Bab 2

1610 Words
Bekerja di toko roti menurutku sangat menyenangkan. Selain bisa tahu cara membuat roti, aku juga bisa mencicipi sisa roti yang ada di dapur. Kadangkala Liv menyuruhku untuk membawa beberapa roti yang tidak habis dijual. Aku sangat bersyukur bisa menemukan pekerjaan hebat dengan bos yang teramat baik. Jam istirahat, kugunakan untuk menyusui Elsa dan menidurkan anakku di ruang karyawan. Beruntungnya, Liv mengijinkanku bekerja seraya mengasuh anak. Lagipula aku juga tidak bisa terus-menerus menitipkannya kepada Gilbert saat lelaki itu libur, aku pun juga tidak tega menitipkan anakku ke penitipan anak. Seharian ini Elsa tidak rewel seperti tahu bahwa ibunya memang sedang sibuk mencari uang. Kuelus pipi chubby-nya yang memerah dengan sayang. “Harusnya Daddy-mu yang bekerja, kan, Nak? Kenapa dia malah menyiksa Mommy seperti ini?” gumamku menatap wajah lelap Elsa. Kutarik napas panjang mencoba menghapus rasa gelisah yang menyelimuti diriku berulang kali. Harusnya aku bersyukur Gilbert mau kuajak tinggal bersama sesekali. Bahkan dia rela pindah apartemen demi menemani diriku untuk merawat Elsa bersama meski jarak perjalanannya ke kantor menjadi lebih lama. Gilbert memang lelaki yang begitu perhatian dan baik melebih arti sebuah pertemanan di antara kami berdua. Jika seperti ini, bukankah harusnya move on itu mudah? Beberapa detik kemudian, ponselku berdering. Nama Gilbert tertera di sana. Kujawab panggilannya setelah meletakkan tubuh kecil Elsa di kasur yang disediakan Liv di ruang karyawan. “Gilbert!” panggilku,”ada apa?” “Tidak ada apa-apa. Kau sudah makan?” Aku menggeleng. “Belum. Ehm ... nanti saja sekalian makan malam.” “Kau ingat tidak, jika produksi ASI itu dipengaruhi oleh makanan yang kau konsumsi? Jika kau jarang makan, aku yakin ASI-mu akan berkurang. Dan Elsa akan kelaparan.” Aku tertawa. Sebenarnya yang berperan sebagai ibu di sini siapa? Aku atau Gilbert? Kenapa dia begitu detail mengenai ASI? “Aku di luar. Ayo makan bersama,” katanya sebelum aku membalas kalimat Gilbert. Cepat-cepat melangkah keluar ruang karyawan. Dia berdiri di depan etalase sembari mengacungkan satu kantong plastik berisi makanan. Dia tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang rapi dengan wajah yang begitu bersinar diterpa matahari. Entah karena perasaanku atau karena pria bermata biru itu sedang memakai setelan kemeja. Kali ini Gilbert terlihat sangat tampan dengan lesung di pipi kanannya. Dia duduk di salah satu meja bundar. Aku mengekorinya saat pria tinggi itu duduk di atas kursi kayu. Gilbert mengeluarkan dua kotak makan siang dan dua gelas minuman. Isinya ternyata menu makanan Asia. Aku menebak dia membelinya di restoran di perempatan jalan sana. Ayam dengan saus madu dicampur lemon memang sangat menggiurkan di musim panas yang akan segara berakhir seperti ini.  “Ayo makan,” ajak Gilbert sambil menyendok makanannya. “Aku tahu kau suka makanan Asia. Makanya kubelikan porsi sedikit banyak. Jangan takut gendut. Aku suka kau terlihat berisi.” “Astaga, kau ini,” kataku sambil menahan tawa. “Apa kau tidak terlalu jauh datang ke sini dari kantormu?” Lelaki itu menggeleng sambil mengunyah makananya. “Tidak, kebetulan tadi aku meliput berita kecelakaan di sekitaran sini, sekalian saja aku mampir sebentar.” Kami berdua terdiam sejenak menikmati makan siang kami dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tapi, sesekali Gilbert bercerita tentang pekerjaannya yang semakin rumit dan tuntutan yang semakin besar. Aku mengangguk saat dia bercerita tentang peristiwa kebakaran di Malibu yang menyebabkan banyak rumah terbakar dan beberapa penduduk tewas. "Aku tidak heran sebenarnya jika California sering kebakaran. Hanya saja sekarang makin parah. Kau harus hati-hati, Em," katanya setelah menelan makanannya. "Oh iya, Elsa bagaimana apa dia rewel?" "Tidak. Dia cukup tenang di lingkungan baru. Lagipula dia sudah menginjak enam bulan. Setidaknya dia tidak menangis saat banyak orang baru datang kemari." Gilbert mengangguk. "Jika aku cuti, kau bisa titipkan dia padaku." Aku tertawa malu. "Kau terlalu banyak membantuku, Gilbert. Aku tidak tahu harus bagaimana caranya berterima kasih padamu.” “Ini kulakukan agar kau tidak merasa kerepotan, Em. Kita ini teman dan teman akan selalu membantumu dikala senang maupun susah. Lagipula … Elsa juga membutuhkan seorang ayah, Em, cepat atau lambat.” Aku terdiam memutar sendok di atas kotak makan. Kulihat Gilbert dari kedua manik mataku. Dia menatapku balik. Aku berpaling merasa apa yang dikatakannya seperti sebuah tamparan keras bagiku. Dia benar, Elsa takkan selamanya menjadi bayi. Anakku pasti akan tumbuh dan pasti akan menanyakan di mana ayahnya. Jika kukatakan bahwa ayahnya berada di penjara, aku takut dengan mental anakku. Oh, tidak, aku tidak mau hal itu terjadi. “Em,” panggilnya sembari menggenggam tangan kiriku. “Kita pernah membahas ini, kan? Aku siap jika menjadi pengganti Sam. Lagipula dia dipenjara cukup lama, Em. Apa kau sanggup menunggu selama itu?” Kuhela napas dengan pertimbangan yang begitu membuatku pusing. Berat rasanya jika mengingat hasil pengadilan beberapa waktu lalu di mana Sam dipenjara selama dua puluh tahun. Aku pasrah. Mau bagaimana lagi? Apa yang telah dia lakukan toh karena keinginannya menyelamatkan Billy, bukan? Dia saja yang bodoh, tidak tahu cara berterimakasih kepada Andre dan keluarga Jhonson yang begitu sabar membesarkan dirinya. Kupegang cincin di kalungku sambil menimang penawaran Gilbert. Aku belum siap menerima Gilbert begitu saja meski kutahu Gilbert pun masih betah melajang. Selama ini pula pria itu yang selalu ada bersamaku melebihi ibuku sendiri. Kutatap dirinya sekali lagi. Aku harus mencoba menjalin hubungan lain demi anakku dan mungkin jika waktunya tiba, akan kuberitahu bahwa Sam adalah ayah biologisnya. "Baiklah," kataku sambil tersenyum tipis.. #### Sesampainya dari toko roti, aku segera menaruh tasku di kamar dan ingin membasuh diri. Namun, aku terkejut saat mendapati sebuah amplop coklat di atas meja riasku. Kubolak-balik amplop tanpa nama itu sambil berpikir siapa yang mengirim surat ini. Kuhampiri Gilbert yang sedang bermain bersama Elsa di ruang tamu dengan beberapa boneka bebek yang dia belikan minggu lalu. "Gil, apa kau menaruh surat ini di kamarku?" tanyaku sambil mengacungkan amplop itu. Gilbert menggeleng dengan kening berkerut. "Tidak. Kenapa?" "Tidak apa-apa," kataku. "Mandilah lebih dulu, airnya sudah kusiapkan. Aku akan menyiapkan makan malam." Gilbert mengangguk sekilas lalu dia melanjutkan menciumi perut Elsa hingga anakku tertawa terbahak-bahak. Aku kembali ke kamar menaruh saja amplop itu tanpa membukanya. Mungkin Eliza yang datang kemari menaruh undangan atau acara pesta besar seperti dulu. Gilbert terlihat sedang memandikan Elsa dengan suara anakku yang berteriak dan tertawa dengan cipratan air, saat aku menyiapkan makan malam. Kadang aku merasa Elsa lebih dekat dengan Gilbert daripada denganku. Lihat saja, dia baru mau mandi dengan pria bermata biru itu. Denganku, Elsa menangis histeris tak karuan. Gilbert sampai tertawa terbahak-bahak saat kedua tangan mungil anakku mencari-cari tubuh pria bermata lentik itu. Kuraih ponsel untuk menelepon Eliza sambil memberi bubuk merica ke dalam bacon untuk dimarinasi. Beberapa detik suara Eliza terdengar dengan tangis kedua anaknya yang begitu berisik. "Halo, Em. Ada apa?" tanyanya setengah teriak. "Allan dan Alice sedang menangis minta gendong padaku." Aku tertawa. "Astaga, Andre ke mana?" "Dia sedang rapat. Pulang lembur katanya," kata Eliza,"sebentar aku gendong anakku dulu. Mereka berguling-guling diatas kasur. Nanti kutelepon jika mereka sudah tenang. Bye Em!" Klik! Sambungan telepon terputus. "Ciaaaat... Anak Daddy terbang... " teriak Gilbert keluar dari kamar mandi sambil menggendong Elsa bak pesawat terbang. Dia hanya bertelanjang d**a dengan celana yang basah terkena cipratan air. Lalu dia masuk ke kamarku. "Aku pakaikan baju sekalian saja, ya. Kau kan lagi masak." "Oke. Aku minta tolong ya!" teriakku sambil menggoreng bacon. #### Elsa sudah tertidur. Entah mantra apa yang digunakan Gilbert untuk menidurkan anak itu sembari memberikan botol ASI kepadanya. Memandikan, memakaikan baju, serta menidurkan. Semuanya dia lakukan sendiri seperti sudah ahli merawat bayi. Aku masuk ke kamar sambil mengeringkan rambutku saat dia sedang mengenakan kaus oblong. "Ayo makan," kataku sambil berbisik. Pria itu mengikuti langkahku menuju pantry. Aroma bacon dengan saus teriyaki serta taburan wijen membuat Gilbert mengendus-endus sampai bahuku. Aku tertawa geli. Dia melingkarkan kedua tangannya ke perutku dari belakang. Sontak degup jantungku berpacu. Tidak ada suara diantara kami kecuali suara mesin pendingin ruangan di kamar. Aku menelan ludah saat Gilbert membalikkan tubuhku. Tatapan kedua mata kami bertemu. Biru bertemu biru. Dia tersenyum membelai rambutku. Matanya mengunci diriku seraya meniti setiap ini wajahku. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang menyentuh pipiku membuatku gugup setengah mati. "Kau pasti sangat lelah. Bekerja, mengurus Elsa,  memasak, mencuci,” katanya dengan suara rendah yang terdengar begitu sensual di telingaku. Aku mengangguk tak bisa berkata lagi. Aku berusaha menetralisir gejolak dalam diriku. Entahlah. Aku tidak tahu. Seperti desiran aneh yang begitu cepat melewati setiap pembuluh darah. Tubuhku sejenak meremang. Aku ... butuh lebih dari sebuah pelukan. Tapi apa?  "Kenapa kau tidak mau mencari wanita lain, Gilbert?" tanyaku gugup berusaha mengalihkan perhatianku pada bibir merahnya. Ah, bibir itu…. Dia terdiam sejenak sembari menyingkirkan helaian rambut ke belakang telingaku. Dia mendekat dan berbisik, “Kenapa aku harus mencari jika wanita itu ada di depanku sekarang?” Ya Tuhan! Bolehkan aku meminta oksigen lebih banyak dari ini? Dia membuatku sesak napas mendadak. Astaga, Gilbert makan apa hingga bisa berkata seperti itu? “Tapi aku...” Belum sempat aku melanjutkan kalimat, dia sudah membungkam bibirku dengan bibirnya. Tangannya meraih tengkukku untuk memisahkan jarak di antara kami. Kakiku lemas hingga harus berpegangan kuat pada kausnya. Sejenak pikiranku merasa begitu tenang. Tidak ada bayangan Sam. Tidak ada kilasan kejadian itu. Tidak ada rasa sakit itu. Bahkan yang ada, aku ingin meminta lebih dari ini. Kenapa udara di sini menjadi begitu panas? Gilbert melepas ciumannya dariku. Dia salah tingkah dengan raut wajah yang begitu merah, begitu juga aku. Dia membasahi bibirnya dengan tak melepaskan pandangannya padaku membuatku ingin menyapu bibir itu dengan bibirku lagi. Namun, justru dia pergi untuk mengambil piring tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Aku mengernyit sambil meraba bibirku sendiri. Apakah ada yang salah? Kucoba memcium aroma napasku sendiri. Siapa tahu aroma mint odolku hilang. Nyatanya tidak. "Kau menciumku dan tidak bilang apa-apa?" rutukku kesal sambil membalikkan badan. Dia mengunyah makanan tanpa ekspresi. Lalu meneguk air mineral di sebelah kanannya. Aku mendengus lalu bergabung makan dengannya tanpa mengajak bicara lagi. Harusnya dia bilang sesuatu setelah mencium seseorang apalagi seorang wanita yang baru saja ditinggal suaminya ke penjara. Bukankah dia lebih terlihat seperti sedang menggodaku? Ya Tuhan,  kalau memang dia membantuku untuk move on. Kumohon jangan buat diriku merasa resah seperti ini. Aku tidak ingin dia membangunkan gelora api yang sudah lama mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD