aku tidak tahu. "Kami mengalami kecelakaan lima tahun lalu setelah pulang dari gereja di malam kudus. Aku masih ingat, waktu itu salju turun sangat deras, suamiku mengendarai mobil sudah sangat pelan namun nahas, ada satu mobil yang melaju diluar kendali. Dan kau tahu ... dia menabrak dari arah belakang membuat anakku yang berada di kursi tengah terpental keluar dari mobil." "Astaga, Liv...." kupegang bahu kanannya memberinya kekuatan. Tak selamanya salju mengandung makna romantis, nyatanya dibalik keindahan butiran es itu meninggalkan luka dalam di hati Liv. "Aku tidak apa-apa, Em. Anakku Betty telah menemukan rumah terbaik di surga. Dua tahun kematian Betty, aku hamil kembali, Em." "Selalu ada kejutan di balik musibah, Liv. Betty pasti bahagia memiliki adik." Liv mengangguk. "Ya, Candice tumbuh menjadi balita yang begitu manis seperti namanya. Kami lebih hati-hati saat turun salju seperti ini, jika tidak ada sesuatu yang mendesak, kami tidak pernah meninggalkan rumah. Kejadian itu masih meninggalkan trauma terutama suamiku." "Maafkan aku, Liv. Kuharap kalian selalu berada di lindungan-Nya." Kami berdua tersenyum, lalu Liv berhenti di sebuah rumah bercat merah maroon dengan pagar hitam serta pekarangan kecil yang ditumbuhi beberapa tanaman yang terlihat memutih ditutupi kristal salju. Rumah itu terlihat begitu hangat dengan cahaya yang menyala yang mungkin berasal dari ruang keluarga. Pintu bercat putih terbuka dan menampakkan seorang lelaki berkepala plontos dengan tubuh tinggi besar tersenyum ke arah Liv. Lelaki itu menggendong seorang anak berambut pirang dengan mata bulat dan berteriak memanggil Liv dengan sebutan mommy. Melihat keluarga kecil itu, aku membayangkan bahwa lelaki plontos itu adalah Sam dan anak yang digendongnya adalah Elsa. Mereka menyambutku setiap pulang kerja dengan senyuman dan pelukan hangat yang menghilangkan rasa penat setelah seharian mencari uang. Lalu kami bertiga berkumpul di ruang keluarga saling berbagi cerita dan melihat Elsa yang tumbuh pintar dan cantik dari hari ke hari. Air mataku hampir jatuh ketika Liv membuyarkan lamunanku untuk masuk ke rumahnya. Kutarik napas sambil menyunggingkan senyum. Suami Liv terlihat ramah, dia menyilakanku menuju kamar tamu untuk beristirahat setelah Liv memperkenalkanku kepadanya.  "Oh, jadi ini yang sering diceritakan olehmu dan Gilbert?" ucap Darrel terdengar antusias namun di telingaku justru terdengar aneh. Gilbert menceritakan apa saja kepada pasangan suami istri itu? Aku hanya tersenyum tipis merasa sungkan menjawab terutama hubunganku dan Gilbert yang sudah berakhir bahkan sebelum semuanya di mulai. Setelah membaringkan tubuh Elsa di kamar tamu, Liv mengajakku untuk makan malam. Kulihat ponselku sejenak, tidak ada jawaban dari David, entah apa yang sedang dilakukan oleh lelaki itu. Padahal aku sudah mengirim alamat rumah Liv jika dia masih ingin menjemputku, namun tidak ada balasan.  Jika dia tidak bisa menepati janji, mengapa dia harus susah payah mengatakan ya? Mendudukkan diri di samping kanan Liv, sedangkan Darrel berada di depan istrinya. Mereka begitu terlihat harmonis, Darrel turut membantu istrinya untuk menyiapkan makan malam sambil sesekali dia bercerita bahwa dia yang memasak daging kalkun yang dipanggang dan terlihat lezat itu.  "Suamiku justru lebih pintar memasak daripada aku, Em. Bukankah kadang dunia ini terbalik, huh? Tapi di dunia ini tidak ada pasangan suami istri yang benar-benar sempurna." Aku mengangguk, menyetujui perkataan Liv sambil mengiris daging kalkun dan memasukkannya ke dalam mulut. Liv benar, Darrel sungguh pandai mengolah makanan. Rasa daging kalkun yang diberi bumbu rempah dengan rasa perasan lemon serta olesan butter begitu meledak di dalam mulutku. "Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Gilbert?" tanya Darrel yang membuatku tersedak. Kuraih gelas di sisi kiriku dan meneguknya cepat. Liv membelakkan kedua matanya kepada Darrel seolah apa yang diucapkan oleh suaminya adalah hal yang tidak boleh dibahas. Aku mengelak sambil mengibaskan tangan kananku lalu berkata, "Tidak, tidak apa-apa, Liv. Aku dan Gilbert sudah berakhir, Darrel." Lelaki bermata cokelat gelap itu menganga sejenak dengan ekspresi wajah yang ingin menyiratkan sesuatu. Sebelum dia berkata, bel pintu rumah berbunyi. Cepat-cepat Liv beranjak dari duduknya dan berlari tergopoh-gopoh untuk menyambut kedatangan seseorang. "Kurasa bukan waktu tepat," gumam Darrel menatap arah pergi Liv dengan suara lirih. Entah ini perasaanku atau tidak, sayup-sayup aku mendengar suara Gilbert berbicara dengan Liv. Mendadak tanganku gemetaran, hanya dengan mendengar suaranya saja hatiku seperti disayat-sayat. Namun, otakku juga tidak bisa berpikir ketika suara lelaki itu semakin dekat. Tubuhku mendadak kaku, hanya terpaku menatap kosong makananku yang tersisa setengah.  "Aku mengajak Darrel untuk membeli gitar, katanya dia sedikit kebingungan," ucap Gilbert bersemangat. Suara Gilbert terhenti ketika aku melirik sosok itu yang berdiri di sisi kanan Gilbert dengan mengenakan mantel cokelat yang kuhadiahkan untuknya saat ulang tahunnya tahun lalu. Tiba-tiba suasana menjadi panas, tidak ada yang memulai pembicaraan bahkan di sini aku seperti seorang tamu yang tidak tahu diri. Kupaksa otakku untuk beranjak dari kursi menatap Liv dan berkata, "Kurasa aku harus pulang, Liv," ucapku dengan intonasi cepat. Ini waktu yang tidak tepat untuk menangisi b******n seperti Gilbert, tapi aku pun tidak bisa terus-menerus satu ruangan bersamanya. Dia hanya membuatku semakin resah, bahkan saat ini dia hanya memandangku dalam diam.  Tanpa menunggu jawaban dari Liv, aku pergi menuju kamar tamu. Aku merasa Gilbert mengekori langkahku, kupercepat langkah kakiku dan detik itu juga Gilbert menarik sebelah tanganku dengan begitu erat. Dia membalikkan tubuhku untuk menghadap dirinya, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Aku tidak mau menjadi pengecut yang mengemis meminta dirinya kembali, tidak, aku pun bisa meninggalkan dia seperti yang dia lakukan padaku. "Sampai kapan kau menghindariku terus?" Berusaha menulikan pendengaran, aku tidak mau lagi mendengar alasan apapun dari bibirnya sekali pun itu janji.  "Em, lihat aku!" Tidak! jangan lihat dia, Emilia! Kutatap matanya dengan mata memerah menahan bendungan air mata yang siap runtuh.  "Aku tidak suka kita seperti ini, Em," ucapnya dengan nada rendah namun terdengar seperti erangan di telingaku. Dia menyentuh pipiku dengan begitu lembut seolah sedang memantik setan dalam diriku untuk menariknya dalam pelukkanku. Aku juga, tapi kau telah membuat pilihan. "Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?" Aku terdiam sambil menunduk memandangi kedua kaki kami yang terbalut dengan kaus kaki. Aku tersenyum, kaus kaki yang dipakai Gilbert warnanya sama dengan yang kupakai. Aku ingat, kaus kaki yang kami pakai adalah kaus kaki yang dia belikan saat kami masih satu tempat kerja. Dulu. "Aku tidak bisa mendiami dirimu dan aku pun tak kuat jika kau diami aku seperti ini," lanjutnya. Aku juga tapi kau yang membuat kita menjadi beda. "Em, pertemanan kita ...." Liv muncul dan terlihat salah tingkah saat kami berdua masih serius membahas ke mana hubungan ini.  "Ehm .... Em, ada ... seseorang yang menunggumu di luar," ucap Liv sambil menggarukkan rambutnya terlihat begitu salah tingkah dengan tatapan penuh arti padaku. "Siapa?" tanyaku paham siapa yang datang. Ini saatnya memantik api, jika Gilbert bisa pergi dengan wanita ular itu dan memberikan komitmen untuknya. Aku pun juga bisa melakukan hal yang sama.  "David," jawab Liv.  Kedua tangan Gilbert yang masih memegang tanganku perlahan merenggang. Kutatap dirinya, dia menunjukkan rasa tidak suka mendengar nama itu terucap dari bibir sepupunya. Dia menoleh kepadaku dengan kerutan di keningnya. Bibirnya terkatup hingga terlihat rahangnya yang mengeras.  "Jangan muncul lagi jika kau tidak menepati apa yang telah kau ucapkan, Gilbert," kataku. Dia kembali menarik tanganku sebelum aku masuk ke kamar. "Aku bisa memberimu hati," ucapnya. "Tapi, kau tidak memberikan komitmen. David? Dia bisa melakukannya," kataku mengunci dirinya di mataku. "Bahkan aku tidak meminta David untuk memberikan komitmen, Gilbert. Perasaan suka bisa muncul kapan saja, tapi komitmen? Dia hanya muncul satu kali. Sedangkan kau?" Gilbert melepas genggamannya di tanganku, dia menunduk seperti kalah perang. Aku pun meninggalkan dirinya untuk membawa anakku keluar rumah Liv. Elsa yang terbangun karena merasa tidurnya terganggu, menangis keras. Kedua mata besarnya menangkap Gilbert dan seketika kedua tangan mungilnya terulur ke depan berusaha meminta gendongan ke dalam pelukan lelaki itu. "Kita akan pulang bersama uncle David, Sayang," ucapku pada Elsa. Anakku seperti tidak menghiraukan kalimatku saat kubawa tubuhnya menjauhi Gilbert yang mematung di tempat yang sama.  David menunggu di luar dengan butiran salju yang mengotori mantel hitamnya. Dia menghampiriku sambil mengatakan maaf karena membuatku menunggu lama. Kedua matanya beralih pada objek di belakang punggungku, aku menoleh, Gilbert berdiri dengan tatapan tajam dengan tangan terkepal. Tidak ada salam perpisahan, hanya saling melempar pandangan sebelum David menarik lenganku untuk melangkah menuju mobilnya. Kita berbeda, bahkan aku tidak bisa melihatmu bersama Laura. Kau telah melukai hatiku Gilbert dan sekarang saatnya aku melakukan hal yang sama padamu. Impas bukan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD