Bab 1
Kupandangi wajah anakku yang terlelap dengan mulutnya yang masih setia menghisap dadaku. Kubelai rambutnya yang kecokelatan lalu menciumnya dengan sayang dan air mata dan memandang ke arah luar jendela. Angin berhembus menerpa wajahku di akhir musim panas di Manhattan dengan pikiran bercabang.
I'm here without you baby
But you're still on my lonely mind.
I think about you baby and I dream about you all the time.
I'm here without you baby
But you're still with me in my dreams (3 doors down)
Air mataku menetes lagi, bahkan entah sudah keberapa kalinya, ku tak bisa menghitung ketika mendengar setiap bait lagu yang kini menjadi favoritku. Setiap memandang wajah Elsa, yang terlintas dalam pikiranku justru bayangan Sam. Padahal waktu sudah bergulir enam bulan semenjak lelaki itu ditangkap dalam insiden di Edgartown.
Mengusap air mata dengan punggung tangan kanan lalu menarik napas, harusnya aku tidak tenggelam dan berlarut-larut seperti ini. Harusnya aku bangkit seperti ucapanku dulu. Harusnya aku mudah melupakannya seperti lelaki lain yang pernah datang dalam hidupku. Harus aku bisa….
Tapi, Sam selalu memiliki cara lain untuk membuatku tidak lupa dengannya. Ya, kau benar, wajah Elsa. Anakku begitu mirip dengan Sam, tidak ada satu pun dariku yang melekat pada diri Elsa. Rambutnya, hidungnya, matanya, dan bibirnya. Ini seperti dia menyiksaku di antara kenikmatan yang dia berikan bukan?
“Em,” panggil Gilbert membuatku cepat-cepat menghapus jejak air mata meski sudah mongering.
Aku menoleh lalu membawa tubuh kecil Elsa di kasur ketika lelaki bermata lentik itu menghampiriku. Dia menangkup wajahku dengan kedua tangan besarnya dan alis yang mengkerut lalu berkata, “Kau menangis?”
Aku menggeleng sambil berusaha tersenyum meski hatiku rasanya masih teriris.
“Jangan berbohong, Emilia. Kau sudah enam bulan tinggal bersamaku, dan bagaimana mungkin aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan?” ucap Gilbert mengusap pipiku dengan kedua jempolnya.
Kupeluk tubuhnya dengan erat dan air mataku kembali tumpah. Perasaanku dan rasa benciku pada Sam begitu campur aduk hingga membuat kepalaku pening. Segala kenangan bersama Sam kembali berputar seolah mengolokku bahwa sebenci apapun pada lelaki itu, nyatanya aku masih memendam rasa.
Ah, Sam, kau selalu menang dan akan selalu begitu. Bagaimana caraku untuk melupakanmu? Bahkan ketika kau mengikatku dengan anak yang begitu mirip denganmu, Sam.
####
Selama mengandung Elsa, aku harus mengalami begitu banyak tekanan. Ayahku yang tidak menyetujui kehamilan di luar nikah karena ajaran agama yang kental dalam dirinya hingga diusir dari rumah di Kentucky, guncangan psikologis setelah mengalami insiden penculikan yang dilakukan Sam dan mendiang Billy, kehilangan pekerjaan, hingga stigma orang tentang hubunganku dengan si anak haram—Sam. Jika bukan karena Gilbert dan ibuku, mungkin aku takkan berdiri di sini bersama anakku. Waktu itu, rasanya mati adalah pilihan terbaik ketika dunia tidak bisa menjadi tempat untuk berpijak.
Pagi ini ibuku menelepon sekadar menanyakan kabar dan keadaan Elsa. Ibu juga memintaku untuk kembali ke Kentucky agar bisa merawat anakku bersama-sama dengan embel-embel nama ayah agar aku luluh. Pada akhirnya kutolak permintaan ibu dengan rasa bersalah yang menggelayuti benakku. Selain sikap ayah yang masih menunjukkan rasa tak suka, aku pun ingin hidup sendiri dan berjuang membesarkan Elsa sendirian.
“Apakah Marry sering menghubungimu?” tanya Ibuku.
“Iya, Mom. Marry wanita yang baik, sesekali dia berkunjung melihat Elsa,” ucapku bohong.
“Bagaimana Gilbert?”
“Dia baik, Mom.”
“Daddy merindukanmu, Em. Apa kau benar-benar tidak ingin kembali?” tanya ibu untuk ketiga kalinya.
Aku juga rindu tapi dia yang mengusirku,Mom
“Untuk sementara aku hanya ingin di sini, Mom. Aku harus pergi, Elsa menangis,” kataku berbohong lagi.
“Baik, sayang. Telepon aku jika kau perlu sesuatu, oke. I love you.”
Setelah sambungan terputus, kutarik napas sambil memejamkan kedua mata menahan genangan kristal bening yang ingin membasahi pipi. Kubuka mata lalu memandangi cincin perak yang melingkar manis di jari kiri dengan suara Sam saat mengikrarkan janji sucinya di gereja. Pernikahan di luar mimpi semua wanita di dunia. Pernikahan yang diadakan mendadak sesuai permintaan ayah agar anakku memiliki status dan menjaga nama baik ayah sebagai pengurus gereja.
"Ma'afkan aku, Em," kata Sam dengan ekspresi sedih. Dia menggengam kedua tanganku setelah acara pernikahan kami selesai.
Aku menghela napas berat memandangi kedua bola matanya yang berkaca-kaca. Jujur saja, aku belum bisa memaafkan pria yang sedang memohon padaku setelah kejadian itu. Kupejamkan kedua mata. Rasanya masih seperti kemarin, saat dia menolak mentah-mentah kehamilanku.
Kutatap kedua mata hazel itu dalam diam. Dia menatapku lalu bertekuk lutut dan menangis.
"Aku tidak bisa, Sam."
"Tapi kita sudah menikah, Em. Apa kau mau mengecewakan ayahmu yang sudah bersusah payah menyatukan kita?"
Kutatap wajah Sam dengan hati yang begitu pedih. "Kau yang membuangku. Kenapa juga kau memungutku kembali?"
Sam memeluk perutku, menciumnya dengan sayang. Mau tak mau sebelah tanganku membelai rambut coklatnya. Bibirku gemetaran menahan isak tangis. Kenapa disaat aku ingin pergi dari kehidupan Sam, dia kembali menarik dan mengikatku seperti ini?
"Sam," panggilku. Dia mendongak. "Berdirilah."
Dia berdiri. Kubelai pipinya sambil menangis.
"Aku pernah bilang padamu kan, bahwa aku menerimamu dengan semua masa lalumu?"
Dia mengangguk.
"Tapi untuk sekarang, biarkan aku menata hatiku dulu, Sam. Aku memang mencintaimu tapi bagiku sekarang tak mudah menerimamu kembali setelah kejadian itu. Kau tidak tahu rasanya berada di posisiku. Aku berjuang sendirian demi anak ini.
"Dan kau mengatakan bahwa kau tidak menginginkannya. Dan setelah ayahmu meninggal kau mencoba kembali padaku dan berusaha menjadi ayah yang baik. Tidak. Aku tidak bisa."
"Em..."
"Kita tetap terikat seperti ini. Tapi harus kau tanam satu hal dalam kepalamu, Sam. Aku tidak bisa menerimamu sampai..."
"Aku paham." Sam memotong kalimatku. "Aku akan membuatmu menerimaku kembali. Tak peduli jika itu harus bertahun-tahun, Em."
####
Akhirnya kuputuskan untuk meneruskan kehidupanku untuk menempati kembali apartemen lama di Kips Bay. Menata semuanya dari awal. Kamar Eliza kujadikan kamar Elsa. Meski anakku masih bayi, boleh saja bukan aku mendekor satu kamar kecil untuknya nanti?
Sebenarnya Gilbert memaksa untuk menyuruhku menempati apartemennya bersama agar tidak kerepotan mengurus Elsa. Tapi jika di sana, aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyusui. Aku harus kerja. Menghasilkan uang. Meneruskan karir yang sempat tertunda dan ... berusaha move on.
Kulihat cincin pernikahanku dengan kedua mata nanar. Kulepas cincin itu lalu menjadikannya liontin di kalung yang melingkar di leher. Biarlah aku diejek jahat karena menutupi statusku sebagai istri sah Samuel Jhonson. Mereka tidak tahu apa yang kurasakan dengan semua tekanan yang ada.
Untuk menghindari rasa kesepian. Seringkali aku mengajak Gilbert ke apartemen. Sengaja memang aku tidak menelepon EliZa. Aku merasa tak enak hati terlalu merepotkan sahabatku itu. Lagipula dia sudah disibukkan dengan anak kembarnya dan suaminya yang sangat overprotektif semenjak dia melahirkan.
Seperti sekarang, saat kami mendekorasi kamar Elsa. Dia sedang mengecat tembok dengan cat putih di sisi kanan. Sedangkan aku di sisi kiri. Diiringi lagu Charlie Puth, sesekali kami berdua berdendang. Aku tak menyangka bahwa suara Gilbert cukup enak di dengar.
“Jadi, kau akan bekerja di mana?” tanya Gilbert.
“Aku tidak ingin di dunia jurnalistik lagi. Membuka toko bunga atau menjadi kasir di toko, boleh juga. Asal aku mendapat uang, Gil."
“Aku punya kenalan yang memiliki toko roti. Jika kau mau—“
“Aku mau!” seruku semangat bahkan saat dia belum menyelesaikan kalimatnya.
Pria itu tertawa sambil mengecat. “Sarjana seperti dirimu akhirnya menjadi kasir juga,” ejek Gilbert.
"Oh, ayolah. Haruskah aku kembali ke jurnalistik dan mereka mengejekku karena aku menikahi seorang anak haram?" kataku dengan nada kesal.
“Jangan bicara seperti itu, Em. Dia suamimu apapun statusnya,” kata Gilbert.
Bibirku terdiam sejenak sambil tersenyum kecut. Kutoleh Gilbert yang menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya. “Aku tidak pernah melihat status Sam hanya saja sejak penculikan itu, dia berubah. Dia telah membuangku, Gil, meski … ya kau tahu, aku tidak senaif itu. Aku membencinya tapi aku masih mencintainya. Bukankah aku ini wanita bodoh?”
Gilbert menaruh kuas cat lantai lalu menghampiriku, ditariknya daguku dengan tangan kanannya. Jika seperti ini aku takut menangis lagi, sudah cukup air mata yang terbuang hanya karena mengingat satu nama.
“Kau masih punya Elsa, aku, dan keluargamu. Kau tidak sendirian, Em. Hapus semua rasa sedihmu, oke. Aku tidak mau melihatmu menangis,” kata Gilbert lalu mencium ujung kepalaku.
“Kau boleh menginap, Gil. Setidaknya untuk ucapan terima kasihku," kataku seraya tersenyum tipis.
“No problem. Kita sudah pernah membahas ini, bukan? Kau bisa meminta bantuanku kapan saja.” Gilbert menatapku lurus. “Kau tahu? Melihatmu disakiti orang lain membuat rongga dadaku sesak. Rasanya aku ingin menghajar siapa saja.”
"Menghajar Sam? Kau akan berhadapan dengan kakaknya."
Dia tertawa. "Jika itu tentang dirimu. Aku bisa melakukan apa saja, Em."
####
Siang ini, saat Gilbert libur kerja setelah lembur selama dua hari. Dia mengantar diriku ke toko roti milik sepupunya di sekitar west 176 st . Jaraknya ternyata tak terlalu jauh dari apartemen. Jika menggunakan mobil mungkin sekitar enam belas menit. Mobil Gilbert berhenti di depan sebuah toko roti bernama Liv’s Bakery yang berhimpitan dengan toko buah dan restoran kecil ala Mexico.
Tokonya tak terlalu besar namun interiornya sangat cozy bagiku. Dindingnya di cat putih dengan sebuah papan hijau cukup besar berisi tulisan daftar menu. Etalasenya terbuat dari kayu dan ditutup dengan kaca. Ada beberapa meja bundar dan kursi yang terbuat dari kayu. Aroma butter sangat mendominasi membuatku menelan air liur.
"Hei, Liv!" seru Gilbert saat dia menangkap sosok wanita berambut cokelat keluar dari pintu di belakang etalase. Dia membawa sebuah nampan besar berisi roti yang baru matang.
Wanita itu tersenyum lebar. Kedua matanya seperti menunjukkan sebuah tanda besar saat dia melihat Gilbert menggendong anakku.
"Kau... "
"Oh, bukan. Ini anak Emilia Watson." Gilbert mengelak sambil memperkenalkan diriku.
"Livia Winslet."
Kujabat tangan Liv dengan senyum lebar. "Aku Emilia Jhonson, teman Gilbert."
"Tapi mesra," sahut Gilbert sambil tertawa.
Kucubit pinggangnya dengan keras. Pria itu mengaduh.
"Maaf. Ehm ... jadi, Emy sedang membutuhkan pekerjaan, Liv. Apakah di sini bisa?"
"Oh, tentu saja. Kebetulan kemarin karyawanku resign, kau bisa bekerja di sini membantuku menjual roti."
Aku mengangguk senang ketika begitu mudahnya Liv menerimaku sebagai karyawannya. "Terima kasih."
"Ayo kuantar keliling. Besok kau bisa mulai kerja,” kata Liv sambil mengajakku berkeliling. Sedangkan Gilbert lebih memilih duduk sembari memberikan s**u dalam botol kepada Elsa.
Melihat dirinya seperti itu. Pikiranku kembali pada sosok Sam. Harusnya dia yang memberi s**u pada Elsa. Harusnya dia yang menggendong Elsa. Harusnya dia yang menidurkan Elsa saat anakku menangis. Nyatanya dia tidak di sini.
Ayo move on, Em!
Kukembalikan pikiranku pada Liv saat dia membawaku ke dapur. Di sana ada sekitar enam orang terdiri dari empat pria dan dua wanita. Mereka terlihat sibuk mengolah adonan. Lalu Liv menunjukkan oven berukuran cukup besar dimana ada sepuluh roti yang sedang dipanggang. Dia mengenalkanku ke karyawannya dengan suasana yang begitu hangat. Mereka terlihat baik, kuharap aku betah.
Lalu Liv juga mengajakku untuk menghias cupcakes dengan krim blueberry. Kemudian kami menghiasnya dengan buah blackberry.
"Wow! Terlihat sangat enak," kataku.
Liv mengangguk. Lalu dia membawaku kembali ke etalase depan. Dia menjelaskan macam-macam roti lalu cara penggunaan mesin kasir. Aku mengangguk paham. Setidaknya ini lebih mudah daripada mengejar berita seharian penuh.
"Gilbert sering bercerita padaku tentang dirimu," kata Liv sedikit berbisik. "Aku kira kalian adalah pasangan kekasih. Apalagi dia terlihat begitu cocok menggendong anakmu, Em."
Aku tersipu malu. Aku dan Gilbert memang sangat dekat bahkan melebihi kedekatanku dengan Sam. Dia yang menemaniku saat kehamilan hingga aku melahirkan. Dia juga yang mengurus semua perlengkapan Elsa. Ibuku juga tahu kedekatan kami. Begitu juga dengan Ibu Gilbert bahkan Marry sebagai mertuaku. Eliza dan Andre pun sama walau Gilbert selalu mendapat tatapan sinis dari Andre. Selain itu, Aku dan Gilbert pun sering tidur bersama sekadar menjadi teman tidur, kadang tanpa sadar kami juga sering tidur sambil berpelukan. Tapi tak satupun dari kami yang berani memutuskan ke mana arah hubungan ini.
Apakah seperti ini rasanya friendzone?