Degup jantungku berpacu cepat dengan napas memburu dan berlari secepat mungkin menerobos beberapa orang di lobi rumah sakit. Aku hampir jatuh tersungkur ketika menabrak seorang perawat, dia sempat mengumpat namun aku tidak peduli. Pikiranku begitu kacau bahkan Gilbert yang menggendong Elsa tertinggal jauh di belakang saat aku berhasil meraih lift.
Waktu sepertinya tidak mengijinkanku untuk segera ke ruang ICU saat beberapa orang masuk ke dalam lift termasuk Gilbert yang kesusahan membawa anakku. Dia menerobos sambil meminta maaf untuk mendekatiku yang berdiri di sudut kanan lift.
"Bersabarlah, semua akan baik-baik saja," ucapnya.
Aku terdiam menatap angka demi angka lift yang membawa semua orang. Aku ingin segera sampai di lantai lima, aku ingin bertemu ayah sebelum semuanya terlambat.
"Em!" panggil ibuku melalui telepon dengan sesenggukan. "Daddy-mu kritis, Em. Cepatlah kemari."
Bayangan ayahnya yang sedang meregang nyawa begitu membayangiku. Hatiku begitu gusar, kuketuk ujung sepatu boots di lantai lift yang dingin sambil meremas mantelku erat. Lift berdenting menunjukkan lantai lima, secepat mungkin aku menerobos kerumunan penumpang di kotak besi itu seraya meminta maaf.
Aku berlari hingga ke ujung lorong lalu belok ke kiri di mana ruang ICU berada di sana. Lorong yang cukup sepi dengan suhu yang dingin itu makin menambah rasa gelisah. Namun muncul beberapa petugas berlari dengan membawa beberapa alat entah apa namanya. Mataku membulat, napasku semakin tercekat. Oh Tuhan, tolong selamatkan ayahku.
Ibuku keluar dari ruang ICU sambil menangis lalu terduduk di lantai marmer rumah sakit. Tubuhku seketika membeku ketika melihat dari ruang kaca, ayahku sedang mendapatkan pijat jantung dengan wajah-wajah petugas medis yang begitu tegang berusaha mempertahankan ayah. Mereka terlihat memasukkan obat suntikan yang tidak kumengerti membuat kakiku tidak bisa menahan tubuhku sendiri melihat ayah seperti itu.
"Mom tidak bisa hidup tanpa Daddy-mu , Em," racau ibuku.
Kupeluk dirinya lalu mencium puncak kepala ibuku. Kulirik Gilbert yang berdiri entah sejak kapan sembari menggendong Elsa dengan tatapan sedih. Air mataku makin tumpah, aku tidak ingin hidup ayah berakhir. Aku masih membutuhkannya.
Dokter keluar dari ruangan ICU dengan wajah sedih dan mengumumkan waktu kematian ayah dengan komplikasi dari perdarahan di otaknya. Aku menjerit tak karuan saat perawat mulai melepas alat penopang tubuh ayah. Aku berlari memohon untuk mereka tetap memasang alat itu, ayahku hanya sedang kritis, dia tidak mati, dia tidak meninggalkanku dengan ibu. Dia hanya kritis, dokter masih bisa menyelematkannya. Tuhan masih bisa menyelamatkannya, bukankah hari ini aku sudah berdoa pada-Nya?
"Aku sungguh minta maaf apa yang terjadi pada Ayah Anda Ms. Watson," ucap perawat berkulit hitam dengan begitu sedih. "Dia sudah mendapatkan tempat terbaik di surga."
Kupeluk tubuh dingin ayah, kuciumi keningnya dengan sayang sambil terus meminta maaf bahwa aku tidak bisa menjadi anak gadisnya yang baik. Bayangan pertama kali ayah dan ibuku datang ke pantai asuhan hingga hadis ke kelulusan wisudaku kini berputar keras menghantam kepalaku. Senyuma ayah dan wajah sedihnya membayangi benakku, aku sungguh bersalah.
"Dad ... jika ini terbaik untukmu, aku sungguh minta maaf, Dad," racauku. "Aku minta maaf, kumohon kembalilah, walau satu jam saja. Aku hanya ingin kau mengatakan bahwa kau sayang padaku, Dad. Please come back to me, i can't live without you."
Tidak ada jawaban kecuali bibir ayah yang membisu tuk selamanya, mata terpejamnya takkan bisa lagi melihatku dan memandang Elsa tumbuh besar. Jemari dinginnya takkan bisa memelukku dikala aku sedih. Dan bibirnya takkan bisa memberiku nasihat seperti dulu lagi.
Ayah ... sebesar apapun cinta lelaki padaku, masih besar cintamu padaku.
#####
Kupandang peti mati bercat hitam metalik dengan karangan bunga dan lilin yang menghiasinya. Pastor yang berdiri di samping peti mati ayah memberikan sedikit kesannya selama mengenal mendiang ayahku. Mereka terlihat begitu kehilangan, ayah memang sosok tegas dan bijaksana meskipun dia sangat keras kepala. Aku masih ingat betapa ayah ingin aku memiliki suami dan memohon ampun kepada Tuhan atas apa yang kulakukan bersama Sam hingga hamil di luar pernikahan. Masih teringat pula, wajah ayah yang begitu bahagia saat akhirnya aku dan Sam resmi menjadi suami istri meski kutahu dari dalam hatinya dia begitu kecewa. Oh, ayah, sungguh aku bukan anak gadis yang baik bagimu.
Kini pastor yang kutahu namanya Jamie memanggilku untuk memberikan sedikit penghormatan kepada ayah. Aku berdiri dengan air mata yang masih mengalir meski berusaha tersenyum. Kutoleh sejenak jasad ayah yang kini tertidur begitu pulas dan nampak gagah dengan jas kesayangannya. Kuremas tanganku, memandangi setiap pelayat yang datang lalu berkata,
"Dad adalah orang paling berarti meski kalian mengenalnya sebagai seorang yang begitu keras kepala. Tapi jauh dalam dirinya, dia adalah malaikatku. Jika bukan karena Dad dan Mom aku takkan berada di sini bersama kalian. Aku harap Dad mendapatkan tempat terbaik di surga, aku tahu dad sudah tidak menderita lagi. Dia telah disembuhkan Tuhan dengan cara lain," ucapku dengan tersenyum nanar memandang ibuku yang mengangguk membenarkan kalimatku.
Sebelum kembali ke tempatku duduk, kuambil setangkai mawar merah yang sudah disediakan khusus untuk ayah. Kuletakkan tepat di dadanya dengan bibir bergetar. Aku berusaha kuat, aku tahu Tuhan punya rencana lain di balik kehilangan seseorang yang begitu kita cintai. Aku yakin itu.
"Aku akan selalu mencintaimu, dad," lirihku.
Lalu pelayat lain pun mulai berdiri untuk memberikan penghormatan terakhir pada ayah dengan memberikan setangkai mawar merah. Kupeluk ibuku dan membisikinya bahwa kami akan sanggup bertahan dengan kehidupan baru tanpa ayah.
Ibuku hanya terdiam sambil mencium keningku. Meski bibirnya tersenyum, aku tahu hati ibu masih tidak rela dengan kematian ayah. Semua terlalu cepat.
Aku menoleh ke belakang ketika bahuku disentuh oleh Gilbert. Dia meraih tubuhku dengan masih memangku Elsa ke dalam pelukannya. Dia mencium keningku dan mengelus punggungku dengan lembut.
"Kau gadis kuat, Em," ucapnya lirih. "Aku tahu kau bisa melewati ini."
"Ya, kuharap begitu." Kutatap kedua mata birunya. "Terima kasih, Gilbert."