SELAMAT MEMBACA
***
Sekar tengah bersiap-siap untuk tidur. Namun sebelumnya tentu saja dia tengah melakukam serangkaian rutin perawatan kulitnya. Dengan bersenandung pelan, Sekar mengoleskan lotion pada tangan dan kakinya. Jika sudah seperti itu dia akan lupa dengan apa yang sudah terjadi satu hari tadi.
Ceklek ...
Sekar terlejut saat tiba-tiba pintu dibuka, Ndoro Karso masuk kekamarnya. Kenapa dia lupa dengan kamar yang saat ini dia tempati. Jantung Sekar langsung berdetak tak beraturan, dia ingin pergi dari sana. Tidak mau tidur sekamar dengan sang Ndoro. Apalagi saat Ndoro Karso mengunci pintu dan melepaskan kuncinya lalu menyimpannya di saku. Semakin membuat Sekar panik bukan main. Namun, Sekar belum bergerak dari posisi duduknya di depan meja rias. Dia hanya mengamati semua kegiatan yang dilakukan Ndoro Karso melalui cermin riasnya.
Sekar melihat Ndoro Karso berjalan keujung ruangan dan meletakkan tongkatnya di sana. Sekar lalu mengamati dengan serius. Ketika laki-laki itu berjalan tanpa tongkat. Tapi anehnya jalannya normal, sehat dan tidak terlihat kesulitan sedikitpun. Bahkan ketika Ndoro Karso memasuki kamar mandi laki-laki itu juga tidak jatuh.
Hingga Ndoro Karso keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Semua dilakukan dengan lancar. Sekar mengamati semua itu dengan detail. Memperhatikan jika tiba-tiba saja sang Ndoro jatuh. Tapi ternyata tidak, Ndoro Karso baik-baik saja.
"Kamu mau tanya apa Nduk?" Ucap Ndoro Karso tiba-tiba yang langsung membuat Sekar gelagapan. Apa dia baru saja tertangkap basah memperhatikan sang Ndoro.
"Saya tau kalau sejak tadi kamu memperhatikan saya. Kenapa? Berfikir kalau saya tidak bisa jalan tanpa tongkat saya?" Ucap Ndoro Karso lagi tiba-tiba saja laki-laki itu sudah berdiri di belakang Sekar. Tengah menatap Sekar juga dari pantulan cermin. Sekar semakin dibuat gugup dan takut dengan perlakuan Ndoro Karso. Hingga rasanya tubuh Sekar kaku tidak bisa digerakkan.
Apalagi ketika Ndoro Karso mengelus rambut Sekar dari belakang. Membuat Sekar merinding dan takut.
"Saya ini sehat, tidak cacat sedikitpun. Tanpa tongkat saya juga bisa berlari." Ucap Ndoro Karso dengan tenangnya sama sekali tidak terdengar nada jika sang Ndoro marah atau tersinggung.
Ndoro Karso kemudian berjalan kearah ranjang. Mulai merebahkan tubuhnya dengan santai di sana.
Sedangkan Sekar, tentu saja semakin gugup. Dia harus tidur di mana kalau Ndoro Karso sudah lebih dulu naik ke atas ranjang. Hei, dia tidak ingin tidur seranjang dengan laki-laki itu. Sekar lalu melirik sofa panjang di belakangnya, pilihan paling tepat untuk tempatnya tidur saat ini ketimbang ranjang sang Ndoro.
"Tidur di sini? Bukan di sana." Ucap Ndoro Karso sambil menepuk tempat di sebelahnya. Dia seolah faham dengan pemikiran Sekar. Sedangkan Sekar semakin ragu dibuatnya. Dia tidak ingin tidur di sana. Tolong siapapun juga, bantu Sekar.
"Kesini Nduk tidur? Jalan sendiri atau mau saya gendong?" Ucap Ndoro Karso lagi.
Mendengar itu Sekar langsung bangun dari duduknya dan berjalan dengan pelan ke sisi ranjang di sebelah Ndoro Karso.
Perlahan Sekar menaiki ranjang dan langsung memutar tubuhnya memunggungi Ndoro Karso. Berharap saja selama tidur dia tidak bergerak agar tidak jatuh karena posisinya yang berada di ujung. Apalagi ranjang Ndoro Karso ini lumayan tinggi, setidaknya kalau sampai jatuh bisa membuatnya tubuhnya sakit.
Sekar memaksakan matanya untuk terpejam, dia ingin pagi segera datang dan keluar dari kamar itu segera. Sungguh rasanya saat ini Sekar seperti tengah berada di antara hidup dan mati. Tapi bagaimana dia bisa tidur jika jantungnya terus berdebar dengan kencang. Bahkan tangannya sampai keringat dingin.
Sekar semakin takut saat Ndoro Karso sudah mematikan lampu. Sekar merasakan sisi ranjang di belakangnya bergerak.
"Tidak takut jatuh tidur di pinggir begitu. Tempatnya masih luas, kenapa tidak sedikit ketengah?" Bisik Ndoro Karso pada Sekar. Semakin membuat tubuh Sekar meremang. Tiba-tiba saja dia ingin menangis. Saking takutnya dengan Ndoro Karso.
Bukan tidak sadar jika tubuh Sekar kaku, Ndoro Karso jelas menyadarinya. Jika Sekar tidak ingin tidur seranjang dengannya.
"Tenang Nduk, kenapa setakut ini sama saya?" Ucap Ndoro Karso lagi.
Sekar hanya membatin kesal di dalam hati. Sudah habis sumpah serapah semua hewan dia keluarkan ketika mendengar ucapan Ndoro Karso. Bagaimana bisa dia tenang ketika dia tidur satu ranjang dengan harimau yang siap memakannya kapanpun. Tolong, siapapun yang menjadi Sekar pasti akan berekasi hal yang sama.
Sekar semakin panik ketika merasakan tangan Ndoro Karso melingkar di perutnya. Laki-laki itu memeluknya dengan erat. Bahkan tidak membiarkan Sekar memberontak.
"Tidak perlu takut, saya hanya menjaga kamu biar tidak jatuh." Ucap Ndoro Karso saat merasakan pemberontakan Sekar.
"Tidak perlu takut sama saya, saya tidak akan memintamu malam ini. Saya tidak akan memaksa kalau kamu tidak ingin. Saya bisa menunggu sampai kamu sendiri datang dengan suka rela pada saya."
Sekar kembali mengumpat saat mendengar ucapan Ndoro Karso. Percaya diri sekali laki-laki tua itu. Siapa juga yang mau datang dengan sukarela. Bahkan Sekar sekarang sedang berfikir untuk membuat laki-laki itu tidak betah dengan sikapnya.
"Tapi bagaimanapun saya ini juga laki-laki normal Nduk. Melihat perempuan di atas ranjang saja. Bagaimana saya bisa mengabaikannya. Apalagi itu halal dan boleh saya sentuh." Bisik Ndoro Karso lagi pada Sekar. Tidak lupa dia meninggalkan satu kecupan di rambut Sekar.
Sekar tetap tidak menjawab, dia hanya menahan diri untuk tidak berbalik dan menendang Ndoro c***l itu dari ranjang. Di lihat dari umurnya, bisa saja jika laki-laki itu malam ini jatuh dari jangan besok pasti sakit pinggang tidak bisa jalan.
"Apa Ndoro tidak malu melakukan semua ini pada saya?" Akhirnya setelah diam cukup lama Sekar mengeluarkan suaranya.
Ndoro Karso tersenyum karena berhasil memancing suara Sekar. Apalagi nada kesal istrinya itu ketara sekali.
"Kenapa harus malu?" Tanya Ndoro Karso setenang mungkin.
"Saya ini umur berapa. Ndoro umur berapa. Apa Ndoro tidak merasa seperti menyentuh anak kecil. Bahkan bisa saja saya ini seumuran anak Ndoro." Ucap Sekar lagi. Ingat, posisinya tetap memunggungi Ndoro Karso. Dan nada suaranya tetap judes.
Ndoro Karso hanya terkekeh pelan. Apalagi mendengar ucapan Sekar yang benar-benar membuatnya geli.
"Sejak kapan 23 tahun itu anak kecil. Bahkan kamu itu sudah legal melahirkan bayi untuk saya. Lagi pula kamu juga tidak seumuran anak saya. Saya tidak mungkin punya anak di usia 17 tahun kan?" Jawab Ndoro Karso dengan tenang. Masih tetap dengan nada tenangnya. Tidak sedikitpun terdengar nada tersinggung atau marah dari sang Ndoro.
Mendengar itu Sekar tidak lagi bicara. Dia malas menjawab. Dia juga tidak mau melanjutkan obrolan tidak pentingnya itu dengan Ndoro Karso.
"Patuh menjadi istri saya, hidupmu akan terjamin Cah Ayu." Bisik Ndoro Karso lagi sebelum benar-benar tidur.
Setelahnya Sekar tidak lagi mendengar suara apapun dari Ndoro Karso. Hanya hembusan nafas laki-laki itu yang masih terasa begitu dekat dengannya.
***